
Kembali ke masa sekarang...
Keheningan malam menyelimuti tak hanya satu tempat, melainkan hingga keseluruhan istana. Kesenyapan tak terelakkan menyebar. Sejak kekacauan yang terjadi di kamar Selir Agung Gong Dahye, semua orang yang ada dan tinggal di lingkungan istana tak ada yang berani angkat suara meski hanya deheman saja.
Tidak ada yang berani.
Bagaimana bisa berani kalau suasananya saja benar-benar tampak seperti neraka. Seharusnya, malam ini angin berhembus dingin. Tapi, Istana Huoli justru merasakan hawa panas yang dapat masuk ke dalam pori-pori tanpa izin membuat semua orang yang merasakannya tidak bisa tidak merasa kegerahan, bahkan lebih dari sekedar kegerahan. Hawa panas ini begitu menyiksa.
Dan semua itu disebabkan oleh Kaisar Li Hanzue yang sekarang sedang mengurung diri di ruang kerjanya seorang diri. Dimana ruang kerjanya kini sudah menjelma menjadi kapal pecah lantaran segalanya telah ia hancurkan akibat mengamuk tak terkendali.
Sedang diluar ruangan, Kasim setianya hanya bisa harap-harap cemas pada kondisi junjungannya.
Pria itu -Kaisar Li- terdiam dan merenung layaknya patung di kursinya. Hingga sekilas ia sudah seperti Ryura yang bisa tidak bergeming untuk waktu yang lama. Bahkan penampilannya sudah tidak bisa dikatakan rapi lagi.
Rambutnya yang panjang dan hitam terurai begitu saja tanpa pengikat yang biasanya digunakan oleh seorang Kaisar. Pakaiannya pun sama, kerah luar dan dalamnya telah miring memperlihatkan tulang selangka yang seharusnya akan menggiurkan bila melihatnya, ikat pinggangnya sudah longgar, dan terdapat beberapa bagian yang entah bagaimana sobek hingga berlubang.
Beruntungnya pria itu tampan dalam keadaan apapun, hanya saja yang kali ini terlihat menyedihkan. Matanya basah dan sembab, wajahnya muram dan kusut, tatapan matanya kosong. Pria itu seperti habis mengalami hari buruk yang paling terburuk, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hatinya hancur berkeping-keping. Walaupun sudah ada hati lain yang menyusup masuk, akan tetapi tetap saja hatinya hancur.
Gong Dahye, bagaimanapun adalah cinta pertamanya. Perempuan yang membuatnya mengenal kata cinta. Perempuan yang membuatnya merasakan bahagianya mencintai seseorang. Ia pikir akan selamanya begitu, hingga tak membayangkan akan ada saat dimana perempuan itu juga yang memperkenalkannya pada rasa sakit yang tak bisa ia katakan seberapa sakitnya itu.
Memikirkan hal itu, membuatnya ingat akan keteguhannya dalam membuktikan bahwasanya ia bisa melanggar kutukan itu dengan jatuh cinta dan setia pada wanita yang ia pilih. Tanpa, berpikir kalau itupun takkan membuat kutukan itu sirna.
"Nenek moyang, anda benar-benar serius dalam mengutuk seluruh keturunan bangsawan Kerajaan Huoli. Sampai tidak ada sedikitpun celah untuk melarikan diri darinya..." lirih batin Kaisar Li saat mengatakan kalimat tersebut seraya menatap kosong dengan lurus kedepan.
Pikirannya kini beralih ke Permaisurinya yang sudah banyak berubah. Sejenak, memori ingatannya memutar kejadian demi kejadian yang dulu menjadi kesempatan untuk dihabiskan bersama.
Ada saat, ia dan Permaisurinya disibukkan dengan pekerjaan negara. Gadis yang bergelar Permaisuri itu, tak pernah sedikitpun meninggalkan tempatnya yang senantiasa menemaninya mengerjakan semua tugas itu dengan sesekali ikut memberikan pendapatnya. Ia akui, Permaisurinya itu cukup cakap dan pintar.
Mengingat itu, ia kembali merasa bodoh. Bagaimana bisa ia mengabaikan sosok sempurna seperti Ahn Reychu?!
Sayangnya, dapatkah ia mengharapkan sedikit kesempatan untuk dapat kembali bersama?
Senyumnya terukir miris pada apa yang sempat benaknya pikirkan.
Jelas itu tidak mungkin, apalagi berulang kali Permaisuri Ahn Reychu memintanya mengeluarkan dekrit perceraian. Tapi, sekali lagi... Haruskah ia mengabulkan hal itu? Apa yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan Ahn Reychu disisinya, terlebih Ibundanya telah menegaskan untuk membebaskannya.
