3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TERBONGKAR 2


__ADS_3

Hening seketika menyambut semuanya. Tak ada yang tidak menoleh kearah Ryura yang datar-datar saja ditempatnya. Bahkan Reychu dan Rayan pun tak kalah terhenyak dengan seruan singkat namun menggemparkan yang baru saja sahabat mereka ucapkan.


Meskipun mereka tahu kalau bayi itu pasti bukan anaknya, tetapi mereka tidak tahu pasti siapa ayahnya.


Mata Kaisar Li menajam. Seperti ingin membunuh sosok Ryura yang lancang menyela pembicaraan dia dan ibunya. Terlebih isi kalimatnya yang sangat-sangat ia tolak itu. Ia marah bukan main.


"Ulangi sekali lagi!" tajam Kaisar Li seraya berjalan mendekati Ryura yang hanya menatapnya datar dan kosong tanpa rasa takut atau bahkan rasa hormat sedikitpun padanya.


Itu semakin membuatnya tidak senang.


Tepat didepan wajah Ryura, Kaisar Li kembali berkata dengan nada rendah yang dalam dan tajam. Sorot matanya pun tak kalah tajam.


"ULANGI!" bentaknya.


Sayang sekali, Ryura tak bergeming sedikitpun. Gadis itu hanya mengedipkan matanya normal.


Hal itu membuat semua yang melihatnya bergidik ngeri dan tak percaya ada orang seperti itu di dunia ini.


Ada orang yang bisa bersikap biasa saja bahkan saat dihadapkan pada kemarahan orang lain.


Sejenak Ryura tak juga merespon pria didepannya yang sudah tampak mulai kehabisan kesabaran. Akhirnya dengan perlahan bola mata Ryura bergerak naik untuk langsung bertubrukan dengan mata tajam bak elang milik Kaisar Li.


Reychu yang tepat berdiri disampingnya salut dibuatnya. Ia nyaris mengacungkan jempol pada sahabatnya kalau ia tak sadar pada situasi saat ini.


"Itu bayi Pangeran kedua." ternyata Ryura mau mengulang kalimatnya.


Tak peduli dari mana dia tahu, faktanya itu tak jadi permasalahan sebab apa yang terjadi setelahnya akan membuat siapapun hanya terfokus pada kalimat yang Ryura ucapkan.


Tak tahan. Kaisar Li yang mendengarnya segera mengangkat tangannya guna untuk melancarkan pukulan pada gadis manis tak berekspresi itu.


Sreet!


Shlap!


Siapa yang menduga kalau di detik berikutnya, Kaisar Li yang justru di buat tidak bergerak oleh Ryura dengan mengunci tangan kekar pria itu kebelakang tubuhnya. Semua gerakannya amat cepat, sehingga mereka yang ada disana bertanya-tanya. Kapan perubahan posisi itu terjadi?!


Tercengang oleh kemampuan Ryura yang bisa dengan mudah mengunci pergerakan pria nomor satu di Negara Api ini.


Tapi, itu hanya sesaat sebelum...


BRUGH!


Saat hendak melawan balik, suara Kaisar Li tertahan karena mendengar suara hantaman yang lumayan keras terdengar dari arah lain. Itu membuat dia dan yang lainnya menoleh ke asal suara tersebut. Siapa yang menduga kalau itu adalah suara yang Pangeran Kedua ciptakan.


Ekspresi wajahnya mulai tak bisa dijelaskan. Ditatapnya sang adik kesayangan yang tampak berlutut lesu terkesan pasrah ditempatnya. Jantungnya tidak bisa tidak berdegup kencang hingga ia sendiri bisa mendengarnya dan seketika rasa sesak yang tak jelas menyebar di dadanya.


Gertakan gigi pun tak terelakkan. Kaisar Li sendiri tak bisa menjelaskan seperti apa kini suasana hatinya.


Ia hanya berharap tidak seperti yang ia takutkan.


