3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEHILANGAN JEJAK


__ADS_3

Keesokan harinya. Di sebuah hamparan tanah lapang yang memang di sengaja untuk tidak di bangun apa-apa atau kata lainnya tanah lapang yang dapat di pergunakan untuk membuat berbagai macam perayaan salah satunya festival lampion, tempat itu juga dekat dengan sungai yang ujungnya akan sampai ke danau An-An.


Reychu, Ryura, Rayan, Duan Xi, dan yang terakhir adalah Furby sudah berada disana untuk waktu yang belum lama. Mereka disana juga atas ajakan Furby, karena ia memberitahukan kalau mereka akan bertemu Ruobin di tempat itu. Tempat yang jarang di datangi orang-orang kecuali saat ada acara saja.


"Sampai kapan kita menunggu disini?" tanya Reychu yang mulai tak sabaran. Kepalanya memutar kesana-kemari layaknya orang yang mencari sesuatu, padahal nyatanya dia sedang berusaha melepas kebosanan akibat disuruh menunggu. Ia tak suka menunggu.


"Sabar, Rey sayang... Sebentar lagi mungkin dia sudah sampai." sahut Rayan dengan nada rendah penuh pengertian juga peringatan karena merasa agak risih melihat sahabatnya mulai mengeluh. Ia tahu Reychu topikal orang yang tidak sabaran bila di suruh menunggu, menurut gadis gila itu menunggu adalah kegiatan yang menyebalkan.


"Sabar, Rey sayang..." cibir Reychu mengulang kalimat yang Rayan ucapkan dengan suara jelas untuk didengar kumpulan mereka sedang Reychu tak peduli, dia sudah gerah duluan karena diminta menunggu. Rayan yang mendengar cibiran itu hanya memutar bola matanya malas menanggapi. Ia sudah hafal perangai gadis gila itu.


"Cih! Begini sifatmu, masih berpikir pantas menjadi muridku?! Bermimpi lah!" ketus Duan Xi tanpa bisa di tahan. Ibarat kata, dari sejak awal ia sudah tak ada tanda-tanda akan menyukai gadis yang tak punya rasa hormat padanya walaupun Ryura juga tak jauh beda. Tapi, setidaknya Ryura tak membuatnya naik darah.


Reychu mendelik tajam ke arah Duan Xi. "Huh! Kakek tua! Yang bilang aku mau jadi muridmu itu siapa...?! Jangan terlalu memandang tinggi dirimu, wahai orang tua! Aku hanya mengikuti Ryura-ku! Dasar pendek!" balas Reychu yang semakin dongkol kala kekesalannya pada acara menunggu kini ditambah dengan kata-kata tak mengenakkan dari orang tua pendek yang amat terlihat sombongnya di mata Reychu.


Perilaku Reychu menghasilkan sikutan dari Rayan dengan memberi tatapan peringatan saat Reychu mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya. Reychu ingin protes namun sudah lebih dulu di bungkam oleh Rayan dengan tangannya. Di samping mereka Ryura hanya melihat sekilas kemudian kembali memandangi aliran sungai yang sepertinya lebih menarik untuk di lihat daripada menyaksikan pertengkaran konyol sahabatnya dengan orang yang baru dikenalnya, sedang Furby tak bisa bila tidak menggelengkan kepalanya jengah.


"Heh! Dasar cebol tua! Sifatmu belum berubah juga! Sombong, angkuh, kau juga pemaksa dan terlalu membanggakan diri Semua itu membuat mu menyebalkan! Aku merasa tidak beruntung bertemu denganmu saat itu!" gerutu Furby dalam hati sambil melengoskan pandangannya yang tadi sempat melihat kearah Duan Xi dan Reychu yang tampak mulai kembali berdebat.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Haaah...!


