
Empat pria, dua gadis, dan tiga siluman sedang berkumpul bersama di sebuah gazebo yang ada di paviliun tamu.
Kaisar Agung Bai, Tuan Muda Shin, Ahn Reychan, Min Hwan, Reychu, Rayan, Ruobin, Chi-chi, dan Furby.
Terlihat, mereka sedang terlibat percakapan yang terbilang serius.
"Jadi, kalian akan kembali ke tempat kalian masing-masing?" tanya Rayan dengan perasaan yang agak berat, seperti akan berpisah.
"Ya, kami sudah tidak memiliki hal yang harus dilakukan disini. Ye Zi Xian dan Nona Ryura sudah menikah. Sudah pasti saat ini adalah masa-masa keduanya ingin menghabiskan waktu bersama. Lalu, apa yang kita lakukan disini?!" jelas Tuan Muda Shin sambil menatap wajah sendu Rayan yang terlihat jelas kalau tak ingin ditinggal.
Lagipula, siapa yang mau meninggalkan pujaan hatinya di sini? Dia bahkan berniat membawanya juga.
"Kenapa kau tidak ikut dengan ku saja?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah imut Rayan.
Mata Rayan langsung berbinar membuatnya semakin menggemaskan. "Benarkah? Bolehkah aku ikut?"
"Tentu, kenapa tidak! Jika, kau mau kita akan langsung pulang setelah berpamitan dengan pengantin baru itu. Lalu, nantinya kita akan sekalian pulang bersama kakek dan adikku. Mereka berencana akan pulang, bila tidak sore ini maka akan menjadi besok pagi. Seperti yang lainnya." terang Shin Mo Lan.
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan!" antusiasme Rayan menular kepada Shin Mo Lan membuat pria itu turut senang melihat kekasihnya senang, apalagi karena dia mau ikut pulang bersamanya.
"Dan kau rambut merah! Kau juga harus kembali ke kerajaan mu 'kan?" tanya Reychu setelah asik menyimak percakapan sepasang kekasih didepan matanya ini.
Kalau dipikir-pikir, Kaisar Agung Bai juga begitu, benarkan? Pikirnya.
Kaisar Agung Bai yang sedari tadi asik memandangi wajah Reychu seperti ingin ia pastikan kalau tak ada sedikitpun yang terlupakan dari rupa kekasihnya untuk bisa ia kenang saat pulang nanti.
Walau sebenarnya ia ingin membawa serta Reychu bersamanya juga.
Pria itu pun mengangguk membenarkan setelah mendengar pertanyaan kekasihnya. "Ya. Aku seorang Kaisar Agung. Tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan pekerjaan ku. Sudah bisa dipastikan kalau setibanya nanti di Kerajaan Es, tumpukan pekerjaan telah menanti ku. Jadi, aku tidak bisa mangkir lagi. Kenapa bertanya, kau mau ikut dengan ku?" meski bertanya, tak ayal Kaisar Agung Bai sebenarnya berharap Reychu mau ikut dengannya.
Dan jawabannya...
"Tentu saja!" mata pria berambut panjang merah itu terbelalak senang.
"Benarkah?" Reychu mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak mungkin disini, kalau Rayan saja ikut prianya. Ryura jelas tak akan membantu. Biasanya dia suka menghilang dan meninggalkan aku bersama Rayan. Sekarang dia sudah menikah dan pasti akan selalu ditempeli oleh suaminya yang cinta mati pada Ryura. Kalau aku memilih tinggal disini bukankah aku hanya akan membuat diri sendiri bosan dan menyedihkan?! Jadi, apa salahnya kalau aku ikut dengan mu. Apalagi, sebelumnya kau bilang akan menikahi ku. Kalau aku tak segera beradaptasi dengan lingkungan hidup mu bagaimana bisa aku bersanding denganmu." Reychu memberikan pembenaran dengan tampang santai yang sama sekali tidak cocok dengan apa yang sedang dia katakan.
Tapi, siapa yang peduli. Kaisar Agung Bai tidak peduli itu.
