3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
LEMBAH BERDARAH 3


__ADS_3

Angin dingin berhembus menyela ketegangan kala itu hingga menembus kulit dan menusuk tulang. Begitulah udara alam di Lembah Beku. Bagi yang tidak memiliki ketahanan fisik yang bagus, jangan berharap bisa menginjakkan kaki disana. Maka dari itu, orang-orang yang ada disana adalah orang-orang dengan ketahanan fisik di atas normal. Tidak mudah untuk membuat mereka mati membeku begitu saja, kecuali mereka yang kondisi fisiknya lemah.


Saat ini, hembusan angin tersebut bak persetujuan alam yang mengizinkan mereka untuk saling melawan. Itu juga yang membuat para penonton yang merasakannya ikut meremang tanpa bisa dijelaskan.


Mereka diam terpaku pada dua sosok perempuan dengan status berbeda.


Yang satunya penatua dan lainnya adalah calon junior dalam keluarga.


Tak ada yang berniat menghentikan mereka dan itu dengan berbagai alasan yang berbeda.


Klan Ye membiarkan Ryura maju juga termasuk untuk ingin melihat dan mengukur seberapa mampu gadis yang dipilih pedang pusaka Keluarga Ye untuk menerimanya, ini juga tujuan agar lebih meyakinkan mereka atas Ryura. Sementara, pihak keluarga Meng masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Sulit untuk mereka percaya begitu saja hal-hal mengejutkan yang terjadi dalam waktu singkat ini. Lain dengan sisanya, mereka tak memiliki nyali untuk ikut campur kedalam masalah orang-orang atas atau orang-orang dengan kedudukan tinggi itu.


"Huh! Itu tidak akan terjadi." Meng Pei Yun mendengus penuh dendam seraya mengumpulkan energi internalnya di telapak tangannya dan segera tubuhnya diselimuti cahaya dari energi internal yang dia keluarkan.


Orang-orang yang melihatnya memiliki perasaan bahwa akan ada sesuatu yang besar terjadi hari ini di lapangan pelatihan Sekte Salju Perak ini. Sementara Ryura hanya menatap lawan didepannya dengan pandangan yang tidak bisa di artikan oleh siapapun lantaran terkesan tak ada jejak emosi sama sekali.


Dia terlalu tenang hingga menjadi tidak wajar dan itu membuat Meng Pei Yun jengkel setengah mati.


Wush...!


Suara gesekan angin terdengar akibat Meng Pei Yun melesat maju tanpa aba-aba yang menyentak kesadaran para penonton.


Ye Zi Xian disisi lain tidak bisa ikut campur sebab tanpa disadari oleh siapapun, Ryura sudah memberinya kode untuk tidak ikut campur. Alhasil, di atas panggung eksekusi Ye Zi Xian hanya bisa menonton dengan cemas. Tak ada yang dia takutkan sama sekali karena dia percaya kemampuan Ryura, hanya saja yang paling tidak bisa ia terima adalah bila Ryura terluka.


Dia tak pernah melukai gadisnya, jadi sangat tidak rela bila ada orang lain yang justru memiliki keberanian untuk melukainya. Itu benar-benar menyakiti jiwa dan raganya. Ye Zi Xian tak mau itu.


Tapi, apalah daya dia hanya bisa menonton dalam diam saat itu sesuai permintaan kekasih hatinya.


Semua orang tegang melihat terjangan Meng Pei Yun kepada Ryura yang tak bergeming ditempatnya seolah-olah yang dilakukan Meng Pei Yun bukan untuk menyerangnya.


Akan tetapi, begitu sodoran tangan Meng Pei Yun yang diselimuti kekuatan hampir menyentuhnya. Tanpa bisa dijelaskan dan dipahami oleh semua orang yang hadir disana, tiba-tiba Ryura mengelak ke samping lalu meraih lengan atas Meng Pei Yun yang terulur kearahnya dan tanpa terlalu banyak menggunakan tenaga dalam, dia langsung memutar Meng Pei Yun sebelum melempar dan menghempasnya lumayan jauh.


Ingatlah, Ryura memiliki kekuatan fisik di atas normal. Kekuatan fisiknya tak bisa disamakan dengan manusia biasa.


