
Kabar duka kembali terdengar di ibukota. Tapi, kini kabar itu datangnya dari kediaman Yu. Benar! Yu Ran Yuan telah menghembuskan nafas terakhirnya tengah malam tadi. Ternyata, dia tidak sanggup bila diminta untuk bertahan lebih lama lagi.
Sedih! Itulah yang kini dirasa Keluarga Yu. Termasuk Rayan.
Dia masih mendekam di gubuk jeraminya. Kabar duka itu Ruobin yang bawa. Saat ini kedua-nya sedang duduk berdampingan di atas tumpukan jerami sembari memandang lurus kedepan.
"Rayan..." panggilnya dengan perasaan tak enak. Takut kalau kabar yang dibawanya membuat gadis itu terguncang. Rayan yang mendengarnya hanya berdehem. Ia sepertinya tahu apa yang ingin disampaikan sahabat silumannya itu.
"Yu Ran Yuan... Telah tiada... Ia berakhir tengah malam tadi!" ungkapnya dengan nada rendah, agak mewanti-wanti dengan reaksi Rayan. Karena, bagaimanapun yang ia tahu Yu Ran Yuan adalah ayah dari Yu Rayan. Jelas, saja. Itu karena, ia tidak tahu kalau tubuh anak gadisnya Yu Ran Yuan telah di ambil alih oleh Rayan Monica.
Akan tetapi, diluar dugaan. Rayan justru tersenyum tipis namun masih tersirat duka, walau sedikit. Ia tak sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain, apalagi ini adalah Yu Ran Yuan. Pria yang telah mengukir raga yang kini ditempatinya. Setidaknya ada rasa terimakasih untuk cinta yang dimiliki Yu Ran Yuan pada si pemilik tubuh walau pada akhirnya dia yang adalah jiwa asing yang menerima perasaan itu.
"Itu sudah tentu..." jedanya lirih. "Dia menelan banyak racun ke dalam tubuhnya. Itu buruk. Sudah pasti ia akan mati. Cepat atau lambat." menghela nafas sedih. "Aku sudah menawarkan penawar racun untuknya. Tapi, dia menolaknya. Huh!" gadis itu mendengus mengejek seraya tersenyum miring nan tipis. "Dia adalah Ayah yang konyol. Punya kesempatan untuk sembuh, namun memilih untuk tetap seperti itu. Aku cukup tahu seberapa buruk keadaannya, meski hanya dalam sekali lihat. Mungkin, karena dia tak tahu kalau aku bisa menyembuhkannya. Jadi, dia lebih memilih memberiku petuah agar aku tidak membahayakan diriku dan memintaku untuk melepaskan diri dari keluarga ini." ia terkekeh kecil. "Sungguh... Ayah yang baik!" akhirinya.
Ruobin hanya menatap dalam Rayan. Mengamati dan mendengar dengan seksama apa yang keluar dari bibir mungil itu. Ia mengerti, cukup mengerti.
"Lalu, sekarang apa? Aku yakin ini belum berakhir!" tanyanya pada Rayan yang langsung dihadiahi tatapan misteriusnya disertai seringai yang mengundang tanda tanya.
Paham sekali, kalau gadis mungil nan menggemaskan namun ternyata penuh dengan ide buruk yang luar biasa itu sudah mempersiapkan segalanya.
"Mari kita mulai permainannya!" katanya dengan suara rendah yang dalam dan bervolume. Cukup untuk membuat siapapun berpikir keras tentang apa yang akan terjadi.
Pagi-pagi buta Keluarga Yu melakukan perjalanan menuju tempat pemakaman di gunung yang sama dengan gunung dimana salah satu anggota keluarga Han dimakamkan. Kini, tinggal upacara pemakaman yang dilakukan mereka.
Isak tangis tak henti-hentinya mengiringi prosesinya. Keluarga yang tidak memiliki penerus laki-laki itu pastinya akan dipenuhi dengan linangan air mata kesedihan dari mata-matanya gadis-gadis keluarga itu. Dimana pada dasarnya, perempuan adalah sosok yang paling sulit menekan gejolak kesedihan saat perasaan tersebut datang.
Prosesi pemakaman berlangsung selama 1 jam lebih. Saatnya, mereka kembali ke kediaman Yu.
Didalam perjalanan, terjadi sedikit perbincangan.
"Ayah. Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa Rayan akan tetap Ayah hukum?" tanya Yu Chen selaku putra kedua Keluarga Yu.
Yu Zhao Yan melirik sekilas pada putranya. "Itu tak perlu di pertanyakan lagi. Anak haram itu sudah semestinya menerima ganjaran dari apa yang telah ia lakukan pada adikmu." lugasnya lantang, jangan lupakan kilatan kebencian dan amarah yang terpancar nyata dari kedua matanya.
