3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
S2-UJIAN HERBAL 2


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, Rayan dan Ruobin tiba juga di depan pintu ruangan yang sebelumnya sudah Rayan kunjungi.


Samar-samar keduanya mendengar sesuatu yang seperti mengarah pada kekacauan. Sejenak keduanya saling pandang.


"Kau mendengarnya?" tanya Rayan.


"Hm... Mereka tidak sedang bertengkar, bukan?" tanya balik Ruobin.


"Entahlah. Mungkin. Sebaiknya kita lihat saja." usai berkata demikian, Rayan pun mulai mengetuk pintunya.


Tok!


Tok!


Tok!


Selang beberapa detik, pintu pun terbuka. Sosok yang sama muncul kembali.


"Oh... Hai, Rayan!" sapa Jun Jiu Han agak terlihat lusuh dan letih.


"Hai! Sesuatu telah terjadi?" Rayan bertanya begitu selesai menjawab sapaannya, kening Rayan sampai berkerut kala mengamati penampilan Jun Jiu Han yang jauh dari kata rapi. Berbeda dengan yang sebelumnya ia bertemu.


"Huh?!" menggaruk belakang kepalanya bingung harus berkata apa. "Ya... Begitulah..." tak sengaja matanya menangkap sosok Ruobin yang menjulang tinggi di belakang Rayan.


Menunjuk kearah Ruobin, lalu bertanya. "... Dan dia..."


Melirik sekilas pada Ruobin dibelakangnya saat sadar kalau ia belum memperkenalkan sahabat silumannya pada kenalan barunya.


"Oh, ya kenalkan sahabat ku. Namanya Ruobin." perkenalan itu diiringi senyuman.


Namun, tampaknya Jun Jiu Han menyadari sesuatu hingga keningnya mengernyit tajam. Ditatapnya Ruobin dari atas ke bawah dengan seksama, baru setelahnya kembali pada Rayan guna memastikan sesuatu.


"Maaf, sebelumnya. Aku ingin bertanya... Apakah dia seorang siluman?" tanya Jun Jiu Han dengan hati-hati. Pasalnya, menurut apa yang ia lihat dan rasakan. Pria bertopeng rubah di belakang Rayan tidak menunjukkan aura manusia, justru pria yang dikenakan sebagai Ruobin itu tampak seperti makhluk dari golongan siluman. Itulah mengapa ia bertanya.


"Ha'?!" sentak Rayan sedikit tidak menduga akan semudah itu di ketahui. Sebelum ia mengatakan sesuatu, suara dari belakangnya sudah lebih dulu keluar.


"Benar! Aku memang siluman. Tepatnya, siluman tingkat menengah dari klan rubah perak. Ada masalah dengan itu?" terang Ruobin agak dingin dan acuh tak acuh sampai Rayan melayangkan sikutan di pinggangnya.


"Jangan begitu..." bisik Rayan memperingati.


"Iya, maaf..." balas Ruobin mengalah.

__ADS_1


Jun Jiu Han yang melihat interaksi kedua orang dihadapannya merasa itu menakjubkan. Pasalnya, Rayan dan Ruobin benar-benar terlihat dekat dan akrab tanpa merasa terpisah oleh perbedaan. Cukup menarik.


"Ehm. Masuklah!" ajak Jun Jiu Han, tapi sebelum benar-benar membawa Rayan dan Ruobin masuk, pemuda itu kembali berkata. "Tapi, berhati-hatilah. Temanku sedang dalam suasana hati yang buruk. Sebenarnya, dia cukup tertekan dengan kegagalan yang kami terima. Hehe..." nadanya berbisik dengan maksud agar Hong Tan tidak sampai mendengarnya.


"Baiklah!" mulut Rayan membulat seraya mengangguk paham.


Akhirnya, mereka pun masuk kedalam ruangan tersebut.


Pemandangan Pertama yang ditangkap oleh mata Rayan adalah kekacauan dan berikutnya adalah aroma herbal yang gagal di ekstrak, selain itu ada aura kemarahan yang menyebar di sekeliling ruang. Dalam hal ini, Rayan amat sangat mengerti. Dulu, sewaktu usianya masih sangat muda dan baru saja menemukan apa yang menjadi minatnya, Rayan pun harus melewati banyak rintangan hingga bisa menjadi master seperti sekarang.


Baginya, kuncinya hanya satu. Yaitu, tekun dalam menjalankan segala sesuatunya. Memastikan bahwa apa yang telah dimulai akan mampu di selesaikan hingga tamat.


Karena itu pula, kini ia tak mengalami kesulitan dalam bereksperimen. Meskipun untuk sesuatu yang baru, mengingat dia sudah menguasai dasarnya. Jadi, segalanya tak lagi sulit di kali berikutnya.