Ia jadi ingat, saat dulu ibundanya selalu menasehatinya untuk menerima istrinya -Ahn Reychu- tanpa perlu memikirkan mengenai kutukan tersebut. Seperti memintanya untuk menganggap bahwa mereka benar-benar berjodoh melalui perjodohan itu.
Selalu dinasehati bahkan tanpa jeda, hingga tiada hari tanpa menasehatinya. Tapi, dulu ia dengan angkuhnya menepis semua itu dan tetap pada pendiriannya dengan keyakinan penuh.
Sekarang lihatlah... Bisakah kini ia berharap bahwa yang terjadi adalah mimpi dan memohon pada Sang pencipta untuk memutar kembali waktu hingga hari pernikahannya dulu dengan Ahn Reychu? Dapatkah?!
Lagi-lagi, Kaisar Li terkekeh miris menanggapi nasibnya. Ia kini berada pada ketidakberdayaan.
Dua perempuan berbeda generasi terlihat sedang duduk di dalam sebuah ruang tamu di Kediaman Ibu Suri. Sudah pasti kalau dua perempuan itu adalah Ibu Suri dan Reychu.
__ADS_1
Mereka tengah menikmati teh herbal hangat yang di sediakan oleh pelayan pribadinya Ibu Suri.
Di sela-sela duduk santai itu, Ibu Suri tampak sesekali melirik ke arah Reychu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebenarnya Reychu cukup sadar akan hal itu, tapi bukan Reychu namanya kalau ia tidak sedikit bermain-main.
Sengaja membiarkan wanita paruh baya itu meliriknya dari waktu ke waktu. Setelah dirasa cukup, barulah Reychu menoleh dengan ekspresi polos seolah-olah baru menyadari akan gelagat Ibu Suri yang curi-curi pandang.
"Mm... Ibu Suri, ada apa? Mengapa melihat ku seperti itu?"
"'Ah... Tidak ada apa-apa." terhenyak sesaat saat sudah ketahuan mencuri pandang dan berkata dengan lirih kemudian.
Kembali memandangi wajah cantik menantunya itu atau mungkin tepatnya calon mantan menantunya mengingat sesuai janjinya, ia akan membiarkan Ahn Reychu pergi dan bebas.
Bicara soal janji... Ya, Ibu Suri menjanjikan sebuah kebebasan untuk Reychu. Itu di buat saat Ibu Suri masih dalam proses pengobatannya yang di lakukan oleh Rayan.
Menggunakan siasat untuk menjadikan pengobatan sebagai alat tukar dengan kebebasan Reychu. Tentu, yang mengutarakannya adalah Rayan. Sehingga Ibu Suri tidak bisa menolak mengingat tubuhnya sudah di obati walau sebenarnya keputusan itu cukup berat untuk diambil.
"Kau sungguh akan pergi? Tidak bisakah di pikirkan lagi? Kau tahu bukan... Saat ini Hanzue pasti sedang terpuruk... Akan sangat membantu kalau kau mau berada disisinya..." belum selesai Ibu Suri menyelesaikan kalimatnya, Reychu sudah lebih dulu menyela dengan ringan.
"Maaf, Ibu Suri. Tidak bisa! Aku tidak bisa walau hanya sebentar saja! Rasa sakit yang aku terima sejak lama membuat ku ingin cepat-cepat pergi dari sini... Aku bukannya tidak berperasaan, Ibu Suri. Tapi, aku tidak ingin memberi harapan palsu untuk Yang Mulia Kaisar Li. Karena aku sudah tidak lagi mencintainya." katanya tanpa sedikitpun merubah raut wajahnya yang santai, meskipun nada suaranya dibuat sendu. Untungnya, Ibu Suri tengah menunduk menatap cangkir teh miliknya yang ada di hadapannya.
Setidaknya, ia bisa terlepas dari kebodohannya yang ingin menipu tapi tak pandai. Maklum, dia tipikal orang yang kelewat jujur hingga blak-blakan. Alhasil, kalau ia bersikap sebaliknya akan sangat terlihat atau dengan kata lain akan ada celah yang terpampang.
Dihembuskan nafasnya berat. "Aku sebagai Ibu, merasa gagal. Dia adalah pemimpin negeri, tapi untuk memimpin keluarganya sendiri ia belum mampu." sedih Ibu Suri.
"Itu sudah menjadi bagian dari dirinya, Ibu Suri. Dia yang menginginkan ini sejak awal. Seandainya, dia tidak terlalu menganggap segalanya harus sesuai dengan yang dia inginkan. Semua pasti akan baik-baik saja." kata Reychu berpendapat yang sebenarnya hanya pengalihan dari ketidaksabarannya yang sangat ingin cepat-cepat mengakhiri semua ini.
