3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
RENCANA JIANG WANWAN


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Shin Mo Lan dan Rayan melaju melintasi jalan raya, namun hal itu masih belum menyurutkan kekesalan Rayan atas perilaku Jiang Wanxi yang menyebalkan.


"Sayang, sudah. Jangan cemberut begitu terlalu lama. Aku merasa terabaikan." bujuk Shin Mo Lan dengan rajukannya.


Mendengar itu Rayan langsung menoleh kearah sang suami dan berujar dengan perasaan bersalah. "Suamiku, maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikan mu. Hanya saja, hari ini begitu sial. Wanita itu benar-benar merusak hari baik kita. Jangan kira aku tak tahu apa maunya dengan melakukan hal itu. Makanya aku kesal. Aku juga harus memikirkan cara untuk menyingkirkannya tanpa menimbulkan masalah. Bukankah kau berhubungan baik dengan Tuan Tua Jiang? Setidaknya kita masih harus memberi pria itu wajah. Dia, pria tua yang baik."


Rayan berkata begitu karena mengetahui fakta tentang Shin Mo Lan yang merawat Tuan Tua Jiang secara rahasia. Sebagai istri, tentu dia harus tahu dan patut tahu. Sebab, tak ada rahasia diantara mereka.


Shin Mo Lan mengangguk membenarkan. "Ya, Dia memang pria tua yang baik. Sudah seharusnya kita memberinya wajah meskipun sangat disayangkan kalau pria sepertinya bisa memiliki cucu seperti wanita itu." timpal Shin Mo Lan.


Rayan menghela nafas berat. "Karena itu, aku masih memikirkan langkah apa yang harus aku ambil untuk membuatnya jera dan menjauh dari kita. Mengingat tampaknya kesombongan sudah melekat ke tulangnya. Membuatku ingin menyingkirkan tulangnya lebih dulu."


Shin Mo Lan tertawa renyah mendengarnya. "Saat kau bilang begitu, mengingatkan ku pada saat kau memakan iga sapi bakar tempo hari. Caramu menyingkirkan tulangnya lebih dulu baru memakan dagingnya terbayang oleh ku. Haha..."


Shin Mo Lan berbicara soal makan siang di ruang kantor rumah sakit hari sebelumnya.


Mendengar itu, Rayan ikut tertawa. "Haha, iya iya. Saat kau bilang begitu, aku jadi membayangkan iga bakar itu sebagai Jiang Wanxi yang kemudian seluruh tulangnya aku singkirkan lalu selanjutnya ku makan dia. Hahaha..."


"Astaga, istriku mendadak jadi kanibal." guraunya dan keduanya pun tertawa begitu bahagia seolah pembicaraan itu sama sekali tidak menyimpang dari pembicaraan orang normal.


Tidak mungkin keduanya mendadak menjadi seperti pasangan ReyGik 'kan? Hoho, jangan sampai...



Pagi ini cerah, namun tidak mencerahkan suasana 2 bersaudara yang selalu perang dingin di manapun mereka berada.

__ADS_1


Tak... Tak... Tak...


Suara langkah kaki terdengar oleh seorang wanita yang tengah duduk membaca majalah di sofa ruang keluarga yang luas dan mewah. Tapi, wanita itu hanya melirik melalui ekor matanya dan kembali acuh. Dia tahu siapa pemilik suara langkah itu, namun dia tak peduli.


Langkahnya kian mendekat, disusul serangkaian kalimat yang pagi-pagi sudah tak enak didengar. "Selamat pagi, kakakku sayang." ada hinaan dalam nada suaranya.


"Selamat pagi juga, adikku." Jiang Wanwan menjawab dengan keacuhan.


Sambil membenarkan arloji mahalnya, Jiang Wanxi berkata. "Kau tak punya kegiatan lain selain membaca majalah? Ini yang selalu kulihat setiap pagi. Tidak heran ayah selalu marah padamu." Sekilas, kalimat itu akan terdengar seperti perhatian namun nyatanya adalah sindiran.


"Kau bicara begitu seperti tidak tahu saja." balasnya seraya membalikkan halaman majalah berikutnya. Jiang Wanwan masih acuh.


Dengan datar Jiang Wanxi berujar sarkas. "Berhentilah menjadi pemalas, kakakku sayang. Baiknya kau mencari kegiatan yang lebih berguna. Bukannya melakukan sesuatu yang membuat orang membenarkan ketidakbergunaanmu."


"Itu bukan urusanmu, Jiang Wanxi. Daripada mengurusi ku, kenapa tidak kau gunakan waktumu untuk memikirkan cara mengambil Shin Da Ming dari istrinya. Kudengar wanita itu sangat posesif pada suaminya hingga dia selalu ada di manapun suaminya berada. Itu bukan kabar yang baik." Ada senyum licik di mata Jiang Wanwan saat mengatakan semua itu sembari memperhatikan perubahan ekspresi adiknya.