Helaan nafas bosan keluar dari mulut seorang pria tampan yang tengah tiduran di atas puncak atap bangunan paling tinggi di ibukota, berhadapan dengan langit biru segar pagi hari. Tangan kirinya dijadikan bantalan kepala sedang tangan satunya di letakkan di atas perutnya dengan kaki yang menumpu pada kaki satunya yang dilipat tegak. Dan yang paling khas dari dirinya tampak di tenggerkan di puncak kepalanya. Apalagi kalau bukan topengnya.


Saat ini ia tengah bosan. Tak tahu harus berbuat apa. Sejak ia tahu gadis imut yang sudah di klaim sebagai temannya a.k.a sosok manusia yang istimewa baginya tidak lagi berada di kediaman nya atau tepatnya pergi entah kemana dan tidak kunjung kembali. Pria itu mulai merasa kesepian dan kehilangan.


Ya... Dia Ruobin yang tengah merindukan gadis imutnya.


"Rayan... Rayan... Rayan... Dimanakah kau berada... Tidakkah kau tahu aku merindukan mu... Rayan... Rayan..." senandungnya dengan lesu.


Saat sedang asik bersenandung, tiba-tiba saja sesuatu menyentak benaknya hingga menimbulkan sedikit dengungan kemudian sebuah suara pun muncul.


"Kesungai bagian utara ibukota sekarang. Rayan disini."


Usai mendengarnya terlebih ketika nama Rayan di sebut saat itu juga tubuhnya yang tengah terlentang bangkit seketika dan nyaris terhuyung jatuh kalau saja ia tak bisa menyeimbangkan diri.


Ia sedikit bingung akan siapa yang menghubungi nya melalui telepati. Sebab itu bukanlah suatu hal yang bisa di lakukan oleh sembarang orang, kecuali para siluman namun tetap butuh koneksi juga bila ingin bertelepati. Contohnya seperti bila sudah pernah saling bertelepati sebelumnya.


Keningnya berkerut berpikir. "Tidak ada keluarga ku yang tahu aku berteman dengan manusia. Lagipula aku kemari setelah melakukan aksi kabur dari rumah. Itu membuat semuanya lebih tidak mungkin. Mereka tidak akan tahu keberadaan ku disini. Negara api terlalu jauh dengan tempat tinggal ku. Lalu, aku tidak punya kenalan siapapun selama aku tinggal disini. Yang kulakukan hanya makan dan bersantai, menikmati hiburan yang tersedia juga bercinta saat aku mau. Juga tidak ada yang tahu wajah dan namaku selain julukan 'pria bertopeng' yang menjadi panggilanku... Dan yang terpenting adalah tidak ada yang tahu kalau aku ini seorang siluman dari klan rubah perak. Jadi, orang hebat mana yang bisa melakukan hal itu padaku...?!" Ruobin berpikir cukup keras.


Lama ia habiskan untuk berpikir sampai akhirnya ia menemukan petunjuknya.


"'Aahh... Aku ingat sekarang. Suara tadi itu suaranya Furby... Tapi, dari mana ia mengenal Rayan?!" pikirnya lagi. "Iya, iya, iya... Gadis tak berekspresi itu. Rayan pernah bilang kalau ciri-cirinya mirip dengan temannya. Ryura, Rayan. Hmmm..." ia mengangguk paham. "Baiklah, tidak ada salahnya di datangi. Mari buktikan kalau yang ku pikirkan itu tepat."


Ruobin pun bergerak cepat dengan teleportasinya, ia sudah hilang saja dari tempatnya bersantai tadi. Bagaikan bayangan.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Bruk...


Bruk...


Bruk...


Suara beberapa pasang kaki bergemuruh ditanah saat mereka melangkah cepat dan terkesan tergesa-gesa.


Secara serempak pemilik para pasang kaki itu membungkuk hormat pada seorang pria yang membelakangi mereka begitu mereka sampai 3 meter dari pria yang tak lain adalah tuan mereka.


Pria itu sedikit melirik kebelakang tanpa menoleh, lalu kembali menatap kedepan.


