
Semua orang mencari keberadaan Ryura. Menyapu seluruh area hanya untuk menemukan sosok tak berekspresi itu berada.
Tapi, tak juga ditemukan.
Di atas, kelompok petinggi negeri juga melakukan hal yang sama. Bahkan mereka yang memiliki tingkat budidaya tinggi mencoba menggunakan kekuatannya untuk mencari keberadaan Ryura yang belum terlihat bahkan usai Reychu berteriak tadi.
"Dia tidak mungkin mundur bukan?" sambil mengusap dagunya Kaisar Agung Bai bertanya-tanya.
Ye Zi Xian yang mendengarnya menjawab dengan nada membela. "Tidak. Gadis sepertinya, aku tidak yakin akan mundur begitu saja."
Melirik dengan menggoda. "Kau berbicara untuknya, seperti sudah sangat mengenalnya saja."
"Tentu. Karena semalam aku mengejarnya." dengan jujur Ye Zi Xian berujar.
Dia baru saja membicarakan tentang aksinya yang menguntit Ryura semalam, walau pada akhirnya harus gagal karena yang di buntuti menghilang tiba-tiba.
Kaisar Agung Bai sampai terhenyak sepersekian detik sebelum tersadar kembali. "Benarkah?! Apa yang kau lakukan? Kenapa mengejarnya?"
Ye Zi Xian menyandarkan punggungnya dengan nyaman lalu tersenyum lembut yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Senyuman itu sukses membuat otak Kaisar Agung Bai memahami sesuatu.
"Karena dia takdir ku!" santainya dia berkata, namun hatinya tak elak merasa membuncah akan kebahagiaan yang tiadatara tiap kali dia membayangkan siapa yang ditakdirkan menjadi pendampingnya.
"Tunggu! Apa kau sedang bicara soal pedang pusaka Keluarga Ye mu itu?" tebak Kaisar Agung Bai dengan sedikit keterkejutan di wajahnya.
Ctak!
Menjentikkan jarinya, baru berseru senang. "Tepat sekali!" melihat ke panggung arena yang masih hanya terlihat Reychu saja. "Karena pedang suci ikatan sejati telah memilihnya... Itu berarti dia bukan gadis sembarangan! Ini baru benar! Aku menyukai pilihan pedang pusaka itu... Sangat suka!" katanya menegaskan dengan nada suara yang memuja seraya membayangkan wajah manis Ryura yang tak berekspresi.
Sedang di bawah, tepat di panggung arena. Reychu sudah tak sabaran, sahabatnya masih belum muncul juga. Sebenarnya, ini bukan kali pertama dia harus menunggu Ryura. Di kehidupan sebelumnya pun sering begini, meski faktanya Ryura bukan orang yang suka terlambat dalam menangani sesuatu. Tapi, ada kalanya saat-saat seperti itu terjadi.
Tapi, ia tak pernah tahu apa yang membuat gadis itu menjadi terlambat.
Karena itulah, untuk pertama kalinya dia ingin menggunakan elemen api miliknya dengan harapan bisa memancing Ryura keluar.
Namun, entah dia benar-benar bisa menggunakan elemen api itu atau karena terlalu tergesa-gesa. Panggung arena segera mengalami ledakan.
BOOM!
Tepat dimana Reychu berada.
Orang-orang yang melihatnya berpikir Reychu meledakkan dirinya sendiri.
Ekspresi pias dan terkejut hingga pucat mewarnai sebagian besar masyarakat yang ada di Area Shaozu untuk menonton. Sesaat, bahkan tak ada yang bersuara saking syoknya.
Terlebih Kaisar Agung Bai. Dia sampai bangkit dari duduknya begitu melihat adegan tersebut. Tiba-tiba, ia merasa sesuatu mencengkeram jantungnya kuat membuatnya kesulitan bernafas. Raut wajah tampannya berubah cemas sampai dia tidak sadar kalau dia sebenarnya bisa merasakan mana kekuatan yang bisa membunuh diri sendiri mana yang tidak.
Tapi, saat ini hatinya tengah mengambil peran. Membuat seorang penguasa Kekaisaran Utara sejenak melupakan kelebihan dari kemampuan yang dimilikinya.
Itu hal yang lumrah terjadi saat seseorang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Kaisar Agung Bai Gikwang terlalu khawatir. Dia bahkan nyaris melompat turun untuk memeriksa sendiri keadaan Reychu kalau saja ia tidak melihat bayangan siluet gadis yang beberapa waktu belakangan ini terus ia perhatikan.
