3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
AJAKAN MAKAN MALAM


__ADS_3

PRANG!


BRAK!


"AAARRRGGHH...!!!"


Lin An Lie berteriak secara histeris. Ia mengamuk dengan gilanya. Membanting apapun yang ada di kamar itu tanpa terkecuali hingga kamar tidurnya menjadi seperti kapal pecah. Tak ia pedulikan bila pada akhirnya ia akan melukai dirinya sendiri. Luka dihatinya sudah tak bisa disembuhkan lagi, ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit bercampur cemburu dan benci pada perempuan yang padahal sudah cukup lama tidak diketahui keberadaannya. Tapi, masih saja menjadi yang teristimewa untuk pria yang dicintainya.


Kreekk...


Terdengar suara pintu terbuka, tampak Yu Ran Ran masuk dengan tergesa sebab khawatir dan kemudian mematung di tempatnya kala melihat apa yang terpampang di depan matanya. Ia melihat betapa kacaunya kamar sang ibu, ia juga bisa melihat bahwa wanita yang melahirkannya pun tak jauh berbeda dengan kekacauan yang ada.


"I..ibu..." lirihnya tak kuasa, air matanya pun tumpah.


Nafas Lin An Lie memburu dengan brutal. Ia tak bisa lagi meredam amarahnya, terlebih ketika otaknya tak juga ingin dijauhkan dari bayang-bayang Yu Ran Yuan yang begitu mencintai wanita mantan pelayannya itu. Tangannya dikepal dengan kuatnya sampai sedikit melukai telapak tangannya.


Yu Ran Ran terpukul melihat kondisi sang ibu pun memilih mendekatinya. Namun, belum sepenuhnya dekat, langkahnya sudah dibuat berhenti karena kalimat yang dilontarkan sang ibu.


"Apa kurangku...?! Apa yang kurang dariku...?! Aku cantik...! Aku juga bisa memuaskannya...! Apa yang tidak aku miliki sampai jal*ng itu bisa tampak sempurna dimatanya!" tubuhnya bergetar hebat karena guncangan amarah yang mendalam. "AKU ISTRINYA! AKU LEBIH BERHAK ATAS TUBUH DAN HATINYA! TAPI, MENGAPA WANITA ITU YANG DICINTAINYA?! MENGAPA?! MENGAPA?! AAARRRGGHH!!!" pada akhirnya iapun berteriak sampai menjambak rambutnya sendiri dengan kuat tanpa berpikir kalau rambutnya bisa saja rontok semua dalam sekali jambak.


Tak ingin melihat lebih jauh penderitaan sang Ibu, Yu Ran Ran pun bergegas menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat. Gadis itu mencoba menyalurkan ketenangan pada Ibunya yang benar-benar tengah menderita batin.


"Ibu, tenanglah. Jangan seperti ini! Aku sedih melihatmu seperti ini! Jangan begini Ibuuu... Kumohon... Hiks!" merasakan tubuh putrinya yang memeluknya sembari menangis ternyata berhasil membuatnya terdiam.


Ia melepaskan pelukan itu, lalu ditakup wajah sang putri dan dipandangnya dengan tatapan sulit. "Ran Ran... Kau menyayangi Ibu, bukan?" Yu Ran Ran mengangguk cepat tanda mengiyakan. Memang, siapa yang tidak menyayangi Ibunya sendiri?! Konyol!


"Kalau begitu dengarkan Ibu..." jedanya dengan sedikit mulai aneh, namun Yu Ran Ran tak menyadarinya. "Aku mencintai Ayahmu... Jadi, seharusnya iapun mencintaiku... Sudah seharusnya aku, dia, dan kau bersama. Tanpa anak haram itu..." katanya yang tersirat makna lain didalamnya.


"Tentu, Ibu. Aku juga ingin begitu. Tapi, apa yang harus kita lakukan untuk membuat semua itu nyata?" tanya Yu Ran Ran dengan berlinang air mata.


"Ibu sudah memikirkannya. Kita akan memperbaiki hubungan kita dengan ayahmu. Kita akan meminta dia memberikan kita kesempatan untuk memulai kembali semuanya dari awal." tutur Lin An Lie yang mana malah membuat Yu Ran Ran mengernyitkan keningnya tajam, ia berpikir keras tentang penuturan Ibunya yang menurutnya aneh.


