3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENGOREK INFORMASI


__ADS_3

Segala sesuatu yang diinginkan sering kali tidak bisa didapatkan dengan mudah. Sama halnya dengan yang kali ini dilakukan kedua sahabat itu, siapa lagi kalau bukan Reychu dan Rayan. Berharap semua bisa berjalan sesuai rencana, nyatanya harus terhalang oleh beberapa kendala.


Seperti saat ini, mereka tak berharap kalau kondisi Ibu Suri akan sedikit lebih rumit.


Kala pemberian penawar pertama, Rayan belum bisa memastikan dengan efisien tentang keseluruhan kondisi yang dialami oleh Ibu Suri sampai beberapa saat telah berlalu sejak obat penawar diberikan. Meski ia sudah memeriksa sebelumnya, bahwa Ibu Suri telah kehilangan banyak fungsi sel sarafnya. Akan tetapi, tak berpikir akan seburuk ini.


Sambil menggelengkan kepalanya tampak nyaris putus asa. "Ini sulit!" tukasnya.


Saat ini Rayan sedang melakukan pemeriksaan lanjutan dengan langsung menyentuh pada beberapa bagian tubuh yang tepat untuk di periksa, sehingga ia kini tengah membelakangi Reychu yang berdiri mengamati dari belakang tubuh sahabatnya.


"Ada apa?" karena tidak paham akan hal berbau medis, maka Reychu secara alami bertanya.


Menoleh untuk mendongak menatap langsung wajah Reychu. "Aku tidak berpikir ini akan separah ini." katanya yang masih tak dapat di pahami Reychu.


"Apanya yang parah?" Reychu mengernyit tak mengerti.


"Apa yang kau katakan?! Jelaskan dengan benar! Kau pikir aku mengerti kalau kau mengatakannya setengah-setengah!" semburnya tak sabar mendesak Rayan untuk menjelaskan lebih detail. Padahal, seharusnya yang Rayan katakan itu cukup untuk menyatakan kalau situasi memasuki mode gawat. Tetapi, bisa-bisanya Reychu bertindak seolah ia tak paham.


"Huh! Kau ini!" dengus Rayan ketika merasa jiwa kedokterannya tidak di anggap. "Dengarkan aku baik-baik, wahai gadis gila! Aku tidak akan mengulanginya!" tegasnya karena sudah terlanjur jengkel.


"Ibu Suri tidak bisa dibangunkan hanya dengan meminum satu kali penawar. Tubuhnya telah nyaris mati... Sejujurnya, ini agak ekstrim. Seharusnya, waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar membuat saraf manusia mati total dengan menggunakan obat putri tidur ini adalah paling cepat 1 tahun... Tentunya, dengan pemakaian obat yang sesuai. Dimana itu tidak melebihi dosis. Tapi, sepertinya, seseorang ingin benar-benar membuat Ibu Suri mati dalam kesakitan sehingga membuat orang lain tak menyadari kejanggalannya." terang Rayan masih dengan raut berpikir. Pikirannya bukan karena merasa iba ataupun simpati pada keadaan Ibu Suri, melainkan ia tengah berpikir ini bisa dijadikan uji coba.


Untuk rasa iba, itu hanya ada sedikit.


Dengan kata lain, sambil menyelam minum air. Rayan seperti mendapatkan pencerahan.


"Wow! Sampai seperti itu!" sungguh tak sesuai harapan. Bukankah seharusnya menanti memiliki perasaan sedih kala melihat mertuanya jatuh sakit atau bahkan disakiti. Tapi, sepertinya itu tak berlaku untuk Reychu. Ia tak peduli dengan keadaan Ibu Suri. Yang ia pedulikan adalah kegunaan wanita berstatus mertua pemilik tubuhnya ini.