"Lapor, Tuan Muda." seru salah satunya.


"Katakan!" tegasnya bernada perintah.


"Kami telah menemukan Nona Muda Keenam, Tuan Muda." mendengar itu pria yang di panggil Tuan Muda segera berbalik menghadap bawahannya. Dan tampaklah wajah tampannya, dialah Han Wu Shin.


"Dimana dia?"


"Di sungai bagian Utara ibukota, Tuan Muda." jawabnya.


"Sungai bagian Utara ibukota?! Apa yang dia lakukan disana?" tanya Wu Shin heran.


"Kami tidak tahu, Tuan Muda. Tapi, kami melihat Nona Muda Keenam tidak sendiri disana. Nona Muda terlihat sedang bersama beberapa orang dan seekor kuda hitam yang besar dan gagah." jelas bawahannya tanpa ragu.


"Siapa mereka?" tanya Wu Shin lagi. Ia ingin informasi yang lengkap dan jelas.


"Kami kurang tahu, Tuan Muda. Tapi, kalau kami tidak salah menduga. Ada seorang gadis yang sepertinya berasal dari keluarga Yu."


"Keluarga Yu?! Apa jangan-jangan anak haram yang dikabarkan menghilang?!"


"Sepertinya begitu, Tuan Muda. Juga ada seorang gadis lagi, dia mengenakan cadar sehingga kami tidak bisa memastikan siapa dia. Lalu, ada juga seorang pria tua namun bertubuh pendek. Mereka terlihat akrab, seperti sudah saling mengenal lama." terang bawahannya secara rinci agar Tuannya puas.


Han Wu Shin berpikir keras untuk mencerna dan menelaah informasi yang baru saja ia terima. Namun, setelah menghabiskan waktu beberapa menit pun ia tak kunjung mengerti sebab dan alasan juga tujuan saudarinya berada disana. Sampai akhirnya, ia pun menurunkan perintah.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Jangan sampai Nona Muda Keenam kembali menghilang. Sekarang kita berangkat kesana." usai berkata demikian ia segera beranjak dari tempatnya lebih dulu lalu disusul bawahannya.


"Baik, Tuan Muda."


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ

__ADS_1


Brak...


Gebrakan meja oleh sepasang tangan terdengar mengerikan karena bercampur emosi yang tak dapat dibendung.


Seorang pria lansia tampak marah dari singgasananya. Wajahnya yang keriput terlihat merah padam, giginya bergemeluk lantaran saling beradu saat rahang itu mengeras.


"APA YANG ANAK HARAM ITU LAKUKAN?!" marahnya dengan suara keras hingga membuat orang-orang yang ada di sana meringis mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Yu Zhao Yan, sang kepala keluarga.


"Tenang ayah... Biar menantu tangani..." tuturnya lembut pada ayah mertuanya, yang mana langsung di lirik sinis oleh menantu yang lainnya. Dia adalah menantu pertama Keluarga Yu, Ru Jinyu.


"Apa wanita bercadar kemarin itu juga ada di sana?" lanjutnya bertanya.


"Benar Nyonya pertama. Wanita itu ada disana, juga beberapa orang lagi yang bersama Nona Yu Rayan." tukas bawahannya lugas. Dia adalah orang yang di perintahkan untuk mencari keberadaan Yu Rayan.


"AKU TIDAK PEDULI DIA SEDANG BERSAMA SIAPA DISANA. YANG KU MAU SEKARANG ADALAH... BAWA ANAK HARAM ITU KEMBALI KE SINI!!! BAGAIMANA PUN CARANYA!!!" perintah dengan nada tingginya yang tak lagi bisa di tahan sejak tadi.


"Baik, Tuan Besar!" tunduk beberapa bawahannya dengan patuh.


Setelahnya para bawahan keluarga Yu bergerak cepat untuk membawa kembali Nona Muda mereka yang tidak pernah di akui. Tapi, saat tidak ada baru dicari.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Wush...


