3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
FLASHBACK 2


__ADS_3

Flashback on: PELUANG CINTA YANG TAK LAGI ADA


Rasa sakit saat cinta tak berbalas adalah rasa yang masih belum sepenuhnya menyakitkan. Rasa sakit itu akan benar-benar sempurna adalah saat tak hanya tidak berbalas, tapi rasa itu ditolak mentah-mentah tanpa pikir panjang seolah sangat yakin bahwa hatinya takkan berubah serta kala sang pujaan hati ternyata mencintai orang lain dan tanpa perasaan memperlihatkannya padamu.


Luka itu tak berdarah, tapi kau tahu seperti apa sakitnya. Bahkan dokter dengan gelar panjang kali lebar takkan bisa meresepkan obat untuk luka itu.


Obatnya hanya ada pada diri sendiri. Berat? Itu resikonya.


Inilah yang tengah dirasakan oleh Permaisuri Ahn Reychu setelah beberapa lama hanya dirinya yang memegang gelar istri. Tiba saat acara Pemilihan Selir diadakan, hanya luka berkelanjutan yang ia dapatkan.


Jangankan menoleh, melirik pun tidak. Kaisar Li Hanzue seolah tak pernah menganggapnya ada semenjak kehadiran Selir Agung Gong Dahye disisinya.


Wanita itu pada dasarnya tidak jauh berbeda saat dilihat dari luar. Meski kecantikannya masih dibawah Permaisuri, dia tampak baik dan lembut. Itu juga ada pada diri Permaisuri. Namun, mengapa terkesan berbeda? Itu karena, alam bawah sadar Kaisar Li menekankan pada dirinya bahwa Permaisurinya adalah wanita yang terpilih, sementara dia bersikeras ingin membuktikan bahwa ia bisa mematahkan kutukan itu dengan caranya sendiri.


Tapi, yang tidak ia tahu... Ia malah akan menjadikan itu penyesalan tiada akhir baginya cepat atau lambat.



Ada saat dimana Permaisuri Ahn sedang berjalan untuk mengunjungi ruang kerja Kaisar Li guna membahas suatu hal penting mengenai masa panen yang akan segera datang. Tapi, hal yang tak ia duga adalah kala langkahnya terhenti mendadak saat matanya menangkap pemandangan yang menyakitkan hatinya.


Di sebuah jembatan kecil penghubung menuju kediaman Kaisar Li, Permaisuri Ahn melihat dengan pedih pada sepasang sejoli yang tengah memadu kasih dengan bahagia. Dapat ia lihat bagaimana merekahnya senyum Kaisar Li disaat bersenda gurau dengan Selir Agung Gong Dahye. Sangat berbeda jauh dengan saat bersama dengannya.


Pelayan pribadinya yang berada disebelah Permaisuri ikut merasakan kesedihan itu. Hingga ia angkat bicara dengan penuh perhatian.


"Yang Mulia..."


Permaisuri Ahn menoleh saat mendengar panggilan itu. Dengan senyum tipis yang sarat akan luka, namun tampak jelas sedang di tahan kuat agar tidak terlihat. Tapi, pelayannya jelas melihat luka itu.


Menggeleng pelan, Permaisuri Ahn menjawab. "Jangan khawatir, saya baik-baik saja. Lebih baik kita kembali dulu. Nanti, minta seseorang untuk menyampaikan pesan kepada Kaisar Li mengenai kedatangan saya untuk membahas hal penting yang belakangan ini saya kerjakan. Agar saya tidak perlu datang tanpa izin lagi..." intonasi suaranya terdengar melirih diakhir. Mengartikan bahwa ia tak akan lagi mau datang tanpa kepastian tentang Kaisar Li tengah sendirian.


Permaisuri tak sanggup bila harus muncul ditengah-tengah kedua orang yang saling mencintai itu. Rasa sakitnya sungguh tak tertahankan.


Air mata Permaisuri Ahn sampai luruh seketika saat setibanya ia di kamar kediamannya. Sembari memukul-mukul dadanya yang terasa begitu menyesakkan. Ia meraung tanpa suara.


Air mata benar-benar membasahi wajahnya.



Semuanya akan baik-baik saja bila itu murni hanya sebatas perasaan. Tapi, sayangnya Selir Agung Gong Dahye tidak berhenti sampai disitu. Nyatanya, ia bukan hanya ingin menguasai hati Kaisar Li. Tapi, juga segalanya termasuk tahta.


