3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
CEMAS


__ADS_3

Ruang medis di Area Shaozu.


"Kau... Ahn Reychan?! Benar tidak?!" tanyanya seraya mengamati wajah tampan pemuda dibelakang Kaisar Agung Bai Gikwang.


Wajah itu jelas tidak asing lagi bagi matanya yang melihat. Dia tahu kalau sebagian besar wajah itu sudah menjadi pemandangan yang ia lihat setiap waktu. Bagaimana bisa dia tidak menduga hal demikian?!


Mengenai hubungan antara Reychu dan Reychan.


Mengangkat sebelah alisnya saat tak mendapati tanggapan apapun dari Ahn Reychan sendiri. Segera tanpa perlu berlama-lama, Rayan tahu apa artinya itu.


"Baik... Ku anggap diam mu adalah kebenarannya." jedanya untuk menoleh kearah Reychu yang terlelap karena pengaruh obat, tapi ia masih melanjutkan perkataannya. "Walaupun aku bisa merasakan keanehan situasi saat ini. Tapi, respon mu terhadap saudari yang sudah lama tak kau temui membuat ku tak bisa berkata-kata..." kembali menjeda guna berbalik untuk melihat Ahn Reychan lagi.


Sambil menatap pemuda itu intens, Rayan berujar. "Mungkin, karena sudah berpisah cukup lama, ya... Hmm..." kalimat itu memiliki maksud lain didalamnya.


Yaitu, mengenai mengapa tanggapan seorang saudara terlalu datar kala bertemu dengan saudaranya yang lain. Terlebih dari yang diceritakan oleh Reychu sebelumnya, kalau pemilik tubuh yang ia tempati sangat disayangi oleh keluarganya termasuk sang kakak yang di kabarkan hilang diusianya ke 7 tahun.


Lantas, ada apa dengan situasi ini?


Mengapa sang kakak masih diam saja?


Baik Kaisar Agung Bai dan Ahn Reychan sangat tahu dengan jelas akan pesan tersirat dalam kalimat yang Rayan utarakan. Tapi, meskipun begitu dari keduanya tidak ada yang angkat bicara.


Kaisar Agung Bai tidak punya hubungan dengan itu, jadi dia diam. Sedang Ahn Reychan, jelas dengan hubungannya. Namun, tak tahu apa yang tengah dipikirkannya.


Sebenarnya, walaupun Rayan menanyakan hal itu. Itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Rayan sama sekali tidak penasaran dengan kisah hidup pemilik tubuh, baik tubuh yang ia tempati maupun tubuh yang sahabat-sahabatnya tempati. Yang dilakukannya saat ini hanyalah mengutarakan pendapatnya atas hawa aneh yang mengelilingi mereka.


Selebihnya, ia tak peduli dengan apapun pendapat Ahn Reychan si kakak pemilik tubuh, Ahn Reychu.


"Huh... Sudahlah, lupakan saja. Aku menanyakan hal itu bukan untuk mendapatkan jawabannya. Bagaimanapun itu tidak ada hubungannya denganku. Ada tidak adanya hubungan diantara Anda dan Reychu adalah urusan kalian. Aku hanya mempedulikan sahabat ku." terangnya santai dengan setitik kecanggungan. Tapi, tidak kentara.


Srek... Srek...


Sesuatu serasa seperti sedang menarik pakaian Rayan dari bawah. Hal itu membuat Rayan refleks menunduk untuk melihat siapa gerangan yang menarik-narik ujung bajunya. Tapi, begitu ia melihatnya. Ternyata itu Chi-chi. Saat itu juga ia ingat tentang kondisi Reychu saat ini.


"Oh, astaga. Aku melupakannya. Terimakasih sudah membuat ku mengingatkannya." kata Rayan sambil memberikan senyum manisnya.


Meskipun Chi-chi tidak sempat mengatakan apapun untuk menegurnya, tapi apa yang Rayan katakan adalah apa yang ingin Chi-chi sampaikan. Maka dari itu, ia tak mengoreksi apapun yang Rayan ucapkan dan menerima pernyataan terimakasih dengan senang hati.


