
Bersedekap dada sambil memejamkan matanya tidur. Di tulikan pendengarannya dari suara bising yang memekakkan telinga. Gadis itu, Ryura dan yang membuat keributan di sana adalah Rayan dan Reychu.
Usai menjerit sakit akibat hantaman tangan nakal Reychu, Rayan kembali menyerangnya dengan rengekan dan rajukan serta ngambekan ala Rayan si manja.
"Haaaa... Reychu... Sakit tahu... Huhuhuhu... Kenapa kau memukul bokongku.... Huaaaaa...!" ditenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan kirinya sedang tangan satunya bertindak membalas dengan memukul Reychu bertubi-tubi. Reychu meringis dibuatnya meski jujur saja pukulan tersebut tak berarti apa-apa baginya.
"Oke... Oke... Oke... Maaf! Aku tidak sengaja! Sungguh! Auw! Aku hanya terbawa emosi saja tadi... Astaga... Auw... Ouch... Argh! Sudah hentikan, Ray!" Reychu sudah bergerak menghindar walaupun tetap saja kena. "RYURAAAA........!" teriaknya memanggil sahabat satunya yang malah enak-enak tidur tanpa terganggu sedikitpun padahal dia baru mau mengadu. Tapi, sepertinya tak akan digubris.
"Rasakan ini! Kau pikir tidak sakit apa?" mengangkat kepalanya dan kembali memukul dengan tenaga yang lebih. Reychu yang baru saja membaik kondisinya mulai kualahan dikarenakan tenaganya yang belum pulih total.
"Ck. Ryura si*lan! Dia malah tidur! Dasar tak berperasaan! Lihat apa yang..." umpat Reychu spontan namun kalimatnya tak lagi ia lanjutkan kala matanya menangkap mata gadis yang sebelumnya terpejam kini terbuka dan membalas tatapannya dengan tatapan yang sulit dia artikan. Dialah gadis yang ia lemparkan umpatan untuknya.
Glek!
Salivanya diteguk dengan susah payah. Reychu mulai waspada. Ditampilkan cengirannya yang tersirat tanda damai pada Ryura yang masih pada posisinya. Bersedekap dada dengan mata yang menyorot penuh arti pada Reychu yang baru saja mengumpatinya.
Dalam hati Reychu berdoa semoga dijauhkan dari marabahaya yang cepat atau lambat akan di berikan oleh Ryura.
Rayan yang merasa suhu mulai berubah pun perlahan memastikannya. Dan tampaklah, perseteruan tersirat dari dua orang gadis yang terikat persahabatan. Dimana yang satunya kikuk dengan rasa bersalah, sedang satunya datar penuh misteri bagai danau tak berpenghuni. Tenang namun tak ada yang akan menduga apa yang tersembunyi didalamnya.
"Ehem! Ada apa dengan kalian?" sepertinya Rayan tak sempat mendengar umpatan yang Reychu berikan pada Ryura. Kalau dia sempat mendengarnya, sudah tak perlu di pertanyaan lagi dari mana asal kilatan perseteruan diantara kedua sahabatnya.
Dia hanya melirik kedua sahabatnya bingung.
Sruk!
Tiba-tiba Reychu sudah memilih bersembunyi di balik tubuh Rayan seraya berkata dengan nada berbisik. "Sembunyikan aku! Atau habislah aku!" Rayan masih saja belum mengerti.
"Cih! Ada apa, huh?! Jangan bermain-main. Kau baru saja sembuh!" kata Rayan menasehati, tapi tetap tak membuat Reychu melepaskan dirinya malahan ia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh sahabatnya, tak lupa di tariknya selimut guna menutupi dirinya hingga tak terlihat sehelai rambut pun.
Kening Rayan berkerut semakin tak mengerti, tiba-tiba ia menoleh kala mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Saat itu juga ia baru tahu kalau Reychu telah mengusik Ryura, terlihat dari Ryura yang sudah berdiri di samping peraduan mereka dengan raut khasnya yang jadi kesulitan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
Glek!
Sama seperti yang Reychu lakukan, Rayan pun turut mengalami kesulitan saat menelan salivanya sendiri. Otaknya mulai menduga-duga, apa yang sudah di perbuat Reychu pada Ryura dan apa yang akan Ryura lakukan pada sahabat mereka satu ini?!
Lalu bagaimana kabar dirinya yang yang belum bisa bergerak bebas sebab sakit dari memar di bokongnya?! Entahlah. Ia belum menemukan jawaban apapun.