Merasa menang karena dicintai oleh penguasa negeri, membuat dia bahkan tak malu untuk menyindir halus perempuan nomor satu di Negara Api kala sengaja berkunjung ke kediaman Permaisuri dengan alasan untuk mempererat hubungan persaudaraan diantara mereka.


Tentu saja, Kaisar Li akan percaya begitu saja atas nama cinta.


Sebagai seorang perempuan berhati baik, sekalipun ia tahu bahwa kedatangan wanita itu bukanlah bermaksud baik. Permaisuri tetap menerimanya dengan tangan terbuka. Bagaimanapun, kedudukannya lebih tinggi dan mesti menjadi contoh bagi rakyatnya baik dilihat maupun tidak.


Walaupun sejak kedatangan Selir Agung Gong Dahye kehidupannya tidak lagi bagus. Permaisuri kerap kali terjebak hingga sedikit demi sedikit orang-orang mulai menurunkan kepercayaan padanya, membuat perempuan berstatus istri namun masih gadis itu hanya bisa menghela nafas yang kadang juga menangis dalam diam.


"Terimakasih telah menerima kunjungan hamba kesini. Anda sungguh Permaisuri yang bijaksana!" tutur katanya begitu manis, tapi Permaisuri tidak bodoh untuk menangkap nada cemoohan didalamnya. Apalagi, saat ini mereka hanya berdua.


Bukankah sudah seharusnya wanita itu berani?


Tidak ada Kaisar Li disini!


Dengan senyum elegan dan berwibawa, dimana tidak ada yang bisa menandingi perilakunya yang sempurna sebagai pendamping penguasa negeri. Tentu, sukses membuat bara pada rasa cemburu dan menguatkan keinginan Selir Agung Gong Dahye untuk menyingkirkan Permaisuri Ahn Reychu di setiap saatnya dari posisinya.


"Kau bagian dari Keluarga Kerajaan Huoli sekarang. Jadi, sudah seharusnya aku menerima mu dengan tangan terbuka. Karena itu, jangan sungkan!" senyum tenang dan lembut begitu memikat hati yang melihatnya. Pancaran aura kepemimpinan tak bisa dihalau oleh apapun.


Benar-benar menunjukkan betapa Permaisuri Ahn adalah pasangan yang pantas berada disisi Kaisar Li.

__ADS_1


Dan Gong Dahye tidak suka itu!


"Tentu, saya tidak akan sungkan lagi." sorot matanya perlahan berubah. Selir Agung Gong Dahye mulai menatap berani dan sombong pada Permaisuri Ahn yang memilih mempertahankan ketenangannya yang sempat nyaris kacau karena firasat buruk yang datang.


"Saya hanya ingin mengatakan pada kakak Permaisuri yang tercinta... Takdir tidak bisa di ubah. Bila sudah ketentuannya begitu, maka akan selamanya begitu. Benarkan?" katanya penuh makna.


Dengan Permaisuri Ahn Reychu yang pintar dan berwawasan, bukan perkara sulit untuk mengetahui arti dibalik kalimat tersebut. Dimana Selir Agung Gong Dahye tengah mengungkit perihal perasaan Kaisar Li yang lebih memilih berlabuh pada wanita itu daripada istri pertamanya yang sah.


Tapi, siapa yang ingin menunjukkan kelemahan didepan lawannya?


"Benar! Takdir memang tidak pernah bisa di ubah. Tetapi... Siapa yang tahu misteri di keesokan harinya. Takdir bisa dikatakan takdir, saat manusia itu sendiri telah merasakannya. Jika belum, bukankah masih sebuah tanda tanya?!" balas Permaisuri Ahn Reychu dengan elegan tanpa sedikitpun keangkuhan seseorang yang berada di posisi atas.


Senyum lembut namun sarat akan hinaan perlahan menyurut, tak percaya akan mendapat balasan demikian dan itu bukan respon yang ia mau.


Seolah tak sadar, Selir Agung Gong Dahye mulai sedikit memperlihatkan belangnya.


"Hohoho... Itu benar! Sesuatu yang belum terjadi masihlah menjadi tanda tanya! Hanya saja, tanda tanya itu akan mudah terjawab bila mampu memegang kendali atas hal tersebut. Bukankah begitu Yang Mulia Permaisuri?!" seringai tipis terpatri dibibir wanita itu. Selir Agung Gong Dahye benar-benar menjunjung tinggi dirinya sendiri.


