3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
JAWABAN YANG DIINGINKAN


__ADS_3

Kembali ke kediaman dengan selamat.


Usai mencaritahu apa yang di inginkan, Reychu pun segera kembali pulang. Ia tidak ingin ketahuan di awal bahkan sebelum dia memulai.


Setibanya di dalam kamar dengan cara mengendap-endap dan akhirnya berhasil. Segeralah ia memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan air mandinya lantaran tubuhnya terasa gerah dan lengket akibat berkeliling sejak pagi yang sudah menjelang siang. Pasalnya, ia mengambil keputusan pagi tadi bersama teman silumannya untuk mencaritahu siapa orang yang saat ini sedang tertidur akibat diminumkan obat putri tidur.


Di dalam kamar mandi Reychu membawa serta Chi-chi, si siluman kelinci untuk mandi bersama. Begitu dia mengusir para pelayannya untuk mengerjakan pekerjaan lain yang salah satunya adalah menyiapkan makan malam untuknya walaupun sudah agak terlambat, segera ia gunakan kesendiriannya untuk berdiskusi dengan Chi-chi mengenai pencarian mereka.


“Chu-chu, aku sudah cari keseluruh pelosok bagian timur hingga utara. Tapi, tidak menemukan apapun disana.” terangnya memberitahukan hasil yang didapatnya dengan lantang.


Reychu mengangguk mendengarnya, karena bagaimanapun itu sudah jelas. Sebab Reychu-lah yang berhasil mendapatkan hasil yang dia inginkan, bahkan bisa dikatakan ia sangat puas dengan hasilnya. Tanpa mencari dua kali, ia langsung menepukan semua yang ia ingin dapatkan. Sekarang ia mengerti mengapa Chi-chi tidak bisa menemukannya di bagian luar area yang dilindungi oleh kekuatan spiritual yang kuat, semua itu dikarenakan bahwa orang yang diberi obat putri tidur adalah orang yang amat penting hingga ditempatkan di tempat yang aman.


“Tidak apa-apa. Bukan masalah kalau kau tidak bisa menemukannya. Setidaknya, aku sudah menemukannya.” katanya mengerti seraya membasuh tubuh bocah Chi-chi yang setengah manusia dengan air mandi mereka. Ya, keduanya mandi bersama atas permintaan Reychu. Meski pada awalnya mendapat penolakan keras dari Chi-chi dikarenakan keduanya berbeda jenis kelamin.


Terlepas Chi-chi siluman atau tidak. Faktanya, ia tetaplah seorang lelaki. Tiba-tiba, diajak mandi bersama oleh seorang gadis cantik, jelas saja bila ia menjadi terkena serangan jantung mendadak. Tapi, untungnya Reychu tidak terlalu gila sehingga ia masih memakai dalaman untuk ikut dimandikan.


“Kau sudah menemukannya? Wah, hebat! Aku tahu Chu-chu ku yang terbaik!” bangganya. “Lalu, apa yang kau dapatkan? Siapa orang yang terkena obat putri tidur itu?” lanjutnya bertanya.


Memandang bocah siluman itu sesaat sebelum menjawab. “Dia adalah Ibu Suri!” tukasnya. “Tapi, ada yang tidak aku mengerti disini…” katanya sedikit menunjukkan ekspresi bingung dan berpikir sembari mengorek kembali ingatan si pemilik tubuh yang sering ia lupakan bila tidak begitu dibutuhkan.


“Apa itu?”


“Mengapa wanita tua itu yang harus di berikan obat putri tidur?! Bukankah itu mencurigakan? Apalagi, sampai tak ada yang bertindak bila faktanya kondisi Ibu Suri telah di sabotase.” ungkapnya dengan ekspresi berpikir bercampur bingung. “Aku curiga… Kalau kebenarannya ada pada Ibu Suri! Itulah sebabnya, seseorang ingin membungkamnya.” sambungnya seraya menyipitkan matanya menatap Chi-chi layaknya seorang detektif kala berbincang dengan rekannya mengenai sebuah kasus.


“Seseorang itu maksudmu… Selir Agung?” tebak Chi-chi.