Bagaimanapun kemungkinan besar bahwa ia bisa lebih mudah terbebas dari Kaisar Li adalah dengan bantuan Ibu Suri juga. Jadi, sudah seharusnya ia menyelamatkan Ibu Suri.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi... Uruslah. Aku akan ambil bagian dalam menyingkirkan orang-orang yang tidak takut mati itu!" dengan antusias Reychu berujar semua itu merujuk pada tabib yang berkerja dibawah kendali Keluarga Gong untuk membuat Ibu Suri menjelma menjadi putri tidur.


Setelah ia berkata demikian, gadis itu segera berbalik dan pergi untuk bersiap sendiri menunggu kedatangan mereka yang ia tunggu-tunggu. Ia yakin entah satu atau lebih orang pasti akan datang untuk kembali melakukan tugas mereka. Jadi, dia bisa menjadikan mereka objek mainannya sembari menunggu Rayan menyelesaikan urusannya. Hitung-hitung, karena dia juga sudah lama tidak melakukan pemanasan dan berolahraga dengan lebih berat.


Paling tidak, dapat membunuh satu atau beberapa sudah bagus. Kapan lagi dapat suguhan gratis, begitu pikirnya.


Memikirkan itu, Reychu tidak bisa tidak tertawa senang.


Tapi, satu hal yang harus ia ingat selalu di benaknya. Kalau ini bukanlah dunia modernnya. Meski membunuh bukanlah masalah besar di jaman ini, tapi tetap saja tidak bisa membunuh dengan begitu mudah. Apalagi, di lingkungan istana seperti ini.


Sementara didalam kamar, Rayan sudah mulai dengan uji cobanya. Dengan kekuatan internal yang telah ia pelajari dan kemampuan pengobatannya, gadis imut itu mulai beraksi.


Menggunakan kemampuannya dalam teknik akupuntur. Ia menancapkan beberapa jarum perak miliknya ke beberapa titik vital yang memang menjadi pusat dari beberapa sel saraf yang perlu di perbaiki, tak lupa meminumkan obat penawarnya secara bertahap dari waktu ke waktu.


Diluar kamar...


Layaknya seorang pembunuh bayaran seperti yang dia dan sahabatnya lakukan di kehidupan sebelumnya, kini ia duduk si atas pohon besar yang tak lagi memiliki daun. Karena pakaiannya segelap malam dan cahaya lentera tidak sampai menyinari batang pohon bagian atas, itu cukup membantu untuk Reychu bersembunyi.


Sebenarnya, gadis itu tak suka main sembunyi-sembunyi. Ia suka langsung terjang, tapi sepertinya itu tidak bisa ia lakukan di masa sekarang ini. Apalagi, di situasi seperti ini. Penampilan yang terbuka mungkin akan menjadi lebih membahayakan.


Jika di kehidupan sebelumnya dia dan kedua sahabatnya dapat melakukan apapun dengan mudah mengingat kecanggihan abad kala itu cukup membantu. Kini, apa yang bisa ia harapkan?


Segalanya serba manual. Pakaian tak berubah dari desain yang sama, kecuali warnanya. Peraturan akan etiket dalam berperilaku masih sangat kuat, bahkan tidak adanya kesetaraan gender. Jadi, Reychu berpikir, sedikit merubah haluan sepertinya bukan sesuatu yang buruk juga.


Sesuai yang diharapkan kali ini. Sekitar 3 orang berpakaian putih-putih mulai berjalan memasuki kediaman yang di tinggali Ibu Suri saat ini. Dari atas pohon ia bisa melihat dua perempuan dan satu laki-laki berjalan bersama dalam jarak yang cukup untuk menghalau keburukan.

__ADS_1


Bila dilihat-lihat, Reychu menduga laki-laki yang tampak berumur 50 tahun itu berjalan dengan kepala terangkat. Ia terlihat seperti seseorang yang memiliki kendali penuh akan sesuatu. Sedang satu perempuan di sisi kanannya yang memegang lentera sebagai penerang tampak seperti pelayan dan mungkin dia adalah orang yang membantu disisinya, tak berbeda dengan perempuan yang disisi kiri laki-laki paruh baya itu. Dia tampak membawa kotak kayu berukuran sejengkal kali sejengkal tangan orang dewasa, Reychu menebak kalau itu adalah kotak untuk menempatkan apa yang perlu mereka gunakan untuk membuat Ibu Suri semakin larut dalam komanya.


