3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BANTU MEMBERESKAN


__ADS_3

Beranjak pergi setelah beberapa saat menyaksikan wanita yang menjadi pelaku pemberi racun pada Reychu mati terbakar, tak hanya itu bahkan kediamannya pun perlahan ikut terbakar.


Gadis datar itu melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, ia tak peduli kalaupun kediaman anggrek yang baru saja dia masuki sebentar lagi akan hangus terbakar.


Bahkan disaat ia sudah berjalan menjauh seruan keras seseorang yang entah siapa menggema meneriakkan kepanikan karena mendapati kediaman salah seorang selir kaisar tengah dilalap si jago merah.


Perlahan tapi pasti, kehebohan sebentar lagi akan menyemarakkan suasana malam tanpa purnama malam ini. Layaknya pesta api unggun, tapi ini lebih tepatnya bila disebut dengan pesta kebakaran kediaman selir kaisar.


Ryura masih bisa berjalan santai kala satu persatu orang-orang mulai berdatangan untuk bergotong royong guna memadamkan api tersebut. Ia sama sekali tidak takut akan ketahuan keberadaannya. Tapi, sepertinya itu tak akan terjadi.


Setelah agak jauh, tiba-tiba Ryura menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kediaman lain. Instingnya mengatakan kalau penghuni kediaman itu juga salah satu dalang lainnya.


Entah bagaimana instingnya bekerja.


Ryura menelengkan kepalanya sedikit seraya bergumam. "Ada satu lagi rupanya." usai mengatakan kalimat tersebut, dilangkahkan kakinya memasuki pintu yang tertutup itu.


Kediaman itu tidak berbeda jauh dari kediaman yang lain. Sama mewahnya, hanya berbeda ukuran bangunannya saja. Mungkin karena mengikuti posisi kedudukan setiap anggota dalam keluarga kerajaan.


Terus melangkah tenang tanpa suara hingga ia kini benar-benar berada di dalamnya. Dapat dilihat oleh kedua matanya ruang kamar klasik itu hanya di sinari oleh satu lentera saja. Cukup remang ternyata. Namun, Ryura tetap dapat melihat seonggok daging hidup di atas peraduan tengah tertidur dengan lelapnya.


Tepatnya seorang wanita. Lagi.


Sejenak ia berdiri diam di tengah ruang menghadap peraduan seraya memandang dalam wanita yang tidur itu. Tiba-tiba hidungnya seperti mencium suatu aroma yang tak asing di antara banyaknya aroma yang melayang di udara.


Tanpa pikir panjang di hampiri asal aroma yang sebenarnya bila orang lain yang menciumnya tak akan mampu menangkap aroma tersebut saking tipisnya dan kalah dengan aroma lainnya. Tapi, bagi Ryura, membedakan semua aroma itu tidaklah sulit.


Sampainya dia di sebuah guci giok berukuran lumayan besar untuk ukuran pajangan. Tanpa ragu dirogohnya ruang kosong guci tersebut dan... Dapat...


Sebuah botol yang sedikit lebih besar dari botol penawar yang di pegangnya. Mulailah dibuka dan sedikit dihirup guna memastikan bila tebakannya tidak meleset.


Dan yah... Kehebatan Ryura masih tak dapat di ragukan, malah semakin hebat saja.


Tak berniat kembali menutup botol yang ternyata masih memiliki isinya, tiba-tiba saja Ryura menoleh kearah peraduan dimana matanya menyorot kosong pada si wanita yang tidur diatasnya.


Kemudian iapun berujar singkat dan pelan. Namun itu cukup untuk membuat siapapun bergidik ngeri. "Biar ku bantu kau merasakannya." merujuk pada kondisi Reychu saat ini.


Berikutnya ia segera melangkah tenang ke tempat wnaita itu berada. Tanpa menunggu lagi Ryura pun mendudukkan dirinya di pinggir peraduan dan langsung mengulurkan tangannya guna membuka mulut wanita itu yang saat di sentuh pun ternyata tak membuatnya bangun. Ia cukup nyenyak juga tidurnya.

