
Mulai keesokan harinya dan beberapa hari kedepannya, seperti yang dikatakan oleh pasangan suami istri -orang tuan Kaisar Agung Bai- itu bahwa Lu Xiu Chi akan lebih sering menemani Kaisar Agung Bai dalam melakukan pekerjaannya.
Secara tidak langsung memberikan penegasan bahwa Lu Xiu Chi adalah pasangan wanita yang dipilih oleh penguasa sebelumnya untuk mendampingi Kaisar Agung yang sekarang. Sejujurnya, keputusan itu tak membuat banyak kontra dari berbagai pihak, sehingga bukan masalah untuk diteruskan.
Hanya saja, keputusan yang dibuat mendadak dan tanpa diskusi bersama itu sukses membuat marah Kaisar Agung Bai hingga rasanya ia ingin melepaskan pertahanan dirinya untuk melampiaskan semuanya kepada kedua orangtuanya agar keduanya tahu bukan ini yang dia mau.
Tapi, suaranya tak mengubah apapun.
Tak dapat di pungkiri bahwa Kaisar Agung Bai sangat risih dan tak nyaman dengan ketentuan tersebut. Setiap hari di untit oleh sepupu sendiri benar-benar memuakkan. Meskipun sepupu, tapi mereka tidak memiliki ikatan darah hingga sah-sah saja bila disatukan. Tetap saja, dia tidak senang.
Lagipula juga, Kaisar Agung Bai tak punya hati untuk sepupunya itu.
Hal itu justru membuat Kaisar Agung Bai menjadi lebih sering mengunjungi tempat Reychu berada hanya untuk mengeluh bak anak kecil yang berkeluh kesah kepada orangtuanya.
Selama Lu Xiu Chi menguntitnya, selama itu pula dia akan terus mengeluh kepada Reychu.
Seperti saat ini.
Kaisar Agung Bai baru saja selesai melakukan pertemuan dengan para dewan pemerintahan dalam rapat, tak lupa Lu Xiu Chi yang selalu mengikutinya hingga dia memilih menyelinap pergi tanpa kata guna menemui Reychu untuk melepas ketidaksenangannya terhadap keputusan kedua orang tuanya itu.
Di kamar Reychu tinggal.
Kaisar Agung Bai tengah berbaring di peraduan Reychu sambil memeluk pinggang ramping gadisnya yang duduk menjadikan pahanya sebagai bantal kepalanya yang ia rebahkan disana dan menenggelamkan wajahnya ke perut Reychu tanpa malu.
Reychu pun tak merasa terganggu, jadi dibiarkan saja.
"Dia masih mengikuti mu?" tanya Reychu. Pertanyaan yang beberapa hari ini sering ia tanyakan.
"Hm. Kau tidak cemburu?" tanya Kaisar Agung Bai balik dengan suara teredam di perut Reychu. Ini yang selalu ingin Kaisar Agung Bai ketahui.
Entah mengapa, dia ingin melihat seperti apa Reychu bila cemburu.
Sambil memainkan rambut merah Kaisar Agung Bai di jarinya, Reychu menjawab. "Tidak." entengnya.
Mendengar itu, Kaisar Agung Bai segera mengangkat wajahnya dari persembunyian untuk menatap tak senang wajah gadisnya. Wajah Kaisar Agung Bai benar-benar kusut karenanya.
"Sungguh?! Bagaimana bisa? Padahal kau sudah sering melihat ini dan aku sering menceritakannya padamu. Bagaimana bisa kau tidak merasakan sedikitpun cemburu?" sungut Kaisar Agung Bai merajuk marah.
"Haruskah?"
"Tentu harus!"
"Menurut ku tidak."
"...?!" demi apa!
Kedua pasang mata mereka saling beradu. Sorot mata Reychu yang santai dan tak bersalah dengan sorot mata Kaisar Agung Bai yang tercengang tak percaya.
Sebelum ketidakpercayaan Kaisar Agung Bai berubah menjadi kesedihan. Kalimat Reychu berikutnya membuat pria itu bergegas mendorong Reychu hingga ditindih olehnya.
"Aku tidak berpikir cemburu itu perlu. Bukankah kau pada akhirnya akan datang padaku untuk mencurahkan isi hati mu beberapa hari belakangan ini sejak di buntuti oleh gadis itu...?! Menurut ku, itu sudah bisa membuktikan bahwa keberadaan Lu-lu siapalah itu tak ada artinya untuk mu. Kau terlihat jelas tidak senang dengan keberadaannya hingga memilih kabur menemui ku. Jadi, alasan apa yang mengharuskan ku untuk cemburu..."
