
Fyuuuuuu...
Sruk!
Setumpuk salju yang jatuh dari ketinggian tebing batu ke bawah dapat didengar dengan jelas diantara keheningan yang terjadi. Akan tetapi, hal itu tak membuat kedua belah pihak terganggu dari fokusnya.
Tampak dua kubu saling berhadapan dengan aura permusuhan disekitarnya sangat kuat.
Dinginnya malam itu menjadi semakin dingin kala ketegangan berpadu. Hawa panas yang terselip didalamnya pun mampu memberikan sensasi luar biasa dari kibaran bendera perang diantara kedua belah pihak.
Tak ada raut mengalah dari mereka, terutama di pihak organisasi pembunuh bayaran. Jangan tanya soal Ryura, gadis itu tidak akan pernah mundur sebelum selesai.
Dalam sekejap usai mendengar kalimat pengulangan itu, sang pemimpin organisasi pembunuh bayaran tersebut tidak bisa tidak memandang remeh dan merendahkan kearah Ryura seolah memberitahukan kepada gadis didepannya secara tidak langsung bahwa Ryura harusnya merasa bangga karena harga nyawanya terbilang mahal.
Tapi, siapa yang menduga kalau reaksi yang akan ia dapati selanjutnya malah membangkitkan kengerian yang tiadatara di tulang punggung sekelompok orang itu.
Ryura mengencangkan pegangannya pada pedang ditangan kirinya hingga terentang disisinya dengan cara yang menantang.
"Kenapa begitu murah...?! Sungguh merugikan." katanya dengan nada normal nan santai. Ryura sendiri tidak tahu mengapa saat ini ia merasa gatal untuk mengeluarkan lebih banyak kosakata.
Sambil mengangkat kakinya untuk melangkah dengan perlahan menuju kearah sekelompok musuh didepannya, ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Harga untuk nyawaku tidak semurah itu..." sebuah kilatan membunuh menghidupkan sinar di mata Ryura yang sangat mampu mengejutkan siapapun yang melihatnya.
Sorot mata yang biasanya kosong layaknya tak ada kehidupan didalamnya, sekalinya menyala sorot mata itu seolah mampu untuk membunuh siapapun yang terlihat olehnya.
Luar biasa menakjubkan sekaligus menakutkan.
Kombinasi yang mengesankan, hingga membuat siapapun seperti terhipnotis pada pesona kegelapan yang terdapat dalam bola mata Ryura yang selalu kosong selama ini.
Menatapnya serasa seperti akan tersedot masuk kedalamnya.
Furby dibelakangnya jelas tak dapat melihatnya, tapi sebaliknya dia dapat merasakan aura yang berbeda terpancar dari sosok gadis yang sedang melangkah perlahan kearah sekelompok musuh didepannya.
Itu benar-benar mengejutkannya.
"Ryura...?!" ungkapan untuk rasa kagetnya tersangkut sepenuhnya di tenggorokannya membuat Furby tak mampu berkata-kata lagi dan hanya bisa menatapnya saja.
Para musuh membeku entah bagaimana, jauh didalam bawah sadar mereka ada ketakutan yang tak dapat dijelaskan. Tapi, mereka tahu kalau itu datang karena gadis yang tengah berjalan kearah mereka.
"... Untuk mengambil nyawaku... Kau harus membayarnya dengan nyawamu..."
Lanjutnya perlahan tapi pasti namun itu cukup mampu menghujam jiwa yang mendengarnya dengan tajam, itu termasuk Furby, sampai kuda bulan itu terhenyak dengan rasa yang tak bisa diartikan.
Setelahnya...
Wush!
Pekikan demi pekikan memilukan dan menyayat terdengar menggema ditengah keheningan malam yang dingin itu.
Darah demi darah terpercik deras tanpa halangan ke permukaan tanah berselimut salju hingga membuat butiran-butiran kristal dingin yang bertumpuk itu ternodai olehnya.
Kontras di kedua warna itu terlalu mencolok, bagai lukisan yang mampu membangkitkan sebuah rasa mencekam dalam gambar yang dilukiskan.
