
Perjamuan makan malam telah selesai dilakukan. Kini semua yang hadir beranjak pulang ke kediaman mereka masing-masing dan tentunya tidak dengan sia-sia, melainkan mereka membawa pulang bahan gosip yang bisa di perbincangkan dilain waktu. Tak peduli kalau itu berkaitan dengan penguasa negeri.
Sama halnya dengan Reychu dan Rayan. Sepanjang jalan pulang Reychu dibuat bosan karena Rayan -sahabatnya- tidak bisa di ajak berbincang seru. Gadis itu malah asik dengan pikirannya sendiri yang entah apa, Reychu pun tak tahu. Tapi, pastinya itu sesuatu yang penting karena itu iapun tak mau terlalu mengganggunya.
Masalah Kaisar, itu sudah di ambil alih oleh Selir Agung Gong Dahye sebelumnya, dengan alasan kalau wanita hamil itu ingin bersama Kaisar atas nama bayinya. Saat itu Reychu hanya bisa menatap malas wanita itu atas segala tipu muslihatnya. Siapa yang peduli dan siapa yang tidak tahu apa tujuannya? Reychu tentu tahu kalau itu hanya alibi wanita itu. Dia hanya masih diselimuti api cemburu sehingga bertingkah seolah-olah bayi dalam kandungannya yang minta di temani oleh sang ayah.
Tak tahu saja dia, kalau Reychu justru sangat berterimakasih. Karena, dia jadi tak perlu bersusah payah mencari alasan yang tidak penting hanya untuk menghindar dari pria berkuasa di kerajaan Huoli tersebut. Dibuntuti pria tampan namun sudah tidak perjaka lagi, Reychu merasa harga dirinya jatuh ke lembah terdalam.
Perlukah dia mengatakan dengan keras kalau dia tidak menyukai barang bekas?!
Tapi, setidaknya hal itu tidak terjadi berkat Selir Agung Gong Dahye.
Oleh sebab itu, dia bisa kembali ke kediamannya bersama Rayan dengan tenang.
Sesampainya di kamar Reychu.
Berjalan ke sebuah kursi yang ada di tengah ruangan, lalu mendudukinya. "Rey!" panggil Rayan setelahnya. Matanya tidak menatap sahabatnya, melainkan menatap cangkir cantik berwarna hijau pastel yang sepertinya terbuat dari giok berkualitas. benar-benar terlihat, kalau itu adalah barang mahal.
"Hm!" menoleh bersamaan dengan ia menjatuhkan tubuhnya ke peraduan. "Ada masalah? Sejak tadi kau terlihat sibuk berpikir. Apa otak mu sudah tidak kosong lagi?!" usai mengatakan itu dengan entengnya, sebuah cangkir kosong melayang kearahnya yang untungnya dapat di tangkap sempurna oleh Reychu dengan santai. "Hati-hati! Ini mahal tahu!" cetusnya.
Rayan yang sedang malas berdebat, memilih mendengus jengkel. Bergerak memperbaiki duduknya untuk menghadap Reychu, lalu ia berkata dengan serius.
"Rey! Aku akan keluar besok pagi..." belum selesai ia bicara Reychu sudah lebih dulu menyelanya, yang mana sukses membuat Rayan kesal lagi.
"Mau kemana kau?"
"Aku belum selesai! Diamlah, Reychu!" geram Rayan. Sahabatnya malah terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Baiklah-baiklah! Lanjutkan!"
"Aku akan keluar besok berserta obat putri tidur yang sempat kau pungut itu. Aku akan membawanya bersamaku." terang Rayan seperti apa yang dia inginkan.
"Mau kau apakan obat itu?" tanya Reychu tanpa merubah posisi rebahnya yang menyamping sambil menopang kepalanya dengan satu tangan. Sedikit penasaran meski sudah terlintas dibenaknya, kalau sahabatnya ini pasti akan melakukan sesuatu semacam bereksperimen lagi.
"Aku mau membuat penawarnya!" tandasnya. "Aku merasa obat itu mungkin sengaja digunakan untuk menghalau orang yang lebih berstatus di kerajaan ini. Siapa yang tahu? Bisa jadi dia adalah orang yang berpihak padamu!" lanjutnya. Itu adalah yang dipikirkan Rayan.
