
Begitu gerbong kereta Kerajaan Es sampai di depan pintu masuk Kediaman Ye, Ye Xiao Nan langsung mengambil langkah seribu untuk menemukan kakaknya atau keluarganya karena suatu hal yang hanya diketahui olehnya perlu untuk diurus. Melihat itu, rombongan yang lain meski bingung mereka memilih untuk tidak mempertanyakannya. Bagaimanapun, yang membuat Ye Xiao Nan terburu-buru pastilah sesuatu yang bersifat pribadi.
Dan lagi, gadis itu sendiri tidak memberitahu mereka sehingga mereka menganggap bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang harus mereka ketahui.
Alhasil, disinilah mereka...
"Dimana Yang Mulia dan yang lain?" tanya Pangeran kedua Bai Fuwang datar kepada pelayan Kediaman Ye yang menyambut dia dan rombongan tanpa persiapan itu, wajahnya tanpa ekspresi.
Tidak berniat menyalahkan, karena memang mereka datang tanpa kabar.
"Menjawab Yang Mulia Pangeran kedua. Yang Mulia Kaisar Agung dan Tuan Muda Shin ada di paviliun tamu, sementara Tuan Ye sedang menghadap Tetua Ye." jawab sang pelayan lugas dengan hormat.
"Kalau begitu, antarkan aku ketempat Yang Mulia Kaisar Agung." pintanya dengan nada memerintah yang tidak terlalu kentara.
"Mari, Yang Mulia Pangeran kedua."
Kemudian sang pelayan pun memimpin jalan.
Pangeran kedua mengikutinya dari belakang, melihat itu yang lainnya pun ikut menyusul.
Sambil berjalan menuju paviliun tamu, Bai Min Wang mendekati kakak kekaisarannya dan berjalan disampingnya meninggalkan yang lain dibelakang.
Dia mulai bertindak bak penggosip ulung.
"Aneh. Bukankah semuanya memiliki kamar pribadi di paviliun yang sudah menjadi tempat kita bila ingin tinggal. Kenapa memilih paviliun tamu?!" dia bingung.
"Kakak kedua, kau tahu apa yang kudengar dari mulut ke mulut sedari tadi? Ini sungguh berita yang masih hangat di sini!" semburnya dengan begitu antusias.
Melirik sekilas dengan malas, tapi masih tetap bertanya. "Apa itu?"
"Tempo hari, terjadi insiden kematian. Err... Sulit dikatakan itu adalah insiden kematian. Mungkin bisa disebut, pembunuhan atau bunuh diri?! Hal ini masih dalam penyelidikan." terangnya atas kabar yang baru saja dia temukan sejak berjalan masuk ke Kediaman Ye ini.
"Ada yang seperti itu?" tanya sang kakak kedua kekaisaran lagi begitu menemukan ketertarikan pada apa yang dikatakan adiknya.
"Itu yang ku dengar. Untuk lebih jelasnya, kupikir kita bisa menanyakannya pada Kakak Kaisar." usulnya. "Aku cukup kaget mendengarnya, apalagi katanya korban yang tewas ada hubungannya dengan Nyonya Selir Meng Pei Yun. Semacam bawahannya?! Entahlah... Hanya saja, yang melakukan pembunuhan itu di duga adalah calon Nyonya Ye masa depan. Tapi, itu masihlah kabar yang simpang-siur. Belum diketahui kebenaran didalamnya. Karena itu, kedua belah pihak yang dicurigai masih dalam penyelidikan. Itu juga pada akhirnya ditangani langsung oleh Tuan Ye. Sebab itu, sejauh ini belum ada konfirmasi lain untuk meluruskan masalah ini." ungkapnya panjang lebar seperti apa yang ia dengar.
Kening Bai Fuwang berkerut dengan ekspresi berpikir. "Jika dihitung hari, pertemuan antara Tuan Ye dan takdirnya seharusnya belum lama. Tapi, berhubung dalam kasus Tuan Ye yang terpilih. Sudah jelas dia tak punya pilihan selain menerima pasangan yang dipilihkan oleh pedang pusaka."