“Bisa iya. Bisa tidak! Belum ada petunjuk yang bisa di gunakan untuk memvonis Gong Dahye sebagai tersangkanya. Tapi, itu juga bukannya tidak memiliki kemungkinan kalau dialah orangnya.” jawab Reychu menerangkan.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Chi-chi sambil memandang penuh tanya pada Reychu dengan wajahnya yang benar-benar imut sebagaimana bocah pada umumnya. Apalagi, kaum siluman tidak pernah terlahir jelek, bukankah itu sempurna?!


Berpikir sejenak, sebelum akhirnya dijawab. “Eum… Akan membuang waktu kalau kita menunggu Ryura. Kita tidak tahu kapan dia akan datang. Perempuan satu itu selalu tak terduga. Jadi, kita hanya bisa melakukan yang bisa kita lakukan lebih dulu. Sembari menunggu Rayan kembali.” terang Reychu membuat keputusan.


Berpikir, tak selamanya ia bisa mengandalkan sahabatnya dalam segala situasi. Meski ini bukan lagi yang pertama baginya, ia tetap tidak bisa semampu Ryura yang mirip dengan cenayang atau Rayan yang akal bulusnya lancar. Dia sendiri adalah tipikal pekerja yang siap mengambil bagian paling banyak dalam bertindak.


Keduanya pun saling berpandangan sebentar, sebelum memutuskan untuk mengakhiri perbincangan mereka. Lagipula, Reychu juga telah merasakan kehadiran seseorang dari luar kamar mandi. Bisa dipastikan kalau itu adalah para pelayannya yang sedang menyajikan makan malamnya di kamar.



Eurgh…


Suara sendawa dari Reychu menandakan akhir dari makan malam dia dan Chi-chi. Makan malam yang sejak ia keluar dari Istana Dingin selalu disajikan dengan lezat.


Sedang asik-asiknya bersantai sambil membiarkan makanan yang masuk tadi mulai dicerna oleh lambung, seruan segera terdengar dari luar yang dilakukan oleh salah seorang pelayannya.

__ADS_1


Ternyata seseorang yang tak pernah ia pikirkan datang mengunjunginya. Reychu sampai spontan memutar bola matanya saking malasnya untuk harus berurusan lagi dengan orang tersebut.


Ia jadi tidak sabar untuk segera menyelesaikan segalanya disini agar bisa segera pergi. Reychu sudah tak ingin berlama-lama lagi di Kerajaan Huoli ini.


“Yang Mulia Permaisuri… Yang Mulia Kaisar Li datang berkunjung." seru salah seorang pelayan yang berada diluar kamarnya.


Mendengar itu tanpa di suruh lagi, Chi-chi segera berubah bentuk menjadi kelinci dan bergegas menikaiki peraduan untuk mulai bersikap seolah-olah dia sedang tidur.


“Biarkan dia masuk!” seru Reychu dengan malas.


Tap…


Tap…


Tap…


Langkah kaki yang tegas menggema di seluruh ruang tidur Permaisuri Ahn. Pria tampan yang bahkan tak bisa menarik perhatian seorang Reychu itu datang seorang diri kekamar istrinya.


Begitu ia sudah ada didalam, tepat di hadapan Reychu yang masih duduk di kursinya seperti menunjukkan secara tersirat kalau kehadirannya sangat tidak diterima di Kediaman Permaisuri. Kaisar Li memilih tak menggubrisnya lantaran tak ingin lagi gagal mendapatkan kesempatan kedua dari istrinya itu.


Menatap malas serta sinis, Reychu angkat suara. “Salah alamat ‘kah?” ledeknya.


Dipandangnya sejenak wajah cantik sang istri dengan lembut. “Tidak! Aku memang berencana mengunjungimu usai kembali dari Kuil.” menghembuskan nafas ragu. “Seharusnya, kau datang ke Kuil bersamaku tadi. Dahye, menanyakanmu. Ia merasa sedih mendapati kau tidak ikut.” kalimatnya seketika menyadarkannya kalau dia telah melakukan kesalahan terlalu cepat, terlebih setelah melihat seringai yang sarat akan ejekan terpatri di bibir ranum istrinya.


“Ouh. Datang kemari hanya untuk memberitahuku betapa menyedihkannya Gong Dahye, karena ketidakhadiranku?” tanya Reychu yang sebenarnya bukanlah sebuah pertanyaan. “Apa kau tidak memberitahunya kalau aku akan mengutuknya bila ikut datang kesana?” Kaisar Li diam tak memiliki jawaban.


