3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SIAP!


__ADS_3

Cup!


Ryura mengecup pipi Ye Zi Xian yang sudah duduk di ruang makan sembari menunggu istrinya pulang dan kecupan itu menyadarkannya dari kesibukan membaca berita bisnis hari ini melalui ponsel pintarnya.


"Istri ku, kau akhirnya pulang juga. Aku hampir menyusul mu bila kau tidak pulang sebelum jam makan malam." kata Ye Zi Xian seraya mengelus sisi wajah Ryura yang belum ditarik kembali setelah melayangkan kecupan pada suaminya.


Jadilah, jarak wajah keduanya amat dekat.


Ryura tidak mengatakan apapun dan hanya saling membalas tatapan dengan suaminya. Hingga Ye Zi Xian kembali berujar.


"Kau pasti lelah. Mandilah dulu sebelum makan malam. Aku akan menunggumu..." jeda Ye Zi Xian dengan tatapan penuh arti. "Atau kau mau ku temani?" pertanyaan itu bukan hanya sekedar untuk memanjakan istrinya, tapi karena dia pun merasa butuh cara untuk melepas rindunya pada sang istri setelah seharian tadi tidak bertemu ataupun menelpon.


Ryura diam sejenak sebelum menjawab dengan anggukan kepala santai yang mana sukses membuat Ye Zi Xian memekarkan senyum senangnya.


Greek...


Bangkit dari duduknya hingga kursi yang didudukinya berderit keras karena ikut bergeser akibat ulah tak sabarannya.


"Ayo. Aku juga akan memijat mu." tiba-tiba suara Ye Zi Xian mengecil ke volume berbisik. "Kelelahan mu harus hilang agar sanggup menanggung kelelahan berikutnya." nada suaranya begitu sensual membuat Ryura menoleh dengan sedikit mendongak agar dapat menatap tepat diwajah sang suami yang maksud terselubungnya tidak ditutup-tutupi.


Hanya memandang sesaat sebelum kembali menatap kedepan, Ryura berkata yang membuat Ye Zi Xian segera menggendongnya ala bridal style.


"Lakukan sesuka mu." memang gaya Ryura bila sudah begini.


"Aha! Aku tahu kau yang, terbaik sayang!" senang Ye Zi Xian.


Tanpa menunggu lama Ryura sudah dibawa pergi oleh Ye Zi Xian menuju kamar keduanya. Jangan tanya, mau apa dia terhadap istrinya, karena itu hal yang pasti dan selalu terjadi pada setiap pasangan suami istri.


Sayangnya, entah sadar atau tidak. Kemesraan keduanya menjadi makan malam pembuka bagi Butler Xie Yang.


Mata Butler Xie berkedip beberapa kali melihat pemandangan itu -bila ada yang melihatnya pasti akan tertawa karena lucu-, dia yang baru saja memasuki ruang makan malah di berikan tayangan drama romantis secara langsung dan tanpa sensor pula.


"Tuan, Nyonya... Kalian benar-benar..." Butler Xie tak sanggup melanjutkan gumamnya sekalipun dia merasa dilecehkan secara tidak langsung.


Dia benar-benar belum terbiasa dengan Tuan-nya yang sebelumnya dingin tanpa ampun bahkan sampai membuat suasana disekitar Tuan-nya itu tak berwarna. Tapi, begitu sang Tuan membawa istrinya. Segala kebiasaan baru muncul satu persatu tanpa bisa dicegah hingga dia sampai harus beradaptasi lagi.


"Mengurus majikan single lebih mudah daripada yang sudah menikah." entah apa maksudnya dia menggerutu kan kalimat itu.


Butler Xie menggelengkan kepalanya guna mengenyahkan segala pikiran yang dianggap sampah olehnya dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya.


Bila Butler Xie demikian maka lain halnya dengan pasangan suami istri didalam kamar utama ini.


Kondisi ruang remang-remang, karena minim pencahayaan atau tepatnya dibuat minim agar sepasang suami istri yang beberapa saat lalu memasuki kamar tersebut dapat melakukan apa yang jelas terlintas dibenak mereka tadi.


Tak banyak yang bisa dilihat karena pencahayaan yang minim. Namun, karena cahaya redup itu berasal dari lampu tidur di atas lemari kecil di samping tempat tidur, jadi kegiatan yang terjadi di ranjang lebih terlihat jelas daripada isi ruangan.

