3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
ADU MULUT


__ADS_3

Kreet...


Tap!


Sepasang kaki mendarat sempurna di lantai kayu sebuah kamar. Ada sepasang kaki lainnya yang tampak berdiri tegap menghadap sepasang kaki yang baru saja melompat masuk melalui jendela. Saat kedua pasang mata itu beradu tak terlihat adanya perselisihan didalamnya. Lebih ke seperti ingin tahu apa yang dilakukan orang lain hingga membuatnya telat pulang. Persis seperti seorang ibu yang menunggu kepulangan sang anak yang sangat terlambat.


"Dari mana saja kau?" tanya seorang gadis dengan suaranya yang imut didengar kepada sosok gadis lain yang hanya diam tak merespon selain menatap balik. Gadis bersuara imut itu terdengar ketus.


Gadis imut itu mendengus. "Ryura! Kau habis melenyapkan siapa lagi kali ini? Aku tidak tahu kalau ada yang begitu mampu memancingmu keluar dari tempat mu untuk mendatangi siapapun itu. Lihat kau jadi jorok sekarang! Mandi sana! Dan buang baju itu! Ah... Tidak. Bakar itu! Menjijikkan!" sungut gadis imut yang tak lain adalah Rayan.


Ia dibuat jijik oleh Ryura yang baru saja pulang. Padahal niat awal ia ingin bermalam di penginapan Ryura sekaligus untuk kembali bersama setelah ia menyelesaikan urusannya dengan keluarga si pemilik tubuh. Sayangnya, setibanya di penginapan yang ia dapatkan hanyalah kamar kosong. Awalnya, ia berpikir kalau Ryura sudah tidak lagi menginap di sana. Jadi, ia memilih bertanya pada pengurus penginapan dan ia justru mendengar kalau Ryura masihlah tinggal dikamar itu. Akhirnya, ia memilih untuk tinggal dan menunggu.


Siapa sangka, Rayan benar-benar dibuat menunggu hingga fajar tiba. Dengan lingkaran hitam di bawah matanya dia menggeram kesal pada Ryura yang kini ada dihadapannya. Keacuhannya semakin membuat ia jengkel. Sudah pulang dalam keadaan kotor, kemudian diabaikan lagi! Rayan jelas kesal karenanya.


"Kau disini..." daripada pertanyaan, kalimat itu lebih kepada pernyataan. Mendengar itu, Rayan lantas memutar bola matanya tanpa sadar.


Dia mengantuk berat sekarang, kepalanya sudah mulai terasa pusing, matanya juga telah perih. Rayan merasa ia harus segera mengistirahatkan tubuhnya, ia tak mau sampai kekurangan tidur membuat kecantikannya terganggu.


"Menurutmu...! Sudah sana! Biar aku siapkan baju gantimu. Jangan lupa bungkus pakaian yang jorok itu biar nanti aku minta Ruobin untuk membakarnya. Jangan disimpan! Atau akan banyak kuman nantinya. Lagipula, kau akan dalam masalah kalau sampai ada yang menemukan pakaian kotor itu. Hush!" sambar Rayan dengan ekspresi jijiknya yang terpampang jelas sambil mengisyaratkan usiran dengan gerakan tangan. Ia bahkan sampai dibuat bergidik jijik karenanya.


Ryura tak menanggapi sikapnya Rayan yang sudah sering ia lihat. Jadi, Ryura pun memilih mengabaikannya dan pergi mandi seperti yang di katakan Rayan. Kalau tidak, sudah di pastikan gadis imut nan menggemaskan itu akan berpidato didepannya.


Tak butuh waktu lama, Ryura keluar dari ruangan lain sembari membawa sebungkus kain kotor di tangannya dan melihat sahabatnya telah pergi ke alam mimpi di peraduannya.


Sayangnya, matahari telah memancarkan sinarnya yang sudah terlihat dari celah daun jendela. Merasa kalau pagi telah datang, Ryura tak berniat untuk tidur sekarang.


Menaruh bungkusan ditangannya ke atas meja, lalu berjalan menuju jendela dan membukanya. Seketika wajah manisnya diterpa cahaya matahari, membuat wajah tak berekspresi itu bersinar dengan pesonanya sendiri.


Usai membuka jendela, Ryura pun bergerak untuk keluar kamar dan memesan sarapan pagi untuk dia juga Rayan.



Menggeliatkan tubuhnya yang masih belum puas untuk di istirahatkan, namun terpaksa harus bangun kala perutnya sudah lebih dulu meronta untuk diberi makan.