Dengan begitu Reychu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai. Sedikit berpikir apa jadinya kalau ketiga orang itu mengakui apa yang sudah seharusnya mereka akui?! Bukankah itu membuat kunci menuju kebebasan semakin dekat?!


Hahaha! Reychu benar-benar merasa angin segar baru saja berhembus. Tapi, itu tak lama. Bagaimanapun ia sadar, terlalu cepat untuk berbahagia. Jadi, ia menekannya sampai apa yang ia inginkan tercapai. Itu baru benar!


Berhubung dia bukan orang yang suka bertele-tele bila sudah berhadapan dengan hal menyenangkan seperti yang akan ia lakukan saat ini. Melupakan sejenak kehalusan yang ia rencanakan untuk menangkap ketiga orang itu. Alhasil, kegilaannya bangkit dan...


Bang!


Reychu melompat turun.


Ketiga orang itu terkejut parah sampai jatuh terjengkang. Sudah dipastikan tidak ada bokong yang tidak sakit dari ketiganya. Tapi, mereka tak punya kesempatan untuk mengeluh kala lentera yang menerangi jalan mereka sebelumnya mati akibat terlempar lumayan jauh. Jadilah, kini mereka hanya bisa melihat siluet tubuh seseorang yang hitam dan gelap. Tak ada yang bisa membantu, tetapi tubuh mereka sudah merinding tak tertahan.


Sebagai orang kuno yang hidup dalam lingkungan spiritual yang kuat, tentu tahu dan percaya adanya makhluk lain selain manusia. Contohnya seperti, hantu, monster, binatang spiritual, iblis, siluman, dan masih banyak lagi.


Jadi, ketika mereka yang tidak terlahir kuat jelas saja merasa takut bukan main saat harus dihadapkan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi.


Sedang si biang keladinya malah tampak santai berdiri tegap tanpa tahu kalau wajah ketiga orang didepannya sudah pucat pasi lantaran gelap.


Dengan tanpa iba, Reychu malah tertawa renyah alih-alih menakuti, tapi tak tahu saja dia. Ketiganya sudah ketakutan ditempat.


"Mau kemana, hum?!" tanya Reychu berniat untuk bermain-main. Suara indahnya agar teredam cadar sehingga tak ada yang mengenali suaranya.


Ketiga orang itu justru semakin bergetar takut. Tawa renyah Reychu terdengar mengerikan ditelinga mereka akibat rasa takut yang lebih dulu menguasai.


"K..kau... Ka..kau si..siapa? A..apa ma..mau mu?" nada gagap lelaki paruh baya itu cukup menyenangkan ditelinga Reychu.


Kapan lagi ia merasa ditakuti?! Pikirnya.


Kata-kata Reychu benar-benar merusak akal sehatnya. Mati sebelum dia bisa tidur dipelukan istrinya? Sebagai pria yang membutuhkan kebutuhan biologis tentu saja itu menjadi ancaman paling mengerikan. Walaupun hanya sekadar pelukan tanpa lain hal.


Tapi, tetap saja...


Bahkan, pikiran terliar seorang pria akan lebih memilih menyempatkan diri untuk bercinta sebelum akhirnya mati.


Tentu itu berlaku untuk pria yang otaknya sudah tidak bisa di bersihkan lagi.


Jadilah, ia memilih diam dan tak lagi bersuara. Ia masih ingin hidup. Apalagi, ia baru saja memperistri seorang gadis seminggu yang lalu sebagai selir di kediamannya. Meski hanya gadis biasa tapi tetap saja daun muda. Umurnya 20 tahun, rupanya masih tergolong cantik. Keluarga gadis itu bilang kalau ia sudah terlambat untuk menikah karena calonnya meninggal lebih dulu. Alhasil, demi menyelamatkan diri dari rasa malu gadis itupun dinikahkan dengan tabib buruk itu atas persetujuan Gong Duyoung tentunya.