__ADS_1


Belum lagi saat bayangan keduanya diproyeksikan ke gorden yang tertutup.


Pemandangan itu menjadi lebih panas dari sekedar melihat objeknya saja. Ditambah suara-suara aneh yang cukup membangkitkan semangat tertentu terdengar jelas saling bersahutan sambil sesekali menyebut nama masing-masing dengan mesra.


Keduanya pun melakukannya sampai melewatkan jam makan malam dan beberapa jam kemudian. Tepatnya, berhenti setelah lapar merengek meminta lekas di tuntaskan.



Tangan Ye Zi Xian tidak berhenti memainkan helaian rambut Ryura yang tergerai di lengannya karena dijadikan bantal bagi istrinya itu.


Saat ini posisi pasangan itu dalam keadaan berbaring dalam selimut. Tercium aroma cinta di udara, dipastikan bila keduanya masih polos dalam tanda kutip saat ini.


Ya, sehabis bercinta untuk kedua kalinya yang keduanya lakukan hanya berbaring melepas lelah yang memuaskan tanpa niat beranjak sedikitpun.


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Apa yang kau lakukan hari ini?" tanya Ye Zi Xian dengan nada biasa. Dia seperti tidak mencurigai apapun yang bisa saja terjadi pada istrinya itu.


Ternyata dia begitu karena terlalu yakin pada kemampuan istrinya untuk melindungi dirinya sendiri. Sedang bodyguard yang dia pekerjakan tidak lebih untuk mengawasi saja.


"Bermain di taman hiburan." jawab Ryura tanpa menggeser posisi hidungnya yang menempel kulit dada suaminya. Diapun sambil memejamkan matanya.


"Aku jadi penasaran, seperti apa dirimu ditempat seperti itu." Ye Zi Xian mengatakan itu tanpa maksud untuk mencari tahu lebih jauh. Sebab, dia tahu kalau Ryura tidak akan menjadi periang hanya karena menginjakkan kaki di tempat tersebut.


"Apa ada hal yang menarik tadi?" lanjutnya ke pertanyaan lain. Ye Zi Xian menanyakan pertanyaan itu karena ingin tahu alasan Ryura pulang terlambat.


"Beritahukan padaku!"


"Aku menangkap penguntit." Ye Zi Xian lantas menoleh kearah Ryura sambil mengerutkan keningnya begitu mendengar itu, alarm tanda siaga satu segera menyala dibenaknya.


"Siapa yang berani menguntit mu?" suhu disekitar mulai turun, tapi Ryura seperti tidak merasakannya.


"Suruhan seseorang yang menyukai mu." tandas Ryura tanpa mengubah posisinya yang sudah terlanjur nyaman.


Tanpa ragu Ye Zi Xian berdecak muak. Segera adegan pertemuan yang teramat singkat tempo hari di restoran muncul dibenaknya. Seketika, dia tampaknya sudah bisa menebak siapa yang melakukan hal tak termaafkan itu.


"Benar-benar tidak tahu diri. Aku akan bersamamu untuk memberinya pelajaran." tukas Ye Zi Xian jelas bahwa ingin sekali dia melenyapkan wanita yang berani berpikir untuk menyingkirkan istrinya, Ryura.


Dia pikir dia siapa, berani menginginkan seorang Ye Zi Xian sang pemimpin sekte di masa lalu sekaligus pasangan takdir Ryura?


Mendengar hal itu, Ryura lantas meletakkan telapak tangannya diatas dada bidang suaminya yang terbuka. Mengelusnya bermaksud menenangkan emosi sang suami. Ryura tahu dengan sangat kenapa Ye Zi Xian menjadi tersulut begini. Akan tetapi, sejak awal Ryura memang tidak berniat membiarkan suaminya ikut bermain bersama dengan dia dan dua sahabatnya.


Baginya, sang suami harus bergegas menyelesaikan pekerjaannya untuk kepentingan mereka berdua juga.