Menarik nafas dalam-dalam guna meredakan perasaan tak nyaman dalam hatinya seraya mengedarkan pandangannya sejenak, sebelum kembali menatap Reychu yang kini telah merubah posisi duduknya menjadi condong kedepan dengan menumpukan sikunya menopang dagunya.


Posturnya sangat malas.


“Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengatakan itu di awal.” ucap Kaisar Li merasa bersalah dengan matanya yang telah menyendu.


Akan tetapi, Reychu tetaplah Reychu. Sejak kapan pertahanannya luruh hanya karena ekspresi memelas orang lain?


Mungkin, tunggu dunia terbalik dulu barulah Reychu yang mudah luluh muncul.


“Jadi, maksudmu… Kau akan tetap mengatakannya padaku setelah berbasa-basi denganku, begitu?” cetus Reychu dengan pertanyaannya. Kaisar Li kembali merutuki kebodohannya yang kembali melakukan kesalahan dalam menjelaskan.


Memijit pelipisnya, ia berujar. “Tolong percayalah! Aku sungguh tidak bermaksud begitu!” ungkap Kaisar Li tulus namun terdengar pasrah dan ketulusan yang dimaksud itu segera lenyap begitu memasuki pendengaran Reychu.


Dengan kata lain, tulus tidaknya orang lain. Reychu tak pernah menanggapi, meskipun ia tahu kalau orang itu tulus padanya. Karena, sekalinya tidak penting maka tetap tidak penting. Tidak jauh berbeda dengan sahabatnya yang lain.


Melihat betapa rendahnya kini Kaisar Li mengambil sikap hanya untuk memenangkannya kembali, bukannya iba atau tersentuh. Gadis itu justru merasa senang karenanya. Ia menganggap kemalangan Kaisar Li adalah sesuatu yang menghibur baginya.

__ADS_1


Tiba-tiba, sesuatu melintas di pikirannya. Melihat sumber jawaban ada di depan matanya, Reychu tak ingin melewatkannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, segera Reychu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menumpuk di otaknya.


“Sudahlah, aku sedang tak ingin membahas tentang Gong kesayangan mu itu. Ada yang lebih penting ingin aku tanyakan padamu. Apa kau akan menjawabnya?” tanya Reychu tanpa tahu kalau Kaisar Li merasa senang seolah-olah telah mendapatkan peluang untuk mendekati istrinya.


Segera pria itu mengambil tempat di kursi lainnya menghadap Reychu dengan meja bundar sebagai penghalang keduanya.


“Apa yang ingin kau tanyakan? Akan ku jawab semuanya!” wajah Kaisar Li begitu sumringah kelihatannya. Sayangnya, Reychu tak peka akan hal itu sehingga tampak biasa saja di matanya.


“Baiklah. Aku akan langsung bertanya kalau begitu.” jedanya. “Dimana Ibu Suri?” tanya Reychu langsung keintinya. Sejenak Kaisar Li tertegun mendengarnya sebelum akhirnya menghembuskan nafas sedih.


Dia terlihat sendu begitu mendengar kata ‘Ibu Suri’. Tanpa ingin menutupi fakta, Kaisar Li langsung menjawab setelah menenangkan hatinya yang terasa perih mengingat tentang ibunya.


“Beliau ada. Hanya saja…” ucapnya tersendat karena perasaan sedih kembali menyeruak di relung hatinya. Dadanya sesak seketika.


“Hanya saja…” ulang Reychu yang bahkan tidak turut merasakan sedihnya. Nadanya dikecilkan sedikit, namun masih dapat didengar.


Menatap dalam kedua bola mata Reychu yang jernih dan indah itu.


“Beliau sedang dalam keadaan kurang baik. Dia sudah tertidur sejak hari itu. Dari beberapa bulan yang lalu. Tabib mengatakan kalau dia mengalami kecelakaan usai mendengar perselisihan diantara kita dulu. Diagnosanya mengatakan kalau Ibunda terjatuh dari tangga kediamannya, saat akan menuju ke kediamanku dan kepala beliau terbentur sangat kuat hingga menghilangkan kesadarannya sampai sekarang.” jelas Kaisar Li tentang kebenaran yang ia ketahui tanpa menyadari kalau Reychu mengangkat alisnya merasa aneh dengan penjelasan pria tampan dihadapannya sekarang ini.