Beberapa orang dari kelompok itu sudah terluka, namun masih memiliki kekuatan untuk bertahan. Sampai disini, Ryura mengetahui sesuatu bahwa sekelompok orang ini bukan orang dengan kemampuan yang setara dengan orang-orang yang pernah melawannya sebelumnya.
__ADS_1
Artinya, sekelompok orang dari organisasi pembunuh bayaran didepannya saat ini adalah orang-orang yang kuat dengan kultivasi lebih baik dari kultivasi orang-orang sebelumnya.
Sementara dari pihak lawan. Semuanya tercengang termasuk pemimpinnya. Tak terpikirkan oleh mereka akan jadi sekuat ini gadis yang menjadi target mereka sebelumnya.
Tak lama setelah keterkejutan itu, pria yang memimpin segera menggemakan perintahnya bersama api amarah yang mulai berkobar didalam dirinya. Tanpa sadar, dia merasa kecolongan.
Belum pernah sebelumnya dia mendapatkan dirinya pada situasi dimana dia akan tercengang dengan bodohnya. Itu sangat melukai harga dirinya luar dalam.
Keinginan untuk membunuh gadis didepannya pun menjadi semakin besar.
"KUATKAN PERTAHANAN KALIAN! KALI INI KITA TIDAK AKAN MEMBERIKAN KELONGGARAN! KITA AKAN MEMBALASNYA!"
Hawa kemarahan dan kebencian yang besar berbaur diantara udara dingin hingga menyelimuti area tempat mereka berada.
Ryura tak bergeming atas hawa yang disebarkan seolah ia tak merasakan apapun. Akan tetapi, lain dengan Furby yang jelas merasakannya. Beberapa kali dia sudah siap untuk maju membantu Ryura, tapi tetap saja Ryura selalu tidak memberinya kesempatan.
Furby tak mengerti, mengapa Ryura tak membiarkannya membantu. Pada akhirnya, dia hanya berdiri di sisi lain lokasi pertempuran dan menonton dengan damai.
Tampaknya seperti itu, tapi faktanya dia sudah greget sejak tadi. Ingin rasanya melawan halangan Ryura tapi tak berani.
Tatapan Ryura padanya tiap kali dia akan memaksa membantu begitu mengerikan hingga ia patuh tanpa sadar.
Jadi, disinilah dia...
"Aku benar-benar tidak berguna!" umpat Furby pada dirinya sendiri.
Pertarungan sengit pun kembali terjadi.
Beberapa lawan satu.
Bedanya, para pembunuh bayaran itu berdarah sungguhan, sedang Ryura hanya kecipratan darah lawannya. Bahkan pedang pusaka ditangannya kini sudah berubah warna dari sebelumnya putih menjadi merah darah.
Akan tetapi, meski sudah seperti itu. Para pembunuh bayaran itu tak juga ingin menyerah. Dengan segala umpatan, kutukan, dan segala kata-kata kasarnya mereka tumpahkan semuanya untuk Ryura dari dalam hati mereka.
"Cuih! Kenapa sulit seklai mengalahkannya?! Tak akan ku biarkan! Nyawa dibalas dengan nyawa!"
Pemimpin tersebut bergumam penuh kebencian seraya melihat apa yang ada didepan matanya. Ryura, gadis yang ia pikir tak lebih dari gadis lemah yang masih harus belajar kini malah melampaui ekspektasinya.
Gadis itu dengan santainya membabat satu persatu bawahannya.
Marah? Tentu!
Benci? Apalagi!
Tak ada rasa negatif yang tersisa lagi, semuanya sudah ia tuangkan hanya untuk membenci Ryura sepenuh jiwa raganya.
Ting!
Splash!
Klang!
Ting!
__ADS_1
Krass...
Sreet...
Dan segala jenis suara yang menggema di tengah jalan itu menghidupkan keheningan yang selalu menyertai tempat itu.
Darah yang tumpah mengotori dataran putih nan dingin itu menyempurnakan aura mencekam dari insiden malam ini.
Furby disisi lain hanya bisa menonton sambil mengernyitkan keningnya kuat. Dia jelas mencemaskan Ryura bagaimana pun caranya. Tapi, tampaknya yang dicemaskan sama sekali tidak peduli. Dia bahkan masih terlihat baik-baik saja.
Kembali ke pemimpin organisasi pembunuh bayaran...