__ADS_1


Tak suka bertindak lama-lama, akhirnya saat mulutnya sudah terbuka walau sedikit langsung saja dituangnya sisa isian botol tersebut hingga habis tak tersisa barang setetes pun. Ternyata wanita itu menenggaknya tanpa sadar dalam tidurnya. Kemudian ia membuang botol itu begitu saja, membuat botol tersebut teronggok tepat di samping kepala wanita yang tertidur pulas itu.


Masih duduk santai di pinggir peraduan, Ryura ingin melihat reaksi cairan yang ia duga sebagai cairan racun yang sama dengan racun yang masuk ketubuh sahabatnya -Reychu- itu bekerja.


Dan benar saja. Tak perlu menunggu lama wanita itupun mulai merasakan sesak didadanya hingga ia dipaksa bangun dari mimpi indahnya. Keringat dingin mulai bermunculan. Perlahan tapi pasti ia mulai menggeliat dan menggelinjang tak karuan. Ia kesulitan untuk bernafas.


"Ha'k... Ukh... Ha'k... Se..sh..shak...!" cetusnya seraya menepuk-nepuk dadanya, masih belum menyadari ada orang lain di kamarnya hingga gerak tubuhnya sedikit menyenggol pinggul Ryura yang duduk santai ditempatnya sambil memandangnya tanpa ekspresi. Saat itulah ia tahu kalau ia tidak sendiri.


Di sela-sela sesak yang menghimpit dadanya, ia berusaha bicara. "Si..a..pha khau...? Ha'k... A..pha... Yang khau lakhukhan padhakhu... Ha'k...?" Sesaknya bukan main. Ia terus bergerak tak karuan hanya untuk mencari celah agar nafasnya dapat kembali berhembus beraturan. Peraduannya turut berdecit tiap kali dia menghentakkan tubuhnya kuat saking tak kuasa menahan sesak yang dirasa.


Ryura hanya diam memandanginya dalam tenang. Tak berniat menjawab pertanyaan orang yang nyawanya berada diujung tanduk. Iba pun tidak.


Semakin lama keadaan wanita itu semakin tak dapat di jabarkan. Entah, apakah cukup bila hanya di gabungkan antara menyedihkan, mengenaskan, malang, atau ada lagi kata lainnya?! Tapi, intinya kondisinya tak jauh berbeda dengan Reychu hanya saja sepertinya cairan racun yang Ryura berikan kelewat banyak dibanding yang mereka berikan pada Reychu.


Meski begitu, memangnya dia bisa apa? Mengeluarkannya pun tidak mungkin. Jadi, yang paling tepat adalah membiarkannya. Lagipula, salah siapa yang memulai duluan mencoba menyakiti orang-orang terdekatnya. Artinya mereka mengantarkan nyawa padanya. Begitulah cara Ryura melindungi orang-orang terkasihnya.


Terus di pandangi dengan santainya. Ia tak terusik kala peraduan tersebut kian mengguncang akibat wanita yang terkena racun itu mulai kejang-kejang.


Matanya melotot merah, mulutnya menganga dengan suara tercekat, tangan sesekali mencengkeram lehernya sendiri bergantian dengan dadanya. Kakinya bergerak liar saking tak tahu harus apa, tubuhnya bahkan menghentak-hentak kejang tak bisa di jelaskan.


Wanita yang tak lain adalah selir kaisar juga sudah tak kuasa menahan sakit di dadanya. Bajunya kini telah basah oleh keringat. Namun, disaat-saat seperti itu ternyata ia masih sempat menatap Ryura tajam dengan matanya yang melotot.


Dalam hati wanita itu terus meronta ingin segera di cabut nyawanya. Ia sudah tak sanggup lagi bertahan.


Sedang Ryura, usai merusak kedua bola mata wanita selir itu dengan gerakan santai ia membersihkannya menggunakan gaun tidur yang wanita itu kenakan sampai bersih seperti semua.


Sama sekali tidak ada rasa sesal ataupun jijik pada apa yang sudah ia lakukan.


Tepat saat ia selesai membersihkan dua jarinya, saat itu pula dapat dilihatnya kalau si wanita sudah melemah dan perlahan tak lagi bergerak.


Ryura mengerjapkan matanya polos. Kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari sana.


Tepat saat ia membuka pintu kediaman wanita itu yang tak lain adalah kediaman mawar, tampaklah di depan matanya Furby berdiri gagah disana.