Selama perjamuan makan malam tadi, dia sudah mengedarkan pandangannya keseluruh orang-orang yang ada di aula perjamuan tersebut. Bisa dikatakan, sulit untuk menemukannya dengan cara seperti itu. tetapi, sedikit banyaknya Rayan dapat melihat siapa-siapa yang mendukung Permaisuri Ahn dan siapa-siapa yang mendukung Selir Agung.
"Berpihak pada Ahn Reychu?!" ucap Reychu berpikir. Ia mulai kembali menggeledah seluruh ingatan pemilik tubuh untuk mencari, siapa kira-kira yang memang berada di pihaknya.
Tapi, Rayan tak ingin menunggu Reychu sehingga ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Kalau pun dugaan ku salah. Aku juga tidak merasa rugi dengan keputusan ku untuk membuat penawarnya. Karena, aku tentunya tidak akan pernah membuat sesuatu yang sia-sia." katanya dengan sedikit gurauan, kemudian kembali serius. "Rey! Hanya kau yang tahu seperti apa hidup pemilik tubuh itu sebenarnya! Pikirkan apapun itu! Seperti yang sudah kau katakan, kalau Gong Dahye dan keluarganya pasti terlibat. Akan tetapi, orang-orang yang bekerja untuk mereka adalah poin penting untuk diketahui lebih dulu. Karena, orang berstatus tinggi seperti Keluarga Perdana Menteri tidak mungkin melakukan segalanya sendiri tanpa ada yang bisa dikorbankan." sambungnya.
Mengangguk setuju. "Benar! Dan contohnya adalah pelayan yang bekerja bersamaku sekarang ini! Mereka semua adalah orang yang bekerja untuk Gong-gong itu. Tapi, aku tidak peduli tentang itu. Selama mereka tidak melampaui batas. Aku masih bisa memberi mereka waktu untuk bernafas. Wanita ular itu selalu berusaha memantau ku. Sekarang aku tahu seperti apa rasanya di awasi oleh pelakor!" Reychu mengerutkan hidungnya seolah jijik.
Sementara faktanya...
"Rasanya benar-benar menakjubkan! Melihat orang yang selalu dirundung gelisah karena takut apa yang di milikinya sekarang direbut! Itu membuat ku memiliki ide untuk benar-benar menyingkirkannya! Cukup membiarkannya merasa seolah dia mampu menyaingi ku, lalu ku jatuhkan dia dengan pengganti yang tepat! Hahaha! Itu sempurna!" ucap Reychu yang mulai ngelantur kemana-mana, sedang Rayan sebenarnya belum menyelesaikan penjelasan yang ingin ia sampaikan.
__ADS_1
Hingga dengan gigi terkatup, Rayan berbicara. Rasa jengkel amat menyatu dengan suaranya. "Rey! Bisa kau diam dan biarkan aku menyelesaikan kata-kata ku!"
"Oh, tentu. Lanjutkan!" entengnya. Tak sedikitpun merasa bersalah apa lagi tersinggung dengan geraman yang Rayan tunjukkan.
"Jadi, aku tidak akan kembali kesini untuk waktu yang belum bisa ku tentukan. Aku harus memeriksa obat putri tidur ini terlebih dahulu, untuk memastikan lebih lanjut tentang kegunaannya. Baru setelahnya, aku akan membuat penawarnya." jelas Rayan.
"Besok kau akan pergi bersama Ruobin?" tanya Reychu.
Mengangguk membenarkan. "Eum. Aku akan memberitahukannya saat aku kembali ke kamarku. Jadi, kalau besok aku tidak mendatangi mu. Artinya, aku sudah pergi. Aku hanya berharap Ryura bisa menyelesaikan urusannya lebih cepat dan segera menyusul kemari. Kita butuh dia!" Reychu turut mengangguk mengerti.
"Benar!"
"'Ah! Satu lagi!" seru Rayan begitu sesuatu mengingatkannya.
"Apa?" tanya Reychu penasaran. Ekspresi Rayan seperti menunjukkan kalau yang diingatnya kali ini termasuk sesuatu yang penting. Walaupun ia tidak terlalu peduli.