Brugh!
Reychu sempat tertegun dengan gerakan cepatnya. Tapi, hanya sesaat.
__ADS_1
"Pintarnya gadisku ini... Kau malah membuat ku kebingungan sendiri." ujarnya dengan gemas diantara giginya sambil menatap wajah Reychu yang sudah berada dalam kungkungannya.
Meski sempat tersentak kaget atas gerakan Kaisar Agung Bai yang secepat kilat, Reychu tak mempermasalahkannya. Justru, kini kedua lengannya sudah melingkar di leher kekasihnya sambil mendengarkan pria diatasnya berujar.
Reychu sampai terkekeh dibuatnya.
"Hehe... Jangan salahkan aku. Aku tidak melakukan apapun untuk membuat mu bingung. Kau sendiri yang menyulitkan dirimu." gamblang Reychu mengatakannya.
"Hah. Baiklah-baiklah... Astaga, aku jadi ingin memakan mu saat ini juga."
Mendengar itu Reychu tak bisa menahan tawa renyahnya untuk pecah. Keduanya bercanda ria seperti tak membayangkan kalau ada seseorang yang menderita di atas kebahagian mereka.
Ya, Lu Xiu Chi benar-benar membuntuti Kaisar Agung Bai bahkan sampai ketempat musuhnya tinggal dan ini bukan pertama kalinya. Hampir selama dia mengikuti Kaisar Agung Bai, selama itu pula dia tiba di depan pintu kamar musuhnya.
Tidak bisa menyaksikan langsung dua insan itu bersenda gurau, dengan mendengar bagaimana suara mereka saling tumpang tindih membentuk keserasian sudah cukup baginya untuk tahu kalau pasangan itu sulit untuk dipisahkan. Sedang dia malah terpaku dengan bodohnya disana entah mengapa.
Bisa jadi...
Karena cinta dia sampai mengorbankan harga dirinya. Tapi, masih menyalahkan Reychu atas kemalangannya.
Yang seperti ini adalah orang paling aneh di dunia.
Jujur saja, dia tak pernah mau dan amat sangat enggan untuk menginjakkan kakinya disana. Namun, meskipun enggan untuk datang, tapi dia tahu pria yang dicintainya ada didalam sana sedang berduaan dengan gadis lain. Hatinya tak bisa tidak berdenyut sakit seperti di tembaki oleh ribuan tombak.
Ini menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Dia cemburu!
Dengan nafas terengah-engah Lu Xiu Chi menghentakkan kakinya sebelum berbalik pergi dengan segala kebencian dan kecemburuan yang ditanggungnya.
Dalam hati dia bersumpah, bahwa dia akan membuat Reychu menghilang dari dunia ini bagaimanapun caranya.
"Makan yang banyak." kata Reychu sambil mendorong piring berisikan lauk berupa sayuran kedepan Chi-chi.
Dengan senyum siluman itu menerimanya. "Terimakasih, Chu-chu!" kemudian diapun memakannya dengan senang hati.
Suara sumpit beradu dengan merdu.
Pagi hari ini setelah kemarin itu, Reychu seperti biasa hanya sarapan berdua dengan Chi-chi di kamarnya. Keduanya selalu makan dengan khidmat tanpa gangguan apapun. Diselingi tawa juga sesekali.
Sayangnya, hal tak terduga terjadi. Yakni, dipertengahan kegiatan makan mereka gerakan Reychu tiba-tiba berhenti kaku dengan tangannya yang bergetar samar dan sedetik kemudian darah disemburkan keluar melalui mulutnya dengan ganasnya tanpa peringatan sampai Chi-chi diseberang meja tersentak kaget dibuatnya.
HOEK!
BYUUUURRRR...
Dengan ekspresi terperangah, Chi-chi melihat ke seluruh permukaan meja makan yang sudah berubah menjadi hamparan darah pekat yang baunya bukan main. Setiap piring telah ternoda hingga tak dapat dikenali lagi isinya. Darah menggenang didalamnya. Tubuhnya sendiri bahkan tak tertolong dari cipratan.
Karena baunya, Chi-chi nyaris memuntahkan kembali makanan yang baru saja dia makan.
"CHU-CHU!!" teriaknya.
__ADS_1
Seketika, ditengah-tengah rasa panik, Chi-chi masih mendeteksi kandungan racun dari bau darah tersebut. "Sial! Ini racun!" segera ingatan tentang penawar racun yang Rayan berikan membuatnya tak berlama-lama untuk segera mengeluarkannya dari ruang dimensi miliknya agar dapat menyelamatkan Reychu dari kematian sesegera mungkin.
