3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PERPISAHAN


__ADS_3

Bisik-bisik mulai kembali terdengar samar-samar namun jelas. Faktanya, itu tidak di lakukan oleh satu atau dua orang. Melainkan seluruh mereka yang hadir di lapangan Pengadilan Kerajaan Huoli.


Mendengar isi dekrit Kaisar Li yang menyatakan bahwa penguasa tersebut melepaskan Permaisurinya sebagai bentuk maaf pria itu pada istrinya, menjadi tanda tanya besar dalam benak rakyatnya kecuali mereka yang tinggal di dalam benteng Istana.


Meski begitu, tak sedikitpun dari mereka yang menemukan jawabannya. Walau beberapa dugaan yang tepat sempat keluar dari mulut mereka. Akan tetapi, berhubung tidak ada yang membenarkan ataupun menyalahkan sehingga semua itu hanya bisa menjadi dugaan tanpa hasil apa-apa.


Kaisar Li pun sudah membuat bawahannya yang mengetahui fakta sebenarnya bungkam. Pria itu melarang keras cerita yang sebenarnya sampai bocor keluar istana. Semua itu di kemas dengan kematian sebagai hukuman bagi yang membocorkannya.


Selain karena alasan malu, mengingat dia adalah Kaisar di Negara Api. Ia pun tak ingin menambah kesibukan rakyat-rakyatnya untuk bergosip tentang Keluarga Kerajaan nya juga tak ingin sampai rakyat-rakyatnya mencontohkannya. Baginya, ini adalah aibnya. Aib didalam istana.


Aib yang tak hanya membuatnya malu, tapi juga menyesal dan merasa bodoh. Dia sudah cukup jatuh hingga terluka karena kebodohannya. Ia tak mau menambah beban rasa sakitnya dengan mendengar sendiri bagaimana rakyat-rakyatnya berkomentar tentang kebodohannya.


Sejak prosesi eksekusi mati tadi selesai dengan pembacaan dekrit yang amat sangat berat untuk ia bacakan. Kaisar Li segera beranjak pergi dari sana di susul pengawal pribadinya meninggalkan para dewan kerajaan dan istri-istrinya juga Kasim yang memang masih memiliki tugas sebelum mengakhiri agenda siang itu.


Kini pria itu tengah menyendiri di kediamannya, tepatnya gazebo miliknya yang di kelilingi oleh kolam teratai. Dia sendirian disana menatap kosong ikan-ikan yang ada di dalam kolam teratai tersebut.


Kebetulan, saat ia tak sengaja melihat ikan jantan tampak berenang beriringan dengan ikan betina yang terlihat tengah mengandung. Dapat dilihat betapa manis pemandangan itu. Kaisar bahkan sampai merasa dadanya tercekat oleh rasa iri dan miris merutuki dirinya sendiri.


Merasa konyol, kala benaknya memikirkan bahwa ikan peliharaan yang ada di kolam teratai nya bahkan memiliki kehidupan yang baik dan manis daripada dia sebagai tuannya, majikannya, manusia yang memeliharanya.


Ia tertawa mengejek untuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia merasa cemburu dengan ikan peliharaannya. Jelas takdir hidup mereka berbeda. Bagaimana bisa dibandingkan.


Disaat-saat tengah melamunkan apa yang sudah ia lakukan hingga sampai pada masa sekarang ini, terdengar suara langkah kaki berjalan mendekatinya. Sedang dia memilih diam dan tak peduli pada siapapun yang datang. Kegalauan hatinya, membuat ia melonggarkan kewaspadaannya. Beruntung, ia memiliki pengawal bayangan yang selalu sedia untuk melindunginya.


"Murung, hm?!" celetuk suara gadis yang amat familiar di telinganya. Suara dari orang yang ingin ia miliki namun tidak bisa. Segera ia berbalik dan melihat.


Dan, dia benar...


"Ahn Reychu..." gumamnya nyaris tak terdengar.


Dia yang tak lain adalah Reychu tersenyum jail melihat betapa kusutnya wajah Kaisar Li saat ini, kemudian terkekeh tak tertahankan. Sedikit berpikir, inikah yang dinamakan penguasa kejam dari Negara Api?!


