
BRUGH!
BRUGH!
BRUGH!
Sesaat setelah Ryura mengucapkan kalimat yang tidak jelas maksudnya itu, dia dan dua sahabatnya yang lain tiba-tiba ambruk di waktu yang hampir bersamaan.
Lima pria dan tiga siluman disana tentu terkejut bukan main. Terutama Ye Zi Xian yang paling dekat.
"Ryura!" pekiknya rendah begitu melihat gadisnya jatuh tak sadarkan diri tanpa adanya tanda-tanda.
Kecemasan segera menjalar dihatinya.
Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan juga tak kalah sigap menghampiri pujaan hati mereka yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah.
Mereka panik tak terkira.
"Kita pulang sekarang!" titah Kaisar Agung Bai tegas, namun kecemasan dalam nada suaranya terdengar sangat jelas.
Menggunakan kemampuan mereka masing-masing untuk kembali ke kediaman Zhilli Shin.
Kaisar Agung Bai dan dua sahabatnya beserta dua orang kepercayaan bergegas pulang menggunakan qinggong mereka.
Ruobin menggunakan kemampuan teleportasinya. Sedang Chi-chi dengan kecepatan larinya, begitu juga Furby.
Tak perlu waktu lama kesebelas orang itu tiba di paviliun Kristal. Membawa 3Ry yang tak sadarkan diri dengan tubuh dingin menusuk dan pucat.
"Kalian tunggu diluar!" perintah Kaisar Agung Bai pada tiga siluman dan dua pria kepercayaan sahabatnya.
Dia tak mengizinkan siapapun selain ketiga pasangan itu untuk memasuki kamar yang sama seperti saat pertama kali 3Ry datang kesana.
Alasannya, tak lain karena ia tak ingin terlalu banyak orang yang memenuhi ruangan disaat keadaan sedang tidak baik seperti saat ini. Terlebih dia menginginkan privasi untuk ketiga pasangan itu.
Yang lainnya hanya bisa menuruti perintah tanpa bisa menolaknya. Bagaimanapun ini juga demi kebaikan 3Ry mereka, meskipun perasaan gelisah karena khawatir memenuhi ruang hati mereka.
Setelah diletakkan ketiga gadis yang sudah tak berdaya itu ke atas peraduan mereka masing-masing, yang disiapkan terpisah dengan cara mengeluarkan benda itu -ranjang- dari ruang dimensi para pria. Kini Shin Mo Lan meminta dua sahabatnya memberinya ruang untuk melakukan pemeriksaan secara bersamaan kepada 3Ry.
"Beri aku ruang." katanya yang langsung dituruti tanpa mengatakan apapun.
Dua lainnya hanya bisa menyaksikan dari samping.
Kemudian, Shin Mo Lan merentangkan kedua telapak tangannya kedepan yang diarahkan langsung kearah 3Ry. Seraya menutup mata, Shin Mo Lan mulai melakukan pemeriksaan tersebut menggunakan energi spiritualnya.
Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya dia berhenti melakukannya dengan menurunkan kedua tangannya yang tampak melemas entah mengapa dibarengi dengan raut wajah yang menyedihkan.
Kedua sahabatnya yang melihat itu tak bisa tidak bertanya.
"Mo Lan, ada apa? Kenapa berhenti? Mereka baik-baik saja bukan?" tanya Ye Zi Xian beruntun.
Hatinya gundah gulana, tak sanggup bila harus mendengar kabar buruk dari sahabatnya.
Tanpa melihat kearah kedua sahabatnya, Shin Mo Lan menjawab sambil berjalan gontai kearah ranjang tempat Rayan berbaring. Lalu, mendudukkan dirinya yang lesu disisi sang gadis.
Menarik nafas dalam-dalam sebelum dihembuskan dengan berat. "Haaah... Mereka tidak baik-baik saja."
"Apa maksud mu?" desak Kaisar Agung Bai kali ini. Dia tak kalah takut dengan apa yang akan Shin Mo Lan katakan.
__ADS_1
"Mereka... Mereka..." sulit rasanya Shin Mo Lan mengatakan yang sebenarnya. Tapi, kedua sahabatnya tetap harus mengetahui kebenaran itu. "Mereka telah tiada..." dengan putus asa Shin Mo Lan mengatakannya.
Pias sudah wajah kedua pria tampan disana. "Jangan sembarangan kau Mo Lan!" tak terima Kaisar Agung Bai berseru rendah namun sarat akan kemarahan.
Ye Zi Xian sudah lebih dulu menghampiri kekasihnya. Ditakup wajah itu sebelum menyatukan keningnya dan kening Ryura. Dingin, itulah yang dirasakannya. Lalu, ia berujar lirih penuh kesedihan.