Tibalah Ruobin di tempat yang suara itu katakan. Saat dimana ia muncul saat itu juga matanya menangkap punggung Rayan, karena ketika Ruobin muncul dia berada di belakang kumpulan itu. Mereka tidak menyadari kehadiran Ruobin, kecuali...


Disaat bersamaan Ryura menoleh kebelakang seperti telah merasakan akan hadirnya yang ditunggu-tunggu, begitu juga Furby yang langsung bersuara seolah memberi tanda. Rayan, Reychu, dan Duan Xi menoleh kearah Furby saat mereka mendengar ringkikan kuda itu.


Ekor mata Rayan menangkap sosok yang tak asing lagi baginya. Tanpa di minta ia segera melihat sosok itu dan seketika itu juga Rayan menjerit histeris dengan riangnya.


"AAAAAA... RUOBIIINNN...!" gadis imut itu langsung berhamburan kepelukan pria tampan yang kini tertutupi oleh topeng rubahnya. Ya... Selain Rayan, dia tidak mau menunjukkan wajah aslinya ke orang lain.


Reychu hanya menelengkan kepalanya bingung melihat pemandangan didepannya. Lalu menoleh kearah Ryura sambil menunjuk kedua insan yang saling berpelukan. "Dia orangnya?" Ryura mengangguk sebagai jawaban. Reychu hanya ber'oh'ria tanpa suara seraya mengangguk paham.


"Dia siluman kan?" bisik Duan Xi ingin tahu. Furby menjawabnya dengan anggukan.


"Aku merindukan mu..." rengek Rayan manja. Ruobin tersenyum dari balik topengnya mendengar nada manja gadis imutnya.


"Aku juga." melepas pelukannya. "Kau tahu aku mencarimu ke kediaman, tapi aku tidak menemukan mu. Aku sangat khawatir kau tahu!" ujarnya lega dengan nada lembutnya. Rayan tersenyum manis menanggapi perkataan itu, saat hendak menimpalinya, suara Reychu lebih dulu menyelanya.


"Ooh... Ini dia orangnya... Hai, suamiku!" sapa Reychu tanpa malu yang sukses membuat semua yang ada disana terbelalak, kecuali Ryura tentunya.


Dengan mengernyit bingung, Ruobin bertanya. "Siapa yang kau panggil suamimu?! Aku?!" tunjuk pada dirinya sendiri.


"Tentu... Siapa lagi..." matanya melirik jail. "Rayan tahukah kau tidak baik memeluk suami orang di depan istrinya sendiri." tuturnya seraya memainkan alisnya menggoda.


"Reychu... Jangan mulai! Kau merusak acara reuni kami..." keluh Rayan kesal sampai bibirnya manyun. Kebingungan Ruobin teralihkan sejenak, ia jadi gemas melihat keimutan temannya namun ditahan.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ruobin meminta penjelasan. Karena ia masih tidak paham arah pembicaraan kedua gadis didepannya ini.


"Tidak perlu hiraukan dia. Dia gila!" tukasnya tanpa takut Reychu tersinggung. Ruobin hanya mengerjapkan matanya, karena masih tidak mengerti juga. Tapi, sepertinya teman manusianya belum mau menjelaskan nya saat ini.


Benar saja, setelah Rayan berkata demikian pecahlah tawa Reychu yang masih saja mengejutkan pendengaran mereka yang ada di sana kecuali Ryura dan Rayan pastinya.


"HAHAHAHAHA...!!!"


"Gilanya kambuh lagi!" celetuk Duan Xi ketus.


"Sudah-sudah, lupakan itu untuk saat ini. Ada yang lebih penting yang harus di bahas." sela Rayan guna mengakhiri tawa Reychu yang menurutnya tak kenal tempat.


"Oh, tapi aku belum menyapa yang lainnya..." belum selesai Ruobin berkata Rayan sudah menyelanya.


