
"BERANINYA KAU MELUKAI ANAKKU!" teriak ayah Meng dengan membabi buta serta wajahnya yang menggelap secara instan.
Jelas, dia marah melihat bagaimana Ryura memperlakukan anak kesayangannya dengan begitu kejam. Bahkan tak hanya ayah Meng saja yang merasakan demikian, seluruh anggota keluarga Meng pun turut marah.
"Kenapa anda terlihat begitu marah sekali, Tuan? Apa anda pikir hanya itu? Jika hanya itu, sahabat saya tidak akan repot-repot membuang waktunya hanya untuk orang yang tidak waras seperti putrimu itu! Malangnya dia, kesalahannya bukan hanya itu!" tukas Rayan berani menyela amukan ayah Meng. Kemudian, tanpa menggubris amarah keluarga wanita itu Rayan dengan anggunnya berjalan kearah Shin Mo Lan berada.
Segera, pria itu bereaksi dari tempatnya begitu melihat sang kekasih mendekat padanya.
Dia tersenyum dalam diam.
Begitu sampai, Rayan langsung merogoh sesuatu di saku lengannya lalu diserahkan kepada Shin Mo Lan sebelum kembali ke tempatnya usai memberikan salam undur diri dengan sopan. Rayan bersikap seperti mereka tidak dekat satu sama lain. Dia bertindak dengan profesional. Meskipun itu sedikit memberikan rasa tidak menyenangkan bagi Shin Mo Lan, tapi dia bisa mengerti mengingat situasi dimana mereka berada saat ini.
Sebuah bola kertas kini sudah ditangannya. Itulah yang diberikan Rayan padanya. Dengan rasa penasaran, tanpa berkata-kata lagi bola kertas itupun dibuka. Kertas itu menjadi sangat kusut, tapi tidak sampai merusak tulisan yang ada didalamnya. Tulisan yang membuatnya terkejut begitu selesai membacanya. Tanpa menunda lagi, kertas kusut itu berpindah tangan segera ke Ye Zi Xian.
Tuan Ye ikut membacanya. Usai membacanya, reaksi Ye Zi Xian sama seperti Shin Mo Lan. Hanya saja, ada tambahan amarah membara selanjutnya disisi Ye Zi Xian.
Dengan suara tajam dan menggelegar, Ye Zi Xian berseru mantap. "Sudah selesai! Aku sudah tidak bisa mentolerir masalah ini lagi! Ini terlalu keterlaluan!" sentaknya sambil menghentakkan tangannya yang memegang kertas surat yang kusut itu hingga lengan bajunya yang lebar berkibar dengan gagahnya.
Semua menatap penuh tanda tanya kearah Ye Zi Xian. Mereka penasaran pada isi kertas tersebut. Tapi, pria itu hanya fokus pada Meng Pei Yun yang berada dalam kondisi mengenaskan ditangan Ryura. Kemudian, apa yang dikatakan selanjutnya mampu mengejutkan keluarga Meng juga semua saksi pengadilan terbuka hari ini.
"Ryura! Calon Nyonya ku! Dia milik mu! Kau bisa lakukan apapun padanya!"
"TUAN YE!" pekik Keluarga Meng terkejut.
Semua yang menyaksikan pun menjadi gempar mendengar titah sang pemimpin. Mereka sendiri sudah melihat seberapa beraninya calon Nyonya Ye masa depan mereka dalam menangani orang-orang yang mencari masalah dengannya hingga perlakuannya sangat kejam. Jadi, bila Tuan Ye benar-benar memberikan hak penuh pada calon Nyonya Ye, maka tidak menutup kemungkinan kalau Nyonya Selir Meng akan berakhir dengan...
Mati.
Membayangkannya saja sudah mampu membangkitkan bulu kuduk mereka. Ini terlalu mengerikan.
Ye Zi Xian melirik dingin nan tajam kearah keluarga Meng dan berkata. "Permohonan mu tidak akan pernah aku dengarkan lagi, Tuan Meng! Sebab, putrimu sudah bertindak diluar batas! Kau tahu... Dia berani menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan takdir ku! Dia cukup punya nyali... Apa kau pikir aku tidak bisa sama kejamnya?!"
Ha'!!!