Baginya, Rayan lebih baik dari Ryura. Karenanya, dia puas atas tindakan Rayan padanya.


"Mari kita kembali ke pernyataan yang sebelumnya anda katakan. Anda bilang, ada yang bisa menyembuhkan Reychu dalam waktu singkat, bukan? Lalu, siapa dia? Apakah dia ada disini?" serbu Rayan antusias. Dari keseluruhan nada bicaranya, sebagian 'benar' karena dia peduli pada Reychu, tapi sebagian lagi karena dia tertarik pada sosok yang dimaksud pria tampan berambut merah didepannya saat ini.


Atau lebih tepatnya, dia tertarik dengan kemampuan yang dimiliki sosok itu.


Bagaimanapun, kemampuan sosok itu adalah apa yang dia minati seumur hidupnya. Bahkan bisa dikatakan, tidak ada dari setiap hembusan nafasnya tanpa ada apa yang ia minati tersebut mengalir didalamnya.


Kecintaannya pada pengobatan dan racun melebihi dirinya sendiri.


Kaisar Agung Bai melihat itu dengan jelas. Setelah serangkaian pemikiran dapat ia simpulkan kalau gadis imut didepannya ini tampaknya memiliki bakat di bidang alkimia. Sangat selaras dengan sahabatnya yang ia maksudkan tadi.


Dia jadi sedikit ingin tahu, sehebat apa bakat alkimia gadis bernama Rayan ini.


"Dia tidak disini. Karena itulah saya ada disini. Saya berniat membawa Nona Ahn Reychu kesana untuk diobati. Apakah anda keberatan?" Kaisar Agung Bai sedikit merasa tak berdaya kala mengatakannya. Ia merasa sangat jelas keanehan kalimatnya. Tapi, apa mau dikata kecemasannya terhadap kondisi Reychu membuatnya melupakan sejenak harga dirinya sebagai seorang Kaisar Agung Kekaisaran Utara.


Sedang pemuda dibelakang Kaisar Agung Bai tidak bisa menahan keterkejutan yang terpancar dari matanya, terlepas dari wajahnya yang tetap datar. Ia benar-benar kaget melihat betapa teguhnya keinginan junjungannya untuk tetap membawa gadis asing yang bahkan belum pernah berkenalan secara resmi dengan junjungannya ini.


Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Kaisar Agung Bai Gikwang mengenai hal ini?

__ADS_1


Ia masih tidak memahaminya.


"'Ah... Tentu tidak. Tidak keberatan sama sekali. Tapi, kami tidak bisa pergi tanpa sahabat kami yang satunya." kata Rayan menjelaskan secara singkat.


"Siapa?" tanya Kaisar Agung Bai meski sudah memiliki tebakan dikepalanya.


"Ryura! Dia bagian dari kami." jawab Rayan enteng, namun tetap sopan dan formal. Bagaimanapun dia dan Kaisar Agung Bai tidak dekat juga tidak saling kenal.


"Gadis yang bertarung dengan Nona Ahn itu?" tanya Kaisar Agung Bai lagi untuk memastikan.


Rayan mengangguk membenarkan. "Benar. Itu dia!" matanya sedikit menyipit kala menyadari ada yang salah dengan nada bicara pria didepannya ini.


Nadanya terkesan tak percaya yang terasa aneh menurutnya. Seperti, tak senang?


"Anda tidak sedang berpikir berlebihan, bukan? Tolong jangan melihat dari pertarungan mereka yang mengerikan tadi. Kami sering melakukannya, walaupun sebagian besar sering dilakukan oleh Reychu dan Ryura. Saling adu kekuatan hingga terluka, bukanlah hal baru bagi kami bertiga." jelas Rayan panjang lebar guna meluruskan kesalahpahaman yang mungkin sedang terjadi saat ini.


Mendengar penjelasan tersebut, Kaisar Agung Bai akhirnya menganggukkan kepalanya tanda kalau ia mengerti.