"Aku mengerti! Aku hanya tidak habis pikir! Anak itu bisa bertindak sejauh ini! Kurasa ia sudah gila!" tukas Yu Chen jujur.
"Heh! Dia tidak gila, Chen! Dia hanya ingin balas dendam atas apa yang ia terima selama ini. Anak haram itu ternyata sudah tidak ingin berdiam diri lagi." sarkas Yu Zhao Yan dingin penuh dendam terlebih saat wajah Yu Rayan terbayang dibenaknya.
"Jadi... Apa Ayah akan langsung membunuhnya? Apa tidak biarkan pengadilan kerajaan saja yang menentukan hukuman yang pantas untuk nya?" usul Yu Chen yang mana sukses membuat Yu Zhao Yan menatapnya tajam seolah menyiratkan ketidaksetujuan.
"Anak itu tidak pantas menerima hukuman dari pengadilan kerajaan! Aku! Aku yang sudah sepantasnya memberinya hukuman langsung! Dengan tangan ini! Tidak dengan yang lain dan tidak juga dengan campur tangan orang lain!" desisnya sambil menunjukkan tangannya yang bergerak mengepal seperti sedang mempraktikkan gerakan meremukkan sesuatu.
Ya, ia benar-benar membenci satu-satunya cucunya itu yang menurutnya tak akan pernah bisa menempati posisi sebagai bagian dari keluarga. Selain karena Yu Rayan terlahir sebagai anak haram, alasan lain yang membuatnya membenci gadis itu adalah karena di dalam tubuhnya mengalir darah budak. Sebagai seorang yang menjunjung tinggi harga diri dan kedudukannya sebagai Keluarga bangsawan, jelas saja hal itu menjadi aib yang amat sangat mengotori nama baik keluarganya.
Pria tua yang sudah memiliki cucu itu tak sadar, kalau ia terlampau meninggikan derajat keluarganya tanpa berpikir kalau itu bisa jadi sangat menyakitkan bila ia harus mengalami yang namanya dibanting jatuh dan terhempas ke dasar lembah kehinaan.
Kediaman Yu kini ramai dikunjungi oleh pelayat yang turut berbelasungkawa atas kepergian Tuan ketiga Yu. Simpang siur, tampak beberapa dari mereka seperti mengetahui kebenaran atas alasan kematian Yu Ran Yuan. Tentu, bila tidak mendengar langsung dari si tuan rumah pastinya mereka mengetahuinya dari para pelayan yang bergosip.
Yu Chan Yi dan pangeran kedua Li Fang Ye pun datang menghadiri acara duka tersebut, sekaligus mewakili anggota keluarga kerajaan. Beberapa keluarga bangsawan lainnya juga banyak yang hadir, kecuali perwakilan dari keluarga Han. Pasalnya, semenjak tahu kalau salah satu anak gadis Keluarga Yu ada yang mengandung anak dari keluarga mereka, membuat mereka tak ingin memiliki hubungan lagi dengan keluarga Yu. Tak ingin aib mereka bertambah.
"Salam Ayah, Ibu..." sapa Yu Chan Yi dan pangeran kedua Li Fang bersamaan begitu mereka tiba di hadapan Yu Chen dan Hwang Minsu.
"Oh... Ternyata kalian datang!" terdengar kelegaan dalam suara Hwang Minsu saat melihat kedatangan putri dan menantunya.
"Tentu, Ibu. Chan Yi masihlah bagian dari keluarga ini. Sudah pasti Chan Yi hadir." Hwang Minsu tersenyum senang mendengarnya penuturan putrinya.
__ADS_1
"Maaf Ayah mertua dan Ibu mertua. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi. Bagaimana Paman Yu Ran Yuan bisa meninggal dunia? Seingatku terakhir kali kami bertemu, beliau masihlah baik-baik saja." tanya Li Fang Ye langsung dikarenakan ingin tahu. Menurutnya kejadian kematian Yu Ran Yuan sedikit aneh.
Menghela nafas sedih, Yu Chen menjawab. "Sudah kuduga. Tidak hanya Pangeran kedua Li saja yang mempertanyakan hal tersebut. Beberapa bangsawan lainnya yang baru di temui oleh adikku pun mempertanyakan tentang itu. Mereka saksi mata, kalau Yu Ran Yuan dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, hari ini mereka justru harus mendengar kabar yang tidak mengenakkan."
"Lantas, kalau boleh aku tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pangeran kedua Li Fang Ye lagi. Masih belum puas dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Adikku meninggal dunia karena diracuni!" katanya pasti namun nada bicaranya lirih.
Yu Chan Yi menutup mulutnya dengan kedua tangan sebab terkejut sedang pangeran kedua Li Fang Ye tertegun mendengarnya. Sedikit percaya tidak percaya atas apa yang didengarnya.
