3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TIGA KALI DITOLAK SEKALI DITERIMA


__ADS_3

"Aku ingin kau jadi muridku!"


Kalimat singkat itu di ucapkan dengan ketegasan dan kepercayaan diri yang tinggi seolah dengan begitu ia tak akan mendapati sesuatu di luar harapannya. Namun apalah daya bila dia hanyalah seorang manusia yang hidup tanpa tahu seperti apa skenario yang sang pencipta ciptakan untuk setiap hambanya.


"Tidak!" usai satu kata itu diucapkan dengan datar tanpa minat setitik pun, Ryura diam membiarkan pria tua pendek di depannya terdiam dalam keterkejutannya seperti orang yang baru pertama kali menerima sebuah penolakan, walau nyatanya memang begitu. Setelahnya ia beranjak pergi dari sana meninggalkan orang tua pendek dan beruban itu dalam ketidakpercayaan yang memenuhi benaknya.


Untuk pertama kalinya ia merasa seperti tak berarti apa-apa...


"...?!" otaknya sedikit terlambat mencerna bahkan ia membiarkan Furby berlalu begitu saja melewatinya yang tengah dalam mode bingung. Melihat itu Furby tak bisa bila tak tertawa dengan tawa khas kudanya menertawakan reaksi melongo pria yang di katai 'si cebol tua' itu olehnya.


"Aku tidak salah dengarkan?! Dia... Baru saja menolakku?! ASTAGA... INI TIDAK MUNGKIIIIINNN... Aku... Aku... Si Pertapa gunung puncak keabadian DI TOLAK?! Oleh seorang GADIS BIASA?!" jerit orang tua itu dalam hatinya di setiap kata berhuruf besar diatas dengan seribu persen ketidakpercayaan atas penolakan yang ia terima dari Ryura.


Menoleh secara kilat ke arah perginya Ryura, dimana ia masih bisa melihat tubuh gadis itu walau agak tertutupi oleh tubuh besar Furby.


"Huh! Tidak bisa dibiarkan!" tekannya tak terima seraya menggelengkan kepalanya dramatis. Sebagai orang yang hebat sepertinya sungguh tak dapat mempercayai akan namanya penolakan secara gamblang tanpa pikir panjang apalagi itu dilakukan oleh seorang gadis yang sama sekali tidak terlihat kuat.


Segeralah dengan langkah seribu orang tua itu mengejar Ryura. Benar saja, tak butuh waktu lama bahkan cukup singkat orang tua yang belum diketahui namanya itu sudah sampai saja di hadapan Ryura membuat gadis itu mau tidak mau harus menghentikan langkahnya secara mendadak.


Ryura menatap datar sama seperti tatapan sebelumnya yang ia berikan pada orang tua itu. Tapi, orang tua itu tidak terlalu memperdulikannya.


"Wahai anak muda! Coba pertimbangkan dulu. Dengar, namaku adalah Duan Xi. Aku seorang pertapa di gunung puncak keabadian, seorang alumni dari sebuah perguruan terhebat yang pernah ada. Aku ingin merekrut seorang murid dan pilihan ku jatuh padamu..." belum selesai orang tua yang menyebut dirinya bernama Duan Xi itu menuntaskan kalimatnya Ryura sudah lebih dulu menyela sambil mengayun kembali langkahnya untuk pergi.


"Tidak."


Geram? Tentu saja. Duan Xi tidak menduga hal ini. Meskipun ia belum pernah sekalipun memiliki seorang murid tapi ia sudah pernah mengajarkan beberapa orang sebagai asisten guru sewaktu muda mengingat ia cukup mumpuni untuk melakukannya. Tapi, sesuatu membuat ia harus berkelana untuk dapat menemukan murid yang sesuai pilihannya. Saat pilihan itu telah di tetapkan, justru sang calon muridnya yang enggan menerima tawarannya.


Benar-benar ironis!


