
"Waaah... Sudah di pesankan rupanya. Aku tahu siapa yang memesannya!" berkata sambil berjalan melewati Ruobin dan Rayan menuju ke meja dimana ada Ryura yang tampak baru saja akan mulai makan.
Segera ia berlari kecil kebelakang punggung Ryura dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Ryura, karena gadis itu tengah duduk dan dia berdiri. Jadi, hanya bisa memeluknya dengan cara seperti itu.
Grep!
"Itu pasti kau, bukan? Haha... Aku tahu itu..." katanya yang dianggap tak penting oleh Rayan hingga gadis itu memutar bola matanya jengah.
"Duduk diam dan makanlah!" lantang Duan Xi yang sedang tak ingin suasana hatinya dirusak, segera melontarkan kata-katanya yang terselip peringatan didalamnya.
Melirik sekilas Duan Xi yang selalu dipanggil Pak Tua olehnya. Ia tahu, ia baru saja di peringati. Berhubung dia sedang lapar, kali ini Reychu memilih bekerja sama. Jadi, diapun menuruti apa yang dikatakan oleh Duan Xi.
Greek!
Di tarik kursi di samping Ryura dan langsung mendudukkan dirinya disana tanpa kesopanan sedikitpun.
Reychu tak pernah mau direpotkan dengan hal-hal seperti itu.
Duan Xi yang melihat itu tak bisa menahan untuk tidak menggelengkan kepalanya.
Sedang Chi-chi yang mengekor sejak awal memasuki rumah makan Hang Chun ini menjadi bingung sejenak. Bagaimanapun, ia masih tak ingin berdekatan dengan Ryura yang menyeramkan baginya. Alhasil, di ambilnya kursi dari meja yang kosong di sebelahnya untuk di letakkan di tengah-tengah antara Reychu dan Duan Xi. Barulah ia merasa lebih baik.
Sisa kursi diseberang Reychu segera ditempati oleh Rayan setelah Ruobin mendudukkannya disana, lalu -sama seperti Chi-chi- dia juga menarik kursi lain dan duduk diantara Rayan dan Ryura.
Mereka pun mulai makan dengan tenang. Namun, ditengah-tengah kegiatan makan mereka sayup-sayup mereka mendengar beberapa orang yang duduk tak jauh dari mereka sepertinya sedang membicarakan tentang festival yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
"Kau yakin?" tanya salah seorang pemuda dari 4 pemuda yang ada disana. Keempatnya memakai pakaian yang lumayan baik untuk pemuda desa. Sederhana walau hanya terbuat dari kain kasar.
Keempat pemuda itu menggunakan pakaian dengan jenis kain yang sama dan model yang tidak jauh berbeda, tetapi memiliki warna yang jelas tak sama.
Pemuda pertama -yang bertanya- memakai pakaian berwarna hijau pucat, pemuda kedua -yang ditanya- memakai pakaian berwarna cokelat, pemuda ketiga memakai pakaian berwarna abu-abu gelap, dan pemuda terakhir memakai pakaian berwarna biru telur asin.
"Eum... Aku sudah membicarakannya dengan orang tuaku. Jadi, aku akan pergi siang ini." jawab pemuda kedua atas pertanyaan yang diberikan oleh pemuda pertama sambil menyuapkan sesendok penuh nasi dari mangkuk yang ada didepannya.
"Kau... Tidak takut akan gagal? Maksudku... Emm..." ujarnya ragu-ragu seraya melirik temannya yang lain. Kedua pemuda lainnya dengan prihatin memandang menyerah padanya. Mereka tak ingin menyinggung perasaan sahabat mereka yang sedang antusias.
Mereka adalah teman baik untuk waktu yang lama. Jadi, secara naluriah mereka memiliki ikatan yang jelas kuat sehingga ketika tahu salah satu dari mereka akan memilih jalan yang sulit. Sebisa mungkin yang lainnya akan mencoba mengingatkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya. Terlepas dari apakah itu akan terjadi atau tidak.
"... Kau tahu pasti bahwa festival yang akan diadakan sebentar lagi bukan sekedar festival. Didalamnya ada disediakan beberapa kompetisi yang salah satunya menjadi alasan kau ingin ikut. Tapi, jelas kompetisi ini dibuka untuk umum. Kaisar Agung dengan jelas mengatakan bahwa beliau tidak melarang siapapun ikut serta dalam festival, baik itu berasal dari wilayah kekaisarannya sendiri atau dari luar kekaisaran. Yang ingin kukatakan bahwa, akan ada banyak orang yang pasti mengikuti kompetisi itu. Apalagi, mengingat hadiah yang akan diberikan benar-benar mampu membuat orang meneteskan air luir. Tapi, tetap saja kemungkinan menangnya pasti kecil. Tidak hanya untukmu, tapi juga untuk peserta lainnya." terang pemuda itu setelah dirasa yakin kalau kata-katanya tidak akan menjatuhkan semangat temannya dalam memimpikan apa yang ia impikan selama ini.