"Ibu... Tapi, semua ini bukan salah kita! Lalu, mengapa jadi kita yang harus meminta kesempatan pada Ayah! Seharusnya Ayah yang melakukan itu untuk kita, ibu!" balas Yu Ran Ran merasa tak terima dengan usulan ibunya. Baginya ini tidaklah adil, Ayahnya yang salah karena telah menyakiti ibunya lantas mengapa jadi ibunya yang harus merendahkan diri seperti sekarang ini. Jelas saja itu membuatnya tidak terima.


"Sudah! Jangan membantah! Turuti saja apa kata ibu! Ini demi kebaikan kita bersama! Ingat kita bertiga adalah Keluarga! Tidak ada tambahan lain lagi. Hanya bertiga! Mengerti!" tukas Lin An Lie tegas dan tak ingin di bantah.


Yu Ran Ran hanya bisa mengangguk pasrah, ia tak punya pilihan lain selain menurut.


"Kalau begitu, sekarang pergilah ke tempat Ayahmu dan minta dia untuk makan malam bersama. Ingat ini makan malam hanya diperuntukkan bagi kita bertiga saja. Kau harus membuat Ayahmu menyanggupinya. Karena, Ibu yakin. Dia lebih mendengarkan mu daripada Ibu." terangnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah. Akan Ran Ran lakukan keinginan Ibu." Katanya menerima permintaan sang Ibu.



Duduk bersila di atas peraduan dengan nyamannya. Tetapi, jangan lupakan sosok terdekat dengannya yang kini tengah duduk di pinggir peraduan sembari bersedekap dada dengan mata yang menyorot kearahnya.


Setelah sejak tadi ia tak punya waktu untuk bersama gadis itu karena sedang berbahagia dengan Ayahnya. Tentu saja, dia tidak ada niatan untuk mengganggu.


"Aku tidak bisa bersikap tenang begitu saja. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini. Ini terlalu cepat, kalau harus di katakan 'sudah berakhir'!" lugasnya yakin.


"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya sosok itu yang tak lain adalah Ruobin dengan kernyitan di dahinya.


Sebelumnya, keduanya sedang berbincang tentang hal-hal yang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia hitam nan kejam, tentu kemampuannya telah terasah dengan sendirinya. Kemampuan membaca situasi dan saat ini Rayan tengah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi mengingat tak ada yang mudah setelah apa yang terjadi sebelumnya.


"Karena itu adalah kemungkinan terbesarnya." tukasnya tanpa ragu.


"Ya, aku juga tidak bisa memungkiri hal itu. Bagaimanapun... Keadaan tidak akan semudah itu membaik. Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ruobin pada Rayan yang tampak sedang berpikir.


Saat ini mereka tengah terlibat pembicaraan yang masih tanda tanya. Namun, tetap tidak akan jauh dari apa yang sedang terjadi di kediaman Yu.


"Aku butuh sesuatu untuk berjaga-jaga dan kau harus membantuku!" lugasnya tak ingin ditolak.


"Itu bukan masalah. Kau tinggal katakan padaku semua yang kau inginkan dan aku akan menyediakannya untuk mu." siap sedianya tak terelakkan.


"Ululuuu... Manisnya... Sini-sini kuberikan pelukan. Aku jadi makin sayang 'kan!!" gemasnya bercampur haru dengan sedikit dibumbui manja ala Rayan Monica seraya merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat peluk.


Siapa yang mau menolak. Jelas saja Ruobin dengan senang hati menerimanya. Namanya juga sudah sayang.



Sesuai keinginan sang Ibu. Kini Yu Ran Ran datang dengan pesan yang ingin ia sampaikan pada Ayahnya. Akan tetapi, tadi usai makan siang Ayahnya sudah tidak ada di kediaman. Menurut kabar yang di katakan para pelayan, Yu Ran Yuan sedang ada kegiatan diluar dan akan kembali sebelum hari mulai gelap.


Dan setelah lama menunggu, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun kembali.


Gadis itu bergegas menghampiri Yu Ran Yuan yang saat itu baru saja kembali dari luar kediaman. Entah apa yang ia lakukan diluar sana.


"Salam, Ayah..." Yu Ran Yuan mengamati sebentar putrinya yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Ada apa, Ran Ran?" tanya sang Ayah lembut. Bila berhadapan dengan darah dagingnya, Yu Ran Yuan selalu lembut. Karena, ia sangat mencintai anak-anaknya tanpa pandang dari Ibu mana mereka dilahirkan.