Semua orang tercengang mendengarnya, bahkan Meng Pei Yun si pelaku yang sudah sekarat pun juga sama tercengang. Dia sendiri tidak percaya, bila surat yang dikirim oleh organisasi pembunuh bayaran yang dia sewa, yang dia pikir sudah dibuang ternyata mampu ditemukan.
Dia tak bisa mengelak lagi. Karena didalam sana terdapat segel resmi organisasi tersebut. Jika dia masih mencoba untuk membela diri dia akan mati lebih dari sekali.
Bukan tak bisa untuk tetap mempertahankan diri, karena dia sudah tahu kalau pada akhirnya diapun tetap mati. Akan tetapi, cintanya untuk Ye Zi Xian tak surut juga meski sudah sampai pada detik ini. Dia masih sempat berharap agar tidak dibenci oleh pria yang dicintainya itu. Dia tak sanggup bila sampai dibenci oleh Ye Zi Xian.
Itulah sebabnya dia tak berani lagi mengelak.
Sementara ayah Meng hanya berteriak histeris dan menolak untuk percaya. Dia masih yakin dengan pengetahuannya tentang putrinya tercinta. Dalam benaknya, putrinya tidak akan berani mengambil langkah beresiko tinggi seperti ini dikala dia tahu seperti apa keluarga Ye itu.
Dengan pikiran yang sudah tidak bisa dibuat berpikir jernih lagi. Otaknya malah menarik kesimpulan yang tidak masuk akal diatas amarah dan kebencian, yaitu ketiga gadis itulah yang menjebak putrinya.
Karena itu, ayah Meng disusul anggota keluarga yang lain segera bergerak maju dibawah kendali kemarahan yang memuncak guna menyerang balik 3Ry -terkhusus Ryura- yang telah melukai putri dari keluarga Meng mereka. Mereka ingin menuntut balas dendam. Sama halnya dengan 3Ry, dari pihak Ryura pun tidak berniat hanya berdiam diri saja menyaksikan pertarungan yang akan berlangsung.
Dengan seringai khasnya, Reychu berkata. "Kalian ingin bermain keroyokan, heh? Maka, ladeni aku dulu sebelum Ryura!" kemudian sepasang pedang pendek miliknya dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Memutarnya sejenak dikedua tangannya secara serempak sebelum berakhir dengan memegangnya dalam posisi terbalik.
Sementara, Rayan memilih mengamati dari tempatnya dengan seksama kekacauan yang kian memanas dari balik kipas pemberian Shin Mo Lan, setelah sesaat sebelumnya meminta Ruobin mengamankan A-Shi terlebih dahulu. Tak lupa ia memberikan obat pereda sakit untuknya.
"Nona Rayan, kau tidak maju untuk membantu?" tanya Chi-chi setelah sekian lama terdiam kala melihat gadis imut sahabat Chu-chu nya masih berdiri ditempatnya tanpa berniat untuk maju membantu.
Rayan menoleh menatap bocah laki-laki siluman kelinci sahabatnya Reychu didunia ini dengan tersenyum manis, lalu menjawab. "Biarkan Reychu bergerak lebih dulu. Bila lawan terlalu kuat, baru kemudian aku akan maju untuk membantu. Saat ini, Reychu jelas sedang ingin menikmati kesenangannya."
"Jadi, begitu..." Chi-chi mengangguk paham.
__ADS_1
"Lalu, kau sendiri... Kenapa tidak membantu?" tanya Rayan balik.
Mata bulatnya berkedip dua kali sebelum menjawab sambil menggeleng imut. "Reychu tidak mau aku ikut campur." kemudian tersenyum malu dengan wajah yang tersipu. "Reychu tidak ingin aku terluka." tambahnya polos.
Sudut bibir Rayan berkedut mendengarnya. Merasa tidak yakin kalau Reychu akan memiliki pemikiran seperti itu. Si gila yang haus darah itu jelas tidak mau ada beban saat dia reuni dengan darah lawannya yang selalu menggiurkan baginya. Jadi, Rayan pikir Chi-chi sudah salah paham dalam hal ini.
Meskipun begitu, dia tidak berniat memberitahunya.
Beralih ke Reychu.