Ternyata tak terasa sudah 2 jam lebih ia disana, pantas saja Furby mendatanginya. Setelahnya, tanpa ragu ia naik ke punggung kuda bulan itu dan membiarkan kuda itu membawanya pergi meninggalkan istana.


Urusannya sudah selesai disana.

__ADS_1


Pengacau sudah ia bereskan. Sisanya akan ia serahkan kembali kepada Reychu setelah gadis itu sembuh.


Kepergian mereka tak ada yang mengetahuinya. Bagai hantu keduanya lenyap begitu saja di antara kegelapan malam meninggalkan kekacauan yang akan menambah daftar kesibukan kaisar dalam pekerjaannya.



Brak!


Gebrakan meja terdengar keras sampai membuat telapak tangan seorang pria tampan memerah. Pasti perih rasanya, namun keterkejutannya lebih mendominasi hingga ia mengabaikan rasa perih itu.


"Jangan bermain-main dengan ku, Kasim!" geramnya sebagai seorang kaisar begitu mendengar bahwa kediaman anggrek terbakar. Jelas saja ia sulit mempercayainya. Penjelasan yang bagaimana agar terdengar masuk akal untuk kabar yang di luar dugaannya?!


"Itu benar adanya yang mulia!" Kasim setianya memberi pernyataan jujur walau ia sendiri pun juga sulit mempercayai nya.


"Lalu, bagaimana keadaan selir tingkat kedua? Dia baik-baik saja bukan?" tanya kaisar cemas. Meski kecemasannya tidak begitu besar namun sebagai seorang kaisar yang memiliki beberapa wanita di haremnya tentu saja ia punya tanggung jawab untuk menjaga mereka.


Tapi, sepertinya ia telah lalai sekarang ini.


"Ampun yang mulia. Hamba mendapat kabar kalau selir tingkat kedua masih berada didalam kamarnya sedang istirahat. Jadi kemungkinan besar..." belum selesai Kasim berbicara, sang kaisar sudah lebih dulu bangkit dan berlalu pergi dengan langkah tergesa-gesa.


Mau tak mau Kasim juga harus ikut mengekori junjungannya.


Sepanjang jalan kaisar Li Hanzue serasa emosinya tak dapat di bendung. Banyak yang ia pikirkan belakangan ini terlebih setelah permaisurinya bebas dengan sifat yang jauh berbeda dari sebelumnya, belum lagi masalah negaranya yang pasti tak pernah luput dari masalah yang datang silih berganti. Kini kabar buruk muncul di haremnya. Membuat ia bertanya-tanya, ada apa gerangan?!


Sesampainya di depan kediaman anggrek dapat ditangkap oleh kedua matanya bahwa kediaman selir tingkat kedua-nya habis dimakan api. Beberapa pondasi bangunannya mulai berjatuhan karena sebagian telah terbakar.


Sejujurnya, bangunan bukan masalah besar bagi kaisar. Yang terpenting adalah keadaan selirnya. Meski ia tak menaruh rasa pada selir tingkat kedua-nya itu ataupun selir lainnya tapi tetap saja. Selama mereka tidak mencoba berkhianat, maka kehidupan mereka di istana terjamin.


"Hormat kami kepada yang mulia kaisar!" salam bawahannya kepada pria tampan itu.


Kemelut pikirannya membuatnya melambaikan tangannya sebagai jawaban. Menunjukkan bila ia sedang enggan di ganggu juga isyarat bila keadaan saat ini cukup memfokuskan diri pada masalah yang ada di depan mata.


Keningnya berkerut tajam, matanya pun tak lepas dari api yang berkobar dengan ganasnya di kediaman anggrek. Melahap habis bangunan kayu tersebut.


"Bagaimana bisa terjadi seperti ini?!" ia bertanya-tanya dengan bingung.


Di tengah-tengah pikirannya yang berkecamuk seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh menghampirinya. Sesaat setelah ia sampai, dengan nafas tersengal-sengal ia berujar yang kembali memberi kaisar Li Hanzue kejutan luar biasa.

__ADS_1


"Salam yang mulia kaisar. Hamba ingin memberitahukan kalau selir tingkat ketiga telah meninggal dunia di kediamannya!"



__ADS_2