Jelas terlihat dalam sekejap air muka Jiang Wanxi berubah tidak menyenangkan usai mendengar perkataan kakaknya. Dia sama sekali tidak curiga bagaimana Jiang Wanwan tahu tentang Rayan yang selalu menempeli Shin Da Ming, sebab yang menjadi fokus Jiang Wanxi adalah kebenaran tentang keposesifan dan keprotektifan istri pria incarannya. Bagaimanapun dia sudah melihatnya langsung selama beberapa hari melakukan aksi tersebut.


Melihat Jiang Wanxi sudah mulai masuk dalam perangkap, Jiang Wanwan bergegas memprovokasinya lebih dalam namun tetap berhati-hati. Pasalnya, Hal semacam ini tidak boleh di buru atau semuanya akan kacau, begitulah pikirnya.


"... Tapi, tidak heran dia berbuat begitu. Shin Da Ming tampan dan dari keluarga terhormat, belum lagi dengan sosoknya yang sekarang. Kata luar biasa saja tidak cukup untuk menjabarkan sosoknya. Aku saja masih sering merasa menyesal telah meninggalkannya. Apa boleh buat. Shin Da Ming jelas tak akan mau kembali padaku. Tapi, istrinya... Tak ada yang tahu darimana asalnya. Semua tahunya dia dibawa Shin Da Ming secara tiba-tiba dan langsung dinikahi. Bukankah itu artinya dia sangat istimewa?" Jiang Wanwan menebar umpan dengan tenang sambil melirik samar reaksi adiknya.


Senyum mengejek segera terukir di bibir Jiang Wanxi. "Apa yang istimewa tentang wanita itu?" Menoleh menatap Jiang Wanwan yang masih duduk di tempatnya sedang dia masih berdiri. "Apa kau tidak melihat kabar yang beredar. Dia hanya wanita dari kalangan biasa. Mereka yang mengenalnya sudah angkat bicara menceritakan tentang mereka. Hanya anak yatim piatu menyedihkan tanpa latar belakang apapun. Itu yang kau sebut istimewa?!"


"Tapi, bukankah menjadi istimewa setelah pria seperti Shin Da Ming yang menikahinya?" Jiang Wanxi tahu apa arti kalimat itu.

__ADS_1


Jiang Wanwan bermaksud memberitahunya bahwa tak peduli seberapa rendah status Rayan sebelumnya. Kini, dengan sosok Shin Da Ming yang menjadi pendamping hidupnya sudah dapat membalikkan keadaan dengan sangat luar biasa.


Jiang Wanxi menatap kakaknya tajam dan penuh kebencian yang sebenarnya ditujukan untuk Rayan. "Apa artinya itu?" seringai menghiasi wajahnya. "Selama aku, Jiang Wanxi, turun tangan. Wanita seperti dia tidak lebih dari kotoran mata yang akan selalu disingkirkan tanpa ragu. Heh!"


Jiang Wanwan hanya mengedikkan bahunya seolah berkata 'terserak padamu'.


Melihat jam pada arlojinya, baru kemudian Jiang Wanxi berkata. "Baiklah. Aku sudah harus pergi sekarang atau aku akan terlambat. Maklum, wanita karir seperti ku selalu sibuk." ada unsur ejekan didalamnya ditambah Jiang Wanxi tersenyum merendahkan kakaknya sendiri yang hanya diam memandang datar sang adik.


"Kau juga bisa menjadi sesibuk aku, kakak. Ehem, meskipun bukan dengan berkarir. Hahaha... Aku pergi dulu. Bye..." Berbalik pergi sambil melambaikan tangannya. Penghinaannya cukup kuat tadi.


Memandang punggung lurus Jiang Wanxi, Jiang Wanwan bergumam. "Teruslah seperti itu. Aku akan membiarkan mu melakukan apapun seolah-olah kau sudah menjadi pemenangnya. Tapi, Apakah kau benar-benar menjadi pemenang atau tidak, itu masih tergantung padaku. Hh..." lalu, dia menunduk dan mengambil ponselnya yang tergeletak di sisinya.


Jemari tangannya bergerak diatas layar sesaat sebelum membawa benda pipih itu ketelinganya.


Tuutt...


Tuutt...


Klik!


"Lakukan sesuai rencana." Klik! Panggilan entah dengan siapa langsung dimatikan begitu 3 kata diatas diucapkan.


Sorot mata Jiang Wanwan lurus dan tajam, dia berharap rencana yang dimaksud berhasil. Dia ingin secepatnya mencapai titik yang dia inginkan.


__ADS_1


__ADS_2