"Nanti saja sapanya. Sekarang kita bahas dulu yang menjadi tujuan awal kami memanggilmu kesini." meski bingung Ruobin tetap mengangguk mendengarnya.


"Baiklah. Itu bukan masalah. Lalu, apa yang ingin di bicarakan dengan ku?" tanya Ruobin yang tak ingin ambil pusing selama itu Rayan yang mengatakannya.


Baru saja Rayan hendak membuka suara. Teriakan dari jarak jauh menggema hingga terdengar oleh mereka. Ryura dan lainnya menoleh cepat kearah suara itu.


"DIAM DISANAAA!!!"


Disana langsung terlihat, rombongan pria berpakaian pengawal khas kediaman Han beserta kudanya dan di arah lainnya ternyata juga ada rombongan lain yaitu rombongan pengawal kediaman Yu beserta kudanya.


Kelima orang yang sejak awal ada disana terkejut bukan main sampai bola mata mereka nyaris keluar dari tempatnya. Namun, lain halnya Ryura yang masih santai menanggapi hal itu. Wajahnya tak berubah sedikitpun walaupun ia tahu keadaan berganti tegang saat ini.


Keenam orang itu tak berkutik bukan karena takut, melainkan karena merasa bukan pengecut sehingga mereka diam sampai para rombongan di kedua kubu kini berada di hadapan mereka.


Furby sudah mengambil ancang-ancang dengan memposisikan dirinya di depan Ryura yang tak bergeming.


"Ryura, naik kepunggungku. Kalau sesuatu terjadi aku akan langsung membawamu pergi." telepati Furby tegas pada penunggangnya, dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan ini. Meskipun tidak di jawab, Furby tahu Ryura mendengarnya.


"HAN RYURA!" gelegar suara seorang pria yang tak lain adalah Han Wu Shin dari atas kudanya. Kakak kandung Han Ryura. Namun, yang di panggil tak sedikitpun berniat untuk menyahutnya.


Han Wu Shin tampak tenang dari luarnya namun tidak di dalamnya. Ia seperti ingin segera menyeret pulang adik bodohnya itu. Tapi, sebelum itu dia lakukan sesosok makhluk langka dan legendaris menyita perhatian nya.


"Kuda... Bulan...?!" gumamnya dalam hati. Ia bingung tentang bagaimana bisa kuda bulan ada di sana seolah sedang melindungi Ryura. Ia tahu itu kuda jenis apa, karena ia tergolong bangsawan dengan wawasan luas. Tipikal orang yang tak ingin menyia-nyiakan pengetahuan sekecil apapun itu.


Kembali memusatkan perhatiannya kepada Ryura.


"Kembali dengan ku sekarang... Atau aku akan memaksamu!" tegasnya dengan nada tak terbantahkan, tapi yang di ajak bicara tetap diam tak gentar.

__ADS_1


Melihat kearoganan Han Wu Shin, pria yang belum di ketahui Reychu namun dilihat dari parasnya yang ada kemiripan dengan paras pemilik tubuh sahabatnya membuat Reychu menerka kalau itu adalah salah satu saudara Ryura, tepatnya Han Ryura.


"Hei, kau! Ku sarankan untuk tidak usah membuang-buang waktumu hanya untuk membawa Ryura kembali. Karena, sampai kau menghembuskan nafas terakhir pun ia tak akan kembali." lugas Reychu tanpa takut padahal saat ini ia sudah di tatap tajam oleh Han Wu Shin.


"Jangan ikut campur! Kau tidak berhak!" sarkas Wu Shin dingin.


Sekali lagi Reychu tidak takut. Jangan lupakan siapa dia sebelum sampai ke jaman kuno ini.


"Hahaha... Lucu sekali! Kau juga jangan ikut campur, karena kau tak punya hak untuk memerintah ku agar tidak ikut campur dalam urusan Ryura." balas Reychu tak kalah sarkas dengan terkekeh sinis.