"Sayang... Kau tidak benar-benar meninggalkan ku 'kan?! Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak mempercayainya. Ini terlalu mendadak. Tolong jangan seperti ini. Sayang, bangun. Kau dengarkan aku. Bangun, Ryura sayang!"
Kaisar Agung Bai hanya bisa menahan sesak di dadanya kala melihat kedua sahabatnya sudah disibukkan dengan kesedihan mereka masing-masing. Sedang dia masih berdiri membatu ditempatnya bersama perasaan tidak percayanya.
Sama sekali tidak percaya Reychu akan meninggalkannya secepat ini.
Sambil berdiri di sisi ranjang tempat Reychu terbaring, memandangi wajah pucat itu dengan kesedihan yang tak terbayangkan seberapa dalamnya itu. Tiba-tiba, kilasan beberapa waktu lalu muncul dibenaknya.
Flashback on...
Membawa pergi Reychu dengan memanggulnya di pundak usai dari pertemuan dengan yang lainnya guna membahas masalah Jiang Yu Na kala itu untuk kembali ke paviliun Kristal.
Reychu dan Kaisar Agung Bai terlibat pembicaraan serius disana.
"Huh. Lain kali gendong aku yang benar. Kau pikir perutku tidak sakit terkena tulang bahu mu itu!" sungut Reychu setelah diturunkan dari pundaknya Kaisar Agung Bai.
Pria itu justru terkekeh geli mendengar dan melihat raut wajah Reychu yang cemberut kesal. "Sejak kapan bahu ku tinggal tulang. Ini otot, sayang. Kekar begini." balas Kaisar Agung Bai seraya menepuk-nepuk pundaknya bangga.
"Cih. Tetap saja rasanya sakit." tapi keluhan itu tak berlangsung lama, karena setelahnya Reychu langsung duduk selonjoran di ranjang sambil bersedekap dada menatap Kaisar Agung Bai yang masih berdiri menatapnya dalam.
Dia bisa melihat cinta disana.
"Langsung saja. Apa ada yang mau kau bicarakan? Aku tidak tahan dengan tatapan mu itu! Bisa-bisa aku kehilangan malam pertama ku saat ini juga!" katanya begitu mudah hingga membuat Kaisar Agung Bai tertawa terbahak-bahak karenanya.
"Apanya yang lucu!"
Sementara Reychu, membiarkannya dan bersikap biasa saja. Dia tak keberatan sama sekali.
"Hmm. Lebih dari sekedar lucu. Kau begitu menggemaskan." balas Kaisar Agung Bai seraya menikmati momen bermanja-manja yang sebelumnya hanya bisa ia lihat dari tingkah Ye Zi Xian pada Ryura.
Mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak seimut Rayan."
"Apa menggemaskan itu harus imut? Haha... Tidak, menggemaskan adalah apa yang orang lain rasakan terhadap mu. Seperti itulah kau bagi ku. Untuk ku dan di mata ku, kau begitu menggemaskan sampai membuat ku sulit untuk menahan diri." ungkapnya dari lubuk hati terdalam.
"Hahaha..." Reychu tertawa mendengarnya sebelum di detik berikutnya wajahnya menjadi datar dan acuh tak acuh. "Tapi, jangan lupa aku bisa menjadi mengerikan kalau merasa tidak senang."
Kaisar Agung Bai mengangguk membenarkan sambil memejamkan mata. "Ya... Aku tahu."
Hening sejenak.
"Reychu."
"Hm..."
"Maukah kau menikah dengan ku?" tanya Kaisar Agung Bai tiba-tiba hingga membuat Reychu sedikit terkejut.
Melirik kebawah dimana Kaisar Agung Bai masih setia di posisinya. "Jangan bercanda."
"Tidak. Aku serius. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu. Hanya dengan mu. Kau tidak perlu takut pada apapun. Begitu kau menerimaku... Aku akan langsung menyerahkan segalanya padamu." jelasnya yang ternyata masih membingungkan bagi Reychu.
"Apa yang kau maksud dengan menyerahkan segalanya padaku?"
"Ya, kelak kau akan menjadi permaisuri kerajaan es dan permaisuri agung Kekaisaran Utara. Aku tidak ingin kau masih meragukan ketulusan ku. Maka dari itu, aku akan menyerahkan seluruh urusan dalam istana padamu. Kau akan ku berikan kendali penuh atas semua yang ada didalam istana."
__ADS_1
Reychu cukup tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. Antara percaya dan tidak.
"Kau yakin dengan itu? Aku yakin kau tidak lupa tentang pro dan kontra keluarga kerajaan juga penduduk negeri bila mereka tahu aku memegang kendali penuh atas istana dalam." tanya Reychu, karena merasa masih ada yang perlu di pastikan.