Setelah beberapa saat menunduk. Kepala itu akhirnya di angkat juga. Begitu terangkat, dua pasang mata itu segera saling tatap. Pangeran Kedua berusaha memberanikan diri.


Yang satunya mulai menajam dan satunya lagi penuh kilatan bersalah yang dalam.


"M...ma..maafkan aku, k..kakak Ka..kaisar..."


Cukup sudah. Satu kata diawal cukup untuk membangkitkan amarahnya yang langsung mencuat. Tanpa bisa dicegah ia segera bergerak maju menuju ke tempat adiknya yang berlutut. Ryura sudah melepaskan kunciannya ketika Kaisar Li terpaku sesaat sebelumnya.


Grep!


Ditariknya kerah hanfu milik Pangeran Kedua Li Fang Ye. Sorot matanya membara. Tubuhnya seketika mengeluarkan aura panas dari elemen api yang ia miliki. Membuat suhu saat itu juga meningkat tajam.


"Kenapa kau meminta maaf?" desis Kaisar Li masih mencoba meyakinkan dirinya kalau dia salah menduga.


Air muka Pangeran Kedua tak bisa lagi dijelaskan betapa piasnya dia. Tapi, rasa bersalahnya tak bisa ditahan lagi. Ia sudah menyerah dan tak ingin menambah rasa bersalah dan dosanya lebih dari ini. Ia masih berharap bisa menua bersama istrinya yang kini ikut berlutut bersamanya.


Air mata Yu Chan Yi mengalir tanpa bisa dihentikan. Ia sedih atas nama suaminya. Dipegangnya tangan Li Fang Ye dengan erat.


Keduanya saling berpegangan tangan.


"A..aku..." belum sempat Li Fang Ye menyelesaikan kalimatnya, suara Selir Agung Gong Dahye segera menyela dengan kepanikan yang tertahan.


"Y..yang Mu..mulia... Mo..mohon tenangkan..." sama seperti Li Fang Ye, Selir Agung Gong Dahye pun disela oleh Kaisar dan dengan dingin.


"Apa aku menyuruhmu bicara?" bergerak mendelik tajam menghujam wajah Gong Dahye hingga wanita itu diam dengan tubuh bergetar hebat. "Sepertinya aku terlalu memanjakan mu hingga kau punya keberanian untuk melupakan status mu!" desis Kaisar Li melanjutkan.


Selir Agung Gong Dahye bungkam dibuatnya tanpa bisa menyanggah lagi. Ia, ayah, dan kakak laki-lakinya tak bisa membendung rasa takut lagi.


Kembali ke adik kesayangannya yang sampai kini masih ia cengkeraman kerah hanfunya.


"Lanjutkan!" titahnya dengan nada yang amat rendah dan dalam. Membuat siapa saja yang mendengarnya seolah tersedot masuk kedalam lembah kegelapan.


"Ak..aku..." sungguh sulit untuk mengaku. Tapi, Pangeran Kedua tak bisa lagi untuk terus diam.


Matanya terpejam dengan pasrah, lalu berkata dengan lirih. "Aku... Bersalah... Yang Mulia..."


BRAK!


Usai tiga kata itu terucap, tubuhnya seketika terbang terpental ke dinding dibelakangnya dengan sangat keras dan menyedihkan.


Uhuk!


"SUAMIKU!" pekik Yu Chan Yi yang langsung bergegas menuju Li Fang Ye yang tampak sekarat dengan darah yang dimuntahkan.


Tak lagi peduli, Kaisar Li berbalik mengabaikannya. Bukan karena sudah memaafkan, baginya yang sudah merasa dikhianati... Ini baru permulaan...


Begitu berbalik, tatapannya langsung jatuh kesosok wanita yang bergetar di peraduannya sembari memeluk bayi yang masih tertidur di pelukannya. Kaisar Li sejenak menatap bayi itu.