Nafasnya tersengal, dia masih bisa memaki Ryura. "Brengs*k kau, Jal*ng!"
Sebenarnya masih banyak yang ingin dia keluarkan dari mulutnya, namun dia tahu kalau semuanya kosakatanya tersangkut di tenggorokannya. Dia menjadi tak bisa berkata-kata untuk mengomentari apapun yang ia lihat dari seorang Ryura.
"Sial! Dia cukup mampu! Padahal tingkat kultivasinya masih dibawah ku! Bagaimana bisa dia begitu terampil dan tangguh hingga dapat mengalahkan kelompok ku! Ini benar-benar kerugian besar! Sial! Siapa sebenarnya yang disinggung oleh wanita gila itu?! Sungguh... Inilah faktanya! Untuk menjadi yang terpilih oleh pedang pusaka, dia tidak boleh mengecewakan! Cih!" batinnya mengungkapkan dasar amarahnya kepada yang disebut 'wanita itu' tak lain adalah Meng Pei Yun, lalu dilanjut dengan pemahamannya tentang pasangan-pasangan yang terpilih oleh pedang pusaka tersebut.
Dadanya bergemuruh marah, seperti dia akan memuntahkan seluruh darah yang dia punya. Meski dia agak egois, tetap saja melihat sendiri kematian bawahannya tepat dibawah hidungnya ia masih memiliki perasaan marah untuk mereka. Walaupun, sebenarnya makna dari amarahnya masih dimaksud guna memuaskannya.
Bagaimanapun orang-orang yang bergabung memiliki bakat spiritual yang hebat-hebat.
Sayangnya...
Satu persatu bawahannya gugur. Melihat itu semua, sang pemimpin organisasi pembunuh bayaran tahu kalau dia memaksa untuk terus maju, kekalahan yang menyedihkan hanya bisa dia tuai.
Ini jelas kabar buruk. Segera setelah pertimbangan matang dalam waktu singkat.
"MUNDUR!"
Beberapa bawahannya yang tersisa, begitu mendengar perintah tersebut langsung melesat pergi dengan sisa kekuatan yang mereka miliki tanpa berbalik lagi. Terpaksa meninggalkan teman-teman mereka yang tewas mengenaskan disana. Mereka juga cukup sadar untuk merasakan perbedaan besar antara masing-masing dari mereka dengan Ryura yang luar biasa mengerikan.
Lagipula, sebagai orang-orang yang sudah bekerja lama dibawah kepemimpinan pria itu, mereka tahu pemimpin mereka tak akan meninggalkan semua masalah ini begitu saja tanpa menyelesaikannya.
Artinya, dimasa depan lawan lama akan kembali bertemu.
Pria itu yang terakhir angkat kaki dari sana. Dia sempat menatap tajam Ryura dengan tampilannya yang penuh luka, begitu menyedihkan.
Menerima tatapan kebencian itu, Ryura tak bergeming. Dia hanya diam menyaksikan lawannya melarikan diri tanpa menoleh lagi.
Furby yang melihatnya tidak bisa tidak merasa heran. "Ryu, kenapa kau melepaskan mereka? Kau membiarkan mereka pergi?" telepatinya dengan sedikit kegelisahan.
Takut kalau nanti Ryura diserang oleh mereka lagi bila dilepaskan sekarang. Tetapi, Furby tahu tindakan Ryura sudah pasti memiliki arti.
Seperti jawaban gadis itu saat ini...
"Biarkan... Kita akan bertemu lagi nanti."
Furby sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan Ryura. Kalimat itu seperti prediksi akan masa depan yang sudah diketahui oleh Ryura. Tapi, Furby jelas tidak merasa itu seperti Ryura memiliki penglihatan masa depan. Jadi, tampaknya Ryura bisa menarik kesimpulan dari masalah ini yang terlihat belum mencapai penyelesaian sehingga dia menduga akan ada lagi yang seperti ini dimasa depan.
Faktanya, semua ini masih abu-abu untuk pemikiran khalayak umum. Namun, tidak untuk Ryura yang memiliki keistimewaan dalam dirinya.
Setelahnya, mereka pun kembali ke kediaman Ye di hari yang masih gelap.
__ADS_1