
Kebahagiaan terlukis jelas di wajahnya. Sambil berlari kegirangan, ia menuju sebuah kios makanan yang sebelumnya sudah ia janjikan bila ia memenangkan pertunjukan adu fisik tersebut. Berjanji bahwa ia akan membeli makanan di sana jika menang.
"PAMAAAAAANNNN!!!" teriakannya melengking tepat di tepan wajah pria paruh baya penjual bebek bakar yang di panggil paman sejak awal bertemu, setibanya ia di depan pria itu saat dia sedang membakar bebek jualannya.
"Astaga, jantungku!" keluhnya terkejut hingga refleks mengelus dadanya yang dapat ia rasakan jantungnya berdegup kencang akibat di kejutkan.
Reychu hanya terkekeh tanpa rasa berdosa melihatnya.
"Dasar kau ini! Aku sudah tua, nak! Bagaimana kalau aku mati setelah kau mengejutkan ku, huh?" omel pria paruh baya itu.
"Hihihi. Itu tidak akan terjadi. Buktinya paman baik-baik saja sekarang. Apa yang perlu ku takutkan?!" jawab Reychu santai sambil matanya memandangi potongan bebek-bebek yang tengah di bakar dengan berbinar lapar, beberapa kali ia sampai meneguk ludahnya sendiri.
"Aku bilang 'kalau', anak muda!" si paman kesal juga ternyata.
"Reychu, itu namaku." celetuknya memberitahu kemudian melihat kembali ke arah si paman. "Itu 'kan, 'kalau'. Tapi, sayangnya kata 'kalau' itu tidak terjadi. Lalu, apa yang perlu di permasalahkan." Reychu kembali mengendus bebek bakar dan merengek. "Paman, aku lapar."
Tidak tahu apa yang harus di katakan lagi, akhirnya si paman hanya bisa pasrah dan memilih langsung melayani gadis muda di depannya yang sejak awal bertemu sudah aneh dan selalu memakai cadar.
Pada awalnya, ia berpikir gadis itu anggun dan berwibawa karena cadar yang ia kenakan memberinya kesan seperti itu. Tapi, nyatanya salah. Gadis bercadar yang satu ini seperti hanya ingin menutupi wajahnya saja, semacam ingin melindungi diri dari sesuatu. Namun, itu bukanlah urusannya. Selebihnya ia benar-benar lain dari yang lain.
"Eh! Kau datang kemari untuk makan 'kan?" tanya si paman saat tersadar akan sesuatu yang perlu di pastikan.
"Eum.." Reychu mengangguk mengiyakan.
"Apa itu artinya kau menang pertunjukan adu fisik itu?"
Dengan tersenyum angkuh namun konyol di saat bersamaan, ia menjawab. "Tentu saja...! Hohoho..."
"Benarkah?" tanyanya lagi tak yakin.
Merasa jawabannya tak berarti, Reychu memilih mengambil sekantung uang tael emasnya yang kini berjumlah 25 saja. Mengingat sebelumnya telah ia gunakan untuk bertanggungjawab atas luka yang ia berikan pada Bou Qin, pria dewasa bertubuh tinggi besar itu.
"Lihat ini! Menurut paman apa ini?"
"I..itu..." matanya terbelalak tak percaya melihat banyaknya tael emas di kantung itu, membayangkannya saja dia tak berani. Tapi, apa boleh buat. Percaya tidak percaya, kenyataan uang itu ada di tangan seorang gadis yang tampak ringkih dan lemah.
Memandang mata Reychu lekat. "Nak, Reychu. Bagaimana cara mu mengalahkan lawanmu itu? Kudengar pria itu tubuhnya tinggi besar." tanya si paman penasaran.
"Hehe... Penasaran, yaaa..." goda Reychu membuat si paman mendelik malu. "Hahaha... Beritahu dulu nama paman padaku. Masa iya, aku memanggil mu paman terus." keluhnya.
__ADS_1
"Oh, ya. Aku lupa. Kenalkan namaku Gu Fen. Kau bisa memanggilku paman Gu atau paman Gu Fen. Terserah padamu."
"Baiklah, Paman Gu Fen. Beri aku dua porsi bebek bakarnya dulu. Baru setelahnya aku akan bercerita tentang apa yang aku ,Reychu lakukan untuk meraih kemenangan." tuturnya lebay, yang mana malah membuat paman Gu Fen terkekeh melihatnya.
Gadis bernama Reychu itu sungguh sesuatu...
"Baiklah-baiklah... Duduklah dulu di sana. Biar aku siapkan pesanan mu." tukas paman Gu Fen sembari menunjuk ke arah bangku yang dekat dengan tempatnya membakar bebek.
"Oh, tentu. Jangan lama-lama, paman. Aku lapar sekali." katanya sembari melangkah mendekati bangku yang di tunjuk kemudian mendudukinya.
