
Wush!
Ryura menghindar tepat pada waktunya dengan melompat kesamping sedikit memutarkan tubuhnya dan mendarat sempurna tanpa cela. Sedang pedang itu nyaris mengenai kepala Furby bila saja ia tak menundukkan kepalanya.
Saat dirasa tidak kena, diambilnya beberapa langkah mundur hingga Furby tampak menepi sedikit.
"Bila sehelai rambutku terpotong, nyawamu jadi taruhannya!" sarkas Furby dalam hatinya.
Melihat yang baru saja terjadi semakin mengobarkan amarah Han Fei Rong. Sebenarnya ia tak ingin percaya kalau gadis bodoh itu mampu mengelak dari serangannya, tapi yang terlihat didepan matanya bukanlah sebuah halusinasi. Ryura sudah mampu sekarang.
"Si*lan!" umpatnya pelan lalu secepat kilat ia pun turun dari kudanya dan akan kembali menyerang Ryura. Melihat Ryura yang hanya tangan kosong, itu membuatnya berasumsi kalau gadis itu hanya beruntung tadi saat menghindari tebasan pedangnya, karena pastilah ia tak memiliki keahlian apapun apalagi dalam berpedang.
Seringai kemenangan terukir di bibirnya, Ryura yang melihat itu hanya menelengkan sedikit kepalanya lalu di lirik tangannya sekilas. Saat itu ia tahu, ia tak memegang apapun untuk dijadikan senjata.
"Aku akan memastikan kau mati hari ini juga, Han Ryura!" ucap Han Fei Rong lantang sembari kembali berlari untuk menyerang sepupunya itu, tapi Ryura tak bergeming dan tetap dalam diamnya.
Orang-orang bahkan anggota Keluarga Han yang ada disana pun dibuat tegang. Pertarungan ini baru saja dimulai namun hawanya sudah amat terasa. Mungkin karena itu adalah pertarungan sedarah. Kebanyakan dari orang-orang disana gemetar sendiri karena takut tapi juga sangat penasaran, mereka menantikan apa yang akan kedua saudara itu lakukan, terutama Ryura. Gadis itu paling banyak menarik perhatian karena ketenangannya. Membuat orang lain bertanya-tanya, apakah ia baik-baik saja?!
Ryura mungkin tampak diam, tapi tidak dengan otaknya. Dilihatnya Fei Rong berlari kearahnya dengan pedang yang siap untuk kembali dilayangkan kepadanya saat itu juga Ryura menoleh. Ia tentu tak ingin ambil pusing pada keadaannya yang tak membawa apa-apa, tapi ia masih mampu untuk menggunakan apapun sebagai alat perlindungannya.
Tepat ketika ia menoleh, matanya langsung menangkap gulungan kain satin berwarna hijau muda di antara gulungan kain lainnya juga beberapa aksesoris yang menunjukkan kalau itu adalah tempat pedagang menjual kain, bahkan penjualnya masih ada disana walaupun tampak sedikit menepi demi keselamatannya.
Tanpa pikir panjang diambilnya gulungan kain itu bersamaan dengan dilemparnya beberapa keping tael perak dengan tangan lainnya.
Melihat tael perak yang di lempar, si penjual langsung melupakan keselamatannya. Ia bergerak untuk memungutnya dengan senang. Bersamaan dengan itu Ryura menggunakan instingnya bergerak jongkok karena saat itu juga sebuah mata pedang melintas di atasnya. Jika saja ia berdiri maka posisi mata pedang itu tepat di lehernya.
Tanpa melihat kebelakang, Ryura bergerak cepat melarikan diri untuk menghindar lalu mengambil jarak aman dengan lawannya. Bukannya takut, itu hanya salah satu bentuk penjagaan diri.
Kini Ryura berdiri di sisi lain yang di lapangkan oleh para penduduk disana dengan tangan kirinya masih memegang gulungan kain yang ia beli tadi. Dia menghadap Han Fei Rong.
Sementara Han Fei Rong lagi-lagi mengumpat dalam hati saat kembali melihat bagaimana lihainya Ryura menghindar dari serangannya.
