3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENG RUONA: GAGAL


__ADS_3

Flashback on...


Mereka -3Ry- keluar lebih awal dari mall, karena Ryura ingin bergerak lebih dulu dengan alasan yang Reychu dan Rayan tidak tahu. Akan tetapi, sebagai sahabat yang tahu betul seperti apa Ryura itu, dua lainnya hanya diam mengikuti.


Meninggalkan mall, ketiganya segera mengambil mobil dengan Ryura yang menyetir.


"Kita mau kemana?" tanya Reychu yang tidak sabar. Entah mengapa, adrenalinnya serasa dipicu oleh sesuatu hingga bergetar dengan penuh semangat.


"..." Ryura diam seolah hanya ingin fokus pada berkendara. Itupun sudah biasa.


"Tidak usah bertanya, Rey. Kau juga akan tahu nanti setelah sampai." timpal Rayan yang menjawab.


"Tapi, aku tidak sabar!" sembur Reychu yang terlihat sekali bersemangatnya.


Rayan memutar matanya malas. "Yayaya... Tenanglah. Kau seperti tidak pernah begini saja." dengus Rayan yang jengah akan jiwa bersemangat Reychu bila sudah dihadapkan pada situasi dimana Ryura bergerak secara misterius.


Jiwa gila Reychu seperti sudah lebih dulu mendapatkan sinyal akan apa yang ingin Ryura lakukan.


"Kau tidak tahu saja. Ini tandanya kita akan melakukan sesuatu. Itu pasti! Iya kan, Ryu?!" balas Reychu tanpa peduli kalau perkataannya tidak dijawab oleh Ryura.


"Aku sangat menantikan hal itu! Kira-kira kapan, ya...!" Reychu menggosok kedua telapak tangannya sebagai tanda ketidaksabarannya.


"Jika benar begitu, apakah kita akan bermain dengan penampilan seperti ini?" tanya Rayan.


"Kenapa? Kau malu?" tanya Reychu atas sesuatu yang tidak mungkin Rayan lakukan.


Rayan menoleh dengan ekspresi tak terima. Dia protes. "Siapa yang kau bilang akan malu? Aku? Tidak mungkin! Seorang Rayan Monica tidak akan pernah menjadi pemalu..." tiba-tiba ekspresinya melembut disertai senyum manis genitnya, baru melanjutkan. "... Kecuali, didepan suami tercinta. Ouh!"


Rayan menggoyangkan bahunya bak gadis yang tengah bahagia mendapatkan surat cinta dari pujaan hatinya.


"Aku jadi merindukannya! Oh, suamiku! Tunggu aku pulang!" cetusnya yang langsung dibalas dengan tatapan bergidik ngeri oleh Reychu.


"Orang jatuh cinta memang gila!" celetuk Reychu yang membuat Rayan gedeg seketika.


"Seolah-olah kau tidak jatuh cinta pada si rambut merah mu itu! Huh!" nyinyir Rayan.


"Ooohh... Kami jatuh cinta dengan normal, ya. Malah, sepertinya kami menjadi pasangan paling normal yang pernah ada. Hm!" congkaknya Reychu tak cocok membuat bibir Rayan yang meliriknya berkedut tak bisa berkata-kata.


Bukan karena kehabisan kata-kata, tapi karena kedongkolannya yang memuncak. Jadi, daripada membuat mentalitasnya terganggu, Rayan memilih menghentikannya sekarang juga seraya dalam hati berseru.


"Orang normal mengalah! Orang normal mengalah! Orang normal mengalah! Orang normal mengalah!" begitu seterusnya sampai dia tenang.


Rayan duduk santai disebelah Ryura yang menyetir. Saat dia yang tengah melihat-lihat keluar jendela, tiba-tiba Rayan merasakan sesuatu yang familiar.


"Ryu, jalan ini kan..." serunya tidak lengkap sambil menoleh kearah Ryura yang bergeming fokus pada kegiatan mengemudinya.


Saat Rayan memilih diam seraya memperhatikan jalan yang familiar itu, dari kursi belakang Reychu malah berceletuk.