Reychu duduk tenang seraya memperhatikan sekitarnya yang masih saja ramai padahal hari telah menjelang sore hari sembari menunggu pesanannya di antar paman Gu Fen.
"Dunia kali ini sungguh berbeda. Meskipun kesannya kuno dan ketinggalan jaman, melihat dari segalanya yang masih asri. Tapi... Dari apa yang aku dapat melalui ingatan si permaisuri ini. Aku tidak tahu ada masa ini di jaman dulu... Apa mungkin tidak tertulis dalam sejarah?!" cernanya dalam hati seraya berpikir atas segala yang terjadi padanya.
Mengedikkan bahunya acuh kemudian. "Apa peduliku! Lagipula sekarang ini disinilah duniaku. Tubuh ini juga kini menjadi milikku. Tapi, aku benci ikatan yang ada hingga sekarang ini." gumamnya teramat pelan sambil mengetuk-ngetuk dagunya, tak ingin ambil pusing atas apa yang telah menimpanya.
Menggelengkan kepalanya. "Sungguh sia-sia hidupmu, Ahn Reychu! Sungguh sia-sia! Sekarang aku paham, mengapa takdirmu di berikan padaku. Sepertinya dewa sudah lelah atas sikapmu yang terlampau lemah lembut sampai berakhir bodoh dan mudah di tindas. Lihatlah dirimu... Untuk melawan selir agung jelek bermuka dua saja kau tak bisa."
Menyeringai mengejek dengan sorot mata penuh makna. "Tidak peduli seberapa besar cinta mu dulu untuk si kaisar bodoh itu dan tidak peduli seberapa bodohnya kau yang tak bisa apa-apa padahal kau punya posisi yang lebih tinggi dari si ular betina itu. Karena sekarang akulah penguasa tubuh dan takdir mu... Hehehe..." terkekeh dengan menyeramkannya namun terkesan seperti orang yang gila, seandainya tidak ada cadar yang terpasang itu. "Maka, biar aku tangani kedua pasutri itu! Pasangan yang terdiri dari, pria tampan yang mudah di bodohi dan wanita cantik yang licik dan licin seperti belut air. Tapi, tentu saja cantikan aku. HAHAHA..." jelasnya panjang dan lebar dengan di akhiri oleh tawa renyahnya yang pecah tanpa di minta.
Serempak mereka berbisik.
"GILA!"
Paman Gu Fen juga tak kalah terkejut sebenarnya, sampai-sampai piring yang berisi bebek bakar pesanan Reychu nyaris jatuh.
"Astaga!" berkacak pinggang memandang si gadis yang masih sibuk meredakan tawanya setelah ia menaruh 2 piring bebek bakar di meja Reychu. "Sudah selesai. Kau tahu tidak?! Yang kau lakukan itu hampir saja membuat aku rugi bila sampai dua ekor bebek bakar ku jatuh ke tanah dan tak dapat dimakan lagi. Huh!!" gerutu paman Gu Fen. Untuk pertama kalinya ia tak merasa segan pada orang asing, terlebih itu adalah gadis muda.
"Haha...ha...ha...! Paman, maaf. Maaf! Huh...huh... Aku terlalu asik dengan pikiranku, jadi lupa jika aku sedang tidak sendirian. Ya sudahlah! Aku juga sudah tidak bisa menahan rasa lapar ini lagi. Ayo, paman kita makan." menarik 2 piring itu mendekat kemudian menakup dua tangannya di dada.
"Selamat makan!"
Tak ada malu, tak ada ragu. Langsung saja ia mengambil daging bebek bakar itu dengan tangannya dan sebelah tangan lainnya menyingkap sedikit cadarnya agar tidak jadi penghalang.
Suapan pertama pun masuk juga dan detik berikutnya dua bola mata itu terbelalak penuh binar. Lalu, berseru riang.
"Ya Tuhan!!! Enak sekaliiii!!! Paman! Bebek bakarmu luar biasa lezat!" pujinya membuat paman Gu Fen tersenyum senang mendengarnya.
"Benarkah, terimakasih."
__ADS_1
"Benar! Sudah ku duga! Pilihanku tak salah. Sejak awal aroma bakaran bebek milik paman sudah tercium jelas, sampai aroma lainnya kalah. Ini benar-benar nikmat. Sungguh nikmat yang tiada duanya. Bebek bakar memang lezat!" pujinya lagi dan lagi dan lanjut untuk meneruskan makannya.
Bila sudah begini, ingatan tentang kehidupannya dulu melintas tiba-tiba tanpa di minta. Membuat Reychu yang semula makan dengan lahap menjadi memperlambat temponya. Paman Gu Fen melihat itu saat tengah meliriknya dari tempatnya yang sedang mengipasi bakarannya.
Ia jadi ingat saat malam hari di sebuah pasar malam. Terdapat banyak sekali stan makanan juga yang lainnya. Bahkan ada tempat hiburan.