"Kau benar! Sejak awal ia yang selalu keukeuh dengan pendiriannya akan perjodohan kalian. Sekarang, saat segalanya tidak lagi bisa di perbaiki. Dia mulai menyadari kesalahannya." sendu sedih nada suaranya terdengar. "Lalu, apa yang akan terjadi kalau kau pergi, sayang? Kau ditakdirkan untuknya. Kutukan itu telah mengikat kalian." seru Ibu Suri kala mengingat satu fakta penting. Ia melakukan itu masih untuk berusaha menahan Reychu agar tidak pergi.
"Tidak, Yang Mulia Ibu Suri. Kutukan itu tidak mengikat kami. Dia hanya mengikat Kaisar Li saja. Aku akan ikut terikat kalau dia mau menerima ku. Tapi, nyatanya dia menolak. Lagipula, aku yakin setelah kepergian ku. Pasti akan ada sosok gadis yang lebih pantas untuk berada di sisinya. Temanku sudah mengatakan hal itu padaku." jelas Reychu karena tak ingin lagi menunda, apalagi sepertinya Ibu Suri masih ingin ia di istana itu. Ia sudah nyaris tidak tahan.
"Temanmu? Siapa? Bagaimana ia tahu akan kutukan itu?" tanya Ibu Suri penasaran. Bagaimanapun, fakta ini tidak ada yang tahu kecuali orang-orang tertentu yang terlibat. Karena, bagi keluarga Kerajaan Huoli, kutukan tersebut adalah aib mereka.
"Dia bukan sembarang teman, Ibu Suri. Dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki manusia biasa. Anda juga sudah melihatnya. Mungkin agaknya mirip dengan peramal, tapi dia bukan peramal. Dia memiliki insting yang sangat kuat. Dengan sekali lihat saja, ia tahu kalau ada sesuatu yang mengikat keturunan Kerajaan Huoli sejak lama. Dan kita sebagai pendamping yang di tunjuk, dia bilang tidak lebih karena kita memiliki apa yang dibutuhkan para penerus tahta Huoli. Tapi, bila kita sudah tidak ada. Pastinya akan ada kita yang lain nantinya." terang Reychu memberi pengertian agar ia tidak lagi ditahan.
"Hah... Aku sedih mengetahui ini. Tapi, aku juga tidak bisa menahan mu lebih lama disini." jedanya seraya menatap dalam dan hangat pada calon mantan menantunya itu. "Yang bisa ku minta adalah... Jangan lupakan apa yang ada di sini dan berkunjunglah lagi suatu hari nanti. Negara Api akan selalu menerimamu. Bagaimanapun aku sudah sangat menyayangimu!" tuturnya penuh kasih sambil menggenggam erat tangan Reychu yang berada di atas meja.
Reychu mengangguk mengiyakan. "Tentu! Aku akan datang berkunjung lagi suatu hari nanti. Tapi, ku harap. Di kunjungan ku nanti... Aku bisa melihat Permaisuri baru sekaligus bayi mungil yang selalu kalian inginkan." harap Reychu yang sebenarnya hanya basa-basi saja. Di otaknya sejak awal hingga akhir hanya ada keinginan untuk pergi sesegera mungkin.
Ibu Suri hanya membalasnya dengan senyuman yang hangat dan lembut.
Hatinya bersedih karena harus kehilangan sosok seperti Reychu di sana.
Di tempat yang gelap, lembab, bau, dan kumuh terdapat beberapa orang yang menghuni tempat tersebut. Salah satunya adalah penghuni baru yang beberapa waktu lalu di bawa paksa ketempat tersebut.
Tentu, siapapun tahu siapa mereka.
Di balik jeruji kayu sebagai pembatas antar ruang satu ke ruang yang lain, tiga orang bermarga Gong menempati salah satu ruangan sel tersebut. Di seberang sel mereka, barulah dihuni oleh seorang saja dan dia adalah Pangeran Kedua Li Fang Ye yang saat ini memilih duduk bersila bersandarkan dinding batu dibelakang punggungnya. Kepalanya tertunduk dalam diam dan menulikan pendengarannya dari suara histeris wanita dari sel seberang.
__ADS_1
"BUKA! LEPASKAN AKU! KALIAN SANGAT LANCANG! APA KALIAN LUPA SIAPA AKU SEBENARNYA! AKU ADALAH SELIR AGUNG KESAYANGAN KAISAR LI! YANG MULIA AKAN SANGAT MARAH KALAU TAHU KALIAN MEMPERLAKUKAN AKU SEPERTI INI! CEPAT BUKA PINTUNYA! BUKAAAAA!" jerit Gong Dahye dengan amat sangat histeris. Ayah dan kakaknya sampai sulit menanganinya.