"Benar! Tapi, dia tidak perlu terburu-buru untuk melakukan pernikahan secepat ini bila dia tidak menyukai gadis pilihan tersebut. Jadi, kemungkinan besar Tuan Ye menyukai gadis itu dan memilih untuk segera mengikatnya dalam ikatan pernikahan. Hanya saja, apa yang dilakukan Nyonya Selir Meng dengan melakukan konspirasi seperti ini? Tidak mungkin bawahannya melakukan sesuatu tanpa perintahnya bukan? Kurasa itulah yang membuat Xiao Nan terburu-buru. Hmmm..." logika Bai Min Wang dalam mode detektif, dia mengelus dagunya dengan ekspresi berpikir keras seolah-olah dia adalah orang yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan kasus ini.
"Sudah. Tidak perlu dipusingkan. Nanti kita juga akan mengetahuinya." Pangeran ketiga mengangguk setuju dan dengan patuh menurut untuk menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Sebenarnya, tak hanya kedua pangeran tersebut yang tengah membicarakan masalah ini. Yang lainnya pun melakukannya.
Mereka semua mengisi perjalanan mereka menuju paviliun tamu dengan gosip yang mereka temukan. Meskipun beberapa diantara mereka adalah orang yang pendiam, berhubung masalah ini berkaitan dengan orang terdekat mereka. Mereka jadi tidak bisa hanya diam saja.
Paviliun Tamu.
Didalam sudah ada dua pasang kekasih. Disaat keduanya tengah menikmati pagi hanya indah, Min Hwan muncul membawa kabar.
"Tuan Muda Shin... Yang Mulia... Para pangeran dan putri sedang menuju kemari." lapornya.
Menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar hal tersebut. "Aku tidak sadar waktu begitu cepat berlalu." celetuk Shin Mo Lan menanggapi kabar itu. Dia baru sadar kalau mereka sudah melewati banyak hari bersama hingga sampai detik ini. Sayang sekali, dia melupakannya karena terlalu larut dalam kebersamaan dengan pujaan hati.
Itu juga yang dirasakan oleh kedua sahabatnya.
"Biarkan mereka datang." jawab Kaisar Agung Bai santai. Merasa ini juga bisa menjadi waktu yang baik untuk memperkenalkan Reychu kepada keluarganya.
"Pangeran dan putri?" ulang Rayan ingin memastikan kalau ia tak salah dengar.
Dia begitu, bukan karena tidak menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat, hanya saja tak ada kabar dari yang dimaksud Kaisar dengan 'mereka' sehingga Rayan dan lainnya tidak memiliki kesempatan untuk menyiapkan sesuatu yang lebih pantas.
Dia, Rayan bukan Reychu ataupun Ryura. Dia yang paling normal dari yang lain. Itulah sebabnya, dia cukup bisa mengikuti kebiasaan hidup di dunia ini.
Rayan mengangguk tanda mengerti.
Dia jelas tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah begini. Jadi, dia hanya bisa menunggu dan melihat apa yang bisa dia lakukan untuk memperlakukan mereka.
Sama seperti Rayan, Reychu pun mempertanyakannya. "Pangeran dan putri... Berapa banyak yang kau punya?" bila yang ditanyai tidak mengenal sosok Reychu, pertanyaan tersebut akan menjadi sangat ambigu.
Sambil merapatkan tubuhnya dengan Reychu, Kaisar Agung Bai menjawab. "Ada enam dan tujuh bersamaku. Dua diantaranya adalah perempuan. Kuharap kau bisa berbaur dengan mereka." harap Kaisar Agung Bai jelas agar hubungannya dengan Reychu berjalan lancar.
"Tentu. Tidak sulit bagiku untuk berbaur dengan orang baru. Aku justru mempertanyakan, akankah mereka bisa berbaur dengan ku? Jadi, kita akan lihat nanti. Aku juga penasaran. Haha..." balasnya teramat santai.
Baik Shin Mo Lan maupun Kaisar Agung Bai Gikwang, tidak berpikir kalau ada diantara rombongan kerajaan yang tidak dia sebutkan turut hadir nanti.
Rayan yang mendengarnya hanya bisa mengernyitkan kening. Dia tidak akan pernah berpikir kalau Reychu dapat menggunakan cara normal. Tapi, dia masih mengharapkan hal itu terjadi. Bagaimanapun ini juga demi keberlangsungan hubungan asmara antara Reychu dan Kaisar Agung Bai.