"Tak perlu khawatir. Ayah Kaisar sudah tahu kalau aku hanya menginginkan satu pendamping hidup. Memiliki banyak itu merepotkan." katanya. "Lagipula, aku melakukan itu untuk mu karena aku tahu kau menyukai kebebasan. Kalau kau memegang kendali penuh atas istana dalam, kau tidak membutuhkan formalitas pada siapapun. Tetapi, kau akan mendapatkan formalitas itu dari orang lain." terangnya yang seketika membuat Reychu mengerti.
Ternyata, pria ini benar-benar memprioritaskan dirinya.
"Lalu... Apa itu termasuk keluarga kerajaan?" tanya Reychu lagi.
"Ya! Bila kau menginginkannya."
"Kau tidak takut aku menginjak harga diri orang tuamu dan menjadi menantu durhaka?" Reychu bertanya lagi.
"Aku percaya kau tidak akan melakukan itu selama tidak ada alasan untuk mu melakukannya." lugas Kaisar Agung Bai tanpa ragu.
Reychu terkekeh mendengarnya. "Cukup mengesankan! Baik! Aku tidak akan mengecewakan mu!"
Mendengar kalimat itu, spontan Kaisar Agung Bai bangkit dari tengkurap nya dengan menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya.
Wajah keduanya sangat dekat.
"Apa kau baru saja menerima ku?" tanya Kaisar Agung Bai ingin memastikan arti dari kalimat terakhir yang Reychu ucapkan.
"Apa aku baru saja menerima mu?" tanya Reychu balik dengan bergurau.
Senyum menawan terukir di bibir pria tampan berambut merah itu. "Ya. Seorang Ahn Reychu baru saja menerima ku sebagai calon suaminya!" setelah mengatakan itu dia langsung kembali ke posisi semula dimana dia tengkurap dengan nyaman di atas tubuh Reychu.
Namun, kini ada tambahan perasaan bahagia yang membuncah didalam hatinya.
"Seperti yang sudah ku katakan, sayang. Semua yang ada didalam istana ada dibawah kendali mu. Perintah ku mutlak!" tekan Kaisar Agung Bai menegaskan.
"Tapi... Perlu kau tahu, aku tidak begitu memahaminya." kata Reychu mengatakan kalau apa yang dimaksud dengan tugas di istana dalam sama sekali tidak ia ketahui maupun pahami.
"Aku tahu. Maka dari itu, ku serahkan wewenang dalam istana padamu. Kau tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri kalau kau tidak tahu dan tidak mau. Kau cukup menjadi pengendalinya saja. Kau bisa memerintahkan siapapun untuk mengerjakan tugas mu dan kau hanya tinggal menerima hasilnya. Aku hanya meminta dua hal padamu... Bekerja samalah denganku dan jangan kecewakan aku!" akhirnya Reychu paham apa yang dimaksud pria tampan berambut merah itu.
Demi meyakinkan hatinya, Reychu kembali menanyakan kepastian dari pria itu. "Kau yakin memilih ku?"
"Hm. Jangan tanyakan lagi. Keyakinan ku padamu tak perlu kau ragukan. Aku mencintaimu dengan jiwa dan raga ku." lugas Kaisar Agung Bai tanpa tahu kalau Reychu tersenyum tulus untuk pertama kalinya seraya menatap lembut Kaisar Agung Bai yang tampak nyaman tengkurap di atas tubuhnya.
Flashback off...
Dengan mata memerah, Kaisar Agung Bai mulai mendudukkan dirinya di sisi Reychu. Kemudian, dengan penuh kehati-hatian diangkat tubuh kaku Reychu untuk dipeluknya.
Tubuh hangatnya beradu dengan tubuh dingin membeku kekasihnya. Tak dapat dibendung lagi kesedihan dihatinya, hingga air mata yang berusaha ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga.
"Ini terlalu mendadak. Aku sungguh tidak bisa menerima ini. Reychu... Sayang... Kumohon... Bangunlah..." suara paraunya berbisik di telinga Reychu. Suara itu begitu terdengar amat sedih dan pilu.
Tak hanya dia, Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda.
Atmosfer di kamar itu cukup redup dan penuh rasa duka. Tapi, tak berselang lama tiba-tiba Kaisar Agung Bai merasakan hembusan hangat di ceruk lehernya yang sukses membuatnya terhenyak dan segera bergerak untuk melihatnya.
maaf udah nunggu lama. eh. gk juga. masih pada jadwal biasanya. paling kalo kelamaan Thor bkal up 3 hari sekali. hehehe...
ok. silakan dinikmati karya Thor ini.
jangan lupa juga tinggalkan jejak.
__ADS_1
(๐___โค๏ธ___๐ฌ)