"Jadi begitu... Aku baru tahu kalau ada bentuk persahabatan yang seperti ini. Mereka tidak melakukan hal-hal yang umum dilakukan gadis-gadis muda kebanyakan, dimana mereka lebih sering ingin tampil menonjol dengan keanggunan dan kecantikan. Tapi, ini... Hmmm... Unik... Kurasa aku tidak salah menaruh hati." batin Kaisar Agung Bai berbunga mengetahui sesuatu yang ia sukai berbeda dari yang lain.


Itu menegaskan bahwa hatinya jelas dengan apa yang ia suka dan Kaisar Agung Bai puas akan hal itu.


"Baik..." baru saja Kaisar Agung Bai ingin mengatakan sesuatu lebih banyak, tapi sudah didului oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul.


"Yang Mulia!" panggil orang yang baru datang itu bersama seseorang dalam gendongannya dan seorang lagi dibelakangnya.


Mendengar panggilan akrab itu, Kaisar Agung Bai segera tahu siapa yang datang. Iapun lantas menoleh untuk melihat langsung orang tersebut.


Tapi, yang tidak ia sangka adalah sahabatnya -Ye Zi Xian- memiliki suatu kecantikan di pelukannya.


Rayan, Ruobin, dan Chi-chi adalah orang pertama yang melihat kedatangan pria tampan berambut putih keperakan yang sebagian besar tertutup oleh tudung jubahnya. Tapi, yang paling membuat mereka terhenyak adalah sosok yang ada dalam gendongannya.


Melihat itu begitu nyata, Rayan tak tahu harus percaya atau tidak. Menilik dari kepribadian Ryura, rasanya aneh dan mustahil kalau dia -Ryura- tiba-tiba bisa begitu menempel pada seorang pria yang sialnya begitu tampan.


Menyingkirkan tentang keadaan Ryura sejenak.


Rayan melirik Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian bergantian. Seketika, untuk pertama kalinya Rayan tak bisa memilih mana yang lebih tampan dari antara keduanya.


Bukan karena keduanya memiliki ketampanan yang sama, melainkan karena pancaran aura yang menyelimuti mereka memberikan keunggulannya masing-masing sehingga daya tariknya berbeda namun disaat bersamaan juga sama.


"Sial! Aku tersesat!" umpat Rayan dalam hati.


Ruobin yang lama tak berbicara hanya bisa melemparkan tatapan ironisnya pada Rayan yang sempat-sempatnya ia terpaku pada keindahan lawan jenis hingga melupakan hal yang lebih penting.


"Rayan! Yang lainnya akan mati kalau kau menundanya lebih lama!" suara Ruobin berdengung di kepala Rayan. Ternyata, Ruobin mengirimkan telepati padanya yang sukses menyadarkan Rayan dari keasikannya berpikir.


Melirik sedikit Ruobin dengan senyum yang tersipu malu. Baru setelahnya, ia kembali melanjutkan apa yang seharusnya di tangani saat ini.


Mengambil pergelangan tangan Ryura untuk diperiksa. Langsung saja Rayan tahu kalau Ryura sudah memasuki masa hibernasinya.


Menghela nafas lega sambil berkata. "Tidak apa-apa. Dia hanya tidur."


Serangkaian kegiatan yang dilakukan Rayan sudah dilihat oleh 4 orang asing dengan sangat jelas. Seketika mereka -kecuali Kaisar Agung Bai- tahu kalau gadis imut didepannya paham tentang pengobatan.


Tapi, tetap saja...


"Kau bilang dia tidak apa-apa? Dia terluka!" sentak Ye Zi Xian tak terima. Apa Rayan pikir dia buta hingga tak melihat luka yang diderita oleh Ryura.

__ADS_1


Itu berdarah!


Rayan yang untuk pertama kali di bentak jelas terkejut sampai ikut tersentak kaget. Matanya bahkan terbelalak menatap Ye Zi Xian dengan tak percaya.


Melihat ketegangan yang terjadi, Ruobin segera mengambil tempat disebelah Rayan guna untuk melindunginya.


"Maaf, Tuan. Mohon kendalikan nada bicara anda." tukas Ruobin jelas tak terima seseorang siapapun itu membuat Rayan-nya tak nyaman.


Tatapan dingin Ye Zi Xian yang semula diarahkan kepada Rayan, kini beralih kepada Ruobin yang sedikit lebih pendek darinya.


