
Sekelompok orang tampak tengah berjalan-jalan di sekitar taman istana yang tak hanya terdapat kolam ikan disana, tapi juga dipenuhi berbagai macam bunga.
Dari sekelompok orang yang hanya diisi oleh kaum hawa itu satu orang yang berjalan paling depan adalah junjungan para perempuan lainnya yang tak lain adalah pelayan. Total, mereka berjumlah 5 orang dengan 4 diantaranya adalah pelayan.
Dia adalah Lim Qian Fei, putri penasehat kerajaan yang juga berstatus sebagai tunangan Pangeran kedua Bai Fuwang. Tepatnya, status mereka memang sepasang tunangan yang sudah ditentukan, akan tetapi secara diam-diam Pangeran kedua sudah menegaskan kepada Lim Qian Fei bahwa dia tidak mengakui hubungan tersebut sebab dia lebih suka mencari gadis pilihannya sendiri.
Dan itu hanya keduanya yang tahu.
Menikmati udara pagi yang indah dengan ditemani oleh tanaman-tanaman rupawan adalah pemandangan yang indah, sayangnya tidak dengan suasana hatinya.
Sebab, beberapa hari yang lalu setelah pulang dari pesta pernikahan Master Alkimia. Sang ayah memanggilnya untuk membahas sesuatu yang katanya penting. Ternyata pembahasan itu tak lebih dari seputar hubungannya dengan Pangeran kedua yang berstatus tunangan itu.
Sang ayah masih gencar mempertanyakan apakah dia dan Pangeran kedua sudah cukup dekat atau belum. Sebab, ini sudah satu tahun berlalu namun kabar pernikahan untuk keduanya belum juga di siarkan. Sebagai penasihat kerajaan yang terhormat dan paling dipercayai oleh pensiunan Kaisar sebelumnya hingga sekarang, sang ayah tak mau titah Kaisar mengalami kecacatan. Dalam artian, bahwa dia tak ingin ada sesuatu yang menghalangi hubungan tersebut hingga berujung pembatalan.
Bisa dikatakan ini lebih dikatakan sebagai kepatuhan. Tapi, tak ada yang tahu apakah ada maksud lain didalamnya atau tidak.
Lim Qian Fei juga tidak bodoh. Seandainya dia bisa terbebas dari ikatan perjodohan tersebut, maka dia sudah membebaskan diri sejak Pangeran kedua mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.
Tak ada perempuan yang mau berada di posisi dirinya. Lagipula, dia memiliki hati untuk pria lain. Tapi, belum memiliki kesempatan untuk mengucapkannya langsung kepada orangnya.
Ditengah-tengah pemikirannya, sebuah nama terlintas...
"Ada kabar terbaru tentang dia?" tanyanya dengan suara yang tenang dan menawan.
Salah satu pelayan yang terpercaya menjawab. "Dia masih sama, Nona. Tidak ada yang berubah setelah apa yang terjadi."
"Cukup gigih juga. Belum pernah kudengar ada orang setangguh dia. Apakah masalah yang dilimpahkan kepadanya masih kurang?" sulit mempercayainya, membayangkan ada orang yang begitu kebal di terjang masalah.
Benar-benar sulit untuk dipercaya.
"Sepertinya begitu, Nona. Tapi, pelayan ini tidak yakin demikian..." ragu-ragu sang pelayan berujar.
Melirik kesamping kearah pelayannya berdiri tanpa benar-benar melihatnya. "Mengapa? Kau punya pendapat lain tentang dia?"
Berpikir sejenak seraya menyusun kalimat yang tepat, sang pelayan kembali menjawab. "Mohon maaf, Nona. Bila pendapat saya keliru. Hanya saja, sejauh pemantauan bawahan ini... Dia seperti yang dikabarkan. Saking serupa nya, sampai tak ada celah untuk menjatuhkan dengan cara yang sudah kita berikan. Dia... Justru menikmatinya?!" akhir ucapannya terdengar jelas tak yakin, tapi disisi lain itulah yang sebenarnya.
Lim Qian Fei yang mendengarnya, termenung mencerna apa yang dia dengar.
Disela-sela renungan nya, seorang gadis lain datang dengan pelayan-pelayannya.