"Eh. Ini bukannya kearah restoran Prancis, ya? Kita pernah kesini beberapa kali saat ulang tahunmu, Ray!"


"Ya, benar. Lalu, untuk apa kita kesini? Bukankah kita sudah makan di mall tadi?" tanya Rayan kepada Ryura yang tetap tenang dalam diamnya.


Sedang Ryura terus membawa mobilnya ke depan restoran tersebut sampai akhirnya berhenti tepat didepan pintu masuknya.

__ADS_1


Baru setelahnya Ryura menoleh kearah Rayan karena gadis itu duduk di sebelahnya, kemudian berkata. "Didalam ada suamiku."


Pernyataan Ryura membuat bingung Reychu dan Rayan hingga harus memikirkan maksudnya.


"Kau ingin kami berkencan dengan si ubanan itu?" pertanyaan aneh khas Reychu keluar tanpa ragu seraya mengangkat salah satu tangannya tanda menolak. "Maaf, Ryu sayang. Aku masih lebih suka si rambut merah daripada orang tua itu." Reychu menggeleng berucap dengan bahasa menyebalkannya yang di bawakan dengan tak berdosanya.


Karena sudah terbiasa, Ryura tidak menggubris dan malah melanjutkan kalimatnya yang seketika membuat Reychu merekah hingga keluar dari mobil dan tak lupa menyeret Rayan juga yang dibuat tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya.


"Ada mainan disana."


Klak! Bruk!


Klak! Bruk!


WUSH!


Membuka pintu mobil secepat kilat dua kali, untuk Reychu sendiri dan untuk Rayan yang tidak boleh tertinggal.


Reychu tak bisa melewatkan waktu barang sedetikpun usai mendengar 3 kata singkat namun dalam maknanya dari Ryura.


Inilah yang dinanti-nantikan.


Hanya dalam waktu kurang dari 10 detik, dua sahabat Ryura sudah masuk ke dalam restoran yang mereka tuju ini.


Setelah itu, Ryura pergi dengan membawa mobil dan meninggalkan dua sahabatnya untuk bermain. Tujuannya kali ini adalah kantor suaminya.


Flashback off...


Diluar restoran, Rayan yang baru saja keluar dari restoran tiba-tiba menerima pesan dari Ryura yang di kirim beberapa detik lalu berisikan tentang mobil pengganti yang akan mereka -Rayan dan Reychu- pakai untuk pulang.


Dia melihat kearah Meng Ruona pergi dengan terburu-buru tadi yang kini entah hilang kemana. Dia yakin kalau perempuan itu pasti masih berusaha untuk mengejar suami sahabatnya. Namun sayangnya, terlambat. Sebab Ryura jelas tak akan memberikan kesempatan seperti itu pada orang yang sudah di targetkan, apalagi karena alasan yang berkaitan dengan suaminya, Ye Zi Xian.


"Woah! Cepat sekali hilangnya! Apa dia sejenis dengan Superman?! Oops. Seharusnya aku menyebutnya Superwoman! Kkkk!" Reychu terkekeh senang setelah berhasil mengacaukan targetnya.


Tadi, setibanya di dalam restoran. Pada dasarnya, penampilan keduanya amat menarik perhatian para pengunjung. Ada yang ingin tertawa, ada yang jijik, ada yang bergidik ngeri dan geli, dan ada juga yang sampai tak bisa berkata-kata.


Semua itu adalah respon untuk Reychu dan Rayan yang luar biasa mencolok.


Tapi, yang menjadi pusat perhatian sama sekali tidak peduli.


Yang jadi fokus mereka adalah sosok Meng Ruona yang akhirnya masuk ke penglihatan keduanya.


Saat itulah, seperti terikat batin. Reychu dan Rayan saling pandang seolah ingin memberitahu bahwa keduanya tahu apa yang harus dilakukan.


Tak ada ucapan rencana yang terlontar selain saling lirik seperti mampu mengirim pesan melalui sorot mata. Dari sanalah, dimulai dengan Rayan yang bertindak lebih dulu guna menarik pemahaman Reychu akan maksudnya melakukan hal itu.


Reychu yang meski gila, bukan berarti dia bodoh. Dia tahu apa yang Rayan ingin lakukan kala melihat Rayan merangkul Meng Ruona membuat si empunya jijik setengah mati.


