
"GUYYYYYYYYSSSSSS...!!!"
Teriakan menggelegar Rayan datang dari luar mengejutkan orang rumah sampai seekor cicak yang menempel dikaca luar jendela terkaget-kaget sampai melepaskan rekatan kakinya dan meluncur jatuh kemudian.
Rayan baru saja memasuki rumah mereka dengan tergesa-gesa sambil membawa beberapa kantong plastik ditangannya, tampaknya dia baru saja pulang berbelanja.
Reychu yang sedang menonton film pembunuhan terpaksa menoleh lantaran tersentak mendengar teriakan sahabatnya hingga dia melewatkan adegan berdarah di film tersebut. Ini membuat Reychu berdecak kesal.
Jadi, suara sahutannya pun tak kalah keras. "APAAAA???"
BLAM!
Suara lain datang setelahnya hampir tanpa jeda dan menghentikan keributan yang akan terjadi diantara Rayan dan Reychu. Sebab, suara pintu dibanting lebih menarik perhatian mereka daripada berdebat lagi seperti biasa.
Ternyata, sudah ada Ryura disana bak hantu yang menatap mereka berdua tak senang lalu satu kata keluar membuat dua lainnya benar-benar bungkam.
"Berisik!"
Setelah melihat Rayan dan Reychu tak lagi bersuara, Ryura hendak berbalik masuk kembali kedalam kamarnya tapi dihentikan oleh perkataan Rayan yang menggebu.
"Ada pekerjaan untuk kita!"
Reychu mengernyitkan keningnya. "Pekerjaan apa sampai membuat mu bergegas seperti itu?" Ryura diam-diam setuju dengan pertanyaan Reychu, tapi sepertinya dia sudah menebak pekerjaan apa yang ingin Rayan sampaikan hingga terburu-buru.
Apa lagi kalau bukan untuk membunuh seseorang?
Tapi, dia masih memilih mendengarkan hanya untuk mengetahui siapa lagi yang berani membayar mereka mahal untuk tugas ini.
"Tuan Muda Chen! Chen Ki Jun!" seru Rayan sambil memandang Ryura dan Reychu bergantian.
Ryura tak pernah menduga akan jadi pria itu. Jadi, dia hanya berkedip sebagai respon kagetnya.
"Wow. Dia lagi?! Kali ini apa maunya?" tanya Reychu seraya mengangguk-anggukkan kepalanya cukup tahu nama siapa itu.
Tuan Muda Chen adalah salah satu dari sekian banyak pelanggan mereka yang memiliki dendam besar hingga berani membayar mahal untuk meminta bantuan mereka guna menuntaskan dendam tersebut.
Tapi, untuk Tuan Muda Chen sendiri, dia memang sudah sering meminta bantuan mereka untuk hal-hal berat yang tidak bisa dilakukan oleh pebisnis jujur sepertinya. Hanya saja, tugas sebelumnya tidak sampai harus membunuh seseorang.
Paling berat hanya sampai menyebabkan jera lawannya saja.
Jadi, ketika kabar ini sampai ke telinga mereka, untuk mereka jelas tidak menyangka ada hari dimana Tuan Muda Chen melewati garis kemanusiaan.
"Kali ini dia ingin kita membunuh seseorang." kemudian matanya menetap di wajah santai Reychu, kemudian melanjutkan. "... Dan orang itu adalah Martin Gong!"
Mata Reychu terbelalak mendengarnya ditambah secara kebetulan tayangan film berdarah yang ditontonnya saat ini juga mengeluarkan dialog yang sesuai dengan apa yang ingin Reychu katakan.
"After so long, finally... The time has come for me to kill you...! HAHAHAHAHAHA!!!"
(Setelah sekian lama, akhirnya... Waktunya sudah tiba untuk aku membunuhmu...! HAHAHA...!!!)
Hanya saja, suara orang yang mengatakan itu adalah suara laki-laki yang berat. Tapi, itu bukan masalah...
__ADS_1
Martin Gong!
Itu adalah nama orang yang paling ingin ia singkirkan di dunia ini dan Reychu selalu menanti dengan sabar-sabar tidak. Siapa yang tahu akhirnya penantiannya pun tiba.
"Aku tidak salah dengar? HAHAHAHAHA... Akhirnya... Akhirnya..." Reychu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil mendongakkan kepalanya sebagai bentuk kebahagiaan karena akhirnya apa yang paling ingin ia lakukan akan segera terlaksana.
"Aku sudah menduga, kau akan senang mendengarnya. Tapi, tentunya kita tidak bisa langsung mendatangi target kita tanpa persiapan. Jadi, mari bersiap..." menoleh kearah Ryura. "Ryu! Cari lokasi keberadaan target!" beralih ke Reychu. "Rey! ..." belum selesai Rayan bicara. Reychu sudah memotongnya.