Nafas pemuda itu memburu, wajahnya sudah merah padam. Ia amat marah kala beberapa serangan darinya tidak kunjung melukai gadis yang telah membunuh ayahnya.
"BERHENTI MENGHINDAR, SI*LAN! TUNJUKKAN PADAKU KEBERANIANMU YANG SEBELUMNYA, SAAT KAU DENGAN TAK BERPERASAANNYA MEMBUNUH AYAHKU!" teriak Han Fei Rong yang entah keberapa kalinya. Ryura tak menjawab satu katapun, gadis itu hanya diam dalam keheningannya sendiri dengan tetap memandang Han Fei Rong lurus.
Matanya semakin membesar seperti akan keluar dari tempatnya. Ryura tak menjawab perkataannya dan itu jadi suatu penghinaan baginya. Ia jadi merasa bodoh sendiri karena bertindak layaknya orang gila sementara gadis datar itu tak menunjukkan tanda-tanda apapun, bahkan ia tak tahu bagaimana cara mengartikan setiap tindak-tanduknya seorang Ryura yang sekarang.
"JANGAN HANYA DIAM BOD*H! AKU TIDAK SEDANG BERBICARA DENGAN PATUNG! BRENGS*K!" lagi, Han Fei Rong berteriak memakinya.
Orang-orang yang mendengarnya dibuat was-was, takut kalau tiba-tiba pita suara pemuda yang sedang kalap itu putus.
"Berhenti saja!" akhirnya dua kata singkat itu keluar dari mulut Ryura tanpa mengubah raut wajahnya yang datar namun sialnya tetap manis dipandang.
"Apa?! Berhenti?! Setelah apa yang kau lakukan pada keluarga ku, kau minta aku berhenti?! Bermimpilah! Karena aku tidak akan sudi melakukannya!" bantah Han Fei Rong hanya membuat Ryura menatapnya sulit.
"Dasar bod*h! Ryura sedang berbaik hati padamu. Tapi, kau memilih untuk mengabaikannya. Maka coba kita lihat, apa yang akan terjadi setelah ini..." batin Furby sembari menatap fokus pertarungan yang terjadi pada sahabat manusianya.
Karena sepertinya tidak ada cara untuk menghentikan pertarungan kali ini, Ryura pun memilih mengikutinya saja. Ia juga tidak akan segan bila harus menghabisi lawannya lagi. Tak peduli bila itu berasal dari keluarga si pemilik tubuh.
Pegangannya pada gulungan itu melonggar dan hanya memegang ujung kain satin tersebut, akibatnya sebagian kain yang tidak ikut dipegang jatuh seketika hingga teronggok tepat di dekat kakinya.
Semua orang yang melihatnya tengah menantikan apa yang akan dilakukan Ryura dengan kain panjang tersebut.
"Kau yang minta!" tukasnya datar namun dalam. Yang mendengarnya tak ayal bergidik ngeri.
Wajah imut itu memberengut kesal malah semakin imut saja. Di sampingnya ada seorang pria bertopeng yang malah terkekeh kecil kala melihat ekspresi lucu nan menggemaskan dari wajah sahabat manusianya.
Mereka adalah Rayan dan Ruobin.
__ADS_1
"Huh! Ini yang aku kesalkan dari mereka berdua! Selalu aku yang ditinggalkan! Apa tidak bisa membangunkanku dulu baru pergi?! Aku seperti istri yang di tinggal pergi suaminya setelah malam pertama! Miris sekali!" gerutu Rayan tak ada hentinya.
"Pfft!" di palingkan wajahnya sembari menahan tawa yang ingin pecah. Ia benar-benar merasa sahabat manusianya ini amat lucu. Ia persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Rayan mendelik tajam kearah Ruobin, saat ia mendengar sesuatu dari pria tampan itu. Ia tahu, Ruobin sedang menertawakannya sekarang.
"Kau tertawa?!" kesalnya sejurus kemudian ia mencubit kuat lengan atas pria itu lalu memukulnya bertubi-tubi.