Permaisuri yang melihatnya hanya bisa menekankan dalam hati untuk bertahan lebih lama. Semua juga demi keselamatan hatinya atau wanita didepannya saat ini akan menertawakan kemalangannya yang seolah tiada akhir itu.


Cukup kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cinta Kaisar Li, ia tak mau kalau sampai harus kehilangan harga dirinya juga.


"Langsung pada apa yang ingin kau katakan, adikku Selir." katanya agak mendesis.


Memperbaiki gestur tubuhnya menjadi lebih arogan. Ia berdiri angkuh seperti ia lah yang punya kuasa untuk melakukan apapun. Permaisuri Ahn yang melihatnya hanya bisa meringis dalam hati menangisi dirinya yang menyedihkan.


"Anda tahu 'kan, bila Yang Mulia mencintai saya? Kami saling mencintai! Anda tidak boleh merasa sedih, sebagai perempuan yang juga mencintai Yang Mulia Kaisar, tentu harus berbahagia pada kebahagiaan Yang Mulia juga. Benarkan?!" jedanya setelah kata-kata bernadakan ejekan dan hinaan namun diucapkan dengan halus itu benar-benar terdengar jelas di telinganya.


"Tentu!" singkat Permaisuri Ahn berusaha terlihat biasa. Karena, bagaimanapun dia hanyalah perempuan kecil yang bisa rapuh kapan saja.


"Ehem. Karena itu, berhentilah berharap!" desis Selir Agung Gong Dahye dengan mata menyorot merendahkan juga penuh kepuasan. "Hatinya sudah ditakdirkan untukku dan bukan untukmu! Anda harus tahu dan sadar akan hal itu!"


Nyut!


"Dan juga, bersiaplah menyingkir dari Singgasana Permaisuri itu. Karena kelak aku yang akan menggantikan posisi itu untuk mu!" nadanya dalam dan memberikan kesan mencekam pada siapapun, tapi sekuat tenaga Permaisuri menjaga pertahanannya agar tetap teguh dan kokoh.


"Kaisar Li pasti senang dengan hal itu..." sambungnya dengan tidak berperasaan. "Anda... Jangan sekali-kali mengadu... Karena, suara anda tidak akan pernah didengar." peringatannya dengan santai, namun terkesan kejam.


Usai mengatakan itu, ia segera berbalik pergi tanpa menoleh atau bahkan berpamitan. Wanita itu cukup angkuh untuk melupakan statusnya.


Pecah seketika pertahanan Permaisuri Ahn setelah ditinggal sendirian oleh Selir Agung Gong Dahye.


Kembali, tanpa suara Permaisuri menangis histeris hingga sesak di dadanya begitu terasa kuat.


Ia sadar siapa dirinya untuk Kaisar Li. Saking sadarnya, Permaisuri Ahn Reychu sampai bersikap kebal dan tahan banting hanya untuk sebuah harapan akan ada saatnya cinta yang ia inginkan tumbuh bersemi diantara keduanya.


Tapi, semua itu pupus tepat saat bencana datang padanya.


Bencana yang akan membuat ia menghilang meninggalkan cankang tubuhnya dan membiarkan jiwa lain memasuki nya.


"Akh!" jeritan yang agak tertahan lolos dari mulut Selir Agung Gong Dahye saat ia memegang perutnya seperti menahan sakit dan nyaris terkulai lemah kalau saja sebuah tangan kekar tidak segera menahan tubuhnya dengan kuat.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" gurat kepanikan terpasang di wajah Kaisar Li saat itu, dimana mereka tengah mengadakan acara makan malam bersama sebagai rutinitas untuk saling menjalin hubungan kekeluargaan. Itulah yang Permaisuri Ahn tetapkan. Apalagi kala itu sudah ada beberapa Selir yang memasuki istana.


"Y..yang Mu...mulia... Perut hamba sak..kit! Ukh!" ringisnya bahkan peluh mulai membanjiri wajahnya.


Kepanikan Kaisar Li semakin menjadi, hingga ia berteriak memanggil Tabib.


"TABIB! TABIB! PANGGIL TABIB SEKARANG JUGA! CEPAT!"