"Huh! Kalian ini terlalu banyak berpikir! Aku kesana tidak hanya untuk mengikuti lomba, tetapi juga untuk mencari pengalaman dan melihat bagaimana rupa orang-orang luar itu. Untung juga kalau bisa menemukan gadis yang dapat diperistri. Aku pergi hanya untuk melihat dunia. Kalian tahu bukan, kota ini tidak kaya. Bahkan untuk makan saja susah. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa kaya. Paling tidak, kita punya pengalaman lebih. Apalagi, bila suatu hari nanti ada orang kaya yang datang melintasi desa kita. Kalian tahu, bukan?! Desa kita adalah jalan satu-satunya menuju dermaga bagian barat." jelas pemuda kedua jenuh, teman-temannya ini terlalu berlebihan bila berkaitan untuk satu sama lain. Tapi, meski begitu ia tak bisa tidak merasa senang dari dalam hatinya.
Dia memiliki teman-teman yang menyayanginya. Itu bagus.
"Ooooh... Begitu rupanya!" seru ketiganya setelah memahami maksud temannya untuk pergi. Mereka lega mendengarnya.
__ADS_1
"Dan satu lagi! Aku tidak benar-benar akan mengikuti lomba bila aku tidak menemukan perlombaan yang aman. Aku bukan seorang yang berlatih bela diri. Akan berbahaya kalau sampai aku memaksakan diri untuk mengikuti lomba yang keras. Kita jelas tahu ini adalah festival perang." lanjutnya lagi.
"Benar! Itulah yang kami khawatirkan saat kau tiba-tiba memutuskan untuk pergi." kata pemuda ketiga, yang lainnya mengangguk membenarkan.
"Tapi, kenapa kau masih disini?" tanya pemuda keempat.
"Maksudmu?" tanya balik pemuda kedua karena gagal memahami maksud pertanyaannya.
"Eh! Kau tidak tahu?! Festival yang akan berlangsung ini bukan sembarang festival. Ini adalah festival untuk memperingati perang besar dimasa lalu yang benar-benar sampai memakan banyak prajurit yang gugur. Jauh lebih banyak dari perang-perang yang pernah ada. Karena itu, dari yang aku ketahui. Kaisar Agung terdahulu menurunkan titah bahwa festival perang akan diadakan selama seminggu sejak saat itu hingga sekarang. Sekaligus untuk mengenang jasa mereka yang gugur. Berarti, kau butuh pergi jauh-jauh hari agar dapat memesan penginapan. Kau tidak berencana untuk tidur di jalan, bukan?" jelas pemuda ketiga tuntas.
Plok!
Keningnya di tepuk kuat sebagai isyarat bahwa pemuda kedua paru menyadarinya.
Dengan mata membesar ia berseru. "Kau benar! Aku nyaris melupakannya! Untung aku akan berangkat siang ini. Tapi, apa masih ada yang tersisa dari penginapan? Kalau seperti yang kau katakan, pasti ada juga yang sudah memesan penginapan bahkan jauh sebelumnya." ujarnya panjang lebar, lalu dengan tekad kuat kembali berseru. "Kalau begitu aku akan segera pergi usai dari sini. Kalian tidak berencana untuk ikut denganku?" tanyanya pada teman-temannya.
"Aku tidak bisa pergi, meskipun aku mau. Kalian tidak lupa bukan, kalau aku anak tunggal dari orang tuaku. Aku punya tanggung jawab besar untuk merawat mereka hingga kedepannya. Jadi, aku akan tetap disini." terang pemuda keempat dengan tenang dan santai. Tak sedikitpun merasa iri saat temannya bisa bepergian jauh guna mencari pengalaman. Dia cukup senang dengan kondisinya saat ini.
"Huh... Benar! Aku juga tidak bisa pergi. Hari ini orang tuaku sudah membuat pertemuan dengan keluarga calon istri ku. Doakan saja aku, agar kali ini sesuai dengan yang aku inginkan." ujarnya sambil malu-malu, bahkan wajahnya memerah karenanya.
Melihat itu teman-temannya langsung tertawa.
Kembali ke kumpulan 3Ry yang sudah selesai makan.
"Guru Duan Xi apa yang anda lupakan?" tanya Rayan saat melihat keanehan itu.
"Tentu saja, tentang festivalnya! Kita harus bergegas menuju ke sana. Atau kita tidak akan mendapatkan penginapan untuk kita tinggali selama satu minggu." jelasnya singkat.
"Hohoho... Akhirnya, Pak Tua kita menunjukkan reaksi orang pikun. Itu baru benar untuk menunjukkan kalau kau sudah tua. Hahaha..." ejek Reychu terang-terangan.
Tak!
Menggunakan ujung tongkat atas milik Duan Xi, pria tua pendek itu langsung mengetuk kening Reychu lantaran kesal karena diejek.
"Tutup mulut baumu itu... Atau aku akan menjahitnya untuk mu." berangnya.
"Cih! Tidak ada lembut-lembutnya!" celetuk Reychu seraya mengusap keningnya yang jujur saja, itu sangat menyakitkan.