"Oke, selesai! Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, lakukan saja bagian mu!" potong Reychu sambil tersenyum sumringah tanpa beban.
Karena, paham orang seperti apa Reychu itu. Alhasil, Rayan tak ambil pusing dengan tingkah laku sahabatnya
Kemudian, ketiganya pun mulai bersiap.
Sambil menyibukkan diri untuk bersiap. Ternyata, mereka masih sempat mengobrol santai dengan topik perihal tugas baru mereka.
"Ray, memangnya kenapa Gong-gong itu bisa berurusan dengan Tuan Muda Chen? Apa yang sudah dilakukan pria bo*oh itu pada Tuan Muda Chen? Tapi, sepertinya tidak mengherankan bila dia terlibat masalah. Pria itu memang biang masalah. Huh! Jadi Tuan Muda tak berguna saja bangga!" itu yang Reychu katakan sesuai dengan apa yang terlintas dibenaknya tentang Martin Gong.
Rayan mengangguk setuju dan masih menjawab. "Aku tidak tahu pastinya. Tapi, kurasa tidak jauh dari menyinggung yang tidak seharusnya. BAGAIMANA MENURUTMU, RYU?" menoleh kearah kamar Ryura sambil menggunakan suara kerasnya di akhir kalimat.
Dia begitu karena Ryura sudah menghilang lagi kebalik pintu kamarnya setelah tadi dia mengatakan tugas baru mereka.
Ryura benar-benar suka menyendiri.
Hening sejenak, sebelum suara datar Ryura benar-benar keluar dari balik pintu tertutup. "Dia menghina Tuan Muda Chen karena membawa perempuan yang pernah ditidurinya."
Mereka tidak tahu bagaimana Ryura mengetahuinya karena Ryura selalu tertutup soal itu, meskipun begitu saat ini mata mereka tetap terbelalak setelah mendengarnya. Sedikit banyaknya mereka sudah bisa membayangkan bagaimana alur ceritanya hingga Tuan Muda Chen menghubungi mereka untuk memberikan tugas baru.
"Waah! Sayang sekali, aku tidak ada ditempat kejadian! Aku benar-benar ingin tahu seperti apa wajah Tuan Muda Chen saat dia merasa terhina. Pasti langka dan eksklusif. Sayang sekali..." tak pernah ada yang tahu bagaimana cara Reychu menggunakan otaknya untuk berpikir.
Jadi, sesuka hatinya saja.
Sebagai pembunuh bayaran, mereka tidak mungkin tidak tahu nama-nama keluarga kaya dan terpandang hingga dihormati sampai ditakuti. Bahkan demi menunjang kesempurnaan profesi mereka, 3Ry memiliki informasi paling lengkap dan selalu up to date tentang keluarga-keluarga hebat itu. sampai-sampai konflik pribadinya pun mampu dikorek oleh 3Ry.
Oleh karena itu, pelanggan cukup sebutkan nama siapa yang harus mereka urus, mereka akan langsung tahu siapa yang dimaksud dan selebihnya, pelanggan hanya perlu menunggu sambil menyiapkan sejumlah uang untuk digunakan sebagai pembayaran sesuai dengan yang sudah disepakati.
Waktu dihabiskan untuk bersiap sebelum akhirnya makan malam tiba.
Seperti biasa, Rayan yang akan memasak sedang yang lainnya menunggu panggilan makan. Terkadang Reychu menyempatkan diri untuk membantu versi dirinya yakni mengganggu yang pada akhirnya membuat Rayan menendangnya keluar dapur. Sementara Ryura, seperti yang sudah-sudah, dia tak keluar kamar sampai dipanggil untuk makan malam.
Kini ketiganya sudah ada dimeja makan menikmati makan malam sambil berbincang. Tidak ada etika makan tertentu dalam cara mereka menyantap makanan diatas meja. Intinya mereka bebas.
"Sudah menemukan tempat Gong-gong itu berada?" tanya Reychu seperti menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan manusia. Jika, didengar oleh orang-orang mereka pasti akan memandang gadis dewasa itu buruk.
Tapi, siapa peduli!
"Hm..." Ryura berdehem sambil terus menyantap makanannya.
"Dimana itu?" serbu Reychu tidak sabar.
"Rey. Please! Biarkan Ryura menelan makanannya dulu, bo*oh! Kau mau dia mati tersedak karena harus menjawab pertanyaan mu ditengah-tengah kegiatan makannya?!" tegur Rayan tak pernah tak jengkel dengan Reychu.