Buruknya, energi internal Meng Pei Yun yang terkumpul sebelumnya mendadak lepas lalu melesat ke sembarang arah dan meledak begitu saja hingga meninggalkan kerusakan disana. Beruntung tidak ada korban yang terlibat.


BOOM!!!


"Aaarrgghhh...!!!" erang Meng Pei Yun kesakitan.


Tubuh sakit, energi keluar dengan sia-sia. Itu cukup membuatnya semakin marah, belum lagi ketika dia mendongak untuk melihat kearah pelaku yang berani menghempasnya ke tanah tengah berdiri dengan mempesona didepannya, benar-benar menggaruk kasar hatinya.


Dia tidak suka! Dia benci!


Apalagi ketika dia mengingat Ye Zi Xian begitu memanjakan gadis itu -Ryura-, dia luar biasa cemburu hingga membabi buta.


Tak mau menerima kekalahan, Meng Pei Yun kembali bangkit dan kembali menyerang Ryura. Tak lupa dengan seluruh makian, umpatan, dan kata-kata kasar lainnya yang ia luapkan kepada Ryura dengan menggila.


Shaa...


Wush...


Sraaa...

__ADS_1


Ryura membalas serangan demi serangan yang Meng Pei Yun berikan dengan santai pada awalnya. Tapi, lama kelamaan ketidaksenangan melintas dimatanya kala semua makian yang dilontarkan tepat didepan wajahnya mulai tak sedap didengar olehnya.


Dia, Ryura... Tidak senang. Paham itu...


"KAU JAL*NG! KAU MURAHAN! KAU HINA! KAU BRENGS*K! KAU BAJ*NGAN! KAU PEL*CUR! INI SEMUA KARENAMU! KAU YANG MEMBUAT ZI XIAN KU MENJADI ANAK DURHAKA! KAU MEMBUAT DIA MENGKHIANATI KU! KAU MEREBUTNYA DARIKU! KAU AMBIL DIA DARIKU! AKU AKAN MEMBUNUHMU! KAU TAK PANTAS UNTUK ZI XIAN KU! DIA PRIA KU! HANYA AKU YANG COCOK DENGANNYA! DIA MILIKKU! DASAR JAL*NG!"


Semua itu adalah serbuan Meng Pei Yun yang kasar untuk Ryura. Tapi, ada yang berbeda kali ini...


Ryura sudah tidak senang dengan makian dan hinaan Meng Pei Yun yang baginya bagaikan petasan dia acara nikahan adat Betawi. Amat berisik. Akan tetapi, yang membuat ketidaksenangannya melejit langsung ke puncaknya adalah...


Ketika Meng Pei Yun menyebut Ye Zi Xian sebagai miliknya.


Mata Ryura segera berkilat tajam dengan kilatan membunuh nan haus darah.


Maka itu... Sudah tak bisa di toleransi kan lagi!


BOOM!!!


AAAARRRGGGGHHHH!!!


AAAAKKKHHHH!!!


Suara ledakan yang kedua tiba-tiba mengagetkan khalayak ramai tanpa bisa di mengerti bagaimana bisa itu terjadi.


Suara ledakan yang amat keras itu memicu reaksi kejut orang-orang hingga mereka refleks berteriak, berbarengan dengan suara teriakan kesakitan seseorang yang sama kerasnya.


Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana bisa hal itu terjadi tanpa bisa di lihat oleh orang-orang.


Hal itu juga yang membuat orang-orang dari Klan Ye, keluarga Meng, juga tamu dari keluarga Kerajaan Es spontan bangkit dari duduknya dengan raut wajah bingung dan tak percaya.


Sebenarnya, apa yang baru saja terjadi?


Disisi lain, dua gadis yang tak lain adalah sahabat Ryura hanya tertawa senang melihat keterkejutan mereka dan 3 siluman disamping keduanya juga sempat ikut terkejut, meski bukan terkejut yang menimbulkan ketidakpercayaan. Melainkan, terkejut lantaran tak bisa memprediksikan gerakan mengerikan Ryura.


"Aku tahu Ryura hebat. Tapi, aku tidak tahu akan sehebat ini. Dia juga kejam." seru Furby tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryura.


Ruobin mengangguk membenarkan. "Aku sampai kehilangan kata-kata..." sahutnya.


Sedang, disebelahnya. Chi-chi menyaksikan semua itu bak menonton kesenangan. Cukup menikmati rupanya.