Saat itu ia dan dua sahabatnya sangat menikmati kebersamaan mereka. Mulai dari bermain tembak untuk mendapatkan boneka, bermain pancingan untuk mendapatkan barang yang sejenis, bermain di rumah hantu, bermain Komidi putar, makan jajanan yang bertebaran di pasar malam, bahkan sampai masuk kedalam tempat yang orang sebut sebagai tempat meramal.
Ia masih ingat apa yang terjadi di dalam tempat meramal itu. Si peramal yang terlihat seperti seorang wanita paruh baya pernah meramalkan mereka tentang takdir luar biasa yang akan mereka dapatkan. Namun dulu, baik Reychu maupun dua sahabatnya tak begitu percaya hal demikian. Bagi mereka takdir hidup manusia tak bisa di ramal karena ada sang pencipta yang memegang kendali.
Tapi sepertinya sedikit dari ramalan itu telah menjadi nyata.
Contohnya seperti yang saat ini ia rasakan.
Karena itu juga, sesuatu langsung menghantam pikirannya.
"Takdir kalian untuk bersama tak akan pernah terpisahkan. Tapi, meskipun begitu kalian tetap berada di jalan yang berbeda. Kelak, takdir luar biasa akan menjemput kalian dan mungkin... Kalian akan berada di takdir itu selamanya..."
Itulah sepenggal yang dapat di ingatnya mengenai ramalan wanita paruh baya itu.
Gerakan makannya berhenti mendadak. "Bila ini yang di maksud ibu-ibu itu. Berarti kemungkinan besar, Ryura dan Rayan ada di sini juga." serunya dalam hati mengutarakan pikirannya. "Tapi, akan sulit pastinya untuk menemukan mereka, karena kami menggunakan tubuh orang lain." lanjutnya.
Karena terlalu asik dengan pikirannya. Ia sampai tak sadar telah di amati oleh pama Gu Fen sejak tadi.
"Reychu! Kau baik-baik saja, nak?!" tanya paman Gu Fen sedikit cemas.
"Hah?! Ha..ha..ha... Tak apa, paman. Aku baik-baik saja! Aku hanya teringat akan dua sahabat ku. Dulu kami sering menikmati waktu bersama sampai-sampai orang lain akan mengiranya kami adalah saudara." jujur Reychu sendu. Saat itulah paman Gu Fen percaya kalau hari di depannya tidak benar-benar gila, buktinya ia masih bisa bersedih hati seperti sekarang.
"Kalian bertengkar?" tanya paman Gu Fen sekadar basa-basi hanya untuk menghibur Reychu.
Mendelik dengan aneh. "Heh! Bertengkar?! Hahaha! Yang benar saja, paman." seketika kesedihannya sirna tak berbekas membuat paman Gu Fen tak tahu harus berkomentar apa yang tepat untuk menjelaskan sifat gadis didepannya yang baru beberapa waktu tadi dikenalnya.
Mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Tentu saja bukan. Bertengkar adalah kata yang tak akan terjadi pada kami bertiga. Saat ini kami hanya sedang terpisahkan oleh jarak. Aku hanya tak tahu dimana mereka sekarang. Akan sangat menyenangkan bila kami bisa makan disini sambil bersenda gurau." terangnya.
"Oh, kukira kau dan temanmu sedang dalam hubungan yang tidak baik. Kau tak perlu risau. Kalian akan bertemu, cepat atau lambat." celetuk paman Gu Fen menyemangati.
"Hahaha... Untuk apa aku risau, paman. Justru, yang paling aku nantikan bila kembali bertemu dengan mereka adalah mengorek cerita seberapa menderita mereka di luar sana saat kami sedang berjauhan seperti ini. Akan sangat menyenangkan bila aku bisa menertawai mereka. Terutama si centil Rayan. Hahaha..." balasan itu membuat paman Gu Fen semakin kehabisan kata-kata. Dia sampai tak tahu harus apa. Hanya bisa diam sambil tersenyum canggung.
"Oh ya. Aku hampir lupa. Tadi bukannya paman penasaran dengan kejadian di pertunjukan adu fisik itu 'kan?! Baiklah aku akan ceritakan sekarang sambil makan. Paman juga sepertinya lagi senggang. Kalau begitu, mari dengarkan ceritaku... Hehehe..." setelahnya Reychu pun mula bercerita panjang lebar mengenai apa yang telah terjadi di arena adu fisik sebelumnya bersama lawan mainnya Bou Qin yang sekarang mungkin saja sedang dalam perawatan. Tak ada yang tertinggal dari cerita tersebut, paman Gu Fen hanya bisa menahan ngeri membayangkan bila gadis yang tampak biasa-biasa saja di hadapannya ini sekejam yang di ceritakan gadis itu sendiri.
__ADS_1