"Jangan... Aarrgghh... Rayan lepaskan aku! Menyingkir lah dari tubuhku! Jangan mengkhianati ku, Rayan! AAAH!" ronta Reychu di sisa-sisa tenaganya, terlebih ia mengalami kesulitan akibat Rayan yang menimpa tubuhnya yang tengkurap di bawah gadis imut itu.
Biarlah Rayan dianggap pengkhianat. Gadis imut itu lebih memilih untuk tidak ikut di siksa oleh Ryura daripada harus memihak Reychu namun berakhir menderita.
Sungguh tidak setia kawan!
"Maaf, Rey sayang! Aku tak punya pilihan lain! Demi keberlangsungan hidup Rayan Monica beserta keturunannya kelak!" sekuat tenaga ia menahan pergerakan Reychu dengan menimpanya, padahal tak bisa dipungkiri kalau ia juga merasakan denyutan di bokongnya. Tapi, demi kesejahteraan hidupnya Rayan terpaksa menahan rasa sakit itu untuk sementara.
"Si*lan kau boneka usang! Ku sumpahi jodohmu buruk rupa!" sembur Reychu tanpa pikir.
Plak!
"Auch!" satu tabokan sukses mendarat di bibir seksinya Reychu hingga membuat si empunya meringis. "Sakit, bod*h!" makinya.
"Salah sendiri. Kenapa mulutmu tidak bisa di jaga." balas Rayan sengit.
Pantang baginya untuk mendengar ada yang mengatakan jodohnya tidak tampan. Pasalnya ia pengagum pria tampan, akan jadi apa dirinya kalau sampai berjodoh dengan pria yang tidak tampan?! Memikirkannya saja Rayan tidak sanggup.
"HUAAAA... Ryura. Aku bersalah. Jangan lakukan itu kumohon. Haaaaaa..." pinta Reychu saat ia mencoba melirik ke belakang dimana ia bisa melihat sedikit ada Ryura yang duduk di dekat kakinya dengan tenang tak terganggu barang sedikitpun dari rengekan seorang Reychu.
__ADS_1
Jujur saja, itu cukup mengerikan bagi Reychu.
Ryura justru hanya mengedipkan matanya seolah tak tahu apa-apa. Gadis gila itu masih berusaha melepaskan diri dengan memberontak. Tubuhnya ia gerakkan semampunya. Tapi sayang, saat pergelangan kakinya sudah di pegang oleh Ryura, gadis itu membeku. Cemas, takut, mengiba tersirat di wajahnya.
"Tidak tidak tidak. Kumohon. Jangan lakukan itu!" mohonnya dengan nada berbisik lemah tak berdaya, matanya sayu merah berair. Antara pasrah dan memohon agar di maafkan.
"Aku disini untukmu Reychu!" kata Rayan yang sama sekali tak membantu. Malahan ingin rasanya Reychu mencakar wajah imutnya Rayan sekarang ini juga.
"Cih. Pengkhianat! Diam kau!" sarkas Reychu yang di balas kekehan oleh Rayan.
Sedang Ryura hanya diam memandangi jari kaki milik Reychu dengan tangan yang perlahan tapi pasti mendekati ibu jarinya Reychu. Dan pada akhirnya...
"AAAAAAAAAAHHH..........!!!! HAHAHAHAA... HAAAAA... HAHAHAHA...! HUAAAAHAHAHAHAHAAAA...!! HAHAHAHAAAA...! HAHAHAHA...!" tawanya pecah seketika kala ibu jarinya di pencet oleh Ryura dengan dua jari tangannya.
Berulang kali Ryura melakukan itu, maka berulang kali pula Reychu tak bisa menahan tawanya. Sementara Rayan hanya berusaha menahan agar tubuh Reychu tidak bergerak untuk melarikan diri. Dua sahabat itu benar-benar tahu caranya menyiksa.
Sebenarnya, itu adalah titik kelemahan seorang Reychu Velicia. Dimana jempol kakinya sangat sensitif. Di sentuh sedikit saja, ia langsung tertawa. Apalagi bila di pencet atau di tekan-tekan seperti yang Ryura lakukan padanya. Maka ia akan tertawa keras mengalahkan suara apapun termasuk kesunyian malam itu. Sedangkan area lainnya seperti leher, pinggang, atau beberapa titik yang bisa menyebabkan kegelian tak berfungsi untuk Reychu, seolah semua kesensitifan itu menumpuk di jempol kakinya.
Sampai...
"HEI! DASAR GILA! SI*LAN! BISA DIAM TIDAK! KAU MENGGANGGU TIDUR ORANG LAIN, BRENGS*K!!!" makian yang muncul dari luar kamar mereka akhirnya membuat Ryura menghentikan tindakannya.