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" Permaisuri Ahn juga menjadi ikut panik begitu melihat Selir Agung Gong Dahye terlihat kesakitan.


Kaisar Li terlalu panik hingga dipikirannya hanya ada Selir Agung Gong Dahye yang sedang kesakitan.


Tabib datang beberapa saat kemudian dan mulai melakukan pemeriksaan. Tak ada yang tahu bagaimana Selir Agung Gong Dahye dengan tabib itu saling berkedip mata, bertukar kode untuk melancarkan tugas mereka.


Hingga usai pemeriksaan...


"Yang Mulia... Hamba ini mohon maaf dan belas kasihmu..." belum usai tabib itu berbicara, Kaisar Li segera menyela dengan dingin tak terbantahkan.


"Langsung saja! Bagaimana keadaan istriku?" cecar Kaisar Li dihadapan tabib yang menunduk sejak awal lantaran tak berani melihat tatapan tajam yang panas itu.


"Hamba ini menjawab, Yang Mulia... Menurut pemeriksaan, hamba mendapati ada racun didalam tubuh Yang Mulia Selir Agung Gong..."


"APA! BAGAIMANA BISA ADA RACUN?! SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN HAL ITU, HAH?!" pekik Kaisar Li gusar hingga ia mengamuk.


Teriakannya menciutkan nyali semua orang yang ada disana. Bahkan Permaisuri Ahn tidak terkecuali.


"Lalu, bagaimana dengan bayinya?"


BOOM!


Permaisuri Ahn Reychu membeku ditempat dengan tatapan mata yang seketika itu juga kosong usai mendengar kalimat tak terduga dari pria yang begitu ia cintai. Meski tak hanya dia yang mengalami guncangan keterkejutan.


Istri keduanya tengah mengandung dan tak ada yang tahu selain sepasang suami-istri itu. Sejenak ia berpikir, dianggap apa dirinya yang berdiri sebagai Permaisuri di Kerajaan Huoli ini?


Sejak saat itu, istana dalam disibukkan dengan penyelidikan atas titah sang Kaisar.


Harem Kaisar pun tak luput dari pemeriksaan Penyidik Kerajaan Huoli.


Sampai beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan menyentak semua orang bahkan yang menjadi objek pun tak kalah terkejut.


Saat itu, Kaisar Li mendatangi Permaisuri Ahn Reychu dengan amarah yang meluap-luap luar biasa. Bahkan ia mengabaikan tatapan bingung istri pertamanya ketika melihat ia datang dengan hawa panas disekelilingnya.


PLAK!


Gadis itu masih tetap bingung bahkan setelah sebuah tamparan keras menerjang wajahnya hingga ia tersungkur kesamping dengan tak berdayanya.


Menatap tidak paham serta sedih dan terluka. Permaisuri tidak sedikitpun memahami situasinya saat ini.


"Kenapa Yang Mulia memukul hamba?" lirih perih suara Permaisuri Ahn sampai bergetar seraya menatap dengan mata penuh genangan air mata yang siap tumpah. Satu tangannya menyentuh pipinya yang memar saat itu juga usai ditampar dengan begitu kuatnya.


Tapi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Kaisar Li selain berbalik pergi sembari memberi perintah.


"Bawa dia ke Aula Pengadilan Kerajaan Huoli!"


Dari sanalah semua kebingungannya terjawab.


Ia dituduh ingin mencelakai Selir Agung Gong Dahye dengan cara meracuninya. Ingin membantah tapi tidak bisa lantaran seperti yang dikatakan penyidik Kerajaan Huoli, bahwa bukti telah ditemukan di kediamannya.


Seluruh penghuni Harem Kaisar juga tak bisa berbuat apa-apa.


Permaisuri Ahn Reychu masih berusaha meyakinkan semua orang, tapi hasil yang muncul sangat mengecewakannya. Dari sekian banyaknya dewan dan pejabat Kerajaan, dapat dihitung dengan jari berapa orang yang mau tetap berada di pihaknya.


Kaisar Li yang paling ia harapkan memilih membuang muka. Alhasil, ia jadi yang tersalah.


Sejak saat itu Permaisuri pun memilih menyerah.


__ADS_1


aduh mata Thor udah gak ada daya lagi. ngantuk berat say!


tpi gk masalah. resiko klo kerajaan bertabrakan


__ADS_2