Berjalan lebih mendekat sampai ia berdiri sejajar dengan sang Kaisar, tanpa menoleh ke arah orang yang berada di sampingnya. Reychu menatap santai kearah kolam teratai dengan ikan yang berenang didalamnya.


Pemandangan itu cukup menyegarkan rupanya.


Lain dengan Kaisar Li yang justru tak bisa berpaling dari memandangi wajah cantik gadis disebelahnya yang beberapa waktu lalu telah resmi menjadi mantan Permaisurinya. Mengingat itu, ia tidak bisa tidak merasa sedih.


"Ini bukan akhir segalanya!" seru Reychu tiba-tiba sukses menyentak Kaisar Li dari lamunannya kala asik memandangi wajah cantik Reychu yang entah bagaimana, ia merasa kini pancarannya berbeda. Lebih bersinar dari yang dulu saat ia masih mengacuhkannya.


Kaisar Li menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Jujur, masih terasa berat untuk mengakui kalau semua yang sudah terjadi adalah nyata.


Beralih ikut memandangi kolam teratai di bawah gazebo yang mereka tempati saat ini.


"Benar! Ini bukan akhir... Melainkan awal dari segalanya..." balasnya dengan tidak bersemangat.


"Itu kau tahu. Berhenti bersikap lemah. Kau adalah Kaisar. Penguasa Negara Api, pemimpin Kerajaan Huoli. Tidak adanya aku bukan berarti kau tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik. Justru, karena kita tidak berjodoh. Makanya, kau akan menemukannya suatu hari nanti." entah ada angin apa Reychu berbicara normal kali ini.


Menoleh dan menatap dalam Reychu. "Benarkah?"


"Cih! Kau berkata begitu seolah tak percaya pada takdir." membalas tatapan Kaisar Li sekilas dengan acuh tak acuh. Sama sekali tak peduli dengan tatapan penuh arti yang dilayangkan oleh pria itu.


Sejenak keheningan menyelimuti keduanya. Sampai Kaisar Li angkat bicara lebih dulu.


"Bukankah kau akan pergi setelah semua ini selesai?" tanya Kaisar Li sambil mengerutkan dahinya.


Mendengar pertanyaan itu, Reychu mengangguk membenarkan. "Hm... Memang!" jedanya seraya menggerakkan tubuhnya menghadap Kaisar Li untuk membalas mata yang menatapnya itu. "Mereka sudah menunggu di gerbang istana. Aku sengaja datang kemari untuk berpamitan..."


"Pergilah! Aku tidak bisa egois meski aku mau... Tapi, seperti katamu... Inilah takdir. Walaupun aku mencintaimu, ku rasa ini adalah hukuman dari Dewa karena aku melawan kehendaknya." jujur Kaisar Li yang sudah dengan lapang dada memilih menyerah.


"Benar! Karena kau pembangkang!" gamblang Reychu berkata.

__ADS_1


"Hm. Aku benar-benar pembangkang!" sahut Kaisar Li membenarkan seraya mengangguk.


"Mulailah untuk menjadi anak berbakti. Ibu Suri masih ada di sisimu. Kau bahkan masih memiliki 3 Selir di Harem mu. Walaupun diantara mereka tak ada yang di takdirkan untuk menjadi pemutus kutukan itu. Setidaknya, jalinlah hubungan baik dengan mereka. Bagaimanapun mereka tetaplah perempuan. Meski ada yang tidak menganggap penting hubungan denganmu. Mereka tetap haru kau hargai. Seperti yang pernah kau lakukan dulu padaku!" terang Reychu dengan senyum manis yang terukir indah di bibirnya.


Bila melihat Reychu seperti itu, jelas siapapun akan merasa ada yang tidak beres.


"Aku akan memperbaikinya!" tukas Kaisar Li yakin dengan keputusan singkatnya.


Usai itu, Reychu merentangkan kedua tangannya dan berkata. "Pelukan perpisahan?" tanyanya dengan masih tersenyum.


Kaisar Li terhenyak sejenak. Sebagai seorang yang berasal dari jaman kuno, cukup jelas tahu mengenai batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, untuk kali ini sepertinya Kaisar Li memilih melanggarnya.