"Siluman seperti mu lebih baik tidak terlalu ikut campur!" keganasan dalam gumamannya tak terelakkan.


Jangan ditanya. Mereka semua mampu mengetahui identitas Ruobin karena mereka seorang kultivator.


Tahu kalau pihak 3Ry sedang berhadapan dengan orang yang kuat dari segala sisi. Membuat Rayan segera mengambil tindakan dan melupakan keterkejutannya karena dibentak.


"Baiklah, jangan membuat keributan lebih lanjut." mencoba menengahi meski tidak terlalu berharap akan didengar.


Menoleh kearah Ruobin dengan siratan menenangkan dimatanya. "Jangan terlalu cemas. Ini masih bisa aku atasi. Tenanglah!"


Berbalik untuk menghadap pria tampan berambut putih keperakan dengan kulit sama putihnya, membuat dia tak bisa dijelaskan merasakan kedinginan.


Ini benar-benar untuk pertama kali.


Memberanikan diri untuk maju, mengingat Ryura dalam genggaman pria itu. Sedikit banyaknya Rayan dapat memahami kalau pria tampan itu memiliki kekhawatiran untuk sahabatnya.


"Maaf sebelumnya, Tuan. Kalau perkataan ku menyinggung perasaan anda. Tapi, itulah kenyataannya. Jangan terlalu berlebihan memikirkannya. Meski Ryura kehabisan darah, dia tidak akan mati semudah itu. Luka yang ia dapatkan saat ini masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan luka yang pernah ia terima dimasa lalu." lugasnya tegas dan menyakinkan dengan sedikit bernostalgia ke kehidupan sebelumnya, tapi tak ada yang menyadarinya.


Lanjutnya. "Jadi, hanya perlu diobati. Maka, semua akan baik-baik saja. Oleh karena itu, daripada anda menunjukkan emosi yang tak dapat dipahami kami-kami disini tentang 'apa yang membuat anda begitu emosional untuk seorang gadis asing yang biasa itu?' lebih baik anda membantu saya membawanya ketempat yang diusulkan Tuan disebelah anda. Apakah begini sudah benar?" jelas Rayan mengendalikan situasi dengan baik.


Semua yang ada di sana mengangguk setuju. Baru sesaat setelah itu, suara Duan Xi muncul dari luar ruangan.


"Cepat! Aku sudah memanggil Furby untuk membawa kereta kudanya kesini. Kita tidak punya banyak waktu." dengan tergesa-gesa Duan Xi menyerbu.


"Guru, kapan anda memanggil Furby?" tanya Rayan dengan sedikit terkejut lantaran dari perkiraannya, tak mungkin bisa dilakukan secepat itu.


"Apa yang kau pikirkan. Aku sudah melakukannya sesaat setelah Ryura selesai dengan kompetisinya. Awalnya, Tuan Ye ingin langsung membawa Ryura untuk pergi. Tapi, aku menghentikannya karena ingat kalian bertiga tidak bisa dipisahkan. Maka dari itu, aku mengusulkan untuk menggunakan gerbong kereta kita agar kita semua dapat mengikuti Tuan Ye." tutur Duan Xi menjelaskan apa yang telah terjadi sebelumnya. Membuat Rayan terharu mendengarnya.


Sebenarnya, tadi Ye Zi Xian sedikit tidak senang saat pria tua pendek itu menahannya. Namun, kalimat yang diutarakan membuatnya mau tak mau harus lebih pengertian. Terlebih, apa yang di katakan Duan Xi adalah apa yang berharga untuk Ryura.


Jadi, apa yang bisa ia lakukan bila sudah berkaitan dengan Ryura?


Anggaplah dia konyol.


Mengklaim seseorang begitu saja, bahkan tanpa orang itu mengenalnya.


Lalu, apakah ia begitu berhak mengaturnya? Hmm...



maaf terlambat, Thor benar2 cibuk.


ok yg pnting up dulu.


sekalian Thor mo ucapin.


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 1442 H.

__ADS_1


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.🥳🥳🥳


__ADS_2