"Ya Dewa... Bagaimana bisa?" spontan Yu Chan Yi bertanya dengan nada tertahan namun masih bisa didengar oleh suami dan kedua orang tuanya.
Lagi-lagi, Yu Chen menghela nafasnya. "Yu Rayan, anaknya. Dia yang meracuni Ayahnya sendiri." lugasnya. Menurut Yu Chen tak ada yang perlu ditutup-tutupi bila berhadapan dengan anggota keluarganya.
"Apa?!" bersamaan sepasang suami istri itu terkejut.
Pangeran kedua Li Fang Ye tiba-tiba kikuk usai mendengar kebenarannya seolah sesuatu mendadak mengusik pikirannya. Sedang, Yu Chan Yi seketika itu juga tersenyum sarkas. Ia tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya pada anak haram yang berstatus sepupunya itu. Bahkan ia membenci sepupu haramnya itu.
"Anak haram itu benar-benar tak tahu diuntung! Bagaimana dia bisa sekejam itu?! Memang! Dia memang manusia hina!" kutuk Yu Chan Yi geram. Ia berbicara seolah tak berpikir kalau ia pun sama kejamnya bila mengingat bagaimana ia dan yang lainnya memperbudak Yu Rayan.
Tapi, bukankah memang begitu dirinya manusia. Tak pernah sadar akan apa yang telah mereka lakukan. Bersikap seolah ia tak pernah melakukan hal buruk hingga dengan percaya dirinya menghakimi orang lain tanpa koreksi. Padahal nyatanya, ia tak kalah buruk dari orang-orang buruk.
Acara berkabung berlangsung hingga malam hari. Kesibukan seolah tak bisa berhenti. Yu Rayan yang tak bisa keluar dari gubuk jeraminya hanya bisa bermain dan berbincang-bincang dengan Ruobin. Siluman tampan yang satu itu seperti tak memiliki kerjaan lain selain menganggur. Tapi, Rayan harus selalu mengingatkan dirinya kalau ini adalah dunia Kuno dimana tak hanya manusia biasa yang hidup, siluman pun ada. Salah satunya yang ada di hadapan Rayan saat ini.
Jadi, bisalah dimaklumi bila makhluk jadi-jadian didepannya ini adalah pengangguran.
"Kau kalah!" Rayan mendengus kesal ketika untuk kesekian kalinya ia kembali kalah bermain catur dengan teman silumannya, ditambah seruan yang terdengar meledek itu harus ia dengar dari mulut siluman tampan itu.
"Huh! Kau curang!" rajuk Rayan.
"Lah, terus apa kalau bukan curang?! Kau kan tahu kalau aku tidak bisa bermain permainan ini. Tapi, masih tetap saja kau ajak aku memainkannya. Bukankah itu curang namanya. Kau memanfaatkan ketidakmampuan ku!" sungut Rayan jengkel.
Mendengar itu Ruobin tak bisa bila tidak tertawa renyah. Jelas sekali kalau ia sedang menertawai Rayan. Melihat itu Rayan juga tak terima hingga terjadilah aksi pukul-pukul ala anak-anak saat sedang marahan.
"Hahahah..."
Buk!
Buk!
Buk!
"Rasakan ini! Rasakan! Tertawalah lagi! Terus jangan berhenti! Biar aku punya alasan untuk meracunimu!" geram Rayan seraya terus memukuli Ruobin yang bukannya kesakitan, tapi justru terus menambah gema tawanya.
"Hahahaha... Astaga... Hahaha...!"
Buk!
Buk!
"Kau menyebalkan sekali, RUOBIIINNN...!" kesal yang kini dirasakan oleh Rayan.
"Baiklah... Baiklah... Aku menyerah. Maaf, maaf. Hehehe..." katanya memilih mengalah pada gadis imut yang satu ini.
Keduanya sedang mengatur pernafasan mereka untuk meredakan emosi sesaat yang menyenangkan. Kegiatan mereka sama sekali tidak mencerminkan keadaan orang yang sedang berduka. Terkhusus bagi Rayan.
"Haah... Udaranya semakin dingin saja!" celetuk Ruobin meski ia tak benar-benar merasakan yang namanya kedinginan. Wajarlah, ia kan siluman.
__ADS_1
"Eum... Kian dingin. Apa sudah masuk musim dingin?" tanya Rayan yang ternyata sedang menggosok kedua telapak tangannya guna menghantarkan panas untuk menghalau dingin.
"Kurasa. Aku sampai lupa memeriksa keadaan cuaca, karena terlalu asik bersamamu..." jujurnya.
"Hahaha... Segitu menyenangkannya sepertinya." kekeh Rayan.