Ia ingat, bagaimana ia beberapa waktu lalu begitu bahagia atas kelahiran bayi laki-laki tersebut. Saking bahagianya ia hampir jatuh cinta pada bayi yang nyatanya bukan darah dagingnya. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya bermunculan. Sakit dan sesak tak bisa ia elakkan lagi dari hatinya. Belum lagi semua pengkhianatan yang dilakukan Selirnya yang selama ini ia elu-elukan.

__ADS_1


Semua bayangan bahagia itu hancur lebur dalam benaknya.


Berjalan selangkah demi selangkah dengan amat pelan namun memancarkan tekanan yang tak bisa di cegah oleh siapapun. Suhu panas yang membakar dalam kamar itu membuat semuanya berkeringat hingga membasahi pakaian mereka, kecuali Ryura yang tak terpengaruh, sementara Reychu juga Rayan agak dapat merasakan imbas panasnya.


"Aku gerah!" celetuk Reychu pada sahabatnya seraya menggerakkan kerah hanfunya dengan berharap ada udara yang masuk menyejukkan.


"Bersabarlah. Kita akan segera pergi setelah ini." balas Rayan yang juga merasa sudah lengket di sekujur tubuhnya. Ia yang tak nyaman dengan penampilan seperti itu hanya bisa bertahan sedikit lebih lama.


"Y..yang Mulia..." baru saja Gong Duyoung ingin angkat bicara, tubuhnya sudah didorong terbang ke dinding dibelakangnya hingga terbentur kuat.


BRAK!


"A..ayah..." lirih kedua anaknya. Namun, tak berani untuk bertindak lebih. Karena pada saat ini, Kaisar Li sangat berbahaya.


Siapa yang tidak tahu sebesar apa kekuatan Kaisar Li Hanzue itu?


Di Negara Api ini, Kaisar Li adalah yang berada di posisi teratas.


Begitu sampai dihadapan Selir yang selama ini ia cintai dengan ketulusan hati, Kaisar Li kini hanya merasakan kebencian dan rasa jijik yang tak terbendung saat matanya memandang keseluruhan selirnya.


Masih tak bisa mempercayai bahwa selama ini ia berbagi tubuh itu dengan adiknya sendiri.


"Tabib!" panggil Kaisar Li pada Tabib yang datang bersama Ibunya.


"Ya..ya... Yang Mulia!" dengan takut-takut pria itu datang menjawab panggilan junjungannya. Bagaimanapun ia juga terlibat dalam pencapaian ambisi Keluarga Gong tersebut.


"Ambil bayi itu!" titahnya amat dingin.


Mendengar hal itu, Selir Agung Gong Dahye segera memeluk erat tubuh bayinya.


Dengan terbata-bata ia berucap. "Ya..yang Mu..mulia... To..tolong ja..jangan..." kini air mata sungguhan mengalir deras dari pelupuk mata Selir Agung Gong Dahye tanpa bisa dicegah.


"Siapa kau berani melawan Kaisar ini!" nada dalam dan tanpa perasaan itu membalas dengan sangat-sangat dingin.


Itu adalah nada suara yang tak pernah sedikitpun ia gunakan untuk selir kesayangannya. Tak pernah terpikirkan akan ada hari dimana dia taknhanya bersikap dingin pada Selir didepannya ini, tapi juga membencinya hingga ke pembuluh darahnya.


Tak ingin mendapatkan masalah lebih lagi, tabib itu segera mengambil alih bayi itu dari pelukan ibunya meski harus sedikit saling tarik-menarik antara mereka.


"Ja..jangan..." tercekat sudah suaranya. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, ini adalah situasi yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya.


Tanpa memberi jeda usai bayi itu diambil alih.


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


Empat kali tamparan dilayangkan begitu saja dengan kekuatan penuh sampai darah segar mengalir dari kedua sudut bibir Selir Agung Gong Dahye. Wanita itu hanya bisa diam karena tak tahu apa yang harus ia katakan, tapi meski begitu ia masih sempat melayangkan tatapan tajam penuh kebencian kepada Reychu yang tersenyum menertawakan kemalangan nya dari tempatnya berdiri.