Sampai-sampai dia hafal rupanya meskipun tersembunyi di balik bayangan.
Tampak dari siluet itu, Reychu seperti sedang terbatuk-batuk akibat asap yang ditimbulkannya.
"Uhuk..uhuk... Uhuk..uhuk... Si*lan!"
Tepat setelahnya, dia dikagetkan dengan kemunculan Ryura yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya menghadap kearah yang sama. Kejadian itu terlalu cepat membuat Reychu terhuyung kesamping karena terkejut.
"Hoh! Dasar kau! Hantu gentayangan! Kaget aku!" Reychu mengumpati Ryura sambil mengelus dadanya akibat terkejut tadi. Tapi, yang di umpat malah melangkah menuju posisi yang akan dia ambil sebagai peserta juga sebagai lawan peserta lainnya.
Belum sampai Ryura ketempat yang tepat. Tanpa terduga sesuatu menghantam punggungnya dalam waktu yang amat cepat.
Cetar!
Hal itu membuatnya menghentikan langkahnya begitu saja.
Para penonton masih membisu saking syoknya dari awal sejak kemunculan Ryura yang tak terduga. Tiba-tiba, disusul dengan serangan mengerikan dari Reychu yang menggunakan pedang kembarnya.
Jiwa mereka serasa dibuat melayang keluar dari jasadnya.
Serangan melalui pedang kembar itu ternyata sudah dialiri elemen api hingga membentuk cambuk yang panjangnya bisa di kendalikan oleh Reychu.
Dan dengan ganasnya menyerang Ryura bahkan sebelum Ryura bersiap untuk memulai.
Reychu selalu seperti itu.
Tak ada suara ringkihan ataupun ekspresi meringis. Tak ada juga tanda-tanda tubuh terguncang akibat hantaman mengerikan yang Reychu berikan. Justru, setelah menerima serangan tiba-tiba tersebut, Ryura terdiam sejenak sebelum akhirnya berbalik dengan kerennya. Membuat penonton, baik laki-laki maupun perempuan memberinya tatapan kagum dan terpesona hingga sesaat melupakan adegan sadis beberapa detik lalu.
Tak terkecuali Ye Zi Xian. Yang malah menarik kedua sudut bibirnya dengan begitu menawan saat matanya hanya menatap Ryura seorang. Terlepas dari ketidaksenangannya kala melihat gadisnya terluka.
Meski dia sendiri masih tak mengerti dengan kepribadian Ryura, tapi sejauh yang dia amati. Ryura memang seperti apa yang semua orang lihat.
Dia tak berekspresi, tak beraura, tak berperasaan, dan bergerak bak boneka hidup.
Akan tetapi, itu malah semakin menumbuhkan tekad Ye Zi Xian untuk menjadi orang pertama yang melihatnya tersenyum manis plus tambahan bumbu cinta untuknya.
"Haaah... Membayangkannya saja sudah membuat hati ku bahagia..." gumamnya dalam hati. Tak terbayangkan betapa berbunga-bunga hatinya.
Kembali ke panggung arena...
"Heh! Bagaimana, sayang? Suka dengan serangan ku? Aku tahu kau pasti akan suka. Kalau begitu biar ku berikan lagi. Aku sangat senang bisa bermain bersama lagi. Wahai Ryura ku tersayang... Kerahkan seluruh kemampuan mu dan seriuslah. Kalahkan aku! Sejak tadi aku belum menemukan seseorang yang bisa mengalahkan ku." tidak tahu apa yang membuat Reychu begitu percaya diri saat mengatakan itu. Secara tidak langsung, kalimatnya mengartikan bahwa dia begitu kuat sampai tak ada yang bisa mengalahkannya.
Orang-orang yang mendengarnya tak bisa menahan jengkel. Bahkan para petinggi pun dibuat mengumpati Reychu atas kesombongannya yang tidak terlihat. Hanya Kaisar Agung Bai Gikwang yang tertawa bangga mendengarnya. Sahabatnya -Ye Zi Xian- saja tak bisa membantu selain menggelengkan kepalanya usai mendengar kalimat tersebut.
Benar-benar bernyali.
Reychu bergerak maju untuk menyerang. Ryura di sisi lain masih diam tapi sesungguhnya dia sudah siap bermain sedikit lebih serius dari sebelumnya. Faktanya, permintaan Reychu masih belum bisa menumbuhkan niat membunuhnya untuk dibawa keatas panggung arena ini.