Sungguh membingungkan untuk Duan Xi sebenarnya. Dikarenakan, baru kali ini ia mendapati sebuah kesempatan emas ditolak mentah-mentah bahkan lebih dari sekali. Mungkin orang itu sudah tidak waras lagi sampai menolak hal yang amat diinginkan oleh banyak orang namun sulit untuk didapat lantaran kualifikasinya yang amat mengerikan.


Tapi, gadis tanpa ekspresi ini...


Untuk kesekian kalinya Duan Xi menggelengkan kepalanya tanpa sadar.


Terus berjalan entah mau kemana, hanya mengikuti gadis berwajah datar itu pergi.

__ADS_1


"Coba pikirkanlah lagi..." tuturnya nyaris merengek. "Belum pernah ada sebelumnya orang yang menolak untuk menjadi hebat. Lagipula, tawaran seperti ini sangatlah langka anak muda..." bujuknya lagi.


"Tidak."


Duan Xi menghela nafasnya yang hampir frustasi, dia benar-benar tidak habis pikir dengan isi otak gadis yang kini berjalan kearah alas kayu setinggi lutut orang dewasa serupa dengan meja namun tidak digunakan sebagai meja di tambah terdapat meja kecil di atasnya dan itu terlihat layaknya pondok tak beratap. Gadis yang belum Duan Xi ketahui namanya itu tampak mendudukkan diri ke pondok tersebut kemudian mengangkat tangannya yang sepertinya ingin memesan sesuatu.


Ternyata itu adalah sebuah tempat warung makan di area terbuka.


Disusulnya Ryura dan ia ikut duduk di hadapan gadis itu. Furby masih setia di sisi Ryura seraya memandang Duan Xi dengan pandangan meledek.


"Bujuk teruuuusss... Biar ku hitung. Berapa banyak kata 'tidak' yang akan Ryura ucapan untuk mu. Hehehe..." Furby terkekeh dalam hati, ia tampak senang melihat Duan Xi merana. Entah apa yang pernah kuda bulan dan orang tua pendek itu alami sebelumnya, sampai-sampai Furby seolah menyimpan kejengkelan yang tiada tara.


"Iya, Nona. Mau pesan apa? Disini kami menyediakan Jiaozi, Tahu Ma PO, dan Wonton. Nona ingin pesan apa?" tanya pelayan warung makan itu ramah.


"Jiaozi." jawabnya tak lebih tak kurang. Si pelayan dibuat berkedip bingung mendengar jawaban singkat yang diberikan Ryura bahkan tanpa melihatnya. Untuk pertama kalinya ia di pertemukan dengan kepribadian orang seperti gadis pelanggan di depannya saat ini, padahal gadis itu berparas manis.


Tersadar dari lamunannya, ia berdehem canggung. "Baik, ada lagi?" Ryura menggeleng sebagai jawaban. Kemudian pelayan itu pun pergi begitu saja untuk menyiapkan pesanan yang baru saja dipesankan oleh pelanggannya dan melupakan bahwa ada satu orang lagi yang sudah bertampang masam akibat di abaikan. Padahal itu tidak di sengaja.


Tiba-tiba Duan Xi berseru protes. "Hei, kau tidak memesankan juga untukku? Setidaknya bertanyalah... Aku disini terpampang nyata. Apa kau berpikir aku ini hantu?!" mendengar itu Ryura hanya menatapnya tanpa membalas ocehan pria tua yang entah datang dari mana sejak tadi. Sekarang justru asik mengekor dirinya dengan untaian kalimat yang ta ada menarik-menariknya bagi Ryura.


Ia bingung dibuatnya hingga merasa kesusahan sendiri.


Tak ingin menambah pusing kepalanya, ia pun berseru keras. "PELAYAN... AKU PESAN JIAOZI JUGA DAN JANGAN LUPAKAN SEBOTOL ARAK!" pinta Duan Xi dengan nada tingginya sekaligus bermaksud untuk melampiaskan rasa frustasinya pada gadis di depannya ini.