"Kau cukup bernyali rupanya!" geram Kaisar Li tanpa ada jejak cinta lagi dimatanya kala memandang wajah wanita yang sebelumnya ia puja. Ia berkata demikian lantaran mendengar kalimat yang Reychu ucapkan.


"PENGAWAL! SERET SELURUH KELUARGA GONG DAN MASUKKAN MEREKA SEMUA KE PENJARA BAWAH TANAH! BEGITU JUGA DENGAN PANGERAN KEDUA!" gema menggelegar dari Kaisar Li menyentak semuanya. "Mereka harus istirahat sebelum menjalani hukumannya!" nada rendah yang dalam namun sarat akan kekejaman pada kalimat ini diucapkan seolah ingin mengajak bermain.


Sangat tidak cocok, tapi cukup untuk merontokkan jantung siapapun yang mendengarnya.


Jantung semua orang sudah bisa keluar dari tempatnya kalau saja itu buatan manusia, keadaan saat ini sesungguhnya tak pernah terbayangkan belum lagi kala beberapa pengawal bergerak maju menangkap seluruh Keluarga Gong beserta Pangeran Kedua.


Jeritan memberontak saling bersahutan.


"YANG MULIA, DENGARKAN SAYA DULU! ANDA TIDAK BISA SEPERTI INI! SAYA MENCINTAI ANDA, YANG MULIA! LEPASKAN AKU! JANGAN SEMBARANGAN MENYENTUH KU! AKU SELIR KESAYANGAN KAISAR! BERANINYA KAU MENYENTUHKU!" pekik Gong Dahye histeris, ia mengamuk tak terima dengan semua yang baru saja terjadi. Tanpa mempedulikan rasa sakitnya selepas melahirkan, ia terus bergerak memberontak agar dapat lepas dari genggaman dua orang pengawal yang diperintahkan Kaisar Li untuk menyeretnya keluar.


Sedang Gong Dahee tak sekalipun mengeluarkan suaranya. Ia membatu syok dengan apa yang terjadi. Padahal, sebelumnya ia dan keluarganya sudah siap dengan kemenangan yang terpampang didepan mata. Tapi, apa ini...


Mereka... Jatuh?!


"Suamiku! Jangan tinggalkan aku!" Yu Chan Yi terus mengikuti pengawal yang membawa pergi suaminya. Meski ia tahu kalau kata-katanya tidak akan mengubah apapun, tapi tetap saja ia terus memohon dan menangis tanpa bisa dihentikan.


Ia tahu masa lalu suaminya, sejak suaminya memilih jujur. Tapi, meskipun ia sempat kecewa. Ia memilih berpikir positif, dimana dengan suaminya mau jujur dan terbuka itu menandakan ia cukup berarti dimata Pangeran Kedua Li Fang Ye selaku suaminya.


Tak lama setelah Keluarga Gong diangkut paksa beserta Pangeran Kedua Li Fang Ye, keadaan kamar Selir Agung menjadi senyap seketika.


Tak ada yang berani angkat suara.


Ibu Suri hanya bisa menatap sedih pada putranya yang kini tertunduk tak berdaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tangan dikedua sisinya tak juga terlepas dari kepalannya.


Ia marah!


Ia baru saja dikhianati! Tidak! Ia sudah dikhianati!


"Ehem. Sudah selesai bukan!" suara dan gaya bicara orang yang satu ini sudah cukup untuk menebak siapa dia.


Tak tahu tempat sekali, Reychu malah dengan santainya memecahkan keheningan.


Mendengar suara itu Kaisar Li mendongak menatap langsung wajah Reychu yang cantik. Rasa bersalah menyeruak tanpa bisa dihentikan.


"Reychu!"


Nada suara Kaisar Li saat memanggilnya sangat dalam, dapat dengan mudah didengar rasa bersalah dari suaranya.


"Jangan ganggu dia lagi!" serbu Ibu Suri dengan datar.