"Tidak perlu. Kami bertiga saja sudah cukup. Ingat, kau punya jadwal bersama ku setelah pesta pernikahan Reychu dan calon suaminya. Jangan menundanya jika tidak benar-benar penting. Karena, disaat itu. Aku hanya ingin fokus memiliki anak." terang Ryura dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Ye Zi Xian paham apa yang diinginkan sang istri. Di kalimat pertama, saat dia mendengarnya Ye Zi Xian sedikit merasa tidak senang sebab tidak bisa melakukan apapun untuk membantu istri tercintanya. Tapi, begitu bagian berikutnya dicetus, ketidakseimbangan Ye Zi Xian lenyap seketika digantikan dengan ketidaksabaran menunggu waktu itu tiba.


Ya, Ye Zi Xian tergiur dengan keinginan memiliki momongan bersama Ryura. Itu sungguh hal yang dia amat sangat inginkan juga. Alhasil, pria itu hanya bisa menuruti keinginan istrinya.


Mengeratkan pelukannya, baru membalas. "Baiklah. Apapun keinginan mu, sayang. Tapi, tetap berjanji. Pastikan kau akan selalu baik-baik saja. Hmm..." katanya sambil mendusel perpotongan leher Ryura dengan penuh semangat cinta.


"Aku akan. Lagipula, aku tidak akan membiarkan orang lain menginginkan milikku. Mereka tidak pantas." jawab Ryura lugas tanpa ragu seraya membiarkan suaminya melakukan apapun pada dirinya.


Ryura selalu seperti itu. Tak pernah ada kata menolak bisa menyangkut kesenangan dan kepuasan suaminya.


"Istri ku sayang. Kita lakukan lagi, ya?"


Tanpa menunggu jawaban Ryura yang dia tahu pasti jawabannya langsung menerkam kembali istrinya tanpa ampun hingga adegan sebelumnya kembali terjadi.



Sebuah bangunan terbengkalai terpampang didepan mata siapapun yang datang. Dimana penampakannya saat malam terlihat berkali-kali lipat mengerikannya. Belum lagi hembusan angin yang menerpa dedaunan dan ranting-ranting kering di pohon yang tumbuh mengelilingi bangunan tersebut.


Sepasang sepatu boots menapak di lingkungan luarnya menginjak rerumputan yang dibiarkan tumbuh tinggi.


"Disini?" suara seorang pria bertanya.


"Benar, Bos." jawab suara pria lainnya yang adalah bawahannya.


Keduanya adalah Bo Kang dan salah satu anak buahnya yang kondisi tubuhnya jauh lebih baik dari yang lain.


"Dia ingin aku memancing Meng Ruona kesini..." gumamnya seraya menatap sekeliling bangunan yang cocok dijadikan lokasi syuting film horor.


"Dengan lokasi tempat yang cukup jauh dari kota. Sebenarnya, apa yang ingin mereka lakukan padanya di tempat seperti ini?" lanjutnya saat firasat buruk menyusup masuk kedalam hatinya.


"Disini, jika sesuatu terjadi pada Meng Ruona. Tidak akan ada yang menemukannya dalam waktu dekat." Bo Kang masih terus bermonolog sendiri sembari memindai lokasi yang diminta Ryura sebagai kesepakatan saat dia menerima tawarannya bila tak ingin anak buahnya mati sia-sia.


Ini bukan di zaman kuno yang kematian bawahan tidak begitu penting. Ini zaman modern yang mana hukum sudah ditegakkan, bila ada yang mati begitu saja sudah pasti pihak berwajib akan turun tangan untuk menyelidiki.


Bukannya takut pada pihak tersebut, hanya saja kekuatannya di kota ini tidak sehebat kekuatan tiga pria luar biasa itu. Apalagi, mengingat yang dia hadapi kali ini adalah istri kesayangan pria luar biasa itu. Kemungkinannya sangat besar untuk menjatuhkannya tanpa ampun.


Dia bukan seseorang yang mati hatinya, maka dari itu dia tahu apa yang lebih penting dari dua pilihan sebelumnya.


Puas berpikir sambil mengamati tempat, Bo Kang pun berbalik dan beranjak pergi.


"Sudah selesai. Ayo, kita pergi. Kita punya pekerjaan penting setelah ini." katanya sembari terus melangkah menjauh dari lokasi terbengkalai itu.


Benar-benar lokasi yang menyeramkan. Entah bagaimana 3Ry mengetahui tempat seperti itu.


Bo Kang tak mau memikirkannya. Itu tidak penting dan bukan urusannya pula.

__ADS_1



__ADS_2