Mendengar panjang kali lebar penjelasan Reychu tak membuat Kaisar Agung Bai tak senang, justru sebaliknya. Mendengar kekasihnya ingin beradaptasi dengan lingkungan hidupnya, jelas Kaisar Agung Bai akan amat sangat senang menunjukkan padanya bagaimana dia hidup di Kerajaan Es.
"Baik! Kalau begitu, kau ikut dengan ku pulang bersama rombongan yang lain. Karena, aku akan berangkat bersama mereka." Reychu hanya mengangguk asal sebagai tanggapan dam mengabaikan Kaisar Agung Bai yang mendekat padanya kemudian merangkul pundaknya mesra dengan wajah berseri-seri.
Di belakangnya, Ahn Reychan hanya tersenyum kecil melihat keduanya. Dia jadi tidak sabar untuk mengambil sedikit waktu agar dapat berbincang dengan Reychu setibanya di kerajaan Es. Dia perlu bertanya perihal keluarga mereka. Meskipun tidak pernah pulang, bukan berarti tidak merindukannya.
"Berarti, kami juga akan ikut dengan kalian." seru Chi-chi tiba-tiba menimpali.
"Kalau kau mau ikut, ya ikut saja." kata Reychu santai menanggapinya.
"Tentunya aku akan ikut kemanapun Chu-chu pergi!" sorak Chi-chi begitu bersemangat.
"Kau juga sama, Bin-bin? Ikut dengan ku?" tanya Rayan pada Ruobin yang diam saja menyimak semuanya.
Siluman rubah perak itu mengangguk membenarkan. "Ya, dimana ada kau disitu ada aku." kata-katanya sukses mendapatkan tatapan tajam dari Shin Mo Lan yang merasa perkataannya tergolong ambigu.
Mengetahui hal itu, Ruobin segera mengklarifikasi. "Tenang, Tuan Muda Shin. Aku hanya mengikuti Rayan, sebab kami sudah seperti keluarga. Aku hanya sudah terlanjur nyaman bersama dia dan ingin menjaganya saja. Bukan bermaksud untuk mengganggu kebersamaan kalian nanti. Tidak perlu khawatir. Aku justru berharap bisa cepat diberikan keponakan dari kalian."
Dirasa tidak lagi menjadi ancaman, Shin Mo Lan pun menghilangkan tatapan tajamnya dan langsung beralih kembali ke Rayan yang ternyata sudah terkikik tanpa suara melihat sahabat silumannya dengan kekasihnya mengalami sedikit bentrokan.
Shin Mo Lan mencubit pipi Rayan gemas melihat tingkah kekasihnya.
"Bagaimana denganmu, Furby?" tanya Ruobin pada teman sesama silumannya itu, sedari tadi asik dengan mengunyah daun yang entah apa namanya.
Melirik orang yang bertanya padanya, lalu menjawab. "Apalagi... Sama seperti kalian. Aku tetap disini, karena Ryura disini. Lagipula aku ini kuda bulan, aku dibutuhkan oleh Ryura. Dia itu penunggang ku."
"Kau bicara seperti tidak pernah ditinggal oleh Ryura saja." celetuk Reychu penuh ledekan.
__ADS_1
"CK! ... Itu berbeda!" ingat bila Furby masih sayang nyawa saat melihat Kaisar Agung Bai sudah menyipitkan matanya kearahnya. Pada akhirnya, dia memilih abai.
Setelahnya, yang bisa dibilang tengah dinantikan juga tidak, akhirnya datang juga.
"Lihat, pengantin baru kita..." sinis Kaisar Agung Bai sarat akan kecemburuan.
Cemburu karena Ye Zi Xian sudah bisa melakukan lebih pada kekasihnya yang kini sudah berganti gelar menjadi istrinya.
Disana Ye Zi Xian sedang berjalan bersama Ryura sambil merangkul pinggang istrinya dengan sangat posesif. Kala mendengar ucapan Kaisar Agung Bai, Ye Zi Xian malah mengangkat dagunya angkuh. Dia sedang pamer didepan dua sahabatnya, terutama Kaisar Agung Bai yang jelas sekali keiriannya.
"Sudah pasti... Sebagai orang yang belum menikah, tolong untuk tidak merasa iri dan cemburu." dengan songongnya Ye Zi Xian menyombongkan diri didepan kedua sahabatnya. Ryura sendiri disebelahnya tak memiliki respon apapun.