Bagaimana bisa begitu, pikir Reychu yang merasa gagal mencerna apa yang sudah di jelaskan oleh Kaisar Li mengenai keadaan Ibu Suri.


“Ini aku yang lambat memahaminya atau memang terasa aneh dan janggal dari apa yang dia katakan! Pria ini harusnya cukup pintar untuk mencerna semua itu… Kenapa malah dia terdengar bodoh?” batinnya merasa ada yang tidak benar. “Jatuh dari tangga kediaman, lalu kepalanya terbentur dan iapun koma?! Yang benar saja?!” batin Reychu kembali dengan meraung tidak terima dengan penjelasan seperti itu.


Menurutnya itu aneh. Terlalu dibuat-buat. Meski tidak menutup kemungkinan akan adanya luka fatal akibat terjatuh, pastinya semua itu harus disebabkan oleh kecelakaan yang tidak sepele. Kalau hanya sekadar jatuh dari tangga tanpa penjabaran yang benar, sulit untuk menyatakan jika seseorang terluka serius.


“Kau yakin seperti itu ceritanya?” akhirnya Reychu pun menanyakan keabsahan kebenaraan tersebut.


“Tentu saja.” jedanya dan mengerti kearah mana maksud dari pertanyaan istrinya. “Apa kau mau bilang kalau kau meragukannya? Reychu, kejadian itu terjadi di hari yang sama dengan hari kau memulai hukumanmu. Jadi, sudah jelas kalau Ibunda terkejut mendengar kebenaran tentang kita. Terutama fakta tentangmu yang ku masukkan kedalam Istana Dingin.” nada bicaranya berat dan diselimuti rasa bersalah. Seperti memperjelas padanya, bila semua itu adalah kesalahannya.


“Apalagi…” menatap dalam dengan sejuta rasa kedalam mata Reychu. “Ibunda sangat menyayangimu. Dia mampu memarahiku, tapi tak akan pernah mampu melakukannya padamu. Dia sangat mengutamakanmu dari apapun, begitu juga dengan mendiang Ayahanda. Mereka berdua selalu dipihakmu. Jadi, sudah pasti Ibunda mengalami syok karena mendengar aku menghukummu ke Istana Dingin.” jelasnya sendu masih dengan rasa bersalah yang seperti tak dapat ia hilangkan, sekalipun kini dia telah menumbuhkan cinta dihatinya untuk Permaisurinya.


“GOTCHA! HAHAHAHA... AKU MENDAPATKANNYA!!” seru riang Reychu dengan penuh kemenangan dari dalam hatinya begitu mendengar penuturan Kaisar Li. Reychu bahkan tak ingin repot-repot bersedih bersama Kaisar Li usai penjelasan itu.


Ia sudah cukup senang dengan kebenaran kecil itu, dimana sesuai dengan dugaannya mengenai Ibu Suri yang merupakan kunci pertama dari semua yang telah terjadi. Dengan fakta ini, dia bisa menduga dengan berani bahwa Ibu Suri pasti terlibat dalam masalah yang terjadi dalam rumah tangga anaknya. Entah, terlibat sebagai pihak benar ataupun pihak tersalah. Kali ini, yang harus ia andalkan adalah Rayan dengan segala keahliannya yang mampu membangunkan kembali Ibu Suri dari tidur panjangnya. Namun, sebelum itu tentunya ia membutuhkan perencanaan matang agar segalanya berjalan lancar.


Target utamanya adalah Keluarga Gong.


Lubuk hatinya telah meyakinkan kalau mereka lah pelakunya. Akan tetapi, berhubung kebebasan membutuhkan tiket. Maka, bukti dari kebenaran yang sesungguhnya adalah tiket kebebasannya.


“Aku mengerti! Aku masih ingat tentang bagaimana mereka menyayangiku disaat aku tidak disayangi oleh suamiku yang malah asik menabur cinta kasih dengan Selirnya bahkan tanpa perasaan juga mereka melakukannya di hadapanku. Aku merasa menyedihkan saat itu.” tutur Reychu terus terang dengan ekspresi biasa yang sangat tidak sesuai dengan sindiran yang dia lontarkan kepada pria penguasa Negara Api yang menyendu di hadapannya.


Untuk kesekian kalinya Kaisar Li tak bisa membalas ucapan istrinya yang menusuk tepat pada pusat rasa bersalahnya.

__ADS_1



😘


__ADS_2