"Ku pikir Selir Agung tidak akan melahirkan bulan depan!" tukasnya langsung. Terlalu to the points membuat Reychu sedikit kesusahan untuk mencernanya.
Reychu mengernyitkan keningnya bingung. "Apa maksudmu dengan dia tidak akan melahirkan bulan depan?" tanyanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi sekarang. Entah mengapa, jika sudah berkaitan dengan orang-orang bermarga Gong. Reychu selalu merasa antusias untuk mengetahuinya.
"Menurut pengamatan ku. Saat aku tanpa sengaja memandangi Selir Agung itu. Aku merasa ada yang salah dengannya!" jedanya, menghela nafas singkat. Dengan wajah serius namun tak terbaca, ia kembali melanjutkan. "Dilihat dari kondisi tubuhnya oleh kedua mataku. Aku melihat kalau sebenarnya... Dia sudah mengandung selama 9 bulan." lanjutnya.
Reychu kaget mendengarnya. "Sudah 9 bulan?" matanya terbelalak lebar, kemudian menyeringai. Reychu sama sekali tidak pernah ragu pada penglihatan Rayan bila itu berkaitan dengan kondisi tubuh manusia, bahkan hewan pun bisa di lihat.
27 tahun hidup bersama, apa yang perlu diragukan.
"Kalau begitu, apakah dia mau melahirkan di usia kandungannya yang ke 10?" tanyanya, yang sebenarnya bukan pertanyaan yang sebenarnya. Reychu jelas sudah menduga begitu ia mendengar penuturan sahabatnya itu. Jadi, kalimat itu hanya awal dari bagaimana dia tertarik dengan suatu permainan yang orang lain mainkan.
Rayan yang menatapnya sudah bisa menebaknya. Karena itu, ia tak perlu repot-repot untuk menjawab pertanyaan tak penting yang Reychu ucapkan.
"Kemungkinannya masih 50:50 kalau kau mau beranggapan kalau itu bukan anak Kaisar Li. Secara, mereka berdua bagaikan perekat yang sulit dipisahkan." ujarnya yang diangguki oleh Reychu.
Siapa yang tidak setuju dengan anggapan itu?!
"Hm. Aku mengerti. Tapi, firasat ku mengatakan kalau dia tidak sedang mengandung anak Kaisar." yakinnya.
"Kau cukup yakin dengan pemikiran mu." kata Rayan yang bukan sebuah pertanyaan. Meski ia agak tak mengerti, di bagian mananya yang membuat Reychu begitu yakin dengan apa yang ia katakan.
"Tentu! Kau tahu bukan seberapa jijiknya aku dengan pria yang sudah menjadi bekas. Jika, Martin Gong saja bisa menjadi penjahat wanita. Kenapa leluhurnya tidak?" anggapan tak terduga dari Reychu sukses membuat Rayan melebarkan matanya.
Sesuatu menyentak benaknya yang membuat ia membenarkan anggapan itu.
Ia tak berpikir begitu kala mendengar nada penuh keyakinan sahabatnya. Tak menyangka kalau gadis gila didepannya ini akan berpikir sejauh itu.
"Kau mengaitkannya?" tanya Rayan dengan suara tak percaya.
"Apa lagi?!" Reychu terkekeh melihat tatapan tak percaya dari sahabatnya. "Kau pasti masih ingat bukan. Bagaimana bejatnya Martin Gong saat dengan mudahnya menjamah para perempuan, baik yang masih gadis maupun tidak?! Jadi, tidak mungkin kalau keturunannya tidak berperilaku demikian. Lagipula, ini bukanlah semacam reinkarnasi... Ini transmigrasi. Kita kesini dari masa depan. Meskipun kita belum pernah mendengar tentang peradaban masa sekarang ini, tidak menutup kemungkinan kalau kita memang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Yang artinya, Gong Dahye ataupun Martin Gong... Keduanya memiliki hubungan!" jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
Mencerna kalimat panjang Reychu sejenak, kemudian barulah ia memahaminya.
"Kau benar juga!" anggukan setuju Rayan berikan.
"Pasti!" bangga Reychu pada apa yang ia katakan. Rayan kembali berekspresi datar menanggapi kebanggaan diri sahabatnya.
"Kalau dugaan mu benar. Maka, kau harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bisa jadi, wanita itu akan membuat beberapa skenario untuk menyembunyikan fakta itu." tutur Rayan memberitahukan apa yang ia pikirkan.
