
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Furby melalui telepatinya dengan suara bingung juga penasaran yang kental.
Karena, dia jelas tahu jenis mantra apa yang digunakan untuk membangun dinding pelindung yang baru saja mereka lewati, meski ini juga pertama kalinya ia melihatnya. Lalu, bagaimana Ryura bisa dengan mudah menembusnya? Ini menjadi tanda tanya besar dalam benak Furby.
Sorot matanya tak lepas dari Ryura yang tengah memandangi hamparan rumput hijau luas bagai padang. Layaknya dipagari, sebidang luas Padang rumput disana dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan terdapat buah menggantung diatasnya.
Benar-benar indah.
Ryura merasa bagai melihat dunia lain atau mudahnya seperti dunia dongeng. Dimana segalanya dibuat indah nan menakjubkan.
Kegiatannya membuatnya mengabaikan pertanyaan Furby. Ia tahu kebingungan dan kecemasannya namun tak berniat memberitahu.
"Ryura... Katakan padaku! I..i..ini tidak wajar. Kau tahu?! Bagaimana kalau apa yang kau lakukan tadi berdampak pada dinding pelindungnya. Aku tahu dan kau juga pasti tahu! Dinding pelindung ini bukan sembarang dinding pelindung. Butuh kekuatan besar untuk membuatnya. Sementara, kau... Kau baru saja menembusnya seperti kau menembus angin. Apalagi, kau membawaku." nada suaranya tersirat kecemasan yang kuat.
Suara itu tak juga membuat Ryura tersentuh.
Sudah tentu Furby bersikap begitu. Tempat itu adalah tanah asalnya. Kerabatnya berasa dari sana juga. Tidak bisa begitu saja ia membiarkan mereka dalam bahaya lagi. Terlebih setelah Kaisar Negara Bulan melindungi mereka. Ini lebih membuat ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada kerabat sesama Kuda Bulan.
"Kau mungkin tidak takut dan bahkan tidak peduli! Tapi, aku peduli dan aku takut sesuatu terjadi lagi pada yang lainnya seperti sebelumnya! Tolong mengertilah, Ryura!" tekanan pada kalimatnya jelas menunjukkan kemarahan yang menyelimuti kecemasan dalam hatinya. Tapi, dia masih berusaha untuk menahannya, sebab disudut hatinya terselip keyakinan bahwa Ryura tak akan melakukan sesuatu tanpa mengetahui baik-buruknya.
Hanya saja, saat ini ia tak bisa mengendalikan diri untuk tetap tenang. Ada sesuatu yang di pertaruhkan dan ia sangat tak ini sesuatu terjadi pada hal itu.
Ryura hanya diam memandang Furby yang terus mengeluarkan seluruh keluhannya, tak sedikitpun di sela oleh Ryura. Dia tetap santai dan tenang tanpa tersinggung ataupun merasa tersudut setelah secara tidak langsung Furby menyalahkannya.
Dada Furby kembang-kempis usai meluapkan emosinya yang campur aduk, tapi seketika itu juga ia tercengang dengan respon Ryura yang tenang. Sedikit, ada ketidaknyamanan dihatinya kala merasa kalau Ryura benar-benar tak menggunakan hati dalam menanggapi segala hal. Termasuk masalah dirinya yang sudah menjadi teman gadis itu. Sekilas pikiran buruk melintas.
"Apakah sebenarnya dia tak berarti apa-apa bagi Ryura?!" memikirkan itu ia merasa lebih tertekan. Sakit dihatinya tak bisa di jelaskan.
Furby juga tak bisa menahan kecewa walau sedikit.
Ryura bisa melihat arti dari tatapan itu, tapi gadis tak berekspresi tersebut masih tak juga berubah. Seolah tak peduli bila tak lagi ada yang percaya padanya.
"Ryura..." lirih Furby dengan wajah sendunya.
Setelah beberapa lama diam, Ryura pun angkat bicara. "Takkan terjadi apapun."
Mendengar itu, kilatan tak percaya melintas di mata Furby. "Kenapa kau seyakin itu?" nadanya rendah namun agak sarkas. Tetap dapat di bedakan walau melalui telepati.