__ADS_1
"Cih. Aku kan hanya bertanya. Dia bisa menjawabnya nanti setelah makan." jawab Reychu membela dirinya dengan acuh tak acuh.
"Seolah-olah kau akan dengan sabar menunggu. Huh. Aku tidak buta untuk melihat bagaimana matamu seperti mau keluar dari tempatnya karena menanti jawaban Ryura!" lama-lama tersulut lagi emosi Rayan karena Reychu.
Mereka kembali berdebat satu sama lain sambil makan, sesekali perdebatan mereka disempurnakan dengan pertarungan sumpit karena secara tidak sengaja menginginkan menu makanan yang sama dari menu yang tersedia diatas meja.
Namun, itu tak berlangsung lama setelah mendengar Ryura angkat bicara usai meletakkan sumpitnya tanda selesainya makan malamnya.
"Fun Box Night Club."
Dua sahabatnya tersentak kaget mendengarnya.
"Apa? Fun Box Night Club?" serempak keduanya.
"FBN Club yang itu?" Ryura hanya menyoroti Rayan dengan kata-kata dalam tatapannya 'memang ada berapa Club itu?'.
"FBN Club?! Wah... Luar biasa! Tempat itu benar-benar seperti dunia lain!" celetuk Reychu memikirkan tempat yang akan ketiganya tuju untuk berurusan dengan Martin Gong.
"Berarti kita akan kesana?" tanya Rayan memastikan.
Ryura hanya mengangguk membenarkan.
"Baik. Mm... Sudah memikirkan cara untuk masuk? Yang ku tahu FBN Club tidak seperti tempat hiburan malam pada umumnya. Itu butuh kartu khusus..." intonasi bicara Rayan melemah saat matanya melihat Ryura menyodorkan sesuatu kedepannya.
Yaitu, sebuah kartu akses masuk FBN Club.
Rayan sampai tak tahu bagaimana harus bersikap. Pasalnya, kejadian seperti ini sering terjadi. Ryura selalu siap dengan segala hal tanpa ada yang tahu bagaimana dia melakukannya. Padahal sudah sering, tapi Rayan dan Reychu masih saja kecolongan.
"Seharusnya aku tidak bertanya begitu." Rayan tak tahu apakah ini tergolong mengeluh atau apa.
Fun Box Night Club adalah tempat hiburan malam yang dibuka khusus untuk rakyat kelas atas yang pendapatan perbulannya mencapai milyaran, sebab bayaran tiap menghabiskan malam disana tidak murah belum lagi minuman yang bukan sembarang minuman.
Minuman-minuman itu juga dipesan khusus sehingga harganya juga bagus.
Di sana, siapapun tidak akan menemukan orang biasa dari kalangan kelas menengah ke bawah. Karena sudah jelas tidak akan mampu.
Tempat hiburan malam ini benar-benar dibangun dengan perencanaan yang matang. Tidak hanya desain bangunannya yang unik, tempatnya yang terpencil saja tak membuat pelanggan keberatan untuk datang, dikarenakan fasilitas yang disediakan lain dari yang lain dan lengkap hingga membuat orang-orang yang suka tempat seperti itu enggan untuk keluar.
Bahkan untuk menjadi pegawai didalam sana saja, mereka diharuskan melakukan pelatihan khusus selama 3 bulan sebelum dinyatakan lulus. Belum lagi pelatihan saja tidak cukup, para pegawai juga diharuskan memiliki fisik yang bagus. Karena fakta yang hampir semua orang tak tahu adalah, masuk kesana para pegawai tidak lebih dari budak dalam kemasan yang bagus.
Pegawai yang mengambil bagian pelayanan minuman baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki paras rupawan sehingga bila ada pelanggan yang lebih menginginkan mereka daripada PSK yang sudah disediakan, sesuai kontrak yang ditandatangani mereka tidak boleh menolak untuk melayani. Termasuk melayani pelanggan gay dan lesbian.
Jadi, mau tidak mau mereka yang memilih bekerja disana harus mau. Karena itu, tak jarang ada yang berhasil melenceng seksualitasnya berkat semua itu.
Bisa dibayangkan bagaimana luar biasanya tempat itu?
Makanya, bisa dikatakan pekerja disana tidak ada yang tidak berpengalaman soal ranjang. Baik dalam melayani sesama jenis maupun berlainan jenis.
Dan hal yang paling membuat mereka hampir tidak ada yang menyesali memilih pekerjaan itu adalah karena bayarannya yang luar biasa tinggi.
Bahkan dalam 3 bulan, setiap pegawai sudah bisa membeli apartemen kelas menengah ke atas.
__ADS_1
Bukan main tipu daya gemerlap dunia ini...