__ADS_1


Yu Ran Ran tersenyum manis mendapati kalau ternyata perlakukan Ayahnya tidak berubah. "Ran Ran hanya ingin menyampaikan, kalau sebenarnya Ibu ingin mengadakan acara makan malam bersama bertiga. Ayah mau 'kan makan malam bersama Ibu dan aku?" ia menanyakannya dengan hati-hati. Tahu, kalau hubungan kedua orang tuanya tidaklah baik sehingga ia tak ingin merusak rencana Ibunya.


"Makan malam hanya bertiga?" ulang Yu Ran Yuan tersirat ketidaksukaan kala mendengar kalau makan malam itu dibuat hanya untuk bertiga. Tidakkah Ibu dan anak itu tahu ia masih memiliki satu anak gadis lagi, pikirnya.


Jujur saja, sebenarnya ia sangat malas bila harus berurusan dengan istrinya itu lagi. Istri yang mungkin sudah ditakdirkan untuk ia nikahi, tapi tidak untuk ia cintai bagaimanapun ceritanya. Tapi, apa boleh buat. Mereka masihlah terikat oleh ikatan tersebut.


"Eum... Iya, Ayah. Ibu bilang ini untuk permintaan maaf Ibu dan untuk memperbaiki hubungan Ayah dan Ibu. Maaf, Ayah. Bukan maksud Ran Ran untuk ikut campur. Hanya saja, Ran Ran juga sangat ingin melihat kalian akur. Ran Ran sedih kalau harus selalu melihat kalian menjaga jarak seperti ini." melas Yu Ran Ran sedih.


Kening Yu Ran Yuan berlipat tajam. Agak sangsi dengan apa yang baru saja ia dengar. Sejujurnya, ia juga tak ingin seperti ini. Tapi, jelas saja ia tetap tidak bisa bila dipaksa membalas cinta istrinya itu kalau nyatanya hatinya hanya cukup untuk satu cinta. Terlebih ia masih ingat kalau tadi pagi mereka baru saja melalui perang dunia Rumah Tangga entah yang keberapa kalinya. Agak aneh kedengarannya ketika istrinya yang selama ini selalu bersikap menekan padanya tiba-tiba melunak dna memilih mengalah.


Jujur, ia curiga.


Tapi, melihat wajah putri keduanya yang nampak sedih iapun jadi tak tega untuk menolak. Akhirnya, ia memilih mengiyakan ajakan tersebut. Mungkin, acara makan malam ini bisa ia jadikan untuk membicarakan tentang kehidupan putri tercintanya yang satu lagi agar diterima di keluarga mereka.


"Baiklah. Ayah akan datang."


Mendengar itu Yu Ran Ran senang bukan main. Ia tersenyum bahagia, pasalnya ini adalah kali pertama mereka bertiga melakukan acara makan malam bersama. Yu Ran Ran tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bersama kedua orang tuanya di waktu senggang. Karena, sepasang suami istri itu selalu perang dingin bila. Tak jarang mereka selalu bertengkar bila hanya berdua dan masalah yang di bahas tak pernah jauh dari apa yang selama ini di permasalahkan.


Yaitu, tentang Yan Yue yang bukan siapa-siapa tapi bisa mengambil hati Yu Ran Yuan yang berstatus suami Lin An Lie, bahkan ia juga yang pertama kali memberikan pria itu anak sebelum istri sah nya sendiri.



Menggenggam erat sesuatu ditangannya tanpa berniat menghancurkannya, hanya ingin menyalurkan keyakinannya untuk balas dendam.


"Aku akan melakukannya! Tidak akan aku biarkan apa yang kau inginkan terwujud! Kau harus membayar penderitaan ku selama ini!" memandang dalam sebuah benda yang ada ditangannya penuh makna.


"Kau akan mati! Kau harus mati! Jika tidak, kau hanya akan terus membuatku menderita! Dan aku tak akan biarkan itu berlangsung lebih lama lagi! Salahkan dirimu yang tidak bisa menerimanya kenyataan, kalau hanya aku yang ada di sisimu!"


Ia berkata dengan nada bergetar, bukan karena sedih atau merasa terpaksa. Melainkan, karena ia sudah tak dapat berpikir jernih lagi. Luka yang ia terima membuatnya hilang akal.


Namun, sayangnya ia tidak sadar perkataannya ternyata didengar oleh sepasang telinga yang dengan santai menguping dari tempat yang tidak jauh darinya dan ia sendiri tidak dapat merasakan keberadaan pemilik sepasang telinga tersebut.


"Dia sudah gila!" setelah mengatakan tiga kata itu sosok itupun pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak.



maaf lama....


sekarang selamat kembali membaca...

__ADS_1


bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2