Saat ini gadis itu sedang berhadapan dengan dua laki-laki sekaligus, yakni ayah dan kakak tertua Meng.
Sambil tertawa bahagia dia membalas serangan bertubi-tubi dari dua pria itu yang sukses membangkitkan amarah dan kecemasan dari Kaisar Agung Bai saat ia melihat itu. Kalau saja tidak dihadang oleh Shin Mo Lan, sahabatnya itu sudah pasti akan langsung menerjang balik serangan yang 2 pria itu berikan kepada kekasihnya.
"Kenapa kau menghalangi ku?!" desis Kaisar Agung Bai tak senang karena dihalangi.
Tapi, Shin Mo Lan tidak terpengaruh olehnya. Sambil menunjuk Reychu dengan dagunya, dia berujar. "Lihatlah, betapa bahagianya dia..." tanpa berniat menjelaskan lebih jauh dia yakin sahabatnya paham dilihat dari Kaisar Agung Bai yang juga melihatnya.
Kaisar Agung Bai tahu Reychu-nya gila akan darah dari Rayan yang sering mengungkitnya. Tapi, dia tidak pernah tahu seberapa jauh level kegilaan Reychu. Baru saat inilah dia melihatnya.
Gadis tercintanya itu benar-benar penggila kekerasan. Tidak heran, dia tidak pernah melihat air mata ataupun ekspresi wajar diwajahnya layaknya ekspresi orang normal pada umumnya kala menangis, kesakitan, dan lain sebagainya. Tapi, yang sering dilihatnya meskipun Reychu terluka hingga wajahnya pucat, bibir gadis itu masih bisa tersenyum sumringah seolah-olah dia tidak merasakan sakit sama sekali.
Akhirnya, dengan berat hati Kaisar Agung Bai memilih diam sambil terus mengawasi pertarungan didepan sana. Tepatnya, mengawasi Reychu kalau-kalau dia gagal bertahan.
Beralih ke Ryura yang tak sedikitpun menggubris pertarungan sahabatnya yang terjadi dibelakangnya. Dia masih tampak tenang dengan pedang yang bersimbah darah hingga menetas digenangan darah di bawah kakinya. Darah siapa lagi kalau bukan darah Meng Pei Yun.
Pemilik darah itu masih bergelantung di tangannya, karena sudah tak memiliki kaki lagi.
Dengan wajah pucat akibat darah yang terus berkurang, wanita itu masih sempat menyemburkan kalimat permusuhan kepada Ryura tepat didepan wajah gadis itu.
"Buruk! Kau terlalu buruk untuk Ye Zi Xian! Kekejaman mu yang tidak berperasaan itu tidak cocok untuk Ye Zi Xian! Aku tidak tahu dimana Ye Zi Xian menemukan gadis mengerikan seperti mu! Kau sama sekali tidak pantas untuk Zi Xian-ku! ..." cerocosan yang berputar-putar dari mulut Meng Pei Yun tiba-tiba disela oleh Ryura yang kali ini terdapat kilatan mengejek dimatanya walau samar.
"Kau..." Ryura tak membiarkan mulut busuk itu untuk berbicara lagi.
"Ye Zi Xian itu milikku! Dia harus tahu apa yang baik untuknya saat dia berani mengklaim aku sebagai miliknya! Jadi, bila dalam situasi ini dia masih berpikir untuk membela mu. Aku hanya perlu membantunya mengirim dia dan kau ke neraka!" tandasnya dengan nada suara yang normal. Seandainya yang dikatakan bukan hal mengerikan seperti itu, orang tidak akan ketakutan mendengarnya.
Nada suara dengan isi kalimatnya benar-benar tidak selaras.
Ini juga berlaku untuk Meng Pei Yun yang sudah diambang kematian. Sama sekali tidak menyangka kalau Ryura adalah sosok seperti itu. Awalnya, dia pikir Ryura sama seperti gadis lainnya saat bertemu pria luar biasa seperti Ye Zi Xian, siapa yang menduga kalau Ryura juga bisa kejam kepada pasangannya sendiri.
Beruntungnya, Ye Zi Xian tidak mendengar apa yang keduanya bicarakan saat ini.