Mendapati serangan tersebut, bukannya mengaduh sakit Ruobin justru melepaskan tawanya.
"Hahahaha... Ya, kau lucu... Seharusnya kau lihat betapa menggemaskannya rupamu saat kau marah. Hahaha..." jujurnya sembari berusaha menangkap tangan-tangan Rayan guna menahannya agar berhenti memukulnya.
Saat ini mereka tengah berjalan beriringan keluar dari penginapan, setelah sebelumnya berpamitan terlebih dulu pada Duan Xi yang tampak frustrasi karena tahu ia kembali di abaikan oleh muridnya, Ryura. Merasa tak enak hati, membuat Rayan meminta maaf atas nama sahabatnya.
Sekarang disinilah mereka. Bokong gadis imut itu sudah lebih baik walau masih terasa nyeri. Tapi, setidaknya masih bisa ia tahan. Karena itu ia memilih meninggalkan penginapan tersebut, bagaimanapun Rayan masih harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga si pemilik tubuh.
Tapi, sebelum itu...
Rencananya Rayan dan Ruobin akan mencari sarapan berhubung hari masih terbilang pagi walau tidak pagi sekali. Akan tetapi, sesuatu membuat keduanya mengurungkan niatnya untuk makan. Itu karena mata mereka menangkap keramaian di jalanan ibukota. Mulai bertanya-tanya, ada apakah gerangan...
Berhubung tidak memiliki kelebihan seperti Ryura, jadilah ia menyikut lengan Ruobin dan berkata. "Coba kau lihat, ada apa di sana ramai-ramai?! Apa ada semacam perayaan?!"
Diliriknya sekilas gadis disampingnya kemudian beralih menatap kerumunan orang. Saat itu juga ia menggunakan kemampuan penglihatannya, detik berikutnya kening Ruobin berkerut tajam. Tanpa berkata lagi ditariknya tangan Rayan untuk mengikutinya membuat gadis itu sempat terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Setelah aksi menerobos kerumunan, akhirnya merekapun berada di depan dan dapat dengan mudah melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rayan yng melihat itu dibuat terkejut sampai matanya terbelalak lebar.
"Ruobin! Itu Ryura!" tunjuk Rayan kaget saat melihat sahabatnya ada di tengah-tengah jalan yang di beri ruang oleh orang-orang.
"Iya! Itulah kenapa kita disini!" tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan tersebut.
Saat itu mereka sempat mendengar Ryura meminta pemuda didepannya berhenti, tapi malah tidak di pedulikan.
Melihat itu Rayan mengumpat dan memaki pemuda itu. "Dasar bod*h! Seharusnya ia mendengarkan apa yang Ryura katakan! Benar-benar cari mati! Apa dia pikir pedang itu bisa membunuh Ryura! Bahkan Ryura bisa membunuhnya hanya dengan setangkai ranting kayu! Dasar pria bod*h!"
Rayan mengangguk membenarkan. "Eum... Ryura itu gadis yang bisa dikatakan muda tapi juga sulit." kini Rayan mulai serius, terlebih saat melihat pertarungan didepannya yang sepertinya tidak main-main. "Demi keselamatan diri dari gadis sepertinya, kau hanya perlu untuk tidak pernah mengusiknya sampai batas toleransinya. Dengan begitu kau akan aman. Tapi... Bila dalam keadaan seperti ini. Saat dimana Ryura sudah mengeluarkan kata yang mengandung kesempatan untuk berdamai, maka jangan sekali-kali mengabaikannya. Atau kau akan menyesal!" ungkapnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pertarungan tersebut.
Ruobin yang mendengarnya segera menoleh guna melihat kearah gadis tak berekspresi itu. Dapat ia lihat bagaimana tenangnya dia, namun entah apa yang akan dilakukan Ryura selanjutnya...
Di tempat lain...