Mereka pun berbincang mesra sesama pasangan masing-masing sembari menunggu kedatangan rombongan keluarga kerajaan beserta yang lain dalam beberapa saat lagi.
Hingga, yang dinantikan pun tiba.
__ADS_1
Satu persatu mereka masuk dengan diawali oleh Bai Fuwang dan Bai Min Wang menyusul dibelakangnya diikuti oleh yang lainnya.
Para lelaki masuk lebih dulu disusul para perempuan.
Semuanya benar-benar tampak mengesankan. Terutama bagi Rayan. Mata gadis itu sampai terbelalak kagum melihat banyak lagi pria tampan berdatangan.
Baginya yang menyukai keindahan sungguh tak bisa melewatkan momen yang satu ini. Namun, sepertinya dia harus mulai belajar menahan diri dari sekarang sebab pria tampan disampingnya sudah memancarkan hawa kecemburuan yang sulit dibendung. Apalagi saat kedua matanya melihat sendiri bagaimana sang kekasih menatap penuh kagum kepada para pria yang datang.
Ini dilema.
Dia marah pada dirinya sendiri karena lupa mempertimbangkan fakta bahwa adik-adik sahabatnya memiliki rupa yang menawan. Dia juga marah pada para pria itu karena berani muncul dihadapan Rayan-nya, meski jelas itu terdengar tidak masuk akal. Tapi, dia juga kesal melihat Rayan yang begitu terpesona pada keindahan.
Sayangnya, dia Rayan. Pujaan hatinya. Dia tak bisa marah padanya... Ini membuat dirinya benar-benar frustrasi!
Tak ada pilihan lain, segera pandangan Rayan menjadi gelap sebab sebuah tangan besar yang kuat menutup matanya hingga menghalangi penglihatannya. Tapi, itu memberinya sebuah tanda kalau saat ini Shin Mo Lan sedang tidak senang dan tampaknya dia tahu apa yang mendasari ketidaksenangannya. Jadi, dia memilih patuh walau agak menyayangkan kesempatan yang datang, hanya saja dia juga tak bisa berbuat apa-apa demi prianya.
Tak apa, sebagai kekasih pengertian dia harus memahami hal ini. Tidak baik meributkannya apalagi untuk masalah sepele seperti ini.
Jadi, dia diam saja dengan mata tertutup tangan besar Shin Mo Lan dan membiarkan kekasihnya tenang.
Dan benar saja, Shin Mo Lan mendapati Rayan mengerti tindakannya, kecemburuannya segera lenyap tak tersisa. Tapi, dia masih tidak bisa membiarkan Rayan menatap mereka jadi dia tetap mempertahankan tangannya guna menghalangi pandangan Rayan dari pemicu kecemburuannya.
Tindakannya ini dipandang aneh oleh sebagian dari mereka, kecuali Bai Min Wang, si tebar pesona.
Sebuah tebakan muncul dibenaknya.
Dia menyipitkan matanya seolah memahami sesuatu melihat tingkah sahabat kakak Kaisar-nya itu.
Tapi, dia tidak langsung menyerbu. Dia akan menunggu sedikit lagi untuk dapat menggoda Tuan Muda Shin.
"Salam, Yang Mulia Kaisar Agung! Salam, Tuan Muda Shin!/Salam, kakak Kekaisaran! Salam Tuan Muda Shin!" sapa mereka dengan sebutan masing-masing, tak lupa gestur hormat mereka pada Kaisar Agung Bai.
Kaisar Agung Bai melambaikan tangannya memberi isyarat bahwa dia menerima sapaan mereka.
"Min Hwan, siapkan kursi lagi." perintah Shin Mo Lan pada orang kepercayaannya yang segera dilaksanakan.
Akhirnya, semuanya telah duduk dengan baik di kursi mereka masing-masing dengan Rayan Reychu di tengah-tengah Shin Mo Lan dan Kaisar Agung Bai. Disebelah Kaisar Agung duduk adik-adiknya dan disebelah Shin Mo Lan juga duduk adiknya. Sementara antara adik Kaisar Agung dan Shin Mo Lan kenalan dekat mereka turut bergabung.
Kini meja bundar itu penuh sesak, tapi terlihat harmonis.
Hanya saja, disadari atau tidak ada setitik ketidaksenangan disana yang sangat samar hingga tak bisa dirasakan.
__ADS_1
Up lagi