Dengan malas dan enggan Rayan membangkitkan diri dari alam mimpinya dan duduk dengan lesu. Dia baru tidur 2 jam dan itu belum cukup untuk memperbaiki kekacauan yang terjadi dengan lingkaran hitam di bawah matanya.


"Huhu... Aku ngantuk dan lapar!" rengek Rayan serayan mengerjapkan matanya dan seketika itu juga mata itu terbelalak kala melihat beberapa menu makanan tersedia di atas meja dengan Ryura yang sudah duduk cantik dan memakan makanannya sendiri.


Rayan mendengus karenanya. "Ryura, tidakkah kau harus membangunkan ku dulu kalau ingin mengajakku sarapan bersama." dengan jengkel ia berujar, kemudian mengangkat bangkit tubuhnya dan berjalan menuju meja untuk makan.


"Kau tidur." singkat sekali, tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk makannya.


Rayan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal lantaran kesal mendengarnya. Namun, itu benar bahwasanya dia sedang tidur. Dulu juga begitu, Ryura tak akan membangunkan siapapun diantara dia dan Reychu kalau dirasa keduanya sedang tidur pulas yang seolah enggan untuk bangun.


Tak ingin memperpanjang masalah sepele, akhirnya Rayan memilih untuk ikut sarapan. Lagipula, perutnya sudah menggeram sejak tadi.


Saat sedang asyik-asyiknya menikmati sarapan pagi. Tiba-tiba, pintu kamar penginapan dibuka dengan kasar. Lalu, muncullah...


BRAK!


"HALLO, EVERYBODY! ARE YOU MISS ME?" pekik suara gadis lain yang tak lain adalah Reychu dengan kerasnya sampai Rayan tak bisa menahan refleksi tangannya yang langsung melemparkan satu sumpitnya kearah sahabatnya yang mulai menggila pagi-pagi begini.


Beruntungnya, Reychu cepat sehingga sumpit tersebut tidak melukainya. Melainkan, tertangkap oleh tangannya. Matanya memelototi Rayan seketika dengan Ekspresi berlebihan. Dia tak pernah serius.


"Mulutmu, Rey! Jangan asal bicara! Atau orang akan mencurigaimu dan berpikir kalau permaisuri mereka benar-benar sudah gila!" sembur Rayan jengkel setengah mati pada sahabatnya yang satu itu.


"Yo... Rayan sayang. Perlu ku perbaiki satu katamu! Yang benar adalah calon mantan permaisuri! Kau harus ingat itu!" ralat Reychu tak terima. "Siapa yang masih mau jadi permaisuri untuk laki-laki seperti Li Hanzue itu. Batangnya sudah kotor karena sudah memasuki banyak tempat, bagaimana aku bisa menerimanya?! Itu menjijikkan kau tahu!" gamblang Reychu seraya menutup kembali pintunya dan berjalan ke arah mereka dan langsung menduduki kursi yang tersisa.

__ADS_1


Melihat itu Rayan baru menyadari kalau ada tambahan kursi dikamar ini.


"Oh, ya... Apa yang kau lakukan disini? Apa kau membawa pengawal bersamamu?" tanya Rayan begitu menyadari kalau sahabatnya itu memakai tubuh seorang permaisuri. Jadi, secara tidak langsung ia pun mempertanyakan kunjungan Reychu ke penginapan Ryura di pagi hari.


"Aku kabur! Tidak perlu risau. Chi-chi sudah ku beri tanggungjawab di istana untuk ku. Dia akan datang secepat yang dia bisa untuk menjemput ku pulang kalau ada sesuatu yang terjadi disana." jelas Reychu dengan mata yang terfokus pada satu mangkuk nasi didepannya. Ia tersenyum senang, lalu mengambilnya.


Melihat itu, Rayan kembali tertegun dan sadar kala Reychu mengangkat mangkuk berisikan nasi lainnya yang ia tak tahu kalau ternyata ada mangkuk lain disediakan lagi disana seolah memang disediakan untuk 3 orang. Segera matanya dialihkan ke Ryura yang tengah menikmati makannya tanpa peduli dia dan Reychu yang tiap kali bertemu akan selalu menciptakan keributan.


Tapi, karena penasaran Rayan pun bertanya. "Kau menyiapkan 3 porsi sarapan ini?" di jawab anggukan kepala oleh Ryura. Kemudian, Rayan menggelengkan kepalanya takjub.