Tawa Reychu seketika itu juga sirna digantikan dengan nafas yang tersengal-sengal. Padahal sebelumnya ia baru saja melawan maut melalui nafasnya juga. Sedang Rayan melonggarkan tekanannya pada Reychu karena ia juga sudha kelelahan.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya sudah cukup.
Keduanya langsung terkapar lemas. Bagi Reychu itu jauh lebih lemas daripada sehabis diobati dari racun yang menyerang.
"Hah... Hah... Lelahnya... Huh!" lega sudah ia. "Itu mengerikan Ryura... Huh... Hah... Aku juga ingin membalasmu... Huh... Tapi, sialnya aku tidak tahu apa yang menjadi kelemahan mu... Hah... Menyebalkan! Hah..." katanya disela-sela nafasnya yang terengah-engah. "Dan kau Rayan. Tunggulah pembalasan ku. Hehehehe..." sambungnya dengan sedikit bumbu tawa jahatnya ala Reychu sebelum akhirnya ia tertidur seketika.
"Hah... Lelahnya. Meski baru sembuh, dia kuat juga." keluh Rayan yang ikut kelelahan sampai membuatnya tak sanggup beranjak dari punggung Reychu.
Posisi mereka benar-benar kacau.
Fajar datang. Reychu bangun dari tidurnya dengan sedikit kesusahan lantaran tubuhnya masih di bawah tindihan Rayan, walau tidak separah semalam.
Setelah berhasil lepas, ia segera memperbaiki penampilannya. Pikirnya, ia tak bisa berlama-lama di sana. Ia harus kembali ke istana. Ada yang harus ia urus perihal apa yang telah ia alami semalam.
Memikirkan hal itu membuat ia ingin sekali mencekik sang pelaku hingga kehilangan nafasnya.
"Ryura!" panggilnya pelan pada gadis yang paling cepat di usik. Meski Ryura tak juga bergerak dari tidurnya yang seperti orang mati itu. Reychu tahu ia mendengarkan. "Aku akan kembali sekarang. Aku harus membalas perlakuan mereka yang berani melawanku!" lanjutnya.
"Sudah ku bereskan." sahut Ryura dalam tidurnya sehingga ia tampak seperti sedang mengigau, tapi sebagai sahabat yang sudah mengenal dirinya lama Reychu tahu sahabatnya sedang berbicara dengannya.
"Kau! Kenapa kau lakukan itu! Aku jadi tidak bisa menunjukkan seperti apa kemarahan ku padanya..." kesal Reychu saat tahu Ryura sudah membantu membereskan pengganggu itu. Jelas saja, ia kan juga mau melakukannya sendiri.
"Kau masih punya yang lain." balas Ryura. Reychu kembali berpikir.
Seketika matanya berbinar. "Hehehehe... Kau benar. Aku masih punya si Gong itu. Juga kaisar bod*h itu. Bahkan mungkin aku bisa menambah mangsa lagi. Hihihi. Bagus-bagus..." tuturnya senang.
Tanpa menunggu lagi iapun segera beranjak menuju jendela kamar penginapan tersebut, lalu membukanya. Saat itu juga angin dingin nam sejuk di pagi buta menerpa wajahnya yang lusuh karena habis bangun tidur.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Mari kita selesaikan urusan kita masing-masing dengan cepat. Aku sudah tidak sabar untuk berkelana keluar dari negara ini." usai mengatakan itu Reychu langsung mengeluarkan benda giok putih yang sudah pernah ia gunakan sebelumnya dan meniupnya.
Tak perlu menunggu lama, yang dipanggil sudah muncul di bibir jendela. Mata sayu sehabis bangun tidurnya langsung terbelalak kala melihat siapa yang berdiri menjulang di depannya.
"Chu-chu...!" riangnya seketika menubruk kepelukan Reychu yang ikut tertawa senang karena siluman kelinci kesayangannya itu tampak bahagia melihatnya.
__ADS_1
"Kau sudah sehat?" dijawab anggukan oleh Reychu.
"Bagaimana bisa aku mati begitu saja sebelum aku dapat membalas mereka. Aku akan mati dengan tenang kalau mereka mati duluan. Hahaha..." candanya walau kenyataannya perkataan itu benar adanya.
Reychu akan menganggap kematiannya sia-sia bila ia mati lebih dulu sebelum musuhnya.
"Lalu, ada apa kau memanggilku? Kau tidak sedang dalam masalah bukan?" tanya Chi-chi. Siluman kelinci itu mulai cemas, takut kalau ada masalah baru mendatangi sahabat manusianya.
"Kau ingin aku yang hebat ini selalu berada dalam masalah?" delik Reychu tak senang dengan bertanya balik.