Furby yang melihat itu seketika tawanya pecah dan tentunya tawa dari dalam benaknya. Dia yang seekor kuda bagaimana bisa tertawa lepas, apa kata orang-orang nanti bila mendapati ada kuda yang tertawa. Terlebih kuda itu adalah kuda bulan. Bisa tamat riwayatnya!


Duduk dalam posisi malas agak memiringkan tubuhnya dengan tangan kanan yang di letakkan di atas meja. Ia melirik Ryura tanpa jeda di setiap 5 detik sekali dengan raut wajah seperti ia tengah berpikir keras untuk mulai membujuk kembali gadis yang terlihat santai dan tenang menunggu pesanannya datang. Ia masih tak ingin menyerah. Baginya walaupun menjengkelkan bersikap memelas dan memohon tapi tetap harus ia lakukan karena entah mengapa gadis didepannya ini memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu ia menginginkan Ryura sebagai muridnya.


Duan Xi menaruh harapan besar pada Ryura meskipun saat ini kata penolakan masih ia dengar. Tapi, tak dipungkiri oleh orang tua sepertinya bahwa ia yakin kalau gadis tanpa ekspresi ini akan menjadi muridnya dan akan menjadi yang terbaik di antara mereka-mereka di sana, baik guru maupun muridnya a.k.a saingannya.


"Ehem... Anak muda. Aku ingin bertanya pada mu..." matanya menatap waspada bukan karena sesuatu yang berbahaya melainkan ingin memastikan bahwa gadis didepannya mau merespon ucapannya walau sedikit dan singkat bukannya menyela dengan jawaban yang mampu membuat darahnya naik seketika.


Ryura melirik begitu mendengar kata tanya ingin di lontarkan padanya.


"Maukah kau memberitahu namamu...? Eum... Maksudku. Sebelumnya aku 'kan sudah memberitahukan namaku padamu, lengkap dengan siapa aku ini. Jadi..." dengan kikuk ia bertanya sebab tahu kalau Ryura meliriknya tanpa merubah raut wajahnya sama sekali, itu cukup untuk membuatnya sedikit tak nyaman. Sialnya, bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan dan itu sungguh diluar dugaannya. Dia jadi merasa menyedihkan sendiri, terlebih dia adalah seorang yang sudah lebih dulu melewati pahit manisnya kehidupan bahkan bisa dikatakan jauh sebelum gadis didepannya ini lahir, ia yakin itu.

__ADS_1


Duan Xi jadi merasa seperti kembali ke masa pertama kali belajar di akademi sewaktu muda dulu, tepat saat ujian pertamanya yang cukup menguras mental saking tegangnya. Tapi, sepertinya sekarang jauh lebih menegangkan lantaran yang dihadapi bukanlah buku ataupun hafalan melainkan makhluk hidup yang bernama perempuan dengan wajah datar tanpa ekspresi, sorot matanya tak bisa di selami, gerak-gerik yang tak bisa dibaca, aura yang menyelimutinya sulit diartikan atau mungkin lebih tepatnya tidak ada.


"Ryura." Duan Xi terbelalak tak percaya dengan yang ia dengar. Bagaikan seseorang yang mendapat undian kupon makan gratis seumur hidup, ia mengerjapkan matanya guna memastikan kalau ia benar-benar tak salah dengar.


"Dia baru saja memberitahukan namanya 'kan?!" batin Duan Xi heboh sendiri.


"R...RYURA?! NAMAMU RYURA? BEGITU?!" pekik orang tua itu senang bukan main sampai ia bangkit dari duduknya ke posisi berlutut dengan kedua telapak tangannya menyangga beban tubuhnya yang ia beratkan kedepan, kearah gadis yang baru saja menyebutkan namanya. Orang-orang yang juga menjadi pelanggan warung makan tersebut merasa sedikit terganggu dengan pekikan itu sampai membuat mereka menoleh kearah Ryura dan Duan Xi.


Mendapati tatapan peringatan dari banyak orang membuat Duan Xi tersadar dan sedikit menunduk sebagai kata maafnya.