"Hahaha... Hebat! Kau lihat itu! Dia masih sepeka dulu! Tahu saja kalau aku akan datang! Dia sudah langsung menyiapkan satu porsi lagi! Hahaha..." kata Reychu bahagia sembari menyumpit daging di piring yang tersedia, lalu memasukkannya kedalam mulutnya. "Umm. Enak!"


Tak bisa dipungkiri oleh keduanya soal kepekaan Ryura yang mengalahkan mereka yang sebenarnya juga peka, namun tidak sepeka Ryura.


Gadis tak berekspresi itu selalu dua langkah didepan mereka. Tapi, itu bukan masalah bagi Rayan dan Reychu. Sebab, mereka tahu setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing.


Akhirnya, mereka pun menikmati makanannya lagi sembari sesekali bergurau.


Sampai tiba-tiba, suara teriakan seseorang menggema dari luar.


"RYURA! KELUAR KAU! RYURA! PEREMPUAN HINA DAN BOD*H! KELUAR KATAKU! AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU SEKARANG! KELUAR, RYURA...!!!"


Ketiganya kaget dibuatnya. Oh, tidak. Hanya dua saja yang terkejut.


Reychu segera bangkit mendekati jendela untuk melihat siapa yang dengan bodohnya berteriak di pagi hari dan mengganggu waktu makan orang lain. Tanpa berpikir kalau beberapa saat lalu, dia pun sama.


"Wow. Siapa gerangan pemuda itu?!" seru Reychu begitu melihat rupa marah lelaki di depan bangunan penginapan yang kini dia dan sahabatnya tempati. Bisa ia lihat juga kalau kini di sekeliling pemuda itu sudah mulai ramai oleh orang yang penasaran dengan apa yang hendak terjadi.


"Siapa-siapa?" datang Rayan yang ikut penasaran. Saat ini keduanya sudah berada di jendela untuk melihat. "Eh! Itu saudara pemilik tubuh yang ditempati Ryura! Sayangnya, aku tak tahu namanya. Huh! Padahal dia tampan juga!" kata Rayan yang tidak di pedulikan Reychu selain kalimat awalnya. Kemudian, gadis gila itu berteriak.


"HEI, KAU! BERHENTI BERTERIAK! KAU MENGGANGGU WAKTU ORANG LAIN, APA KAU TAHU?! KURASA TIDAK! MAKA DARI ITU, ENTAHLAH!"


Rayan tak bisa bila tidak menepuk keningnya dan menghela nafas lelah. Sahabatnya ini, benar-benar sesuatu...


"Sudahlah, Rey! Mari kita kembali. Ini masalah Ryura. Kita tanya saja padanya mau di bagaimana kan!" usul Rayan.


"Kau benar!"


Begitu keduanya berbalik, mereka sudah tak lagi melihat sosok Ryura di meja makan. Melihat itu, Reychu kembali menoleh kebelakang dan melongok kembali dari jendela.


"Si*lan! Kapan dia keluar! Dia sudah di sana saja!" celetuk Reychu lancar.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Ayo, kita susul dia!" ajak Rayan seraya berlari keluar duluan, lalu disusul Reychu.



Di depan penginapan, seorang pemuda tampan sedang berteriak marah dan frustrasi. Penampilannya sudah sangat kacau. Dia yang biasanya tenang kini sudah tidak lagi. Keterpurukan menguasainya, ditambah dengan amarah dan kebencian yang tak bisa ia bendung lagi. Hanya satu nama yang kini terngiang di telinganya dan itu membuat ia ingin seklai membunuhnya.


"KELUAR KAU, RYURA!" usai teriakan terakhir di ucapkan, sosok yang nantikan pun muncul.


Pemuda yang tak lain adalah Han Wu Shin tak tahu harus berkata apa. Wajah tak berekspresi Ryura selalu menjadi tanda tanya di benaknya mengenai bagaimana bisa adik bungsunya yang lemah, idiot, dan bodoh itu menjadi seperti sekarang ini. Ia masih tak bisa percaya, akan tetapi perasaan itu tak bisa mengalahkan fakta yang pernah ia lihat dengan kedua matanya. Yaitu, saat gadis itu membunuh saudaranya saat akan melakukan pemakaman untuk pamannya.


Semua itu masih terekam jelas di pikirannya.


"KAU... HUH! ITU PASTI KAU, KAN! ITU KAU! KAU YANG MEMBUNUH KELUARGA KU, BENARKAN! KAU PEMBUNUHNYA!"