"Penawarnya! Penawarnya! Penawarnya!" serunya tergesa-gesa sambil mengotak-atik ruang dimensinya.
Setelah mendapatkan penawar yang dimaksud, Chi-chi segera membantu Reychu meminumkannya.
Memang pada dasarnya, ramuan Rayan amat manjur dan tak ada tandingannya hingga terlihat dari bagaimana Reychu mendapatkan kembali warna kulit normalnya yang sempat membiru pucat seperti mayat dan menemukan kesadarannya kembali dilihat dari kelopak matanya yang perlahan terbuka, hanya saja Chi-chi tidak tahu mengapa Reychu tiba-tiba kembali jatuh ke ketidaksadaran.
Ini kembali membuat Chi-chi panik. Takut Reychu benar-benar tak dapat ditolong lagi. Lantas, tanpa pikir panjang Chi-chi segera melesat menggunakan kekuatannya untuk mencari Kaisar Agung Bai. Pria yang selalu menempeli Reychu itu juga harus tahu agar dia dapat menemukan cara menyelamatkan Reychu.
Wush!
Tak hanya Reychu, hal yang sama juga terjadi dengan Rayan dan Ryura. Kedua gadis itu tak sadarkan diri tepat saat sarapan telah selesai dilakukan. Furby dan Ruobin kelimpungan dibuatnya. Terpikirkan oleh mereka untuk memberikan kedua gadis itu obat, namun disisi lain Ruobin sendiri tak tahu obat apa yang harus ia berikan.
"Astaga! Bagaimana ini...?!" panik Furby ingin rasanya menangis.
"Aku juga tidak mengerti! Jangan membuatku panik juga!" sentak Ruobin kesal juga melihat siluman Kuda Bulan itu merengek.
"Sudah, bawa dulu ke atas peraduan." perintahnya.
Keduanya pun membawa Rayan dan Ryura untuk dibaringkan ke atas peraduan. Tepat saat mereka akan menyelimuti kedua gadis itu, pintu dibuka tanpa izin.
Furby yang masih dilanda gelisah karena keanehan yang menimpa sahabat manusianya nyaris membuat ia menghajar tamu tak diundang itu. Sayangnya, dia bungkam sebelum benar-benar ia lakukan.
Ternyata, Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan datang bersamaan di waktu yang tepat. Setelah sebelumnya mereka mengetahui dimana istri-istri mereka tinggal selama di Kerajaan Es.
Namun, alangkah terkejutnya mereka saat pemandangan pertama yang mereka lihat setibanya disana adalah dua gadis yang berbaring di atas peraduan sementara dua siluman berdiri dikedua sisi istri mereka menampilkan ekspresi yang buruk. Hal itu seketika memberitahu mereka bahwa keduanya sedang tidak dalam keadaan baik.
"Ada apa ini?" tanya Ye Zi Xian sambil melangkah mendekati peraduan dan langsung duduk di tepinya samping Ryura.
"Tuan Ye..." lirih Furby tak berani gegabah dalam mengatakannya. Takut kalau pria itu mengamuk karena Ryura jatuh kedalam keadaan seperti ini.
Sebelum, Ye Zi Xian menyahut kembali dengan tidak sabar, Shin Mo Lan sudah lebih dulu berseru usai memeriksa istrinya.
"Ini terjadi lagi!" dia berujar dengan tercengang. Kegelisahan segera menyebar di seluruh ruang hatinya.
"Apa yang kau katakan?" Ye Zi Xian sudah bisa menebaknya, namun enggan untuk mempercayainya. Intinya, dia belum siap.
"Benar!" sayangnya, jawaban Shin Mo Lan membungkam keengganan Ye Zi Xian hingga pria itu segera memeluk tubuh Ryura erat-erat.
"Kita baru saja tiba!" marahnya pada keadaan.
"Tidak pernah ada yang menginginkan ini terjadi." kata Shin Mo Lan dengan suara rendahnya yang pahit.
Kedua siluman disana memilih diam dan melihat. Mereka juga tak tahu harus apa.
"Master Shin, apakah mereka bisa diselamatkan?" tanya Ruobin setelah pertimbangan singkat.
"Semoga saja." hanya itu yang bisa Shin Mo Lan ucapkan. Sebab, mengingat dua kejadian serupa dimasa lalu, Shin Mo Lan hanya bisa berharap masih memiliki kesempatan.
HUAAAAAAAAAAAAA
DOAKAN THOR BIAR BISA TERUS UP. OKEH!πππ
__ADS_1