"Untuk mu?! Dalam mimpimu!" ketus Duan Xi masih kesal.
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Kita harus segera melanjutkan perjalanan kita. Kita sudah selesai makan bukan?" sahut Ruobin ikut menimpali kebenaran itu.
"Ya! Kita harus segera pergi!" sambut Duan Xi.
"Kita tidak berencana memesan makanan untuk dimakan di jalan?" tanya Rayan pada yang lainnya saat Duan Xi telah turun dari kursinya.
__ADS_1
"Nanti kita akan melewati ibukota Negara Angin. Kita akan mampir untuk makan sekalian mencari camilan kalau kau mau!" ungkap Duan Xi kemudian berlalu pergi keluar meninggalkan yang lainnya lebih dulu.
"Ouh. Kalau begitu tunggu apa lagi. Bin-bin boleh aku minta gendong lagi?" tanyanya seraya mengerjapkan matanya beberapa kali dengan manja.
"Hahaha... Kenapa tidak? Ayo, kita harus segera menyusul." belum usai ia berkata, Ruobin sudah lebih dulu mengangkat tubuh mungil Rayan yang tidak terasa berat bagi siluman rubah perak itu. Justru, ia merasa seperti sedang mengangkat anak kucing.
Melihat sahabatnya akan segera pergi juga, Reychu pun tak menolak untuk ikut. Akan tetapi, seruan teman silumannya menghentikannya.
"Chu-chu..."
"Ada apa?"
"Kemana perginya gadis misterius itu?" tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah kursi yang sebelumnya diduduki oleh Ryura, tapi kini kursi itu sudah dikosongkan.
Melihat itu, Reychu pun tertawa.
Menoleh kembali ke arah Chi-chi yang masih setia duduk di kursinya. "Kau tak tahu? Itu kelebihannya! Dia persis seperti hantu! Aku sudah sering menemukan hal seperti ini. Dia selalu lebih dulu dariku ataupun Rayan. Jadi, jangan terkejut lain kali. Hahaha... Dasar Ryura!" jelasnya dengan gelengan kepala diakhirnya untuk sahabatnya yang entah dimana orangnya.
Chi-chi bergidik ngeri seketika. Baginya manusia semacam ini benar-benar mengerikan. Dia adalah siluman yang artinya memiliki kelebihan yang bisa dikatakan lebih menguntungkan daripada manusia biasa. Jadi, begitu dihadapkan pada kejadian ini. Siluman kelinci laki-laki itu tak bisa menahan untuk tidak merinding.
Bukankah mengerikan kalau manusia biasa bisa sampai menghilangkan aura keberadaannya hingga siluman pun tidak bisa merasakan keberadaannya?! Itulah yang dipikirkan siluman kelinci itu.
Ruobin yang hendak berjalan saat mendengar pernyataan Reychu pun baru menyadari kalau gadis datar yang pendiam itu sudah tidak ada di kursinya.
"Bagaimana bisa?" celetuk Ruobin bingung juga penasaran sambil melihat kearah tempat duduk Ryura tadi.
"Jangan terlalu dipikirkan! Dia sudah sering melakukannya. Karena kita akan lebih sering bersama. Kau harus terbiasa. Ryura selalu seperti itu. Aku juga terkejut saat pertama kali mengetahuinya. Tapi, lama-kelamaan aku akhirnya terbiasa. Bahkan hingga sekarang, baik aku maupun Reychu tak pernah tahu apa yang Ryura lakukan saat dia tiba-tiba menghilang." jelas Rayan dengan acuh. Ia tak merasa di abaikan meski Ryura memiliki lebih banyak rahasia daripada Reychu. Dia cukup memakluminya. Bagaimanapun, setiap orang memiliki sisi tersembunyi miliknya yang memang tidak bisa dibagi kepada orang lain.
Ruobin mengangguk paham mendengarnya, lalu memilih melanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda tadi. Disusul Reychu dan Chi-chi dibelakang mereka.
Begitu keluar dari rumah makan -usai membayar tentunya- mereka sudah melihat sosok Ryura di kursi kusir kereta tepat di depan rumah makan.
"Hei, kalian lama sekali. Cepat masuk atau kita akan terlambat!" seru Duan Xi dengan keras dari dalam gerbong begitu dia melihat 4 orang rombongannya baru saja keluar dari rumah makan Hang Chun.
Ruobin dan Chi-chi tertegun sejenak saat melihat Ryura didepan mata mereka.
"Hahaha... Sudah kuduga! Ryura akan selangkah lebih dulu dari kita. Tunggu apa lagi! Ayo!" ajak Reychu sambil melangkah memasuki gerbong kereta dan langsung duduk tenang di tempat yang sama seperti sebelumnya.
"Lihat! Begitulah dia!" ujar Rayan dari dalam gendongan Ruobin.
Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untuk bergegas pergi menuju tempat tujuan mereka sebelum lebih terlambat.
Thor sudah berusaha keras untuk memuaskan kalian. semoga suka. jangan lupa like vote tips dan komen nya yoooo... πππ
__ADS_1