Kalimat yang Han Wu Shin teriakan berhasil menarik perhatian orang-orang disekitar. Karena itu, bisik-bisik pun mulai terjadi. Tapi, semua itu tak membuat Ryura bergeming dari tempatnya. Ryura hanya diam sambil menatap lurus kearah Han Wu Shin tanpa terganggu sedikitpun.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu Rayan dan Reychu muncul 2 meter di belakang Ryura. Diantara ketiganya, untungnya Rayan yang tak lupa dengan topeng yang kini menjadi identitasnya atau orang-orang akan tahu fakta kalau Yu Rayan masih hidup.


"Dia menggila!" celetuk Reychu spontan begitu melihat penampilan kacau Han Wu Shin.


"Jangan keras-keras! Kau akan membuat orang lain mendengarnya!" peringatan dari Rayan.


"Kau tidak lihat, betapa kacaunya dia. Ketampanannya jadi hilang!" kata Reychu lagi seraya menunjuk ke arah Han Wu Shin yang benar-benar kacau.


"Namanya juga sedang frustrasi!" timpal Rayan yang ikut memandangi pria tampan yang kacau itu.


"Lalu, kenapa dia marahnya ke Ryura! Apa Ryura pelakunya?!" tanya Reychu.


"Kurasa begitu!" jawab Rayan begitu mengingat apa yang dia lihat saat Ryura pulang dengan berlumuran darah fajar tadi.


"Si bod*h itu. Lantas kalau benar, kenapa?! Dia juga tak akan bisa menemukan buktinya! Karena, Ryura tak pernah meninggalkan bukti apapun setiap kali melakukannya!" sambar Reychu dengan bangga untuk sahabatnya.


"Hem. Kau benar! Aku jadi menyayangkan wajah tampannya yang kini tidak terurus. Bagaimana kalau biarkan aku menanganinya?!" kata Rayan dengan wajah manjanya.


"Dalam mimpi mu!" jengkel Reychu akhirnya berujar.


"Kau!" kekesalan Rayan tersulut.


"Apa?! Jangan jadi murahan, sayang!" lagi, mulut Reychu tak bisa di rem.


"Apa kau bilang?! Hati-hati kalau kau bicara! Aku mahal! Ingat itu! Kau mungkin yang murahan!" sungut Rayan tak terima.


"Oh, tidak... Aku lebih dari mahal. Setidaknya aku tidak se-gatal dirimu, bila berhadapan dengan lelaki tampan!" tambah Reychu seolah tak paham seperti apa karakter Rayan.


"Aku benar-benar ingin merobek mulutmu, Rey!"


"Sayang, kau tak akan bisa. Memangnya aku tak kenal dirimu, yang tak suka kotor meskipun kau bermain dengan darah!"


"Huh! Kau lupa! Aku bisa meracunimu, sayang!"


"Oh, ya..." belum usai Reychu membalas perkataan Rayan, tiba-tiba saja sebuah tangan muncul dari belakang begitu juga dengan Rayan. Lalu...


Hap!


Mulut keduanya di bekap dengan tangan besar yang sangat di kenali oleh Rayan. Siapa lagi kalau bukan tangan Ruobin.


"Ruobin!" batin Rayan kaget begitu melihat Ruobin di tengah-tengah dia dan Reychu.


"Siluman!" batin Reychu pun sama, begitu ia melihat pria bertopeng di tengah dia dan Rayan.


"Kalian berdua berisik! Diamlah! Ini urusannya Ryura! Biarkan dia yang mengatasinya. Kenapa jadi kalian yang bertengkar!" desis siluman itu kesal sendiri.


Tadi, ia datang setelah melihat kekacauan di depan penginapan bersamaan dengan sepasang perempuan yang dikenalnya tampak sednag adu mulut di belakang Ryura. Melihat itu, ia tak bisa tidak memutar bola matanya jengah.


Ruobin tahu, Rayan dan Reychu adalah sahabat yang tak pernah bisa menjadi manis untuk dilihat bersamaan.


"Hmm... Hmm... Hm..." Rayan masih berusaha mengomel walau tak bisa, namun matanya tidak menutupi kekesalannya pada Reychu. Gadis gila satunya pun sama, masih ingin membalas walah jelas tidak bisa.


Ruobin bisa merasakan pemberontakan di tangannya. Lagi-lagi, kedua gadis di kiri dan kanannya ini masih belum mau berhenti. Alhasil, Ruobin harus bertahan untuk tetap menutup mulut keduanya agar tidak berisik. Kemudian, diapun memilih diam dan mengabaikan keduanya yang terus menerus adu tatapan seolah bisa berbicara melalui mata mereka.



kembali lagi... selamat membaca gaess...

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2