"Hanya meminta izin masuk." jawaban tak terduga dicetuskan oleh Ryura sukses membuat Furby tercengang.
"Apa?!" jawaban yang tak terpikirkan oleh Furby.
__ADS_1
Mengalihkan pandangannya dari Furby lalu mengedarkan penglihatannya keseluruh Padang rumput yang indah didepannya.
"Kekuatan adalah termasuk jenis yang hidup." penjelasan singkat itu tak dilanjutkan lagi oleh Ryura, karena menurutnya itu cukup untuk dipahami -seharusnya- sehingga dia tak perlu berpanjang lebar.
Maknanya, Ryura hanya ingin mengatakan bahwa dia tak menggunakan kekuatan khusus atau apapun itu untuk bisa menembus dinding pelindung tersebut. Dia hanya saling bertukar kata secara singkat dengan kekuatan yang menciptakan dinding pelindung lalu meminta kekuatan tersebut untuk membiarkan dirinya dan Furby masuk.
Tak masuk akal memang. Namun, itulah kenyataannya. Ryura pada dasarnya tak memiliki kekuatan sehebat yang di pikirkan siapapun itu. Dia hanya bisa melakukan apapun yang ia ingin lakukan.
Kening Furby berkerut. Lantaran emosional dia jadi tidak dapat memahami maksud perkataan Ryura. Hingga ia harus mencerna lebih keras lagi untuk mengetahui apa hubungannya antara 'meminta izin' dan 'kekuatan itu jenis yang hidup'?!
Sementara Furby masih berpikir, Ryura sudah berjalan masuk lebih ke dalam seraya melihat-lihat keindahan alam yang ada disana.
Sampai matanya menangkap sesosok hitam besar yang gagah lainnya di bawah sebuah pohon tak jauh dari jarak pandang Ryura. Sosok itu jelas menyerupai Furby. Ini membuat Ryura yakin kalau itu merupakan salah satu Kuda Bulan lainnya yang sudah kembali ke asalnya dari pelarian.
Tak lama kemudian, Furby pun tersadar dari lamunannya yang penuh dengan cernaan kalimat Ryura yang menurutnya rumit untuk dipahami. Tanpa berpikir sedikitpun seandainya saja itu karena dia yang terlalu lamban dan bodoh. Kesadarannya kembali tepat saat mendengar seruan dari suara yang sangat ia kenali menggema dalam benaknya.
Segera setelah mengetahui siapa pemilik suara tersebut, Furby langsung melaju kencang agar dapat sampai dan melepas rindu, ia bahkan tak berpikir kalau Ryura sudah ada di sana yang dengan santainya memakan apel dari pohon besar di dibelakangnya. Apalagi terlihat sangat natural ketika dia dengan mudahnya beradaptasi dengan lingkungan baru.
Tetapi, hal itu tak membuat Furby lantas berbicara padanya. Karena saat ini, Furby masih menyalahkan Ryura.
Mereka tampak seperti benar-benar bertengkar. Walau kenyataannya sedikit banyaknya memang begitu adanya.
Mereka sedang bertengkar.
Itu hal biasa bagi setiap pertemanan.
Tapi, entah bertahan berapa lama pertengkaran antara mereka.
Di tempat lain, tampak seseorang berpakaian penjaga khusus melangkah cepat menuju sebuah bangunan yang di yakini sebagai ruang kerja junjungannya.
Tanpa menunggu lagi, ia segera menghadap. "Hormat hamba ini kepada Yang Mulia Kaisar Jung!" dia berlutut hormat dengan sebelah kakinya serta mengaitkan kedua tangannya sejajar dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
Mendengar sapaan dari penjaga khusus yang ia kerahkan untuk menjaga wilayah tersembunyi pun segera menghentikannya dari kegiatannya yang sedang membaca.
Bacaan apa itu, bicarakan Kaisar Jung yang tahu.
"Bangkitlah! Ada apa? Kenapa kau kesini?" tanya Kaisar Jung atau lengkapnya Jung Yang sang Kaisar Kerajaan Bulan. Nadanya terdengar tenang dan baik-baik saja.
Tapi, berikutnya...