"K...kau... Bagaimana bisa..." gumam Meng Pei Yun tak percaya dengan suara terbata-bata.
Ryura yang melihat reaksi lawannya yang sudah ia taklukkan akhirnya mau menunjukkan seringai puasnya yang langka tanpa menjawab, sebelum kembali ke wajahnya yang datar dan kosong tanpa ekspresi seolah-olah seringai barusan hanya ilusi.
Meng Pei Yun yang mulai kehilangan kesadarannya malah masih sempat melamunkan hal lain sehingga membuatnya tidak tahu bagaimana cara dia mati.
Ternyata, saat wanita itu melamun lantas Ryura langsung melakukan serangan terakhirnya dengan menebas leher lawannya tanpa basa-basi.
Craash...!
Orang-orang yang menyaksikan itu tidak bisa bila tidak membelalakkan mata mereka saking terkejutnya dan hal itu pulalah yang sukses membangkitkan raungan amarah dari keluarga Meng.
Ryura yang berdiri membelakangi hanya menoleh sedikit tanpa benar-benar melihat situasi dibelakangnya. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan amarah orang lain. Yang dia tahu, bila ada yang mengusiknya dia harus segera mengakhirinya. Sama seperti saat ini, entah itu Meng Pei Yun ataupun keluarganya. Karena, mereka sudah berhasil mengusiknya maka tinggal habisi semuanya.
Kini, tak hanya ayah dan kakak tertua Meng saja yang maju. Kerabat Meng yang juga hadir pun ikut maju untuk menyerang balik dan itu berhasil membuat Reychu kewalahan hingga Rayan yang melihatnya pun turun tangan untuk membantu.
__ADS_1
Gluduk!
Kepala Meng Pei Yun yang masih dipegangnya langsung dibuang begitu saja secara serampangan, seperti kepala itu bukanlah kepala manusia. Baru kemudian, Ryura membalikkan badannya dan melihat bagaimana situasi kacau saat ini yang tengah dihadapi oleh dua sahabatnya.
Dia masih diam menyaksikan itu. Seperti tengah menunggu waktu yang tepat untuk maju.
"PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH ANAKKU! BAJ*NGAN! KAU PEMBUNUH!" amuk sang ayah karena tak terima putrinya mati dengan cara seperti ini. "KALIAN KELUARGA YE! KENAPA DIAM SAJA?! DIA TELAH MEMBUNUH MENANTU KELUARGA YE KALIAN! DIA MEMBUNUH PUTRIKU! PUTRI KESAYANGAN KU!" ayah Meng benar-benar menggila.
Tapi, Tetua Ye dengan tidak berperasaan justru mengatakan. "Kupikir kau tidak tuli, Tuan Meng! Putrimu sudah melakukan kesalahan yang tidak seharusnya dia lakukan selama dia menjadi bagian dari keluarga Ye ku! Sebagai orang luar yang masuk kedalam keluarga Ye, dia harus tahu apa yang boleh dan tidak, apa yang pantas dan tidak untuk dilakukan! Sayangnya, putrimu memilih untuk melanggar. Ini keluarga Ye! Apa aku pernah bilang bila keluarga Ye adalah keluarga yang baik?! Bukankah semua orang tahu itu?!" cecarnya dengan pertanyaan yang memiliki arti yang luas.
Ayah Meng tertegun mendengarnya. Ia jelas akan hal itu. Klan Ye memang terkenal sebagai keluarga yang harmonis. Tapi, bukan berarti keharmonisan itu didapat dengan jujur. Ada banyak pengekangan didalamnya yang ditahan hanya demi sebuah reputasi. Itulah sebabnya, ada untung dan rugi bila menjadi bagian dari keluarga Ye mereka.
Untung, karena tidak akan menghadapi perselisihan, persaingan, permusuhan, dan lain sebagainya.
Rugi, karena tidak bisa benar-benar bebas bertindak. Segalanya terhalang aturan keluarga yang kelewat mengekang.
"TAPI, BAGAIMANA BISA KALIAN MEMBIARKAN ORANG LUAR ITU MENYAKITI BAHKAN SAMPAI MEMBUNUH PUTRIKU? MENANTU KALIAN! DIA HANYA ORANG LUAR! DIA BUKAN BAGIAN DARI KLAN!" lagi, ayah Meng mengamuk bercampur frustrasi memikirkan kemelut yang terjadi.