"Hong Tan, tamu kita sudah datang. Tidakkah kau seharusnya memberi mereka sambutan." pelan dan hati-hati, Jun Jiu Han selalu tahu kapan harus bertindak. Dia juga tak ingin menjadi sasaran empuk bagi temperamen temannya yang terbilang sulit di kendalikan itu.


Mendengar itu, Hong Tan menoleh dengan wajah masih diselimuti oleh kegelapan. Dilihatnya gadis imut disana melambaikan tangannya padanya dengan senyum menawan, sedang seorang lagi yang tinggi nan gagah tak menunjukkan reaksi apapun selain hanya diam dibelakang gadis itu. Tapi, dia tahu begitu merasakan auranya, sosok tinggi itu bukanlah manusia melainkan siluman.


Sejenak, amarahnya teralihkan dengan pemandangan didepannya. Gadis dan siluman? Cukup aneh, tapi menarik.


Setelah beradu dengan pikirannya, akhirnya diapun berbalik guna menghadap tamu yang sebelumnya dibicarakan oleh Jun Jiu Han. Tapi, ia yakin sebelumnya temannya itu hanya mengatakan soal gadis imut tanpa siluman yang mengekor dibelakangnya.


Ruobin yang ditatap seperti itu mendapat sinyalnya. Segera ia berujar dengan datar. "Aku teman sekaligus yang menjaganya! Kau punya pendapat soal itu?"


Mata Rayan sampai di sipit kan sebagai bentuk peringatan.


Melihat itu, Ruobin memilih memalingkan wajahnya seraya mengedikan bahunya acuh.


Kembali melihat pemuda bernama Hong Tan, dengan senyum Rayan angkat suara. "Jiu Han pasti sudah mengatakan sebelumnya akan kedatangan ku kemari. Jadi, boleh aku tahu apa yang sudah terjadi disini? Kenapa berantakan sekali? Dan lagi, sepertinya... Dari baunya, kalian melakukan kesalahan hingga gagal, benarkan?" tanya Rayan langsung keintinya. Hal itu ia lakukan, karena hidungnya yang peka membuat ia tidak sabar untuk ikut mengurusi masalah yang sedang terjadi.


Singkatnya, dia ingin ikut bereksperimen.


Mendengar ucapan itu, kedua pemuda disana langsung saling pandang. Sedikit tak percaya, sebenarnya. Tapi, disisi lain perkataannya adalah benar. Bagaimana bisa itu menjadi tidak dapat dipercaya?


Sedang Ruobin tampak mulai berkeliling melihat kekacauan yang terjadi. Meski tidak parah, tapi sudah terbilang cukup kacau juga.


"Ray, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ruobin saat dia tengah mengusapkan ujung jarinya pada sisa herbal yang tumpah di atas meja, lalu menciumnya.


"Apalagi, tentu aku akan membantu. Ini menyenangkan! Bahkan dari baunya saja aku bisa menduga kalau mereka ingin membuat racun dengan bahan herbal." menoleh menatap dua pemuda di sana. "Dengan kata lain, kalian ingin mencoba merusak bahan obat untuk dijadikan racun. Benarkan?" tebak Rayan dengan senang.


Ia benar-benar ingin segera memulainya.

__ADS_1


"Ba.. bagaimana kau tahu?" gagap Hong Tan yang aura kemarahannya langsung lenyap saat itu juga dan kini berganti dengan keterkejutan yang penuh tanda tanya.


"Hm. Untuk saat ini kau tidak perlu tahu. Karena, itu akan sangat panjang ceritanya. Intinya, aku berada di bidang yang sama dengan kalian. Soal racik- meracik obat dan racun, aku... Jangan diragukan lagi..." Rayan sangat bangga kala mengagungkan keahliannya. Sulit untuk tidak menonjolkan nya dan jangan lupakan kebiasaannya yang mengibaskan rambutnya dengan centil setiap kali ia memuji dirinya sendiri.


Untuk pertemuan pertama, pemandangan itu bisa dikatakan terlalu cepat. Tapi, sebagai orang yang tidak takut seperti dirinya bahkan untuk pertemuan pertama sekalipun, apalagi pada dasarnya usianya sudah sangat dewasa. Bagaimana bisa dia masih malu-malu kucing?


"Bisakah kami mempercayai mu?" tanya Hong Tan dengan kening berkerut. Ini tugas penting, mereka harus melakukannya sendiri. mereka akan dalam masalah kalau sampai mereka berbuat curang. Terlebih sampai melibatkan orang lain.


Pertanyaan itu bukan Rayan yang menjawabnya, melainkan Ruobin.