"Ya, begitulah." ungkap Ruobin gamblang. Rayan tampak biasa saja, itu bukanlah sesuatu yang perlu di kagetkan. 3 bulan lebih mereka bersama, ia bisa merasakan ketulusan Ruobin berteman dengannya.
"Rayan..." panggil Ruobin dengan nada datar dan rendah.
"Hmm." dehem Rayan menjawab panggilan tersebut.
"Berjanjilah padaku, kau akan baik-baik saja!" tuturnya yang entah mengapa malah membuat suasana menjadi suram. Kemudian, ia menoleh untuk melihat langsung wajah gadis manusia yang amat ia sayangi menjawab permintaannya.
Rayan membalas tatapan itu dengan diiringi senyuman. "Janji! Kau tak perlu khawatir. Aku juga belum ingin mati cepat. Aku belum menonton kelakuan Reychu saat ia akan menjatuhkan lawannya di istana... Juga, aku belum melihat Ryura beraksi di kompetisi yang ditawarkan oleh Guru Duan Xi. Terlebih lagi, aku belum menemukan jodohku. Bagaimana bisa aku mati begitu saja. Jelas, aku tak akan membiarkan itu terjadi." terangnya dengan keyakinan penuh. Ruobin hanya bisa mengangguk mendengarnya. Ia juga yakin dengan keputusan sahabatnya itu, hanya saja sedikit ketidak-relaan bila sampai sesuatu terjadi padanya.
"Ingat! Aku pernah bilang padamu... Kalau kau ingin bermain, kau harus mengajakku!" kata Ruobin mengingatkan.
"Tentu! Aku sangat mengingat hal itu. Kau tak perlu khawatir." senyum manis terukir di bibirnya, menunjukkan kalau semua akan berjalan sesuai rencana.
Akhirnya, kediaman Keluarga Yu kembali seperti semula. Para pelayat telah kembali pulang sebelum tengah malam tadi. Kini, semuanya telah kembali ke kamar masing-masing kecuali para prianya. Siapa lagi kalau bukan, Yu Zhao Yan, Yu Ji Xu, dan Yu Chen.
Sang Kepala Keluarga beserta kedua anaknya yang tersisa.
Mereka berkumpul di kamar Yu Zhao Yan sambil meminum teh. Membiarkan malam semakin larut, karena yang terpenting sekarang adalah merundingkan tentang anak haram di keluarga mereka.
"Siapkan segalanya, Ji Xu! Besok pagi aku akan langsung melakukannya! Anak haram itu jangan diberi waktu untuk bernafas lega terlalu lama atau ia akan memikirkan cara untuk kabur!" tegasnya tak bisa dibantah.
"Baik, Ayah!" jawab Yu Ji Xu patuh.
"Dia tidak akan bisa kabur, Ayah. Dia itu tak memiliki keahlian apapun. Jadi, sudah pasti dia tidak akan bisa melawan kalau sampai berpikir untuk kabur." Kata Yu Chen.
"Memang benar yang dikatakan Chen, Ayah! Aku juga setuju! Lagi pula dendam saja tidak cukup untuk benar-benar berani melawan. Ia hanyalah anak perempuan yang tidak berguna. Lagipula, kita juga tak pernah memberinya pendidikan. Ia tahu apa soal itu!" timpal Yu Ji Xu.
"Aku akui bila soal itu. Tapi, tetap saja. Keberhasilannya dalam melenyapkan salah satu dari kita itu cukup membuktikan kalau otaknya tak bisa diremehkan. Ia bisa saja memiliki banyak cara untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan. Terlebih, ia pernah tak kembali selama 3 bulan. Siapa yang tahu apa yang sudah ia dapatkan selama itu..." terang Yu Zhao Yan.
Kedua putranya mengangguk paham dan setuju dengan apa yang dituturkan oleh Ayah mereka.
"Tapi, sekarang itu tidaklah penting." memandang kedua putranya secara bergantian. "Persiapkan segalanya besok. Karena, aku sendiri yang akan membereskan anak haram itu dari keluarga ku." dinginnya. "Aku sedikit menyesal karena dulu mengabulkan permintaan adik kalian untuk tidak membunuhnya! Seharusnya, anak itu sudah lenyap sejak lama!" tandasnya dengan sorot mata tajam penuh kebencian yang memancar.
assalamu'alaikum... cemua...
kembali lagi dengan LeoRa_ yang... yang apa ya... hehe author juga gak tau...π€π
ok, gak masalah. yang penting aku udah up Yoo...
maaf untuk penantian nya yang terlambat.
author belum dapat ide buat kelanjutannya kemarin. ni baru bisa di selesein sekarang. jadi jangan marah yaaa...
okok... kalo gitu. SELAMAT MEMBACA READERS...
LOP YU SOMACHEH... UMMUAHCπππ
see u next time yaaa...πππ
__ADS_1