Sejujurnya, kalau bukan karena sudah masuk dalam drama. Reychu ingin tertawa rasanya. Kocak sekali wajah Meng Ruona kala itu terjadi.


"Sudah-sudah, ayo kita pulang. Mobilnya sudah ada di parkiran." seru Rayan memotong kegirangan Reychu yang sepertinya masih belum ingin berhenti bahkan setelah targetnya sudah tidak ada.


Rayan berjalan mendahului Reychu yang akhirnya mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Aku ingin main lagi." celetukan Reychu sukses membuat Rayan menoleh tersentak.


"Tadi, tidak cukup?"


"Cukup. Tapi, kurang lama."


"Kalau begitu, ditunggu saja. Bukankah kita masih punya 2 hama lagi. Selesai Meng Ruona, kita akan memilih untuk target kedua dari antara Jiang Wanwan dan Melany Gong."


"Benar. Huuuu... Aku sudah tidak sabar saja...!" Reychu geregetan dengan antusiasnya.


Sedang Rayan memutar bola matanya jengah. Itu sering terjadi hingga rasanya menjadi kebiasaan.



Cklek!


Di kantor ceo perusahaan RYUXIAN KINGDOM, sudah ada Ryura kala Ye Zi Xian memasuki ruangan. Tanpa berlama-lama, Ye Zi Xian langsung saja menerjang tubuh Ryura yang sedang duduk tenang seraya memejamkan matanya di sofa kantornya untuk dibawa ke pelukannya.


"Sayang... Aku merindukanmu! Muach!" suara kecupan yang dilayangkan Ye Zi Xian di pipi istrinya terdengar keras. Ye Zi Xian benar-benar meluapkan rasa rindunya tak tanggung-tanggung.


"Kau mewarnai rambut mu?" tanya Ye Zi Xian biasa saat melihat dua warna pada rambut indah istrinya. Dia suka warnanya, mengingatkan dia pada dirinya dan Ryura.


"Hm..."


"Tidak buruk." komentarnya.


Menikmati momen peluk-pelukan sejenak sebelum Ye Zi Xian kembali angkat bicara.


"Terimakasih untuk yang tadi. Kalau kau tidak meminta ku untuk langsung pulang. Aku pasti akan terjebak drama disana. Istri ku memang paling paham."


Chu! Chu! Chu!...


Seluruh wajah Ryura yang sudah bersih dari makeup selain warna rambutnya di kecup tanpa ampun oleh sang suami.


"Haha, ini jadi menggelikan. Seharusnya aku yang melindungi mu dari apapun. Kenapa jadi kau yang melakukannya?!" celetuk Ye Zi Xian menanyai hal yang sudah dia ketahui jawabannya.


"Suamiku terlalu sibuk sampai harus melakukan hal membosankan ini. Jadi, biarkan aku yang sedang menganggur ini yang melakukannya." terang Ryura seraya menikmati pelukan hangat suaminya.


"Ya. Itu memang masuk akal. Tapi, tetap ingat untuk memberitahu ku kalau sesuatu terjadi padamu. Meskipun aku tahu kau mampu mengatasinya. Saat ini dan selamanya, kau sudah memiliki suami dan tugas suami juga harus melindungi istrinya. Mengerti!"


"Mengerti!" dengan patuh Ryura menjawab penuturan suaminya.


Dilepasnya pelukan tersebut. "Baiklah. Tunggu aku. Kita akan pulang bersama setelah sisa pekerjaan ku selesai." Ryura mengangguk mengikuti saja mau sang suami.


Berbeda dengan kemesraan pasangan suami-istri itu, disisi lain Meng Ruona tak henti-hentinya mengamuk didalam mobil.


Dia kesal bukan main karena kesempatannya untuk bertemu Ye Huan gagal. Bahkan ini bukan sekedar gagal.


Ini luar biasa gagal total.


Dan dia tak bisa bila tidak menyalahkan sepasang lesbian tadi, karena berani melibatkannya untuk masalah mereka.


Dia benci setiap kali mengingatnya.

__ADS_1



__ADS_2