Yang pasti tidak ada yang gratis!


Sambil menggesek-gesekkan kedua mata pedang kembar miliknya satu sama lain, Reychu berkata dengan nada acuhnya. "Ikut aku dengan damai. Kalian akan selamat! Tapi, bila berani bertindak. Aku akan dengan senang hati memberi makan pedang ku dengan darah kalian." usai berkata demikian, kepala Reychu menoleh dengan gerakan patah yang terkesan malas. "Harusnya kalian tidak punya pilihan lain, kan?" lanjutnya dengan nada jenaka.


Glek!


Tak ada yang bisa dilakukan ketiganya. Meski mereka sempat meragukan kemampuan orang berpakaian serba hitam di depan mereka, tapi kala merasakan atmosfer berubah ketika suara samar yang terdengar seperti suara perempuan itu keluar. Mereka secara tidak langsung merasakan peringatan dibenak mereka untuk tidak berani bertindak gegabah.


Karena itu, inilah keputusannya. Ikut demi keselamatan.


Mengarahkan ujung pedangnya kearah ketiga orang tersebut lalu menggerakkannya sebagai isyarat untuk berjalan lebih dulu kearah pintu kamar Ibu Suri.


Melihat itu, tabib dan dua pelayannya mulai disibukkan dengan pertanyaan dalam otak kecil mereka. Tak mengerti maksud dari membiarkan mereka masuk ketempat yang memang ingin mereka masuki sejak awal.


Begitu mereka masuk, hal pertama yang mereka lihat adalah seorang dengan pakaian serupa gadis di belakang mereka hanya saja berbeda dengan penutup wajahnya. Sosok yang saat ini sibuk dengan kegiatannya memakai topeng kucing. Tapi, perlu di perhatikan bahwa topeng kucing kali ini berbeda dengan topeng yang biasanya ia pakai.

__ADS_1


Kalau tidak tamat riwayatnya.


"Berlutut!" seru Reychu memerintah. Mau tak mau ketiga orang itu pun berlutut dengan enggan.


Reychu mulai berjalan mengitari mereka bertiga seraya mengetukkan ujung mata pedangnya yang ia genggam di tangan kanan keatas kepala ketiga orang itu. Seketika ketakutan kembali menyelimuti tanpa peringatan.


Tuk!


Tuk!


Tuk!


"Jadilah anak baik. Jangan berani macam-macam! Aku mungkin terlihat cukup bersahabat, tapi kau akan tahu kalau aku bahkan sanggup menarik keluar isi kepala mu tanpa membelah tulang tengkorak mu." jedanya. "Mau coba?" tanyanya diakhir. Spontan ketiganya menggeleng kuat sebab takut bukan main.


Mereka bahkan tak pernah membayangkan akan hal itu terjadi pada mereka. Jadi, bagaimana bisa mereka membiarkan itu benar-benar terjadi?!


Melihat kepatuhan mereka, Reychu senang. Senang karena menjadi orang yang bisa membuat orang lain ketakutan. Jiwa psyco-nya keluar.


"Bagus!" kemudian ia menoleh ke arah Rayan yang tampak tak terganggu dengan kehadiran dia dan yang lain.


Tentu saja, semua itu sangat ia pahami. Reychu tahu seberapa tinggi tingkat ke-fokus-an Rayan saat di hadapkan dengan hal-hal berbau medis. Sahabatnya itu bahkan bisa tidak tidur sehari semalam hanya untuk mengerjakan eksperimennya.


"Mo! Apa kau sudah selesai? Aku punya sesuatu yang butuh bantuan mu!" tanya Reychu dengan menggunakan nama samaran untuk memanggil Rayan. Meskipun ia orang yang gamblang tapi ia tak bodoh untuk masuk ke jebakan yang ia buat sendiri.