__ADS_1
"Nona Lim, suatu kebetulan bertemu dengan mu disini. Apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Lu Xiu Chi, keponakan pensiunan Kaisar Agung Bai dari pihak ibu.
Bisa dikatakan dia adalah keponakan kesayangan Kaisar sebelumnya.
Melihat siapa yang datang, Lim Qian Fei dengan anggun berdiri dan memberi salam dengan penuh tata krama. Tak terlihat apakah dia tulus atau tidak.
"Salam, Nona Lu. Saya disini untuk menikmati keindahan taman yang berada di istana saat pagi hari. Sebab, embun pagi masih menempel hingga memberikan kesan segar saat dipandang." tuturnya dengan nada yang tenang, tidak cepat ataupun lambat. Cukup enak didengar.
Mengikuti sarannya, Lu Xiu Chi mengedarkan pandangan keseluruhan taman dan benar apa yang diucapkan oleh Lim Qian Fei sehingga dia mengangguk setuju.
"Mari bergabung jika anda berkenan, Nona Lu." tawar Lim Qian Fei.
"Tentu. Ada alasan untuk bertatap muka, kenapa tidak?!" kemudian diapun duduk tanpa sungkan, namun masih mempertahankan tata kramanya.
Segera pelayan dengan sigap tanpa di minta langsung menyajikan teh dan beberapa kue kering untuk teman bersantai pagi menjelang siang ini.
Tak lupa pula, cangkir kedua Nona tersebut di isi oleh pelayan sebelum dia undur diri.
"Apa Nona Lim sudah mendengar kabar terbaru dari gadis itu?" pertanyaan pertama yang keluar sedikit menyentak Lim Qian Fei.
Usai meletakkan cangkirnya, dia balik bertanya seolah-olah bingung. Kemampuannya berpura-pura sungguh mengesankan. "Kenapa Nona Lu menanyakannya? Memangnya ada kabar terbaru apa?"
"Mungkin. Itu bisa saja terjadi." sikapnya cukup netral.
"Tapi, siapa yang tahan bila terus seperti ini. Apa dia pikir hanya karena dia berhasil mendapatkan cinta Yang Mulia dia sudah berada di atas awan. Dia harus dibuat jatuh agar tahu seperti apa rasanya." ujarnya rada menggebu-gebu.
"Nona Lu, anda terdengar sangat tidak menyukainya. Bukankah dia akan menjadi Permaisuri Kerajaan Es dimasa depan?" Lim Qian Fei bertanya dengan nada yang sama. Tenang dan anggun, tidak terburu-buru sama sekali.
"Terlihat sekali, ya? Benar! Aku sangat tidak menyukainya. Apa aku harus memberitahunya bahwa paman Kaisar Agung Bai berniat membuat pengumuman untuk memberitahukan kepada rakyat kalau aku yang dipilih untuk menjadi Permaisuri Kerajaan Es dimasa depan?" jedanya, jelas ada hinaan untuk yang sedang mereka bicarakan dalam nada bicaranya. "Bisa aku pastikan. Rakyat Kekaisaran Utara tak ada menolak ku. Mereka justru akan memilih ku dan tidak dengan dia!" yakinnya dengan arogan.
"Tapi, sepertinya tidak akan mudah. Kaisar Agung Bai memiliki pilihannya sendiri. Bila beliau diberitahukan tentang perjodohan ini, ketegangan pasti akan terjadi. Ini juga akan membuat posisimu sulit. Kaisar Agung Bai mungkin akan membatasi ruang gerak mu agar tidak melakukan sesuatu yang membuatnya bertambah marah." jelas Lim Qian Fei mencoba memberitahukan konsekuensinya menurut pemikirannya.
Tersenyum menyeringai yang terlihat jahat, dia berkata dengan begitu percaya diri. "Siapa yang bisa menghalangi aku untuk mendapatkan Kaisar Agung Bai?" tatapannya sarat akan obsesi dan seperti mengatakan kalau kemarahan Kaisar Agung Bai bukanlah apa-apa.