Bagaimanapun ini akan menjadi pelukan terakhir mereka. Kenapa dia harus menolaknya.


Segera Kaisar Li bergerak maju untuk membalas pelukan tersebut. Dalam kesempatan ini, ia memeluk Reychu erat. Dia juga menghirup kuat aroma tubuh Reychu sebagai kenangan. Mencium puncak kepalanya, bahkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis yang tengah ia peluk saat ini.


"Hehe... Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" tegur Reychu tidak serius.


Kaisar Li memilih mengabaikannya. "Andai aku bisa menahan mu disini... Sayangnya tidak bisa..." keluhnya tak berdaya.


Reychu tersenyum menggoda sambil menyipitkan matanya, meski tahu kalau pria dalam pelukannya tak akan melihatnya. "Itu sudah tentu harus kau lakukan! Aku mana mau terjebak disini bersama mu lebih lama lagi! Hahaha..."


Kaisar Li ikut tersenyum dibuatnya walau tipis.


"Jaga dirimu baik-baik... Dan doakan aku agar aku cepat mendapatkan penggantimu!" pinta Kaisar Li yang tampak masih berat untuk berpisah dengan Reychu.


Reychu mengangguk mengiyakan. "Tenang! Aku pandai menjaga diriku! Kau juga tak perlu khawatir. Menurut firasat ku, tak butuh waktu lama kau akan menemukan tambatan hati mu yang sesungguhnya. Kau akan menikahinya, memiliki anak banyak dengannya, dan menua bersamanya. Tak ketinggalan, kau juga akan membawa anak-anak mu menuju pernikahan mereka. Percayalah!" tukasnya panjang lebar.


"Terimakasih!" ucap Kaisar Li karena merasa terhibur dan membuat hatinya lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa lega.


Pelukan mereka pun akhirnya terlepas.


Sejenak keduanya saling menatap.


Ada perasaan senang dengan perhatian kecil yang Reychu berikan.


"Jangan lupa, kau harus mengundangku saat sudah menemukan Permaisuri mu. Aku harus menjadi saksi di hari pernikahan mu nanti. Mengerti?" pinta Reychu yang memaksa.


Terkekeh lah Kaisar Li mendengarnya. "Tentu! Akan aku lakukan! Kalau perlu, aku tak akan menikah tanpa disaksikan olehmu!" balasnya menimpali.


Keduanya pun tertawa bersama.


"Baiklah, aku pergi! Selamat tinggal! Sampai jumpa!" seru Reychu seraya melambaikan kedua tangannya sebelum akhirnya iapun berbalik dan berlalu pergi dari hadapan Kaisar Li yang masih betah memandangi punggung kecil gadis itu yang kian menjauh.


"Selamat tinggal dan sampai jumpa!" balas Kaisar Li yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri karena orang yang dimaksud dalam kalimat itu sudah berlalu pergi.


Setelah Reychu menghilang dari jangkauan matanya, Kaisar Li kembali berbalik menghadap kolam teratai miliknya. Dapat ia lihat sepasang ikan itu berenang saling mengejar membuat si pemilik ikan tersebut mengukir senyum di bibirnya walau tipis hingga tak terlihat.


"Kau benar! Ini adalah awal baru untuk ku!" katanya ketika merasakan hatinya yang begitu lapang dan damai.


Sehingga kaisar Li beranggapan bahwa itu adalah bukti dari keikhlasannya terhadap masa lalu pahit yang ia rasakan.



Di gerbang istana.


Di sana selain rombongan Reychu, sudah ada ketiga Selir Kehormatan Wang Jinji, Jenderal Muda Long Wan Shie, serta Ibu Suri dengan didampingi pelayan mereka.


Jangan tanyakan tentang yang lainnya. mereka memang tidak berniat mengantar Reychu pergi. Bukan karena dia tidak lagi menjadi Permaisuri, melainkan karena mereka tidak sedekat itu.


Seharusnya Ibu Suri juga tidak ada disana. Tapi, wanita tua itu begitu bersikeras untuk mengantarkan Reychu pergi.