"Dahye, berhentilah. Jangan membuang-buang tenaga mu seperti ini. Kita bisa memikirkan jalan keluarnya. Jadi, tenanglah." kata Gong Dahee yang sebenarnya juga sama kalutnya dengan sang adik hanya saja ia berusaha untuk tetap tenang. Ia berpikir, ia harus bisa menenangkan diri agar dapat berpikir jernih untuk menemukan solusinya.
Meski sulit!
"Benar, putriku sayang. Kita harus tenang agar kita bisa memikirkan cara untuk keluar dari sini." timpal Gong Duyoung yang dihatinya juga merasakan kekacauan.
"TENANG?! KALIAN INGIN AKU TENANG?!" teriak Gong Dahye yang masih tak terima dengan apa yang sudah terjadi padanya saat ini. "Katakan padaku, Ayah... Kakak! Bagaimana bisa aku tenang?! Suamiku menjebloskan aku ke penjara dan sampai sekarang ia tak kunjung datang untuk sekedar mendengar penjelasan ku. Bagaimana bisa aku tenang! Huhuhu..." ia kembali meraung menangis.
Tindakannya benar-benar tidak mencerminkan bahwa dirinya telah melakukan kesalahan fatal.
Gong Dahye tampaknya tak terima atas pembalikan situasi saat ini.
Di sel lainnya. Tampak Pangeran Kedua Li Fang Ye duduk termenung. Ia yang sangat jelas mengetahui akan dibawa kemana hidupnya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi, yang tengah menjadi beban pikirannya saat ini adalah tentang keadaan istrinya bila ia harus berakhir dengan kematian. Ia tak bisa membayangkan akan meninggalkan Yu Chan Yi seorang diri di dunia ini dengan status janda, terlebih kini ia memiliki seorang putra dari hasil terlarangnya.
"Yi'er, apa yang harus aku lakukan?! Aku tak ingin meninggalkan mu sendirian. Kau istriku, kau milikku, kau harus bersamaku. Tapi... Aku juga tak ingin membawamu bersama ku menuju kematian. Aku belum bisa membahagiakan mu seperti yang selalu kau inginkan. Apalagi, kini aku memiliki seorang putra. Haruskah dia juga menerima semua ini, padahal ini bukan salahnya?!"
Pangeran Kedua Li Fang Ye terus berbicara sendiri dalam hatinya. Mempertanyakan apapun yang terlintas dibenaknya. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di sel seberang sana. Ia sendiri hanyut dalam pikirannya.
Di sisi lain, tepatnya di kediaman Pangeran Kedua Li Fang Ye. Sang istri -Yu Chan Yi- tampak terus menangis hingga dadanya terasa sesak. Para pelayan sampai tidak tahu harus berbuat apa selain menenangkan junjungan mereka.
Apalagi, sejak ia pingsan beberapa saat lalu saat akan mengikuti suaminya yang dibawa prajurit untuk dimasukkan kedalam penjara kerajaan. Tabib datang memeriksanya dan memberikan sebuah kabar yang seharusnya menjadi kabar gembira pasangan suami-istri tersebut.
Karena, menurut pemeriksaan. Istri Pangeran Kedua Li Fang Ye ternyata tengah mengandung 2 minggu. Kondisi kandungan masih rentan akan keguguran, ditambah dengan masalah yang sedang terjadi saat ini.
Itulah alasan lain, Yu Chan Yi menangis tak karuan.
Belum lagi, suaminya belum mengetahui kabar tersebut.
Ia ingin kesana. Ia ingin menyampaikan kabar gembira itu. Dengan harapan, suaminya akan terhibur dan kembali bersemangat untuk hidup. Dia sungguh tak ingin kehilangan suaminya yang belum lama ini berhasil ia taklukkan hatinya.
Ia mencintai Pangeran Kedua Li Fang. Kini perasaan itu terbalaskan. Bagaimana mungkin ia rela melepasnya begitu saja.
Ia harus memohon dan membujuk kakak iparnya untuk memberikan hukuman lain selain hukuman mati. Ia tak mau ditinggal pergi oleh suaminya.
Walau ia tahu permohonannya hanya memiliki peluang kecil untuk di terima.
sebentar lagi. kita akan menemui akhir dari season 1...
Thor sedang berusaha keras untuk membahagiakan kalian semua wahai pembaca tercinta...
yang penting, jangan pernah bosan menyemangati Thor yaaa...
jangan pelit juga, kasih Thor like, vote, tips, dan komen nya...
thor selalu menantikan itu. karena dengan begitu kita bisa dekat...πππππππ
__ADS_1