"Bukan. Bukan begitu. Hanya saja..." belum selesai ia berbicara Reychu sudah lebih dulu menyela.
"Sudah. Tak perlu di perpanjang lagi. Sekarang ini aku buru-buru. Kau temani aku pulang ke istana. Aku punya banyak urusan disana yang harus di selesaikan sesegera mungkin."
"Oh, begitu. Baiklah. Dengan senang hati aku akan menemanimu. Tapi, bolehkah aku tidak pergi lagi?" mohon Chi-chi yang sukses memancing salah satu alis Reychu terangkat.
"Maksudnya?"
"Aku ingin bersamamu selalu. Kau tak perlu khawatir. Aku bisa berubah menjadi kelinci sungguhan dan berperan menjadi peliharaan mu. Jujur saja Chu-chu... Aku tak mau berpisah darimu lagi. Lihat yang telah terjadi padamu. Aku jadi marah pada diriku sendiri, karena tidak ada untuk mu saat hal seperti itu terjadi." terang Chi-chi mengutarakan isi hatinya. Seharusnya itu cukup untuk membuat Reychu terenyuh, tapi...
"Oh astaga... Ku kira ada apa. Ulululuuu... Manisnya makhluk pemakan kacang ini!" kening Chi-chi berkerut aneh kala mendengar kata 'kacang' di sebut. Siluman itu mulai bertanya-tanya, sejak kapan kelinci makan kacang?!
"Jangan merasa begitu. Semua akan baik-baik saja. Tapi, kalau kau mau mengikuti ku aku tak punya masalah dengan itu. Pasti akan lebih menyenangkan melakukan apapun bersama sahabat daripada sendirian." lanjutnya sembari menaik-turunkan alisnya.
Meski keanehan masih di rasa akibat kata 'kacang' yang Reychu ucapkan, Chi-chi tetap meladeni Reychu. "Eum... Jadi, kita pergi sekarang!" tanyanya memilih mengabaikan kata-kata Reychu yang menurutnya salah tadi.
"Tentu!" kemudian menoleh kearah peraduan dimana dua gadis masih terkapar diatasnya. "Ryu, Ray! Aku pergi dulu! Jaga diri kalian! Sampai jumpa di hari kebebasan menuju dunia luar! Hahaha..." lanjut Reychu berpamitan.
"Hmm..." Ryura berdehem sebagai jawaban. Tak mau repot-repot mengucapkan kalimat yang menurutnya tak begitu penting untuk diucapkan selain hanya akan membuang-buang suara.
"Kita berangkat sekarang!" ajak Reychu pada Chi-chi. Kemudian dengan kemampuan kecepatan siluman kelinci itu yang teramat cepat, hanya dalam hitungan kurang dari sedetik Reychu dan Chi-chi telah hilang dari pandangan dan hanya meninggalkan jendela kamar yang terbuka sedikit bergoyang akibat terpaan angin lewat yang mereka sebabkan.
Kepergian Reychu menandakan bahwa kini dia benar-benar akan memulai semuanya tanpa toleransi lagi.
Hari tampak sudah mulai terang kebiruan dengan segaris cahaya dari ufuk timur, menandakan matahari tak lama lagi akan terbit.
Reychu sudah kembali ke kediaman dengan aman dan tak ketahuan. Chi-chi pun begitu sampai langsung merubah wujudnya menjadi seperti hewan biasa.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang langsung dapat ditebak oleh Reychu kalau itu pastilah para pelayan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Yang mulia permaisuri, mohon izin kami masuk!"
"Masuklah!" pintu pun terbuka dan tampaklah para pelayan sebelumnya satu persatu memasuki kediamannya. Gadis itu hanya duduk tenang namun dengan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi ratu yang dapat berbuat seenaknya pada bawahannya sehingga ia sedikit menunjukkan kesombongan yang tak ditutup-tutupi dengan Chi-chi yang tampak tenang nangkring di pundak Reychu.
Melihat seekor kelinci di pundak junjungan mereka, tentu terkejut. Mereka mulai bertanya-tanya, sejak kapan ada kelinci di kediaman tulip.
"Sebagian lakukan tugas kalian... Dan sebagian lagi jelaskan padaku apa yang sudah terjadi semalam!" katanya langsung tanpa menunggu mereka memulai dengan nada perintah yang jelas tak terbantahkan.
Para pelayan yang tersisa terlihat saling melirik sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban.
"Jawab hamba yang mulia permaisuri." jedanya sejenak. "Semalam istana mendapat kabar duka. diberitakan ada dua selir yang meninggal dunia!"
__ADS_1