"Ukh... Uhuk...! K..khau...!" seru Meng Pei Yun dengan terbata-bata disela-sela rasa sakit yang dideritanya akibat bantingan keras dari Ryura untuk kedua kalinya.


Atau bisa jadi, kali ini lebih menakutkan. Sebab bercampur dengan emosi yang langka.


Orang-orang bisa merasakannya dan itu mengejutkan, terutama bagi yang mengenal sosok Ryura yang tak beraura dan tak berekspresi.


Ryura masih baik-baik saja walau pakaiannya mulai agak berdebu. Dia berjalan kearah jatuhnya Meng Pei Yun yang disebabkan olehnya dengan santai.


Tap...


Tap...


Tap...

__ADS_1


Seraya berkata dengan datar namun entah mengapa mampu menusuk langsung ke relung hati terdalam.


"Hati-hati dengan kata-kata mu. Dia tak pernah dan tidak akan pernah menjadi milik siapapun sebelum ataupun sesudahnya." untuk pertama kalinya, emosi posesif yang kuat muncul diwajahnya.


Dengan terus berjalan kian mendekat yang membuat Meng Pei Yun sendiri tanpa sadar menarik mundur tubuhnya yang kesakitan.


Perasaan takut menyelinap ke dalam dirinya saat melihat langsung bagaimana sosok yang selama ini tak pernah menunjukkan emosi apapun selain kekosongan, tiba-tiba mampu menunjukkannya. Itu bahkan lebih mengerikan dari yang dia duga.


Bak predator yang ditarik paksa keluar dari kandangnya.


"Karena dia hanya bisa menjadi milikku!"


Deklarasi yang tak pernah terbayangkan itu sukses membungkam semua orang. Terutama para perempuan. Cukup tahu kalau calon Nyonya Ye masa depan tidak suka orang ketiga.


Bisakah disebutkan dengan cara sesederhana itu?


Haha... Itu jelas, karena tidak tahu bagaimana menanggapinya.


Ye Zi Xian disisi lainya yang turut mendengarnya saja, sempat-sempatnya memiliki perasaan senang yang membuncah.


Srak!


"AARRGGHH!! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" jerit Meng Pei Yun tak terkendali saat tanpa aba-aba dan tanpa peringatan rambutnya ditarik keatas hingga membuatnya kesakitan tanpa ampun.


Itu luar biasa mengejutkan khalayak ramai yang menyaksikannya. Lagipula, mereka tak berani bertindak gegabah dengan bersikap seperti pahlawan ketika mereka sendiri tidak bisa menjamin kemenangan dapat diraih.


Akibat hentakan tak berperasaan dari Ryura itu atas rambutnya, Meng Pei Yun sempat dibuat menggantungkan tubuhnya dengan kepala sebelum dia berusaha mencari pijakan.


Tapi, sayangnya...


Krashh...!


Belum sempat pijakan itu diraih oleh kakinya, sesuatu yang tak diharapkan terjadi.


Lututnya di potong dengan kejam!


Tak ada yang bisa mengingat kapan pedang pusaka Keluarga Ye yang berwarna putih muncul di tangan kiri Ryura.


Meng Pei Yun menjerit tak karuan kala rasa sakitnya bertambah.


Dia sudah mengalami bantingan dua kali sebelumnya yang membuat tulangnya nyaris patah dan hanya menyebabkan memar pada akhirnya. Tapi, kini...


Hanya karena kata-kata 'Dia milikku!' yang diperuntukkan bagi Ye Zi Xian yang dicintainya. Dia segera mengalami rasa sakit yang jauh lebih mengerikan.


Rambut di kepalanya saja sudah cukup menyakitkan, apalagi saat kakinya dengan mudahnya di potong oleh Ryura dengan darah yang segera menggenang di atas permukaan tanah. Dia benar-benar tak bisa mengartikan bagaimana lagi rasa sakitnya selain berteriak histeris.


Dan itu sukses memancing keluarga Meng keluar dari ketidaksadarannya yang lama sebelumnya.


Maka dari itu...


Dengan merangkul pundak Rayan, Reychu berseru riang. "Mari kita maju! Waktunya mengambil bagian!" disampingnya Rayan hanya tersenyum menatap satu persatu anggota keluarga Meng yang mengamuk.


__ADS_1


semoga kalian suka 🥰


__ADS_2