
"Ryura. Kenapa tidak kau bunuh saja bocah itu? Dia sudah membuatmu terluka! Benar-benar tidak bisa dimaafkan!" kesal Furby dalam telepatinya. Kuda itu tak bisa menutupi kekesalannya pada sepasang ibu dan anak tadi yang tiba-tiba muncul mengacaukan pagi mereka.
Saat ini dia dan Ryura kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari makan setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu, sembari Ryura yang tampak membalut lengan kirinya dengan selembar kain yang entah dapat dari mana. Dia hanya diam tanpa menanggapi sikap Furby yang terus saja mengoceh kesal. Padahal, dalam hal ini dia yang dirugikan tapi malah kuda itu yang menggerutu kesal.
"Ibunya juga. Apa-apaan itu?! Huh. Meski aku tidak lagi heran dengan yang seperti itu. Tapi, tetap saja. Tiap kali melihat ada orang tua yang semena-mena terhadap anaknya, selalu menjadi pemandangan yang bisa membuat marah." lanjut telepati Furby menggerutu untuk kesekian kalinya.
Kembali, Ryura diam. Merasa itu tak penting untuk di tanggapi.
"Aku masih bingung. Kau tidak membunuhnya. Kenapa? Padahal dia sudah mengganggu perjalanan kita. Dia juga sudah melukaimu... Dan kau hanya memukulnya?! Yang benar saja!" terus begitu, sampai akhirnya Ryura angkat bicara.
"Mereka belum memenuhi syarat untuk benar-benar bisa disebut menggangguku!" datar, santai, dan tanpa ekspresi.
"Hah?!" kaget Furby. "Ya Dewa... Aku sungguh tidak mengerti bagaimana yang disebut benar-benar mengganggumu. Kalau yang seperti tadi saja kau bilang belum memenuhi syarat. Ckckck!" Furby berdecak heran. Bingung sendiri dengan jalan pikiran sahabat manusianya ini.
"Bocah itu melakukan apa yang di suruh, tanpa tahu resiko yang akan ditanggungnya... Dan ibunya sedang dalam keadaan terdesak ekonomi." jedanya. "Dalam keadaan seperti itu, siapapun bisa bertindak diluar batas." terangnya panjang lebar. Bermaksud untuk memberitahukan, kalau tindakan ibu dan anak itu adalah tindakan yang terpaksa mereka lakukan dan bukannya karena memang bermasalah dengannya.
Itulah mengapa ia tak berniat membunuh bocah itu, apalagi ibunya.
Berbeda dengan dua orang sebelumnya yang menjadi korban pertama Ryura dari peserta sayembara tersebut. Mereka memang benar-benar tergiur hadiah yang di sediakan Keluarga Han. Hanya saja saat itu Ryura sedang dalam posisi tidak mengetahui perihal sayembara tersebut, sehingga menurutnya dua pria yang tiba-tiba menyusup masuk kamarnya adalah orang yang telah mengganggu waktu istirahatnya.
Furby dibuat tercengang saat ini. Pasalnya, untuk pertama kalinya ia mendengar langsung kalimat panjang Ryura yang tanpa hambatan. Ternyata Ryura memang bukan orang yang irit bicara, melainkan hanya menjadi orang yang malas berbicara panjang lebar bila tak penting.
"Ouh... Baiklah! Aku mengerti! Kalau begitu mari kita lanjut. Aku sudah lapar. Haha!" katanya bertelepati lagi dengan kikuk. Merasa bodoh sendiri hanya karena mendengar kalimat panjang Ryura untuk yang pertama kali.
Tak lama saat mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju tempat makan yang mereka inginkan. Sesuatu memaksa mereka menghentikan langkahnya.
Menelengkan sedikit kepalanya ke kiri. Matanya menyorot kosong tanpa binar apapun ke arah beberapa orang yang berdiri tak jauh di depannya. Hanya berselang 10 meter saja.
Merasa akan datangnya kesibukan tak penting, Ryura menjadi malas.
Sreek...
Kuda bulan di samping Ryura bergerak mengambil posisi siaga. Ia tak akan tinggal diam bila ada yang berani macam-macam dengan sahabatnya. Menemukan manusia seperti Ryura bukanlah perkara mudah.
"Tidak bisakah mereka membiarkan kita makan terlebih dahulu. Aku benar-benar lapar sekarang ini. Si*lan!" maki Furby dalam telepatinya. Seperti biasa, Ryura tak akan menanggapi lebih selain diam.
"Astaga... Ini masih pagiii...!!! Dasar berandal tak tahu diri!" umpatnya kesal lagi dalam telepatinya.
Ryura tak bergeming hanya menerima benaknya di penuhi dengan omelan dan ocehan tak bergunanya kuda bulan itu. Membiarkannya adalah pilihan terbaik.