__ADS_1


"Wah. Kalian sudah berkumpul disini. Kenapa repot-repot sekali." kembali ke sifat aslinya sambil berjalan mendekat usai meninggalkan kediaman Kaisar Li.


Senyum merekah yang selalu tampak menjengkelkan tak lepas dari bibirnya. Tapi, bagi yang sudah mengenalnya sama sekali tak mempedulikan senyum itu.


"Kau sungguh akan pergi, sayang ku?" terlihat dari raut wajah Ibu Suri, kalau wanita tua itu masih enggan melepas mantan menantu kesayangannya.


Dengan tersenyum Reychu menjawab. "Sungguh! Aku tidak bisa tinggal lagi." mendengar itu Ibu Suri hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa bila sudah begini.


"Huh! Baiklah... Berjanjilah, jaga dirimu baik-baik!" pinta Ibu Suri dengan kasih sayang penuh.


Reychu mengangguk, entah tersentuh atau tidak. "Pasti. Tidak perlu khawatir, Ibu Suri!"


Mengedarkan pandangannya kearah Selir Kehormatan Wang Jinji dan Jenderal Muda Long Wan Shie. "Kalian juga... Jaga diri baik-baik."


Kedua orang yang di maksud mengangguk paham.


"Itu sudah pasti!" sambut Jenderal Muda Long Wan Shie dengan senyum menawannya yang tersirat kesedihan didalamnya.


Pemuda itu sedih karena mereka harus berpisah.


"Haha... Jangan sedih... Maka dari itu, menikah lah. Hmm..." goda Reychu. Mana tahan dia normal terlalu lama.


Wajah Jenderal Muda itu langsung memerah dibuatnya. Ia bahkan tak bisa berkata-kata lagi.


"Hati-hati di luar sana. Di sana tak akan semudah di sini." kata Wang Jinji mengingatkan, tak lupa juga dengan senyum manis miliknya.


"Aku tahu. Kau juga... Cobalah untuk lebih sering memperhatikan suamimu." kilatan menggoda muncul dimatanya lagi. "Walau tidak bisa menjadi Permaisuri. Kau masih bisa menjadi Selir yang bijak dan dapat di andalkan untuk suamimu. Dia akan jauh lebih baik setelah ini." menaik-turunkan alisnya kearah Wang Jinji yang langsung memerah malu karena ulahnya.


"Anda ini..." sungkannya malu-malu.


Reychu tertawa renyah dibuatnya.


"Baiklah. Kami sudah harus pergi! Sebelum hari mulai malam." jedanya menatap ketiga orang itu. "Selamat tinggal dan sampai jumpa!" pamitnya sembari menakup kepalan tangannya didepan dada dengan sedikit membungkuk hormat.


Ketiga orang juga yang lainnya -pelayan- pun melakukan hal yang sama sebagai bentuk perpisahan mereka.


"Selamat tinggal... Sampai jumpa..."


Setelahnya, Reychu dan teman-temannya pun berbalik beranjak pergi meninggalkan gerbang istana negara api tanpa menoleh lagi.


Kisah ketiga sahabat yang melintas waktu itu di Kerajaan Huoli Negara Api pun berakhir sampai disini.


Dari sini, ketiganya dan teman baru mereka yang didapat di masa kuno itu akan melakukan perjalanan ke dunia yang lebih luas lagi. Dengan tantangan dan rintangan yang lebih dari sebelumnya. Pastinya, semua itu akan membuat mereka merasa seperti perjalanan waktu ini tidak sedikitpun merugikan.


Semua itu amat menyenangkan untuk mereka. Walau Ryura tak pernah menunjukkannya melalui ekspresinya.





(sumber pinterest)


waaahh. gk terasa udah sampai di penghujung cerita 3Ry-MWs1...


Thor berharap, semoga sampai disini kalian penggemar setia 3Ry yang sudah membaca dari awal sampai sekarang tetap suka dan senang dengan karya Thor ini.


selanjutnya, Thor bakal kasih bonus cerita untuk menutup season 1 ini sebelum akhirnya kita sama-sama akan masuk ke season 2 Reychu dan teman-teman....


selamat menantikan!!!

__ADS_1


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‹


__ADS_2