Han Wu Shin hampir tidak bisa membendung emosinya, dengan amarah yang tertahan ia menjatuhkan perintah pada bawahannya dengan keras.


"TANGKAP NONA MUDA KEENAM SEKARANG!!!"


Tanpa perlu menjawab lagi, seluruh orang yang berada dibawah perintah keluarga Han bergerak cepat hendak menangkap Ryura. Namun, mereka melupakan sosok Furby di sana. Kuda itu jelas tak akan membiarkan siapapun menyentuh bahkan melukai teman manusianya.


"HIHIKHIKHIKHIKHIKHIK... (RYURA SEKARANG!)"


Furby mengangkat tubuh bagian depannya hingga dua kakinya tak lagi menapak dan Ryura dengan sigap meraih leher Furby lalu meloncat naik. Si sela-sela loncatnya yang memukau itu ia sempat berseru kepada dua sahabatnya.


"Segera menyusul!" Rayan dan Reychu mengangguk mengiyakan. Mereka paham maksudnya.


Tanpa menunggu lagi seketika itu juga Ryura dibawa pergi oleh Furby dengan kecepatan penuh membuat Han Wu Shin kesal dan berteriak memberi perintah untuk mengejarnya.


Ia dan rombongan bergerak cepat mengejar Ryura dengan kudanya. Tanpa ada yang tahu dan sadari Duan Xi lebih dulu bergerak menyusul Ryura dan Furby sedetik setelah muridnya itu melaju dengan si kuda bulan. Ia tak banyak berkata karena dapat melihat bahwa keadaan sedang tidak baik.


Kini tinggallah Reychu, Rayan, dan Ruobin. Rombongan pengawal kediaman Yu telah mengepung mereka.


"Itu utusan keluarga mu, Rayan!" katanya tidak bermaksud bertanya. Karena ia sudah bisa menebaknya dari pakaian khusus yang mereka kenakan.


"Eumm..." Rayan membenarkan. "Mereka pasti ingin membawaku pulang." Ruobin menggenggam erat tangan Rayan, ia tidak ingin lagi kehilangan walau hanya sehari seperti sebelumnya. Hatinya sudah menyayangi gadis imut yang ahli dalam meramu obat dan racun itu.


"Dan kau ingin pulang, Ray?" tanya Reychu begitu mendengar penjelasan singkat dari mulut sahabatnya.


"Jelas tidak. Aku akan kuat dulu. Baru kembali untuk membereskan mereka semua." desis Rayan tanpa ragu, Reychu mengangguk ikut mengerti karena ia juga berpikiran sama.


"Lalu, sekarang bagaimana...?" tanya Reychu lagi, bertepatan dengan suara pemimpin rombongan milik keluarga Yu menggema.


"Nona Muda. Kau harus kembali ini perintah Tuan Besar." tegas si pemimpin tanpa pandang lagi kalau itu adalah Yu Rayan. Karena, tak ada perintah bagi mereka untuk menghormati gadis haram itu.


"Tak akan aku biarkan kalian membawanya." Ruobin berujar dengan dinginnya sampai hawa disekitar mereka menjadi mencekam dan menyesakkan.


"Lebih baik enyahlah. Atau kau akan tahu akibat dari menghalangi kami membawa Nona Rayan kembali ke kediaman Yu." sarkas pemimpin itu tanpa peduli aura sekitar yang turun drastis, karena baginya adalah perintah junjungan harus terlaksana.


"Kalian benar-benar cari mati..." desis Ruobin mengeram marah. Segera Rayan menepuk pelan lengannya.


"Kita pergi sekarang. Jangan lakukan apapun. Ini belum saatnya." lugas Rayan dengan berbisik, sepertinya ia paham gelagat Ruobin tadi yang tampak jelas ingin menghabisi bawahan keluarga Yu itu.


Ruobin memandang dalam Rayan barulah kemudian ia mengangguk. Mengiyakan penuturan gadis imutnya.