"Selamat pagi, Nona Muda Han. Apa kami mengganggu waktu pagi mu?!" kata seorang wanita yang berpakaian rapi, namun terlihat tidak seperti perempuan feminim pada umumnya di era itu. Dia lebih mirip seperti wanita gagah nan tomboi. Dari nada bicaranya, terdengar jelas kalau ia sedang meledek Ryura.
__ADS_1
Bila Furby kesal mendengar itu, maka tidak dengan Ryura yang tetap pada kedatarannya. Benar-benar sulit mengacaukan emosi seorang Ryura.
"Sombong sekali dia!" kesal seorang pria disamping wanita itu. Penampilannya sama rapinya, terlihat kalau mereka seperti berasal dari sebuah organisasi. Walau tidak tampak ada kesamaan dalam pakaiannya.
Pria itu jengkel sendiri saat melihat langsung sosok Ryura yang mendadak terkenal dengan ceritanya yang telah dengan teganya berani membunuh anggota keluarganya sendiri dan juga dari julukannya yang cukup merebak di semua kalangan.
"Hei, kau! Kami tidak peduli sehebat apa dirimu di mata semua orang! Tapi, bagi kami. Sebelum kau bisa mengalahkan kami, maka jangan berpikir kau bisa menyombongkan diri." seru lantang seorang pria lainnya yang paling tinggi di antara yang lain.
Ryura masih saja diam di tempatnya sembari menatap kelima orang yang terdiri dari 1 wanita dan 4 pria itu dengan santai tanpa merasa terprovokasi sedikitpun.
Mereka cukup asing di mata Ryura. Meskipun warga negara api tak semuanya ia kenal. Akan tetapi, ia cukup hafal rupa warga ibukota yang sekian banyak itu.
Melihat kelompok mereka didiami seperti itu oleh gadis yang kini menjadi buronan sayembara keluarganya sendiri pun murka dibuatnya. Hingga salah satunya yang sejak awal diam dan berdiri paling ujung menarik cepat pedangnya, lalu di todongkan ujung mata pedang itu kearah Ryura yang berjarak beberapa meter dari nya.
Dengan wajah datar namun beraurakan amarah hingga suhu di sekitar tubuhnya meningkat drastis. Alhasil, warga yang berada dekat dengannya bergerak menyingkir. Mereka tak ingin mati terpanggang akibat hawa panas yang di keluarkan pria berwajah datar dengan tato sayap di pelipis kirinya.
Untuk pertama kalinya Ryura bertemu dengan orang yang memiliki kekuatan. Ah, tidak. Sebelumnya sudah, namun tidak sampai kelihatan jelas seperti sekarang ini. Dulu ia juga merasakan energi panas ada di dalam tubuh Kepala Desa Danpyo. Tak disangka, kini ia bisa merasakannya lebih dari sebelumnya.
Bukannya takut, Ryura justru merasa tertantang. Darahnya mendidih bak lava gunung berapi yang siap menyembur keluar.
"Ryura, sepertinya mereka bukan kelompok biasa!" seru Furby di benak Ryura.
"Hm." jawabnya dengan deheman. Ia setuju dengan dugaan Furby.
"Negara api adalah negara dengan kekuatan elemen api-nya. Tak heran banyak yang memiliki suhu panas dalam tubuh mereka. Hanya saja, tak semua memiliki kemampuan hebat yang bisa di asah seperti mereka." jelas Furby singkat. Ryura hanya mendengarkan dengan baik.
"Elemen api!" gumam Ryura dengan nada biasa, namun tak ada yang tahu kalau tersirat ketertarikan didalamnya. Rasa itu mengingatkannya pada masa lalu di zaman modern, dimana saat untuk pertama kalinya ia akan melakukan pembunuhan. Kala itu rasanya benar-benar luar biasa. Rasa pertama yang ia rasakan membuncah dalam jiwanya.
Furby langsung menatap intens Ryura. Merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Namun, ia tak tahu apa itu.
"Menepilah! Ini urusanku!" ujarnya lugas tak terbantahkan. Furby baru saja ingin protes, tapi langsung ia urungkan. Berpikir kembali, kalau ini memanglah urusan Ryura. Mendengar yang dikatakan wanita dari kelompok itu menyebutkan marga Ryura. Sudah dipastikan, kalau dia melakukan ini karena tertarik akan sayembara tersebut. Meski sebagian besarnya adalah karena keingintahuan mereka akan seorang Ryura.
Suasana pagi menjelang siang kali ini terasa bagai di area pertarungan. Persis seperti pertarungan hari itu dengan Han Fei Rong. Bedanya ini bukanlah di jalanan ibukota yang sama. Jalan kali ini dekat dengan jembatan kecil yang melintas di atas sungai kecil.