Lanjutnya. "Mungkin, tidak ada yang tahu tentang ini. Tapi, paman pensiunan Kaisar Agung Bai sudah mengambil keputusan ini jauh sebelum putra pertamanya naik tahta atau tepatnya saat aku dilahirkan. Beliau ingin aku yang menjadi Permaisuri Kerajaan Es dimasa mendatang mendampingi Kaisar Agung Bai dan itu sudah di setujui oleh Bibi permaisuri juga orangtuaku. Bahkan sudah di tuangkan dalam sebuah dekrit berstempel resmi. Siapa yang bisa menolaknya? Kaisar Agung Bai bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menolak sekalipun dia mau." suaranya jelas terdengar senang seperti sudah dapat melihat kemenangan didepan matanya.
Itu benar. Namun sayangnya, Kaisar Agung Bai belum mengetahui hal itu. Entah akan semarah apa dia saat tahu.
Hal pertama yang akan dicemaskan pastinya adalah Reychu. Dia sangat takut kalau Reychu-nya akan memberikan dugaan-dugaan yang dapat merenggangkan jarak keduanya. Tapi, itu akan diketahui nanti.
__ADS_1
Baru saja akan kembali bersuara, sesosok pria muda namun terlihat matang dan berpakaian ungu muncul secara tiba-tiba. Sosok itu langsung mengambil posisi disisi Lu Xiu Chi tanpa memberikan penghormatan yang biasanya dilakukan, pria itu justru segera membungkuk guna membisikkan sesuatu ditelinga Lu Xiu Chi.
Bisikan yang tak tahu apa ternyata berhasil membuat kilatan kebencian membara di kedua bola matanya. Dia segera bangkit untuk mengambil tempat agar menjauh sejenak dari kerumunan disana. Pria itu juga menyusul Nona-nya.
Bisa dikatakan ini adalah bisnis pribadi.
"Kau yakin?!" Lu Xiu Chi butuh kepastian.
"Benar, Nona!" lugas pria yang diyakini sebagai bawahannya.
"Sungguh sial! Apa dia sekuat itu?" dia marah hingga wajahnya memerah, tangannya bahkan terkepal kuat.
"... Benar, Nona ku. Memang sulit dipercaya. Tapi, sampai detik ini hujatan, hinaan, dan kebencian khalayak ramai sama sekali tak memberikan efek apapun. Dia seperti sudah kebal dengan semua itu." tuturnya.
"Kebal, ya..." gumamnya mengulang kalimat tersebut seraya berpikir keras.
Meskipun dia tahu, sudah pernah melihat gadis itu bertarung. Akan tetapi, niatnya untuk menghancurkan gadis itu tidak hilang. Karena, dia yakin sekuat apapun gadis itu, dia pasti akan memiliki celah juga. Itulah yang dia yakini hingga membuatnya tak menyerah hingga detik ini.
"Kalau begitu, atur seseorang untuk menyerangnya. Semakin banyak, semakin baik. Dia harus dibuat jera agar tidak terlalu sombong hanya karena mampu mengalahkan lawan dengan mudah. Dia perlu diberitahu kalau Kerajaan Es bukan tempat dia menyombongkan diri." aura dingin menyebar dengan niat membunuh yang kuat.
Saat dia mengatakan itu, tampaknya dia tidak sadar kalau sebenarnya ada sedikit banyaknya kesombongan itu pada dirinya.
Melihat itu, sang bawahan hanya bisa patuh bukan?
Menunduk hormat, dia menerima perintah. "Akan segera saya laksanakan. Permisi, Nona!"
Setelahnya, pria itu menghilang seperti dia datang tadi.
Seperti yang dikatakan oleh Lu Xiu Chi, bahwa Kerajaan Es bukan tempat orang untuk menyombongkan diri sebab ada banyak bakat yang terlahir di tanah dingin itu. Sayangnya, meskipun mereka berbakat dan kuat. Latar belakang masih diperlukan hingga banyak orang-orang yang kuat bahkan bisa saja melebihi orang-orang terpandang memilih menjadi bawahan.
Contohnya, pria itu. Dia kuat, namun harus menjadi bawahan gadis ambisius seperti Lu Xiu Chi. Dia bisa apa...
woooooowwww.... kalian senang... kalian senang... Thor juga senang.
Thor cuma mau bilang, kalau mungkin ini ada menit2 terakhir menuju penghujung cerita... simak terus dan jangan lupa dukungannya yaaaa...
Lop yuuuu aaaallll...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1