Kalimat itu membuat Kaisar Li menoleh kearah ibunya. "Apa maksud Ibunda?"


"Jangan ganggu dia lagi! Ceraikan dia!"


Deg!

__ADS_1


"Ibunda!" protes Kaisar Li tak terima.


"Kenapa? Kau mau memungutnya kembali setelah kau mencampakkan dia?" sarkas Ibu Suri yang langsung diacungi jempol oleh Reychu. Untungnya, ibu Suri tidak melihatnya, karena matanya fokus pada putranya.


Entah apa yang di katakan Reychu malam itu, hingga Ibu Suri yang selama ini menyayanginya begitu patuh memenuhi keinginan Reychu untuk berpisah dari Kaisar Li.


"Ibunda..." ingin kembali memprotes, Ibu Suri terus menyela.


"Jangan membantah ku mulai sekarang! Kau sudah cukup membantah dan membangkang! Kata-kata aku dan ayahmu tak pernah kau patuhi! Kau pikir kutukan yang kami katakan adalah omong kosong belaka? Kau pikir kenapa ayahmu tidak memiliki Selir?" sergah Ibu Suri tak lagi peduli pada sekitarnya. Ia hanya berpikir untuk segera menyelesaikan segalanya sekarang juga.


Kaisar Li bungkam seribu bahasa.


"Aku dan ayahmu memberikan putri Jenderal Agung padamu bukan tanpa sebab! Itu karena dia memiliki darah yang cocok denganmu! Darah yang bisa memberi mu keturunan! Tapi, lihat apa yang sudah kau lakukan?! Kau mengacaukan segalanya hanya karena pemikiran mu yang sempit dan bodoh itu!" lelah rasanya harus kembali menceramahi putranya yang bahkan sudah memiliki lebih dari dua istri.


Pria itu tak hanya tampan, tapi juga sudah dewasa. Haruskah masih sebodoh itu?!


"Dulu aku masih tutup mata dan mulut ku saat kau dengan yakin membawa selir ke Harem mu. Karena aku masih berharap kau akan tetap memperlakukan menantuku dengan baik dan setidaknya mau menerimanya sebagai istrimu yang sah. Tapi, lihat apa yang kau lakukan? Kau tidak mempedulikannya! Kau abaikan dia! Kau acuhkan dia! Sampai puncaknya kau berani mengurungnya ke Istana Dingin! Aku nyaris mati karena ulahmu!" marah ibu Suri tak terbendung. Nafasnya memburu bahkan matanya sampai memerah.


"Apa kau tahu! Kalau selama ini kau tak lebih dari alat untuk ambisi Selir tercinta mu itu?" ungkapan tersebut memberhentikan aliran darah Kaisar Li.


Tidak hanya Kaisar Li, yang lainnya juga tampak syok mendengarnya. Kecuali, Reychu dan kedua sahabatnya.


Bertanya-tanya, ambisi apa itu?


"Tidak peduli apa! Bebaskan Ahn Reychu! Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Sudah cukup ia menderita selama ini di sini. Ia berhak bahagia." tandas Ibu Suri tanpa mau dibantah.


"Ibunda! Jangan katakan itu! Aku... Ak..aku sudah mencintainya! Biarkan aku memperbaiki hubungan kami! Ibunda...!" protesnya tak terima dengan tak berdaya.


"Hei. Apa kau sudah menanyakan itu padaku? Aku tidak pernah berpikir untuk mengulang kembali bersamamu! Ingat apa yang pernah aku minta darimu?!" sambar Reychu tak mau tahu. Enak saja main ambil keputusan tanpa memandang dirinya?!


"Reychu..." lirih Kaisar Li makin tak berdaya ketika harus dihadapkan dengan wanita yang kini ia cintai namun tak bisa ia miliki.


"Ini semua yang kau inginkan sejak awal, sayang!" finalnya Reychu secara acuh tak acuh.