Tiga orang gadis berbeda usia beserta tiga pelayan mereka masing-masing tengah berjalan menyusuri jalanan ibukota. Mereka disana bukan untuk untuk berbelanja atau apapun yang biasa Nona Muda lakukan guna mengisi waktu luang. Akan tetapi, mereka mendapat perintah langsung dari Tuan Besar yakni kakek mereka untuk mencari seorang gadis yang paling di benci seluruh keluarga, kecuali ayah gadis itu.
Mereka adalah Yu Ming Luo, Yu Mei Lin, dan Yu Ran Ran bersama pelayan mereka yang berjalan tepat di belakang mereka.
"Aku tidak mengerti, kenapa kakek meminta kita juga ikut mencari anak haram itu? Bukankah bisa memerintahkan para pengawal saja?! Menyusahkan saja! Anak haram itu juga kenapa pakai acara kabur lagi! Dasar lemah! Baru mendapat hukuman seperti itu saja dia pakai hilang lagi!" omelan Yu Mei Lin yang terus menggerutu tentang hilangnya Rayan usai hukuman selesai mengisi di sepanjang mereka berjalan.
Seluruh keluarga tidak tahu kalau Rayan di selamatkan, mereka hanya tahu mereka telah menghukum Rayan kemudian di tempatkan kembali ke gubuk jerami yang selama ini menjadi kamar tidur Yu Rayan, tanpa tahu kalau semua itu adalah ulah Ruobin yang memberi mereka serangan ilusi dengan skenario yang cukup dipikirkan oleh Ruobin.
Baru pagi tadi mereka kembali mengecek keadaan Rayan, tapi alangkah terkejutnya mereka saat tahu kalau anak haram itu tidak ada di sana. Alhasil, disinilah ketiga gadis dari Keluarga Yu berada setelah mendapat perintah untuk mencari Yu Rayan.
"Mei Lin, lebih baik kau diam saja. Sejak tadi yang kau katakan hanya seputaran itu saja. Apa kau tidak sadar kalau itu bisa memecah konsentrasi yang lain dalam mencari keberadaan anak haram itu!" kesal Yu Ming Luo pada adiknya. Yu Mei Lin cemberut mendengarnya.
Sedang Yu Ran Ran hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua kakak-beradik itu.
"Yang kalian katakan itu ada benarnya. Entah apa alasan kakek meminta kita semua untuk mencari keberadaan anak haram itu padahal masih ada para bawahan yang bisa di perintah. Tapi, yang kak Ming Luo katakan juga tidak salah. Kita sedang mencari seseorang, akan sangat sulit kalau konsentrasi kita terpecah." serunya membenarkan perkataan saudari sepupunya.
"Bukankah terdengar aneh saat kau menyebutnya anak haram padahal kau dan dia memiliki ayah yang sama." celetuk Yu Mei Lin seraya melirik dengan rasa ingin tahu.
Kening Yu Ran Ran mengernyit tidak suka. "Jangan katakan itu, sepupu. Kau tidak tahu saja betapa aku merasa terhina karena kami ini saudari kandung walau dari ibu yang berbeda. Mungkin jika saja ia bukanlah anak haram, aku bisa menjadi saudari yang baik untuknya." terangnya.
__ADS_1
"Kau benar. Tapi, sayangnya itu tidak mungkin terjadi. Hahaha..." katanya dan tertawa ringan kemudian yang hanya di balas kekehan dari dua gadis lainnya.
Di sela-sela perjalanan mereka, lambat-laun terdengar suara-suara yang seperti sedang membicarakan tentang suatu hal. Tapi, mereka belum mendengarnya dengan jelas.
Sifat penasarannya Yu Mei Lin bangkit seketika. Tanpa berpikir dua kali iapun segera bertanya pada orang-orang disana yang entah mengapa berkerumun hingga menutupi akses salah satu jalanan di ibukota.
"Permisi, saya ingin bertanya. Ada apa sebenarnya ini? Mengapa ramai sekali." kedua saudarinya hanya mengikuti saja tapi tak urung kalau mereka juga penasaran.