Tanpa melihat kearah sang penanya, Ruobin dengan santai menjawab. "Tidak, juga bukan masalah bagi kami. Hanya saja, sepertinya akademi Zhilli tidak bisa menunggu lebih lama lagi." ujarnya sambil sedikit menggoyangkan lencana sebagai identitas pelajar dari Akademi Zhilli kearah tiga orang lainnya.


Terdapat gambar tungku yang dikelilingi oleh beberapa jenis tanaman di sekitarnya dan lencana itu berwarna hijau tua bening terbuat dari giok berpadu emas di sekelilingnya. Lencana itu dibuat layaknya gantungan dengan rumbai dari kumpulan benang sutra di bawahnya.


Benar-benar estetik untuk sekadar lencana.


Hong Tan mulai berpikir. Tapi, suara Jun Jiu Han muncul membujuknya.


"Tan. Aku tahu ini agak terburu-buru. Tidak seharusnya kita membocorkan tugas kita pada orang yang baru dikenal. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menunda lagi. Kita juga sudah harus melakukan perjalanan pulang. Meskipun tidak di tetapkan kapan waktu ujian ini berakhir. Tapi, kita tahu bagaimana sistem Zhilli bekerja."


Melihat sejenak wajah Jun Jiu Han dengan pikiran berkelana. Hong Tan tahu, yang dikatakan sahabatnya adalah benar. Tapi, disisi lain ia juga tak ingin mengambil resiko yang bisa membuat mereka mengalami masalah. Sebagai orang yang sering terlihat masalah, Hong Tan tidak ingin menyeret temannya seperguruan.


Akan tetapi, saat hendak angkat bicara Rayan lebih dulu menyela.


"Maaf. Sesungguhnya, aku sama sekali tidak berniat ikut campur apalagi sampai menambah kacau tugas kalian. Hanya saja, asal kalian tahu... Aku tidak berasal dari sekolah manapun. Aku berdiri sendiri dengan kemampuan ku ini. Jadi, kalaupun aku ingin membantu itu adalah pilihan ku dan tidak ada yang bisa mengambil keuntungan dari itu. Jika, yang kalian khawatirkan adalah karena adanya siluman di sisiku. Kalian perlu tahu, dia sahabat ku. Selama ini dia memang selalu bersamaku. Kami berada di kapal ini juga untuk melakukan perjalanan menuju festival di Kekaisaran Tenggara bersama yang lain. Maksud ku, kami tidak hanya berdua." jelas Rayan yang tidak tahu apakah perlu atau tidak, tapi itu ia lakukan untuk meminimalisir segala kemungkinan.


Jun Jiu Han dan Hong Tan tertegun mendengarnya. Terutama pada ungkapan mengenai Rayan yang tidak berasal dari akademi manapun. Padahal sebelumnya mereka berpikir, Rayan pelajar dari Benua Selatan yang mungkin juga sedang melakukan perjalanan tugas dari sekolah. Tidak terpikirkan oleh mereka, kalau keberadaan Rayan di kapal ini karena hanya untuk pergi ke festival di Kekaisaran Tenggara.


Jelas, mereka tahu itu. Bahkan, seandainya itu bukan festival mengenai peperangan mungkin mereka juga bisa ikut berkompetisi bila bidang mereka di tampilkan. Sayangnya, tidak.


"..." ditatapnya dalam wajah imut nan menggemaskannya Rayan yang saat ini masih menunjukkan senyumnya.


Kedua pemuda itu akui, Rayan cukup memiliki daya tarik. Seandainya mereka tidak bisa menahan diri sudah pasti mereka akan mengalami mimisan saking terpesonanya. Beruntungnya, pelatihan yang mereka jalani selama di akademi tidak sia-sia.


Apalagi setelah ungkapannya tadi, tentang dia yang berdiri dengan kemampuannya sendiri. Bukankah itu bisa dikatakan jenius? Apakah mereka bisa mengatakan ini sebuah keberuntungan?


"Hum... Baiklah, ku harap. Aku bisa mempercayainya. Karena aku paling tidak suka pembohong, apalagi pengkhianat. Tapi, jangan senang dulu. Aku izinkan kalian bergabung bukan berarti menerima kalian. Selain hanya untuk membantu kami, aku tak sedikitpun berniat menerima tamu asing." tukas Hong Tan dengan makna yang agak keras. Bagaimanapun, tamu didepannya ini mengawali perkenalan dengan baik. Jadi, diapun akan menyambutnya dengan baik pula meski kecurigaan tidak begitu saja hilang dari dirinya.


"Tentu, bukan masalah bagi kami." senang Rayan menerimanya, dia tak merasa ada yang salah dari perkataan Hong Tan. Meski, kalimatnya memang terdengar tidak sedap di dengar. Tapi, begitulah orang. Mereka memiliki karakter masing-masing.


"Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang?" seru Rayan tak sabar.

__ADS_1



__ADS_2