Ryura sudah kembali menjadi Ryura yang biasanya.
"Cih!" decih Kaisar Agung Bai tak bisa berkata-kata, karena yang dikatakan sahabatnya benar adanya. Jadilah...
"Reychu! Kita harus menikah secepatnya. Aku tidak bisa seperti ini!" tuntut Kaisar Agung Bai.
Respon Reychu agak sama. "Aku ikut saja. Jadi, kapan kita menikah?"
Fix! Dua-duanya gila!
Keesokan paginya...
Hari ini adalah hari keberangkatan dua sahabatnya Ye Zi Xian dan beberapa tamu yang masih tersisa untuk segera kembali ketempat asal mereka.
Di depan pintu gerbang Kediaman Ye, beberapa gerbong dengan hiasan dan model berbeda telah menunggu pemiliknya untuk segera dinaiki agar mereka bisa segera beranjak dari sana.
Setelah berpamitan pada tuan rumah, satu persatu gerbong mulai meninggalkan halaman Kediaman Ye hingga menyisakan gerbong-gerbong milik keluarga Kerajaan Es dan Keluarga Zhilli Shin.
"Hati-hati dijalan. Berikan kami kabar bahagianya segera." tutur Ye Zi Xian yang maksudnya mengarah ke undangan pernikahan dua sahabatnya itu.
Bagaimanapun dia juga ingin kedua sahabatnya bahagia sama seperti dirinya.
"Apa kalian senang memanas-manasi ku, heh?!" sungut Kaisar Agung Bai dengan hati yang mulai terbakar api keirian. Padahal, tak ada yang menyundutnya.
"Hahaha..." keduanya terkekeh, merasa lucu melihat Kaisar Agung Bai belakangan ini sering suka berada dalam suasana hati yang buruk bila kedua sahabatnya membahas soal pernikahan.
Kaisar Agung Bai merasa buruk bila mengingat kisah cintanya tidak semudah kedua sahabatnya.
Miris rasanya.
"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Kau juga akan menyusul setelah aku. Percayalah." hibur Shin Mo Lan seraya menepuk pundak sahabatnya menenangkan.
"Semoga saja begitu." sahut Kaisar Agung Bai lemah.
Disisi pujaan hati mereka...
Drama konyol Reychu yang menangis seraya memeluk Ryura seolah tak bisa berpisah dari gadis tak berekspresi itupun sukses membuat Rayan yang melihatnya jengah dan muak.
"Oh, ayolah... Berhenti bertingkah konyol, Rey!" kesal juga kan.
"Huhuhu... Aku tidak bisa hidup tanpa Ryura. Huhuhu..." suaranya terdengar teredam di pundak Ryura dengan dramatis.
Hal itu membuat Rayan merotasi kedua matanya jengah. "Yayaya... Teruslah begitu. Menempelah terus. Lihat bagaimana Tuan Ye melepaskan mu dari tubuh Ryura dan membuangmu langsung ke gerbong kereta kerajaan Es untuk dikembalikan ke pemilik mu. Kaisar Agung Bai."
"Huh. Coba saja kalau dia berani. Pria berambut merah ku akan sigap menjadi tameng ku. Hahaha..." katanya penuh percaya diri.
"Dasar!"
Ryura sendiri tidak bergeming ditempatnya, sebab dia sedari tadi hanya menatap kosong kedepan atau tepatnya tengah menatap salah seorang yang termasuk kedalam rombongan Kerajaan Es.
Objek yang ditatap tengah berdiri disana bersama beberapa orang lainnya yang belum menaiki kereta. Dia berdiri diam sambil menatap kearah tiga pria tepat disebelah 3Ry.
Tiba-tiba...
__ADS_1
Tanpa diduga dua pasang mata itu bertubrukan. Sontak hal itu membuat orang tersebut terkejut dan dibuat kikuk seolah-olah dia habis ketahuan melakukan sesuatu yang salah. Sampai-sampai dia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.
Sementara, Ryura tak bergeming hingga orang yang melihatnya tak bisa membedakan antara dia sedang memperhatikan sesuatu atau hanya diam dengan pandangan kosong.