Salah seorang ibu-ibu yang ditanyai pun menoleh ke arah Yu Mei Lin, lalu menjawab. "Oh, itu... Kemarin itu 'kan hari kematiannya Tuan Han Xi Lin dari Keluarga Han. Jadi, hari ini upacara pemakaman akan di laksanakan. Tapi, di jalan itu..." sambil menunjuk jalan yang di padati oleh orang-orang. "Mereka bertemu dengan pelaku pembunuhannya." lanjutnya.
"Oh, ya aku sudah dengar soal itu." sahut Yu Ran Ran.
"Kau sudah tahu?" tanya Yu Ming Luo kaget, pasalnya ia belum mengetahui kabar tersebut karena ada hal penting lainnya. Ia tahu siapa itu Han Xi Lin. Tuan pertama Keluarga Han itu adalah ayah kekasihnya, Han Fei Rong.
Kecemasan pun merayap masuk kedalam hatinya, tapi berusaha ia tutupi. Karena pada dasarnya belum ada yang mengetahui tentang hubungan mereka.
Yu Ran Ran mengangguk. Kemudian mengambil alih untuk bertanya kembali. "Ku dengar yang menjadi pelakunya itu adalah putri bungsu keluarga tersebut, benar 'kan?" Ibu-ibu itu segera mengiyakan.
"Benar. Dan sekarang mereka sedang melangsungkan pertarungan di jalan itu." ungkapnya yang mengejutkan ketiganya.
"Benarkah?!" kali ini Yu Ming Luo tak bisa lagi menutupi kecemasannya sampai membuat kedua saudarinya memandang dia bingung, terlebih ketika Yu Ming Luo mengambil langkah seribu untuk menuju kerumunan orang di sana. Ia pun tak ayal memaksakan diri guna menerobos masuk untuk mengambil tempat paling depan, agar ia tahu yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kenapa dengan kakak mu, Mei Lin?" tanya Yu Ran Ran.
"Tidak tahu!" jawab Yu Mei Lin sembari menggelengkan kepalanya. "Kita susul saja." sambungnya dan kemudian mengejar sang kakak yang sudah masuk kedalam kerumunan orang-orang tersebut.
Mulutnya dibekap sendiri oleh kedua tangannya. Matanya membelalak tak percaya dengan yang dilihatnya.
Disana bisa ia lihat orang yang di cintainya tampak mengamuk pada seorang gadis yang kata orang-orang disekitarnya, kalau gadis berwajah datar itu adalah pelakunya.
Jujur saja ia tak yakin apakah harus mempercayainya atau tidak. Tapi, melihat bagaimana gadis itu mampu mengimbangi serangan kekasihnya yang ia tahu terbilang hebat. Membuatnya tak punya alasan untuk tidak percaya.
Melihat pertarungan yang berlangsung didepannya, benar-benar membuat sekujur tubuhnya melemas. Otaknya jadi tidak bisa berpikir jernih selain dugaan-dugaan negatif yang melintas di benaknya. Rasa takut menyerangnya begitu saja hingga membuat air matanya menggenang di pelupuk matanya yang kini telah memerah.
Tubuhnya bergetar karena cemas, takut, dan gelisah. Pikiran buruk yang memenuhi otaknya selalu berusaha ia tepis sampai membuatnya mengabaikan panggilan dari kedua saudarinya yang ternyata telah berada di sampingnya.
Kedua gadis itu menatap bingung saudarinya yang tampak kacau sambil menyaksikan pertarungan sengit yang masih berlangsung.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya keduanya tak mengerti.
assalamu'alaikum READERS kesayangan...
nih author kasih lagi. tapi. sepertinya gantung lagi... hahaha...
gk papa lah yaa.. biar kalian terus menantikan cerita author yang msih butuh banyak belajar ini...
π author masih buka Q&A nya yaaa... kalau kalian mau tanya2....
oh,ya kalau kalian berkenan sekalian mampir di IG-nya author, yaa...
*** @aziggnar.art.uc37 ***
author tunggu...
okai... sampai jumpa lagi di episode berikutnya...
wassalamu'alaikum...
__ADS_1
bai-bai...πππππππβΊοΈππ₯°πππ