"Ehem... Kalian tidak bermaksud meninggalkan ku, kan?" sela Reychu di tengah-tengah kegiatan yang tampak romantis itu. Bukannya iri, ia hanya mempertanyakan yang memang harus ia tanyakan. Siapa yang mau ditinggalkan di antara manusia berseragam dengan pedang ditangannya itu. Meskipun Reychu bisa melawan mereka tapi tetap saja tidak dalam keadaan seperti ini juga.


"JANGAN MENCOBA UNTUK MELARIKAN DIRI LAGI, NONA RAYAN. KAU HARUS KEMBALI."


Rayan memandang jengah si pemimpin itu. Kata-katanya tak ada sopannya sedikitpun terutama panggilannya. Kau?! Yang benar saja. Walaupun ia anak haram keluarga Yu, tapi tetap saja ia adalah Nona Muda disana. Tapi, sudahlah tak penting juga, begitu pikir Rayan.


"Maaf sekali, tuan-tuan pengawal. Sepertinya aku harus membuat kalian menanggung akibatnya. Karena aku dengan sangat jelas mengatakan, kalau aku tidak akan kembali sampai 3 bulan kedepan. Jadi, tolong sampaikan pesanku pada keluarga. Mengerti?!" terang Rayan dengan manisnya tak lupa senyum memikatnya yang patinya itu semua hanyalah kepura-puraan. Siapa juga yang mau tersenyum saat diri sendiri dalam bahaya.


"Maaf, Nona. Kami akan tetap memaksa kau kembali." si pemimpin tak terima kalau harus menanggung kesalahan karena tak bisa membawa kembali anak haram keluarga Yu itu. Alhasil, ia segera memerintahkan yang lainnya bergerak cepat.


"TUNGGU APA LAGI! TANGKAP NONA YU RAYAN SEGERA!"


"Pegang tanganku?" seru Ruobin sambil menyodorkan tangannya kepada Reychu. Sejenak Reychu tidak paham namun kala langkah kaki bergema dengan seramnya membuat ia segera memegang tangan itu.


Jujur saja, suara langkah orang yang berlari itu mengingatkannya pada masa kehidupan lalu dimana ia dan dua sahabatnya pernah di kejar dengan gilanya sampai tak bisa beristirahat sejenak. Itu benar-benar mengerikan, karena bagaimanapun ia tetaplah manusia. Bisa bayangkan manusia yang memaksa kakinya berlari tanpa henti akan jadi seperti apa?!


Reychu bergidik mengingat rasa ngilu dan keramnya.


"Tutup mata kalian. Aku akan membawa kalian pergi dari sini." pinta Ruobin dengan tangan kirinya yang memeluk bahu Rayan dan tangan kanannya yang menggenggam tangan Reychu.


Bila dilihat, amat jelas perbedaan perlakuan Ruobin untuk kedua sahabat itu. Tapi, itu bukan masalah bagi Rayan maupun Reychu.


Kedua sahabat itu segera menuruti keinginan Ruobin saat pria itu meminta mereka memejamkan mata. Dan setelah itu mereka tak tahu apa yang terjadi berikutnya.


Tak perlu heran. Ruobin membawa kedua gadis itu berteleportasi. Sehingga rombongan pengawal keluarga Yu tersebut menjadi kelimpungan sendiri mencari keberadaan ketiga orang itu.


"Kemana mereka!" dua kata itu yang mengisi mulut setiap orang dari rombongan pengawal keluarga Yu dengan gelisah.


Mereka mulai resah karena telah kehilangan jejak dari target mereka.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Part kali ini tanpa sadar sampai 3000 kata lebih...


hahaha... gak sadar author ngetiknya... tapi gak papa... bonus ya!


semoga part kali ini makin buat kalian suka cerita yang author buat.


SELAMAT MEMBACA SOBAT READERS...!!!

__ADS_1


__ADS_2