__ADS_1
"Terima kasih, Yang Mulia!" jedanya. "Yang Mulia, hamba ini datang untuk melapor! Sesuatu telah terjadi pada dinding pelindungnya!"
"Apa? Tapi, bagaimana bisa...?" kaget Kaisar Jung begitu mendengar kabar tak terduga itu, terlebih mengingat ini sudah beberapa tahun berlalu tidak ada yang terjadi pada dinding pelindung yang mereka buat. Maka dari itu, kabar ini benar-benar mengejutkannya.
"Menurut pemantau yang anda tugaskan berkata, ini sedikit sulit dijelaskan. Karena, meski sesuatu itu benar terjadi. Tetapi, hal itu tidak berdampak serius pada dinding pelindung tersebut. Hanya saja, mereka menangkap aura yang sangat dikenali menembus dinding pelindung." jelas penjaga khusus itu tetap dengan nada hormat.
"Aura yang sangat dikenal menembus dinding pelindung? Lalu, aura apa itu?" tanya Kaisar Jung lagi tanpa melepaskan guratan cemas diwajahnya.
"Menurut perkiraan, itu seperti aura salah satu Kuda Bulan kita. Mereka berasumsi bahwa kemungkinan ada Kuda Bulan yang kembali dengan sendirinya." jawab penjaga khusus itu menjelaskan lagi.
"Benarkah itu? Kalau, begitu... Katakan pada mereka yang bertugas. Aku akan pergi melihat dan salah satu dari mereka akan pergi bersama ku." usai titah diturunkan, Kaisar Jung menoleh sedikit untuk berkata dengan tegas pada pria yang setia disebelahnya. "Kasim! Siapkan kuda! Aku akan pergi ke 'Padang Rumput Kehidupan'!"
"Baik, Yang Mulia! Segera dilaksanakan!" patuhnya lalu bergegas pergi untuk memenuhi tugas.
Setelah Kasim pergi, Kaisar Jung kembali berkata pada penjaga khusus yang masih berdiri didepannya. "Kau sudah bisa pergi... Dan pastikan titah ku terlaksana!" lugasnya membuat penjaga khusus itu dengan patuh berjanji akan menjalankan tugasnya, lalu memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Kaisar Jung didalam ruang kerjanya seorang diri.
Dalam kesendirian. "Aku harus melihat langsung siapa yang berhasil menembus dinding pelindung. Ini jelas tidak sederhana!" katanya sambil berpikir.
Klak!
Klak!
Klak!
Beberapa ekor kuda melaju cepat menembus melewati jalanan kecil nyaris tak terlihat yang ada di hutan. Karena ingin menuju hutan tersembunyi, jelas akan kesulitan ketika akan menuju kesana.
Disana sudah ada Kaisar Jung, pemantau yang disebutkan tadi, dan juga 5 pengawal pribadi yang bergerak dengan menunggang kuda pada posisi saling berurutan.
Kaisar ingin cepat sampai. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jelas ini tidak mudah, dinding pelindung yang dibuatnya bersama beberapa orang hebat yang ada di bawahnya memiliki tingkat kekokohan yang tinggi. Jadi, itu tidak akan bisa ditembus dengan begitu mudahnya termasuk untuk Kuda Bulan sendiri.
Pasti kekuatan hebat yang membuatnya mampu menembus dinding pelindung itu. Begitu pikir Kaisar Jung.
Sedang, di Padang Rumput Kehidupan sendiri sudah ada beberapa ekor Kuda Bulan yang muncul mengelilingi Furby. Hal itu membuat Furby tampak bahagia melihat kemunculan mereka sampai ia mengabaikan Ryura karena masih marah. Ia bahkan tak ambil pusing ketika sekilas pandang tak menemukan keberadaan Ryura disana.
Jujur, hatinya jadi masam mengetahui hal apa yang tengah mendera ditengah mereka. Tapi, dengan teguhnya Furby memilih acuh pada sahabat manusianya ini. Tanpa berpikir bahwa ia akan menyesalinya.
maaf menunggu lama. Thor lgi nyari inspirasi untuk kelanjutan ceritanya biar lebih baik lagi.,π
__ADS_1
ok Next time yeah...πππ