
Sepeninggalan Reychu dari kediaman permaisuri, tanpa diketahui ternyata ada seorang pelayan yang terlihat mencurigakan berada di dekat jendela juga ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dia pergi kembali ke tuannya.
Ternyata, dia adalah utusan yang dipilih oleh para selir untuk melihat dan menguping apa yang terjadi antara ibunda Permaisuri dan Reychu.
Diceritakan semua yang ia ketahui kepada junjungannya.
"Jadi, begitu..." seru salah satunya mewakili ketiga selir itu.
"Benar-benar dia rupanya." ulang selir ketiga.
"Tampaknya dia memiliki banyak musuh." timpal selir pertama.
"Ya. Karena, tidak mungkin ada yang berani bertindak bila dia tidak menyinggung orang lain." pendapat selir kedua.
"Tapi, cukup mengejutkan juga." kata selir ketiga.
"Tentang apa?" tanya selir pertama.
"Tentang, betapa mulusnya semua ini berlalu. Bukankah kalian juga sempat menduga kalau akan ada keributan lagi saat gadis itu bertemu dengan Permaisuri? Kemudian, lihatlah... Tampaknya, gadis itu memiliki kemampuan untuk membungkam orang lain. Terbukti dari bagaimana mudahnya dia bertindak dalam hal ini. Hanya perlu kegamblangan nya dalam berbicara, lawannya langsung tak berkutik." terang selir ketiga.
"Kau benar. Dia punya kemampuan untuk melakukan hal itu." setuju yang lain.
Para selir ini seperti tak punya pekerjaan lain selain mencari hiburan dari masalah orang lain.
Kaisar Agung Bai terhenyak begitu mendapat kabar itu. Baru saja, Reychan memberitahunya kalau penyusup yang digantung oleh Reychu di pohon ditaman istana adalah utusan seseorang untuk melenyapkan Reychu yang tidak bisa diketahui. Dengan kata lain, penyelidikan ini menemui jalan buntu.
"Itu artinya, kita tidak bisa menemukan pelaku dibalik semua ini?" tanya Kaisar Agung Bai dengan kening berkerut tajam serta ekspresi berpikir diwajahnya.
"Benar, Yang Mulia. Tolong maafkan hamba yang tidak dapat menemukan pelakunya." pinta Reychan seraya menundukkan kepalanya merasa bersalah karena gagal.
Kaisar Agung Bai menggelengkan kepalanya tanda tidak menerimanya. "Tidak perlu. Itu bukan salahmu. Mereka saja yang terlalu rapi melakukannya."
Benar, lawan mereka kali ini memang cukup licin untuk bisa dengan mudah ditemukan.
Hening sejenak.
"Yang Mulia, haruskah kita bertanya kepada Nona Ryura?" usul Reychan saat sosok Ryura terlintas dibenaknya.
Bagaimana dia tahu? Karena, Reychu pernah memberitahukan kepada Reychan mengenai dua sahabatnya. Jadi, sedikit banyaknya Reychan tahu sosok seperti apa Ryura dan Rayan itu.
Mendengar itu Kaisar Agung Bai yang tengah berpikir keras jadi tertegun sejenak. Baru saat itulah, Kaisar Agung Bai tersadar kalau dia sempat melupakan yang satu itu.
__ADS_1
"Benar. Kenapa aku bisa melupakannya?!" sadarnya. "Tapi... Kita butuh dia disini. Tidak mungkin kita yang kesana dan bertanya mengenai hal ini. Bagaimana dia bisa tahu... Dan lagi, akan membuang-buang waktu bila harus melakukan cara itu. Kita hanya bisa memikirkan cara lain. Hanya saja, siapkan penjaga untuk Reychu. Jangan biarkan dia sendiri lagi!" kata Kaisar Agung Bai setelah memikirkannya.
"Baik, Yang Mulia." Reychan mengangguk paham.
Kemudian, keduanya kembali hening dengan pemikiran masing-masing. Bagaimanapun, masalah ini terbilang rumit. Nyawa Reychu sedang dipertaruhkan disini.
Di sebuah penginapan tepatnya dikawasan ibukota Kerajaan Es, kota yang paling dekat dengan istana kerajaan negara yang dingin itu.
Di penginapan tersebut, tepatnya di salah satu kamar yang berada dilantai dua dengan jendela yang menghadap jalan. Disana ada 3 orang yang saat ini mengisi kamar tersebut. Dua laki-laki dan satu perempuan.
Atau bisa dikatakan, Ruobin dan Furby dalam wujud manusianya dengan Rayan sebagai satu-satunya perempuan diantara mereka.
"Kita akan menunggu Ryura disini? Kenapa tidak di istana saja?" tanya Furby yang tak senang karena harus terus berpisah dari Ryura-nya.
Kebetulan, ketiganya baru kembali dari memata-matai kedalam istana meninggalkan Ryura yang menghilang di kawasan istana tersebut. Mengawasi Reychu yang tidak pernah tidak membawa masalah dalam setiap langkahnya.
Menenggak air sambil melirik wujud manusianya siluman Kuda Bulan yang mengeluh itu. "Hah... Ini adalah apa yang dia minta. Menurut saja. Ryura tahu apa yang terbaik untuk kita."
"Dengan meninggalkannya disana tanpa ada yang menjaganya?" sergah Furby mulai kesal. Dia sudah seperti orang tua yang tak suka anaknya jauh dari pengawasannya.
Rayan yang mendengarnya tak bisa menahan untuk memutar bola matanya jengah. "Furby... Kau harus ingat... Dia itu Ryura. Kalaupun dia harus mati, dia tidak akan mati ditangan orang-orang bodoh itu."