Itu juga yang orang tersebut pikirkan. Dia bingung mengartikan arah pandang Ryura. Hanya saja, intuisinya berkata kalau Ryura tengah menatapnya.
Dia tak tahu mengapa.
"Kau memiliki pengganggu yang cukup kuat, Rey." celetuk Ryura tanpa mengalihkan pandangannya.
Mendengar kalimat yang mendadak dicetuskan oleh Ryura pun berhasil menarik perhatian dua gadis didepannya.
Mereka memandang Ryura bingung.
"Apa maksudmu, Ryu?" tanya Rayan.
Barulah pandangan Ryura beralih ke Reychu dan bukannya Rayan yang menanyakan maksudnya. Meski begitu, Rayan tak tersinggung. Karena dia tahu, yang dikatakan Ryura berhubungan dengan Reychu. Maka, fokus utamanya harus langsung ke yang dituju.
"Pengganggu? Ada orang bodoh yang berpikir untuk mengganggu ku? Konyol namanya." candanya, tapi begitu melihat sorot mata Ryura meski kosong namun jelas sekali kalau sahabatnya ini tengah serius. Maka, Reychu pun segera masuk ke mode serius juga.
"Baik. Pengganggu apa yang kau maksud?"
"Dia tidak akan berpindah ke lain hati. Tapi, orang itu akan sering memberimu pekerjaan tambahan." ungkap Ryura penuh makna yang ditanggapi dengan dua pasang mata terbuka lebar.
"Saingan cinta, maksudnya?" Ryura tetap diam, tapi itu cukup untuk kedua sahabatnya tahu kalau itulah maksudnya.
"Wow. Kupikir, tidak akan mengherankan kalau memang aku memiliki saingan. Tapi, apa yang kau maksud dengan cukup kuat? Apa itu artinya aku seorang saja tidak cukup untuk mengalahkannya?" tanya Reychu ingin tahu lebih jelas.
Ryura menatap Reychu datar dan kosong hingga Reychu seperti melihat patung yang sedang adu pandang dengannya.
"Kau bisa, tapi juga tidak."
"Hah?! Kalau begitu, ini benar-benar membingungkan. Apa aku bisa menganggap ini sesuatu yang perlu diwaspadai?" Ryura mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu... Bin-bin!" panggil Rayan menyela perkataan Reychu dan Ryura.
" Ada apa?" yang dipanggil segera muncul saat itu juga.
"Keluarkan ramuan-ramuan ku. Aku perlu persiapan!" pinta Rayan.
Walau heran, Ruobin tetap menurutinya.
Setelah semua ramuan dalam botol porselen sudah dikeluarkan. Rayan segera memilih dan mengambilnya.
"Chi-chi!" panggil Rayan lagi.
"Ya!" sahut Chi-chi saat namanya disebut.
"Ini. Simpan ramuan-ramuan ini untuk berjaga-jaga. Dia gila kau tahu bukan?! Karena, dia gila... Dia suka seenaknya hingga ceroboh dalam menjaga dirinya sendiri. Maka, aku berikan ini agar kau simpan untuk Reychu." katanya.
Menunjukkan setiap botol beserta kegunaannya.
"Ini adalah penawar dari segala macam jenis racun. Ingat, segala macam. Yang artinya, apapun racun yang masuk ke tubuh Reychu, selama kau bisa memberikan penawar ini tepat waktu. Dia akan selamat. Totalnya ada 10 botol dengan 3 pil di setiap botolnya. Ini ada juga..." panjangnya penjelasan yang Rayan berikan kepada Chi-chi membuat siluman kelinci tersebut tak berani gagal fokus.
Ini demi Chu-chu nya.
Setelah sekian lama penjelasan diberikan. Akhirnya selesai juga. Chi-chi sudah menyimpan semua pil yang diberikan oleh Rayan di ruang dimensinya agar aman.
Kemudian, baik Kaisar Agung Bai maupun Shin Mo Lan. Kedua pria itu lantas mengajak kekasih mereka untuk segera naik ke gerbong kereta kuda agar bisa langsung memulai perjalanan.
Dan 3Ry pun berpisah...
???
Thor usahakan untuk bisa up tiap hari. semoga kalian senang...
__ADS_1