3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MODERN ASSASSINS VS ANCIENT ASSASSINS


__ADS_3

Wush...


Wush...


Wush...


Beberapa bayangan hitam melintas di sekitar Sekte Salju Perak dan Kediaman Ye secara acak. Mereka bergerak cepat kesana-kemari seperti tengah mencari sesuatu.


Larut malam itu sangat sunyi, selain penjaga yang berpatroli semua penghuni sedang beristirahat di tempat mereka masing-masing sehingga suasana diluar cukup senyap. Hanya ada suara alam, seperti angin berhembus dan ranting saling bergesekan.


Berhubung mereka lihai dan sudah cukup profesional. Hawa keberadaan mereka pun mampu disembunyikan. Namun, entah sempurna atau tidak itu kembali kepada seberapa hebat lawan yang mungkin akan mereka temui nanti.


Bayangan-bayangan itu akhirnya memilih bersembunyi di atap salah satu bangunan yang ada di kediaman Ye guna menyusun strategi berikutnya. Karena mereka tahu, target mereka ada di sana. Mereka bergerak dengan sangat hati-hati. Meskipun, sudah dikatakan kalau misi kali ini cukup mudah tapi tetap saja...


Bagaimanapun mereka harus bekerja dengan sebersih mungkin. Terlebih, ini bukan berada di tempat biasa. Ini adalah Sekte yang tak dapat diragukan lagi kehebatannya. Bila sampai mereka melakukan kesalahan sedikit saja. Bukan hanya nyawa mereka yang terancam, organisasi pembunuh bayaran pun ikut terlibat.


Apalagi, target kali ini adalah orang yang terbilang penting.


Flashback on...


"Hormat kami, Tuan!" sapa tiga orang pria kepada tuannya.


Sruuk...


"Tak perlu bertele-tele. Langsung saja! Itu adalah tugas kalian kali ini. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya." menunjuk kearah kertas yang di gulung dengan dagunya. "Klaien kita kali ini meminta kita untuk membunuh rival cintanya. Dia ingin di bereskan sesegera mungkin, karena gadis itu adalah calon Nyonya Ye." jelasnya.


"Calon Nyonya Ye?" kaget mereka begitu tahu kalau misi kali ini berada dilingkungan yang beresiko tinggi.


"Ya. Aku tahu. Ini mungkin akan sulit mengingat lokasinya benar-benar berada dalam benteng kediaman keluarga ahli beladiri itu. Tapi, apa yang bisa kita lakukan. Kita bertahan hidup dengan cara ini. Jadi, bersiaplah!" kata-katanya dibuat semiris mungkin seolah dia sudah sangat menderita dalam hidup ini, tetapi ejekan dimatanya tergambar jelas seperti sedang mengejek ketidakberdayaan anak buahnya yang tampak langsung menciut begitu tahu dimana mereka harus melaksanakan perintah.


Sadar kalau mereka telah membuat hati tuannya tak senang, segera mereka berlutut memohon maaf. "Ampun Tuanku. ini tidak akan terjadi lagi!" lugasnya yang diiyakan oleh dua lainnya.


"Kalau begitu, segera lakukan. Kalian tak perlu khawatir, selama kalian kembali membawa keberhasilan. Aku akan menggaji kalian dengan harga yang sepadan." janjinya yang tak diragukan, itulah mengapa banyak juga orang yang memilih bertahan hidup dibawah naungannya.


"Baik, Tuan. Kami menerima tugas ini!" lugas ketiganya serempak.


Baru setelahnya mereka pergi memenuhi perintah.


Flashback off...


"Menurut informasi. Seharusnya target berada di salah satu paviliun didalam Kediaman Ye." ujar salah satunya dengan suara rendah sambil terus memantau keadaan sekitar.


Sosok-sosok bayangan itu mengenakan pakaian serba hitam seperti ninja hingga hanya menampilkan sepasang mata tajam dan bengis mereka saja.


"Benar. Tapi, kita harus tetap waspada. Meski ini bukan tugas pertama bagi kita dengan kasus yang sama, sayangnya kita melakukannya di Sekte yang paling tersohor kemampuan ahli beladirinya. Kita tidak boleh sampai tertangkap. Hidup kita dipertaruhkan disini." terang orang kedua menyahuti.


Bohong jika mereka tidak takut. Meski hanya secuil, itu tetaplah rasa takut. Bagaimanapun tempat mereka berpijak saat ini bukan tempat sembarangan.


"Jadi, target kita sekarang adalah gadis yang digadang-gadang akan menjadi nyonya baru masa depan 'kan?" tanya orang ketiga tanpa mengurangi fokusnya dalam mengintai.


"Hm. Benar!" jawab orang pertama.


"Kalian bawa sketsa wajahnya kan?" tanya si orang ketiga lagi. "Kita tak boleh sampai salah sasaran." sambungnya.


Orang kedua tanpa menjawab segera mengeluarkan gulung kertas dari saku dadanya dan langsung dibuka agar dapat dilihat bersama.