"Lalu, kita harus apa disini?"
Hembusan nafas putus asanya -Furby- keluar begitu saja. "Apa boleh buat..." pasrahnya dengan ekspresi lemah. Tubuhnya yang gagah segera luruh bak es yang dicairkan. Jelas sekali dia begitu tak berdaya.
Ryura selalu menjadi prioritas utamanya.
Setelah lama diam, tiba-tiba Ruobin mengajukan pertanyaan. "Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nona Ryura? Dia pergi begitu saja dan meninggalkan tanda tanya pada diri kita. Bukankah tujuan awal kita kemari untuk membantu Nona Ahn bersama-sama?"
Melirik Ruobin sambil bertopang dagu hingga pipi chubbynya menggembung dengan gemasnya. "Yang kau katakan benar. Kita kemari adalah untuk membantu Reychu dari serangan orang-orang yang tak senang dengan kedatangannya ke negara ini. Tapi, pada dasarnya tujuan sebenarnya kita disini adalah tergantung kepada Ryura. Dia yang tahu betul apa yang akan kita hadapi nanti. Saat ini yang kita ketahui, kita harus memastikan Reychu baik-baik saja dan sisanya... Menunggu Ryura memberikan tanda. Jadi, tak perlu memikirkan yang lain ataupun penasaran dengan apa yang Ryura sedang lakukan. Sebab, sebesar apapun keinginan mu untuk tahu apa yang dia lakukan, kau hanya akan menghabiskan waktu dalam hidupmu dengan sia-sia. Ryura tak akan memberitahu." jelas Rayan memberikan penjelasan sesingkat yang dia bisa berikan mengenai alasan mereka datang ke Negara Es ini.
Akhirnya, Ruobin pun mengangguk paham. "Baik. Mari kita tunggu dia."
Malam harinya.
Kian larut terbawa waktu yang bergulir.
Disudut istana yang jarang dilewati oleh orang-orang, ternyata dijadikan tempat untuk dua orang yang mengenakan jubah hingga menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki agar tidak dikenali untuk melakukan sesuatu.
Keduanya benar-benar tidak bisa dikenali apakah laki-laki atau perempuan. Hal itu benar-benar luput dari penglihatan.
__ADS_1
Mereka berbisik-bisik dengan suara yang amat lirih dan rendah hingga tak bisa dibedakan dengan suara hewan malam sambil sesekali melirik ke sekitar untuk memastikan kalau keduanya masih dalam posisi aman. Baru kemudian salah satunya mengeluarkan tangan yang menggenggam sesuatu di telapak tangannya untuk diberikan kepada orang didepannya.
Transaksi pun terjadi.
Setelah keduanya merasa tak ada yang perlu di lakukan lagi. Mereka tak ingin membuang waktu lagi atau mereka berkemungkinan untuk ditemukan oleh siapapun penghuni istana.
Dan itu adalah sesuatu yang buruk untuk benar-benar terjadi.
Segera keduanya berpencar kearah yang berbeda dengan tetap menjaga langkahnya dalam kehati-hatian.
Meninggalkan fakta bahwa disisi gelap tempat mereka melakukan transaksi, ada sosok yang menyaksikan seluruh proses tanpa terlewatkan sedikitpun. Bahkan kalimat yang tidak bisa didengar oleh siapapun dapat didengar olehnya.
Ketika ia melangkah keluar dari kegelapan, wajah datar namun tetap manis itu tak menunjukkan perubahan apapun. Namun, satu yang pasti...
Dia telah bergerak.
Malam ini dilewati dengan damai dipermukaan, meski sebenarnya didalamnya sudah mulai memercikkan api yang siap membara.
Setiap mereka yang memusuhi Reychu mulai lebih intens dalam merancang skema yang bisa menghancurkan seorang Reychu yang terkenal sulit untuk dijatuhkan.
Mereka bergerak di jalur mereka masing-masing namun mengarah ke tujuan yang sama.
Masih belum jelas siapa yang disebut mereka itu.
Begitu pula dengan Kaisar Agung Bai yang kini mulai memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan untuk dapat melindungi pujaan hatinya. Kabar menggemparkan pagi tadi sudah cukup mengingatkan dirinya kalau persoalan Reychu bukan persoalan biasa. Banyak yang menginginkan dia mati, bahkan tanpa perlu Reychu menabur kebencian.
Takdirnya yang membawanya kepada Kaisar Agung Bai dengan ketidaksesuaian latar belakang menjadi alasan utama posisinya tidak menguntungkan saat itu, selain karena memang dia tergolong manusia yang membawa masalah dalam hidupnya.
Namun, sebagai sosok yang menyukai masalah baik besar maupun kecil. Sama sekali tidak peduli. Bagi Reychu, bila harus mati maka mati, begitu pun sebaliknya.
Sekilas, pemikiran Reychu hanya membuat orang-orang disekitarnya menyusahkan diri mereka sendiri. Sementara, target utamanya masih bisa bersantai dalam damai tanpa beban.
Inilah yang disebut, jangan pernah menyimpan dendam kepada seseorang. Karena, pada dasarnya yang susah adalah diri sendiri. Sedangkan, orang yang dibenci tak tahu apa-apa dan malah menikmati hidupnya dengan baik.
selamat membaca. maaf ya... baru up sekarang. maklum Thor hampir kehabisan ide. heheh
oh ya. Thor juga mau ingatin kalau karya Thor yang ini juga dah mulai di update walau lambat yooo....
bagi kalian yang demen cerita roman fantasi campur misteri dan lainnya. Monggo... mampir kesini👍dijamin ceritanya lain dari yang lain. Thor tunggu kedatangannya...
__ADS_1
😘😘😘