__ADS_1
Karena itu, sejak awal bermain Ryura tak pernah menaikkan level serangannya. Kedua sahabatnya tahu itu. Tapi, meski begitu, sedikit lebih serius sudah cukup bagi Reychu. Dia jelas tahu, kalau sampai Ryura benar-benar serius diapun meragukan kehidupannya sendiri akan aman ditangan sahabatnya.
Reychu memang nekat hingga dianggap gila. Tapi, dia tahu apa itu sadar diri saat mengenali keterbatasan diri sendiri.
Meskipun, disisi lain kedua sahabatnya juga tahu seberapa kuat dia bila menjadi serius tanpa kekonyolannya yang gila.
Reychu mungkin sering melukai Ryura di kehidupan sebelumnya, itupun karena Ryura membiarkannya. Apa jadinya, bila dia bertemu Ryura yang menggunakan level puncaknya dalam bertarung dengannya? Akankah dia harus menyiapkan peti mati untuk dirinya sendiri?
Dia masih sayang nyawa walau gila!
Taptaptap...
Wush...
Larinya cepat hingga mampu membelah angin sampai meninggalkan suara gesekan. Dua pedang kembar di kedua tangannya sudah sangat siap untuk bertarung sungguhan dengan Ryura. Meski ia tahu, Ryura tak akan menganggapnya serius. Tapi, peningkatan level dari Ryura sudah lebih dari cukup untuk meladeninya, dia tentu tak akan menuntut lebih atau dia akan mati sia-sia.
Reychu jelas tidak mau itu terjadi lebih awal, ia bahkan belum sempat bercinta dengan jodohnya yang belum terlihat. Bagaimana bisa dia mati begitu saja?!
Begitu keduanya sudah saling berdekatan. Reychu dengan gencar menyerangnya dengan kedua tangannya yang luar biasa aktif. Kedua pedang miliknya kini sudah dilumuri energi spiritual jelas dampak dari semua yang ditimbulkan pasti lebih besar dari sekedar tertusuk atau tergores.
Sedang Ryura mengelak dengan gesit untuk beberapa saat sebelum akhirnya menangkap kedua tangan Reychu tanpa sempat diprediksi oleh siapapun termasuk Reychu sebagai lawan bertarungnya.
Bahkan Reychu belum berpikir banyak saat tiba-tiba tubuhnya terangkat, lalu berputar keatas dan terbanting keras di lantai panggung arena di sisi lain.
Saat sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Bukannya meringis kesakitan, Reychu malah tertawa gembira. Sedang Ryura melompat mundur memberi jarak diantara keduanya.
Punggungnya masih terluka, bagaimanapun tubuhnya asli tercipta dengan tubuh manusia biasa. Bila tidak terluka atau bahkan sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat, orang-orang akan segera mempertanyakan kemanusiaannya.
"Hahahaha... Hahaha... Ini baru benar. Ukh!" Reychu tertawa bahagia seraya mencoba bangkit sebelum akhirnya merasakan sakit di punggungnya akibat bantingan Ryura yang nikmat baginya. Meski meringis sakit, tapi itu tidak berarti Reychu benar-benar mengalami kesakitan.
Berbeda dengan peserta yang bertarung dengan ekstrim di atas panggung arena. Para penonton justru sudah berkeringat dingin melihatnya.
Bagi mereka, itu sadis dan lebih sadis.
Melihat itu, Kaisar Agung Bai pun ikut terlonjak kaget.
"Aku akan membuatmu membayarnya." ketus Kaisar Agung Bai berkata pada Ye Zi Xian dengan tujuan tidak jelas.
Meski makna terselubungnya adalah ingin membuat Ye Zi Xian menanggung kesalahan Ryura yang telah berani melukai Reychu-nya.
Yang di ajak bicara hanya melirik penuh protes. "Yang Mulia, tolong jangan bertingkah bodoh!" beraninya dia berkata begitu. Tapi, Kaisar Agung Bai tidak menanggapi lagi.
Keduanya kembali menonton kompetisi berdarah kekasih hati mereka dengan khawatir.
maafkan Thor wahai pembaca tersayang.
Thor lagi ad orderan. jadi terlambat up.
__ADS_1
kali ini upnya memang gk banyak kata. tapi semoga terpuaskan. doakan saja biar bisa up lebih cepat untuk yg berikutnya.
ππππππ