__ADS_1


Gulungan kertas berisi sketsa wajah gadis yang tak lain adalah Ryura didapat tentunya dari Meng Pei Yun. Dia tak ingin kegagalan terjadi sehingga diapun menyiapkan segalanya dengan teliti.


"Cukup menawan. Sayang sekali berumur pendek." ujar orang pertama menyayangkan tapi sebenarnya tidak sama sekali.


"Kalian sudah ingat bukan wajahnya." Orang pertama dan kedua mengangguk sebagai jawaban. "Kita bergerak sekarang!" katanya.


Setelah anggukan singkat, mereka langsung menghilang dari atap tempat mereka berunding tadi. Tentu, mereka segera meluncur ketempat dimana Ryura tinggal sesuai informasi yang mereka terima.


Tanpa mereka sadari, dari bawah di sisi bangunan keluarlah Furby yang menyipitkan matanya dengan sorot mata penuh permusuhan kearah sekelompok bayangan itu pergi.


"Punya nyali juga mereka." sinisnya. "Sayangnya, mereka salah target." lanjutnya dengan hati tak senang.


Segera setelahnya, Furby mengirimkan telepati kepada dua makhluk sebangsanya.


"Mereka ada tiga orang dan semuanya menuju arah barat." arah barat adalah tempat dimana Ryura tinggal.


Ng...


"Baik. Giliran kami yang menangani sisanya." jawab sebuah suara yang cukup dikenal dari dalam kepala Furby. Suara itu adalah milik Ruobin.


Setelahnya, telepati mereka terputus.


"Jangan harap kalian segerombolan sampah tak berguna bisa menyentuh sahabat ku!" sarkas Furby penuh kebenciannya sebelum akhirnya dia menghilang kedalam kegelapan dibelakangnya.


Jangan bertanya bagaimana mereka bisa tahu. Mereka sudah menjadi bagian dari 3Ry, jadi ketiga gadis itu pun tak ragu untuk mengajak mereka bermain.


Hari itu, saat Ryura memberikan kesempatan untuk dua sahabatnya bermain mereka langsung mengajak Ruobin dan Chi-chi. Sementara, Furby dia menawarkan diri untuk bergabung setelah dia mengetahui kalau keberadaan Ryura tidaklah aman di Kediaman Ye ini.


Sebagaimana kemampuan Furby si Kuda Bulan, dia bisa mendeteksi siapa saja yang menjadi musuh bagi sahabat manusianya. Karena itu, begitu tahu kalau Ryura menjadikan orang-orang tak penting itu sebagai objek mainan untuk dua gadis lainnya, tanpa ragu dia turut bergabung.


Disinilah mereka, berbagi tugas untuk menjebak dan menangkap orang-orang yang tidak relevan tersebut. Entah dibunuh atau tidak, hal itu menjadi bagian terakhir bila diperlukan.


Malam ini, sebenarnya tak ada yang memberitahukan mereka kalau para pembunuh bayaran akan datang. Namun, 3Ry dan para siluman -kecuali Ryura- memilih untuk siap sedia sejak awal diberitahukan oleh Ryura untuk bermain. Karena itulah, Furby menggunakan kemampuannya yang dapat mendeteksi bila ada ancaman datang untuk segera bertindak cepat.


Dan seperti yang diharapkan meski tak menyangka akan secepat itu, para pembunuh bayaran itu muncul juga.


Sedang Ruobin dia bertugas untuk mengintai di sekitar kamar yang ditempati oleh para gadis 3Ry. Sementara Chi-chi, bocah laki-laki dari bangsa siluman kelinci itu berjaga-jaga kalau-kalau para pria tampan menyadari kekacauan yang mungkin akan segera terjadi.


Lain halnya dengan para gadis.


Ketiganya saat ini tengah bermain kartu poker. Karena, permainan kartu tersebut tidak ada di jaman kuno. Maka, Rayan dan Reychu berinisiatif untuk membuatnya dengan bilah bambu yang sudah di asah setipis mungkin. Lalu, di gambar diatasnya hingga menyerupai sebagaimana kartu poker di jaman modern.


Mereka sudah melewati ronde pertama dalam permainan. Dan itu dimenangkan oleh Ryura.


Rayan dan Reychu tak melewatkan perasaan menyedihkan karena tahu kalau sangat sulit untuk mengalahkan Ryura dalam beberapa hal.


Reychu saat ini tengah serius menatap kartu-kartu di tangannya sembari menggigit sumpit kayu yang sebelumnya ia pakai untuk alat makan.


Rayan pun tak jauh berbeda. Gadis imut itu bermain sembari membungkus dirinya dengan selimut karena masih merasa dingin.


Lain dengan Ryura, gadis itu hanya menatap sejenak pada kartu-kartu ditangannya sebelum akhirnya memilih meletakkan semuanya keatas meja dalam posisi terbalik sehingga kedua sahabatnya tidak akan tahu apakah isi kartu itu menang atau kalah. Lalu, ditinggal memejamkan matanya begitu saja.