Rayan menoleh ketika mendengar seruan itu. "Oh. Baiklah! Tunggu sebentar! Tinggal sedikit lagi!" jawabnya dan kembali sibuk dengan urusan awalnya.


Reychu tak lagi berisik seperti biasa. Ia memilih diam, tentunya untuk membuat semuanya berjalan lancar.


Kini perhatiannya kembali ke ketiga orang yang masih berlutut di lantai. Bisa ia pastikan kalau lutut mereka mulai terasa sakit. Tapi, apa pedulinya.


"Siapa tuanmu?" tanya Reychu langsung ke intinya sukses membuat ketiganya terhenyak kaget.


Tak menyangka akan ditanyai seperti itu tanpa basa-basi sedikitpun.


Kekagetannya membuat ia tergagap. "Ap..apa ya..yang k..kau ma..maksudkan... Ak..aku tidak me..mengerti..." itu cukup untuk membuat Reychu memutar bola matanya jengah.


Di masa lalu ia sudah sering mendengar kalimat itu tiap kali ia menanyakan perihal majikannya seseorang yang tertangkap lebih dulu. Walaupun ia akui, kalau ia salut akan kesetiaan mereka, tapi bisakah siapapun itu untuk berpikir lebih masuk akal lagi?!


Dia saja bisa dengan sangat yakin mengatakan kalau anak buah seseorang mati untuk atasannya, kecil kemungkinan sang atasan akan mengingat kesetiaan itu. Mereka yang merasa berkuasa hanya akan memberikan kompensasi kepada keluarga yang ditinggalkan kemudian kembali ketempatnya tanpa menoleh kembali. Jadi, kalau mau setia alangkah baiknya lihat dulu orang seperti apa yang ingin diberikan kesetiaan itu.


"Ayolah, apa susahnya untuk mengatakan kalau Keluarga Gong yang berada di belakang semua ini?!" bukanya dengan enteng tanpa mempedulikan raut wajah ketiga orang itu yang mengencang karena tegang hingga memucat bak kehilangan banyak darah.


Melanjutkan seraya berjalan mengitari ketiganya. "Kalian ditugaskan untuk membuat Ibu Suri koma dengan memberikannya obat putri tidur, kan?! Kau Tabib, tapi kehausan mu pada kekayaan pasti membuat mu lupa apa pentingnya ketulusan bagi seorang Tabib. Benar-benar merusak nama baik perkumpulan para Tabib." celetuknya menerangkan sambil menggelengkan kepalanya miris. Tidak ada jejak keseriusan di dalam nada bicaranya.


Pria Tabib itu semakin pucat begitu mendengarnya. Sedang kedua perempuan disisinya hanya bisa menunduk lebih dalam kepalanya dengan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuh mereka.


"Dengar! Aku bisa mengorek semua informasi yang aku inginkan darimu dengan mudahnya. Tapi, aku masih berbaik hati untuk membiarkan mu mengatakan sendiri dengan sejujurnya. Kau tahu, akan sangat berbahaya bila aku menggunakan cara lain untuk membuat mu mengatakan kebenarannya. Mengatakan kebenaran dalam keadaan tidak sadar sangat berbeda dengan ketika dalam keadaan sadar! Pilihlah?! Dan lagi-lagi kau tak punya pilihan! Hahahaha..." ungkap Reychu dengan sedikit bermain tawar-menawar yang ujung-ujungnya tentu tidak akan ada pilihan untuk dipilih. Dengan begitu ia merasa amat senang.


Sementara Rayan yang sudah selesai dengan tugasnya dan hanya tinggal menunggu, melihat kelakuan sahabatnya tidak bisa berkata-kata selain menatap datar dengan raut jengahnya.


"Haih!" pasrah Rayan karena malas memulai perdebatan yang sudah pasti tak akan mudah selesai begitu saja.



Maaf membuat kalian menunggu...

__ADS_1


__ADS_2