Ia benar-benar tak memberi wajah sedikitpun pada pria itu. Kemudian berbalik pergi tanpa pamit. Meninggalkan keheningan ditengah-tengah beberapa orang yang masih setia dalam keterkejutannya pada apa yang baru saja terjadi.


Hingga kesadaran membangunkan mereka satu persatu.


"Salam hamba pada Yang Mulia Ibu Suri!" Selir Kehormatan Wang Jinji lebih dulu tersadar dan langsung mengucapkan salam meski sudah jelas terlambat.


Salam itu menggema ke telinga dua Selir lainnya sehingga mereka segera menyusul untuk memberikan salam pada Ibu Suri.


"Salam hamba pada Yang Mulia Ibu Suri!" keduanya serempak.


"Hm... Salam untuk kalian semua. Tapi, sepertinya wanita tua ini tidak bisa melakukan banyak perbincangan untuk hari ini. Aku lelah dan ingin segera beristirahat." pungkas Ibu Suri seraya menghela nafas berat.


"Baik, Yang Mulia! Kami mengerti. Oleh karena itu, kami pamit undur diri." kata Wang Jinji sebagai perwakilan.


Ibu Suri mengangguk sekilas. "Ya!"


Setelahnya, tanpa mau terlibat bukan karena tak ingin atau tidak prihatin, hanya saja ia merasa bahwa ini masalah Kaisar Li sendiri. Dia selaku Selir yang bahkan memiliki sedikit interaksi dengan pria itu, tidak merasa punya keharusan untuk menenangkan pria itu.


Jadi, ia dan Kim Mulan pergi. Sementara, Mu Bizhuo sebenarnya sangat ingin mengambil hati Kaisar Li. Tetapi, ia merasa keadaannya sedang tidak tepat. Ia juga tak ingin kalau harus berakhir seperti Selir Agung Gong Dahye.


Siapa yang sudi!


Tak hanya ketiga Selir lainnya pergi, orang-orang yang bukan anggota keluarga namun sempat berada dalam ruangan pun di perintahkan untuk meninggalkan kamar tersebut.


Kini hanya ada Ibu Suri dan Kaisar Li. Suasana hening dan memancarkan duka dan luka.


Hembusan nafas berat dan panjang dikeluarkan dari mulut Kaisar Li. Pikiran pria itu kacau hingga rasanya mau pecah.


"Kenapa jadi seperti ini?" lirihnya bahkan tanpa sadar meneteskan air mata.


Hatinya sakit, hatinya terluka untuk Reychu. Permaisurinya.


Hatinya marah, hatinya membenci untuk Selir Agung Gong Dahye.


Hatinya jijik, hatinya mengutuk untuk dirinya sendiri.


Tapi, ini tak bisa dibiarkan. Kaisar Li tak akan tinggal diam. Siapa yang berani mengkhianatinya, harus berani mengambil resikonya.


"Pengawal bayangan!" panggilnya yang sukses mengejutkan ibu Suri. Cukup tahu siapa yang di panggil oleh anaknya itu.


Wush...


"Menghadap, Yang Mulia!" muncul tiba-tiba dan langsung berlutut hormat pada junjungannya.


"Selidiki semuanya! Tanpa terkecuali!" titahnya dengan kilatan mata yang berbahaya.


"Siap, Yang Mulia!"


Wush...


Pengawal bayangan itu menghilang seketika usai menerima perintah.


Ibu Suri tidak mengatakan apapun dan memilih diam. Membiarkan putranya mengambil tindakan. Bagaimanapun, ini adalah urusannya. Urusan dirinya sebagai seorang ibu sudah selesai.


Kini biarkan putranya belajar dari apa yang telah ia lakukan.



μ–΄λ–»κ²Œ?


suka?


selanjutnya sebelum benar-benar end. biar Thor kasih flashback dulu untuk beberapa bagian sebelum puncaknya...


ok!

__ADS_1


πŸ˜˜πŸ˜ŽπŸ‘πŸ€“


__ADS_2