Rencananya, jembatan itu akan Ryura dan Furby lewati. Tetapi, tidak jadi lantaran sudah lebih dulu di hadang oleh lima orang asing yang tampak memiliki kemampuan untuk berlagak sombong di hadapan Ryura yang tidak sedikitpun peduli.
Ketegangan mulai terasa. Para penduduk ibukota yang pernah menyaksikan insiden tempo hari seolah dibuat kembali merasakannya. Bedanya, kali ini mereka seolah siap untuk kemungkinan apapun. Sebagian besar mereka berharap melihat sesuatu yang menarik hari ini, seperti kekalahan Ryura, misalnya.
Tap!
Wush!
__ADS_1
Pria berwajah datar dengan pedang yang siap di genggaman telah bergerak maju dengan gerakan cepat. Secepat angin berhembus. Meninggalkan percikan panas saat ia berlalu.
Ryura yang sejak awal diam, sama sekali tidak bergeming. Ia terlihat menantikan pria itu berada dekat dengannya.
Jarak yang hanya 10 meter membuat pria itu tak membutuhkan waktu lama untuk mendekat pada Ryura yang bersikap diam. Yang mana sikap itu semakin menyulut amarahnya. Ia memang tak mengenal siapa Ryura, selain hanya anak bungsu Keluarga Han. Hanya saja, kabar angin yang memiliki tingkat kebenaran yang tinggi mengusik pikiran banyak orang yang merasa diri mereka hebat dan kuat. Sehingga, memancing untuk mencoba beradu dengan Ryura guna melihat langsung bukti kabar itu dan menggunakan sayembara sebagai alasan.
Ya... Mereka tidak melihat bagaimana Ryura bertarung dengan saudaranya sendiri tempo hari. Baru kemarin sore mereka memilih keluar akademi untuk menyegarkan pikiran dari lelahnya belajar. Begitu keluar, mereka malah di perdengarkan sebuah cerita yang lagi panas-panasnya dan kabar tentang sayembara yang dibuat oleh Keluarga Han.
Oleh sebab itulah, kini kelimanya ada di sini. Kelima pelajar tingkat menengah dari Akademi Xiaofang. Akademi satu-satunya di negara api yang di dirikan oleh Kaisar terdahulu -para kakek buyut Kaisar sekarang- untuk mengasah kemampuan para generasi negara api atas bakat alami mereka dalam penguasaan elemen api.
Sayangnya, meski Kerajaan Huoli terkenal kuat. Kerajaan itu masih kalah jauh dengan kerajaan dari kekaisaran lain.
(Akan dijelaskan di season 2)
Itu karena, negara api memiliki sedikit generasi berbakat setiap tahunnya.
Kembali ke awal...
Kecepatan larinya cukup patut di acungi jempol. Kecepatan hunusan pedangnya pun tak kalah hebat. Namun, kalah cepat dengan refleks Ryura yang sudah dapat melihat arah gerakan pria itu padanya. Sehingga dia bisa dengan santainya mengelak tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.
Tak hanya pria yang menyerangnya saja, tapi juga keempat lainnya dibuat tercengang oleh kelihaian Ryura dalam menghindar dari mata pedang teman mereka.
"Tidak mungkin!" gumam kelimanya serempak.
"Kita akhiri secepatnya! Aku lapar!" cetus Ryura santai dengan wajahnya yang langgeng tanpa ekspresi itu.
Raut wajah cengang kelima pelajar akademi itu seketika berubah menjadi kelam. Pasalnya, mereka mengartikan kalau kalimat Ryura mengandung kesombongan. Padahal, tanpa mereka tahu. Ryura sungguh-sungguh lapar dan ingin segera makan.
Karena kesalahpahaman itu kelimanya segera maju menerjang gadis manis itu. Hal itu sukses membuat Furby tersentak dan warga ibukota terkejut hingga nyaris kehilangan nafas mereka, walaupun ia sudah mampu menduga kemungkinan ini dari kemampuannya dalam merasakan situasi yang ada. Tapi, apalah daya. Bila saat ia hendak membantu. Suara Ryura sudah lebih dulu mengema di benaknya.
"Diam di tempat!"
Furby hanya bisa mengamati tanpa bisa ikut membantu. Ia tak takut Ryura kalah, ia hanya cemas. Karena, bagaimana pun meski selama ini Ryura selalu menang tidak menutup kemungkinan ada saatnya ia akan kalah dan itulah yang di cemaskan Furby. Bukan kata kalahnya, melainkan kondisi akhir Ryura. Akankah baik atau tidak.
"Jangan mati sekarang! Aku belum puas bersama mu!" tulus Furby dalam hatinya dengan siratan doa dalam kalimatnya.
selamat membaca gaess....
semoga kalian suka...
sorry ya kalu merasa digantungin.
__ADS_1
daku terpaksa... tapi gk pp lah yaaa
Wokeh... see yaaa