Usai aksi kejut-terkejutnya itu, barulah ia merasa responnya berlebihan alhasil dengan segera ia kembali ke duduknya secepat kilat, wajahnya memerah malu. Duan Xi merasa wibawanya hilang entah kemana dan menjadi persis seperti anak kecil. Bicara soal anak kecil membuatnya menyadari tubuhnya yang pendek itu.


Padahal Ryura sama sekali tak peduli pada apapun yang di lakukan orang tua di depannya. Benar-benar amat sulit untuk menggerakkan respon seorang Han Ryura a.k.a Ryura Jenna.


Dirasa sudah tenang, Duan Di berdehem untuk kembali memulai perbincangan. "Ehem. Baiklah, Ryura..." melirik gugup pada gadis datar itu. "Langsung saja! Sebenarnya orang tua ini hanya ingin menawari sebuah pendidikan ilmu bela diri. Dengan aku sebagai gurunya. Aku juga bisa membawamu melihat-lihat seperti apa itu dunia di luar sana selain di negara api ini. Tapi, pendidikan yang ingin kuajarkan tidaklah cuma-cuma melainkan aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku." jedanya sembari ingin melihat apakah sejauh ini ucapannya cukup untuk membuat gadis didepannya mau mendengarkan atau justru langsung menolak seperti sebelumnya tanpa pikir panjang.


Ternyata Ryura hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari orang tua dihadapannya sekarang ini. Ya, Ryura mulai tertarik meskipun raut wajahnya tak menunjukkan itu.


Diamnya Ryura membuatnya berpikir kalau gadis itu mulai tertarik sehingga ia tersenyum tipis dan kembali melanjutkan namun ini lebih serius.


"Ehm. 5 bulan lagi akan di adakan sebuah kompetisi bertarung dengan bertaruh hidup dan mati yang biasa disebut dengan kompetisi 'Bertahan Hidup'... Akan tetapi, kompetisi itu di adakan di kekaisaran langit tepatnya di negeri musim semi dalam rangka merayakan festival perang guna memperingati perang terhebat yang pernah terjadi di antara dua kekaisaran. Bila menempuh perjalanan dari negara api ke sana akan memakan waktu 25 hari dan tidak hanya lautan yang akan kita lewati tetapi juga daratan dimana kita akan melewati 3 kerajaan lagi." jelasnya panjang lebar. Saat hendak melanjutkan, lagi-lagi ia dibuat terkejut...


"Terima!" lugas Ryura tanpa ragu bertepatan dengan datangnya pelayan yang tengah mengantarkan pesanannya juga pesanan Duan Xi.


Hah!?


"Silahkan dan selamat makan!" usai mengatakan itu dan Ryura berdehem sebagai jawaban, pelayan itupun undur diri.


Tanpa menjawab lagi, Ryura segera menyantap makanan yang terhidang untuknya dan mengabaikan Duan Xi yang kembali terkejut atas jawabannya.


Sesaat kemudian, orang tua itu mengerjapkan matanya dan kembali sadar. Menatap serius namun tersirat kesenangan didalamnya kearah gadis yang tengah makan dengan khidmat didepannya. Duan Xi yakin, ia kali ini tak salah dengar bahkan Furby yang mendengarnya pun tak kalah terkejut. Ia pikir akan ditolak lagi. Tapi, ternyata...


"Bagus! Bagus! HAHAHA.... Aku senang mendengarnya! Baiklah, mari kita makan dulu. Nanti di bicarakan lagi. Aku yang akan traktir. Tapi, ingat... Mulai sekarang kau adalah muridku... HAHAHA... senang sekali rasanya..." Duan Xi tak dapat menutup rasa bahagianya dan ini adalah kali pertama ia merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat hanya karena hal itu. Tapi, ia menyukainya.


"Sial! Ryura ini... Apa yang membuat ia menerimanya?! Ck" gerutu Furby tak terima.

__ADS_1


__ADS_2