Reychu mengangguk setuju. "Kau benar! Ada banyak kemungkinan yang mungkin terjadi... Dan yang dapat aku pikirkan hanya dua kemungkinan." serunya pada pendapatnya.
"Apa itu?" tanya Rayan ingin tahu.
"Skenario pertama. Dia bisa saja berbuat sesuatu yang akan kembali merugikan ku, seperti membuatku menjadi alasan mengapa wanita ular itu harus melahirkan sebelum waktunya. Kemudian, skenario kedua... Dia bisa membuat seolah terjadi sesuatu dengannya di kediaman miliknya. Itu bahkan akan menjadi cara yang paling mudah untuk dilakukan. Dimana semua yang berada disana adalah bawahannya." terang Reychu mengeluarkan praduga-nya.
"Tapi, aku tidak yakin wanita itu akan memilih opsi kedua. dia selalu ingin menempatkan aku di ujung tebing penderitaan." cetusnya serta mengangkat bahunya acuh.
Berpikir sejenak. "Um. Yang kau katakan bisa saja dilakukannya. Tapi, aku punya sedikit kebingungan disini." memandang Reychu yang terlihat ingin tahu apa yang membuat Rayan bingung. "Bagaimana dengan Tabibnya? Apakah mereka juga orang-orangnya Selir Agung?" tanya Rayan.
"Benar! Tabib!" lantang Reychu antusias. Lalu, menatap Rayan dengan binar dimatanya. "Keluarga Gong memiliki kedudukan yang terbilang cukup tinggi di kerajaan Huoli. Walaupun tidak setinggi Keluarga Kerajaan Li. Akan tetapi, mereka memiliki otoritas yang nyaris tak pernah diragukan lagi oleh penguasa negara api." jedanya.
"Melihat ambisi Gong Dahye atas kedudukan Permaisuri negara api. Kemungkinan besar, mereka membuat banyak sekutu di lingkungan istana. Tentu saja, atas nama Gong Duyoung. Jadi, itupun tidak menutup fakta kalau Tabib pun turut berada di pihaknya." lanjutnya dengan binar mata penuh kesenangan. Merasa mulai menemukan kepingan-kepingan teka-teki untuk dipecahkan.
"Tunggu! Apa itu artinya, obat putri tidur ini pun berkaitan dengan Keluarga Gong juga?" tanya Rayan.
"Tidak salah lagi." seru Reychu, ia menjadi sangat bahagia kala mendapati apa yang dipikirkannya berkemungkinan besar untuk benar.
"Kebenarannya bisa dikatakan 70 persen. Kita masih butuh 30 persen kebenaran lainnya lagi untuk bukti. Huh!" menghembuskan nafasnya. "Kita butuh Ryura! Dia tidak akan membutuhkan waktu selama kita untuk menemukan jawabannya! Kupikir aku bisa sekalian mencarinya saat pergi besok dan akan membawanya bersamaku saat kembali!" ujarnya.
Reychu mengangguk setuju. "Lakukanlah! Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan dulu. Aku punya Chi-chi disini. Aku bisa melakukannya bersama dia untuk menemukan kebenaran yang lainnya. Nanti, keputusan akhirnya kita serahkan pada Ryura untuk di buktikan." usulnya. Kali ini ketertarikannya membuat Reychu sedikit lebih serius.
"Kau benar!" paham Rayan. "Kalau begitu, mari kita pergi istirahat. Aku lelah sekali. Besok aku akan langsung pergi. Jadi, jangan mencariku!" kata gadis imut itu seraya mengangkat tubuhnya dari posisi duduknya, lalu merenggangkan sedikit tubuhnya sebelum dia benar-benar beranjak pergi meninggalkan kamar Reychu.
"Baiklah. Selamat malam!" ucap Reychu seraya memandang punggung Rayan yang perlahan menjauh.
"Selamat malam!" balas Rayan tanpa menoleh lagi.
๐ซ๏ธ
kemarin tempat tinggal ku kebanjiran...
syukurlah hari ini sudah tampak reda...
untuk READERS yang sudah tidak sabaran...
ini author datang bersama lanjutannya...
__ADS_1
๐