Otaknya hampir tidak bisa berfungsi lagi.
"Sejak dia diketahui sebagai takdir yang dipilih oleh pedang pusaka Keluarga Ye. Dia bukan lagi orang luar!" dingin Ye Zi Xian kali ini yang menjawabnya. Meluruskan apa yang menurutnya perlu diluruskan.
Ia tak terima ketika ada orang yang mengatakan Ryura orang luar.
Ryura itu sudah menjadi miliknya!
"INI TIDAK ADIL! PUTRIKU SUDAH BERKORBAN BANYAK DALAM KELUARGA MU! INIKAH BALASAN YANG DIA DAPATKAN?!" ayah Meng masih tak bisa menerima kenyataan yang terjadi. "Seperti yang orang-orang tahu. Klan Ye benar-benar kejam! Putriku yang malang... Jangan khawatir, ayah akan membalasnya atas namamu! Mereka tidak bisa dibiarkan hidup setelah apa yang mereka lakukan padamu!" lanjutnya yang sukses membuat kening orang-orang dari Klan Ye mengernyit tidak senang.
"Oho! Kepala keluarga Meng benar-benar pandai berbicara! Haruskah aku mengulanginya lagi, apa saja kesalahan yang dilakukan putrimu dalam masalah ini?!" tajam Tetua Ye tidak tahan mendengar kalimat yang diputar balikkan faktanya oleh besannya.
Atau haruskah kali ini dia menyebutkannya mantan besan?
"Seandainya saja dia hanya memendam perasaan terlarang itu pada Ye Zi Xian. Aku masih bisa menghukumnya dengan mengasingkan dia untuk beberapa tahun agar dia memiliki waktu untuk membersihkan pikirannya atas kesalahan yang dia lakukan. Tapi, lihat sekarang! Dia tidak hanya memiliki perasaan terlarang itu, tapi juga berani untuk mencoba membunuh takdir yang sudah dipilihkan oleh pedang pusaka Keluarga Ye untuk Ye Zi Xian. Ditambah lagi, dia berani berhubungan dengan organisasi pembunuh bayaran. Dan ini tidak bisa lagi diterima!" terang Tetua Ye keras. "Seperti yang kau katakan tadi... Klan Ye-ku benar-benar kejam!" tandasnya dengan penuh makna.
Wajah ayah Meng tidak hanya memerah tapi juga menggelap. Amarah, kebencian, rasa tidak terima, dendam, semua bercampur menjadi satu.
Dengan mata merah ayah Meng melayangkan tatapan membunuhnya. "Aku tidak peduli! Kalian harus mempertanggung jawabkan kematian putriku! KALIAN SEMUA HARUS MATI!" intonasinya meningkat tajam diakhir kalimat dengan menggila.
Sayangnya, detik berikutnya yang tak terduga terjadi...
Jleb!
"Oops! Maaf! Lemparan ku tepat sasaran!" celetuk Reychu dengan nada yang dibuat-buat seolah ia merasa bersalah telah memecahkan keterkejutan yang dilanda semua saksi mata. Dengan begitu, Reychu pun berhasil ditatap horor oleh orang-orang akibat tindakan gilanya.
"AYAH...!!!" teriakan kencang nan menggelegar dari kakak tertua Meng menggema disusul anggota keluarga lain yang tidak menyangka bahwa kepala keluarga mereka mati begitu saja dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ini terlalu... Mudah?!
Semua anggota keluarga Meng berusaha untuk menyelamatkan kepala keluarga mereka. Sayang sekali, pedang pendek milik Reychu terlalu tepat sasaran mengenai jantungnya.
Mereka tidak bisa menyelamatkannya. Mereka kehilangan kepala keluarga mereka.
"Gila!" celetuk Bai Min Wang dalam gumamannya, dia berkomentar atas apa yang dilihatnya.
"BERANINYA KAU MEMBUNUH AYAHKU!" pekik kakak tertua Meng sambil bergegas untuk menerjang Reychu yang justru menatap balik pria itu dengan tatapan lapar.
Ya, lapar akan membunuh lagi.
__ADS_1