Tak lupa, disela-sela permainan ketiganya atau tepatnya dua dari tiga gadis itu diisi dengan percakapan.


"Kau harus kalah!" celetuk Reychu tanpa melihat kearah Rayan. Dia tak mengatakan kalimatnya kepada Ryura karena tak akan ada respon.

__ADS_1


Dia mengatakan itu bukan hanya untuk benar-benar membuat temannya kalah, tapi juga untuk membuat keributan. Rasanya tidak benar kalau situasi seperti ini dibiarkan sunyi.


Oleh karena itu, sasaran Reychu akan selalu menjadi Rayan.


Kalau Ryura?


Tidak akan berguna!


Rayan mendengus mendengarnya seraya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada kartu-kartu miliknya. Tapi, masih tetap menjawab.


"Tidak akan. Kau yang harus kalah." balas Rayan.


"Kau saja. Dengan begitu, aku yang akan ambil langkah pertama untuk bermain-main dengan mainan baru yang akan segera datang nanti." kata Reychu lagi.


Tampaknya, mereka sedang bertaruh siapa yang akan menjadi pembukanya dalam permainan mempermainkan manusia atas permintaan Ryura kali ini.


"Siapa yang sudi jadi yang kedua! Aku tetap yang harus jadi pembukanya!" kukuh Rayan tak mau mengalah.


Kedua gadis itu sama sekali enggan untuk mengalah.


"Hehehe. Baiklah, kita akan tahu setelah berhasil menyelesaikan ronde ketiga. Itupun kalau para mainan tidak muncul lebih awal."


"Ya. Kita akan lihat nanti." sahut Rayan.


Atmosfer keseriusan beberapa saat kemudian pecah oleh pertanyaan Reychu yang mendadak.


"Bukankah ini lucu?"


Alis Rayan menyatu dengan bingung. "Apanya yang lucu?" Rayan pun melemparkan pertanyaan balik.


"Yaaa... Lucu saja." merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk tanpa bergerak hanya untuk fokus memenangkan permainan kartu.


"Eehk... Kita ini kan pembunuh bayaran juga di masa modern. Kenapa disini kita justru jadi sasaran pembunuh bayaran. Itu konyol sekali!" sambung Reychu.


"Oh?! Hahaha... Kau benar. Aku baru sadar. Apa itu artinya kita mendapatkan kesempatan untuk mencoba menjadi target pembunuhan?" tanya Rayan yang ikut merasa semua ini sangat lucu.


"Hahaha... Saat kau mengatakan itu, aku jadi berpikir. Haruskah kita juga berperan menjadi domba manis yang naif, yang menunggu serigala datang untuk memakan kita? Hahaha..." cetus Reychu asal. Dia hanya berbicara sesuai dengan apa yang terlintas di benaknya.


"Itu ide yang tidak buruk. Kita bisa mencobanya nanti saat berhadapan langsung dengan wanita itu." usul Rayan merasa ide itu bisa mereka lakukan nanti guna menghadapi Meng Pei Yun.


Mereka juga sudah mengetahui siapa musuh yang menjadi target mereka kali ini di kediaman Ye setelah Ryura memberitahukan kepada mereka secara singkat.


"Wanita itu? Panggilan itu terlalu baik. Ganti yang lain. Kau bisa menyebutnya, wanita berkelainan... Atau mother complex... Atau bisa juga wanita yang seksualitasnya melenceng. Eurrgghh... Membayangkan ada ibu tiri yang seperti itu benar-benar menjijikan. Sudah seharusnya dilenyapkan. Kalau tidak, dia hanya akan jadi hama dalam kehidupan dunia ini." kata Reychu setelah memikirkannya, namun masih tanpa saringan.


"Bagaimana bisa seorang ibu menyukai sosis putranya sendiri, meskipun bukan putra kandungnya. Herrr... Tak terbayangkan betapa menjijikkannya itu." finalnya mengakhiri.


"Huuh... Kau benar. Itu benar-benar menjijikkan." sahut Rayan sepemikiran.


Baru setelahnya, dialog mereka terganggu dengan reaksi Ryura yang bangkit dari duduknya.


"Mereka datang." usai mengatakan itu, Ryura langsung melenggang pergi ke bagian dalam ruangan yang tidak terkena cahaya lalu menghilang.


Entah bersembunyi atau benar-benar menghilang, hanya Ryura yang tahu.


Mendengar itu kedua sahabatnya yang lain saling pandang dan mengangguk bersama, pertanda kalau mereka siap bermain. Jangan lupakan, seringai yang terukir indah di bibir keduanya. Dimana senyum itu bukan manis yang memikat hati, melainkan manis yang dapat merontokkan keberanian orang-orang yang melihatnya.

__ADS_1



๐Ÿ˜˜


__ADS_2