
Rumah sakit sama ramainya dengan hari-hari sebelumnya dan seperti biasa, ketika pemilik rumah sakit datang bersama istrinya, sudah pasti mereka mendapatkan sambutan dan sapaan hormat yang nyaris tiada habisnya.
Sebenarnya, Rayan risih tapi dia pikir beginilah resiko memiliki pasangan yang luar biasa. Maklum, sebelum menjadi istri Shin Mo Lan, Rayan hanya rakyat biasa yang hidup biasa saja.
Itu menurutnya.
"Apa mereka tidak lelah sampai melakukan hal itu berulang-ulang. Kalau aku sudah pasti lelah." ujar Rayan mode polos.
Shin Mo Lan tertawa tertahan mendengarnya. "Itukan kau, sayang. Mereka mana berani berlaku begitu. Sudah terima saja." katanya sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri.
"Iya, sih." Rayan menghela nafas panjang dan berujar. "Tidak pernah terbayangkan oleh ku akan berada di posisi ini. Rasanya, luar biasa. Hihihi..." ia menutup mulutnya dan terkikik.
Shin Mo Lan melirik dengan sayang lalu melabuhkan satu kecupan di kening sang istri yang mana adegan itu dilihat oleh banyak pasang mata yang seketika meleleh dibuatnya.
"Aaaahhhh... Master Shin so sweet sekali...!!!"
"Apa yang baru saja aku lihat?"
"Mataku! Tolong, mataku butaaa!!!"
"Ya Tuhan! Buatkan satu lagi yang seperti Master Shin!"
Keduanya sedang berjalan menuju ruangan Shin Da Ming tanpa menghiraukan reaksi orang-orang yang melihatnya.
"Sekarang apa yang ingin istriku ini lakukan di rumah sakit hari ini?"
"Apa lagi... Tentu saja aku akan menjadi asisten pribadi mu lagi seperti sebelumnya. Kau tahu sendiri kan... Aku belum tenang kalau hama pengganggu rumah tangga kita masih berkeliaran diluar sana. Aku harus membasminya sampai tuntas baru bisa tenang." tukas Rayan penuh semangat.
Memang beberapa hari setelah pesta ulang tahun Tuan Tua Jiang tempo hari, Rayan menjadi kian posesif apalagi setelah tahu kalau hama yang harus di basmi lebih sulit dari hama yang mengganggu rumah tangga Ryura. Jadi, dia ekstra fokus. Dia bahkan meninggalkan Reychu dan Ryura agar bisa mengekor suaminya. Beruntungnya Shin Mo Lan tidak keberatan dan malah senang karena waktu berduaan bersama istri tercinta menjadi lebih banyak walaupun waktu keduanya digunakan untuk bekerja. Bagi Shin Mo Lan itu bukan intinya, paling tidak bisa bersama Rayan apapun situasinya bukan masalah.
"Masih tak ingin aku bantu?" tanya Shin Mo Lan entah sudah jadi yang ke berapa kali.
Mengayunkan jari telunjuknya, Rayan berkata. "No no no... Suamiku tidak boleh berurusan dengan yang namanya perempuan. Sudah seharusnya perempuan berurusan dengan perempuan. Lagipula, aku tak akan membiarkan suami ku melakukannya. Tentu aku tahu, kalau kau yang turun tangan masalahnya akan lebih cepat selesai. Tapi, hal itu akan membuat orang-orang berpikir kalau aku sebagai istri hanya terima beres dan dimanja saja. Mereka tidak akan berpikir aku mampu menyingkirkan pengganggu semacam itu kalau mereka tidak melihatnya langsung. Berbeda ceritanya kalau mereka melihat kau tetap disibukkan dengan pekerjaan mu dan aku yang mengurus hal-hal diluar dari itu. Ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi mereka yang masih memiliki keinginan yang tidak pantas tentang mu. Paling tidak, dengan mereka tahu kalau aku bukan lawan sembarangan, mereka jadi berpikir ribuan kali untuk mengusik rumah tangga kita."
Semakin Shin Mo Lan mendengar penjelasan Rayan semakin binar cinta bersinar dimatanya seraya menatap wajah antusias sang istri kala berbicara. Tatapannya seperti tak ada siapapun yang masuk kedalam matanya selain sang istri. Dia bangga memiliki Rayan sebagai pendamping hidupnya.
Shin Mo Lan benar-benar pemuja nomor 1 sang istri.
__ADS_1
"Baiklah. Lakukan apapun yang membuat mu senang. Tak usah memikirkan apapun, karena kau memiliki aku. Begitu pun jika nanti kau butuh bantuan ku. Mengerti sayang?" Tukas Shin Mo Lan.
Rayan mengangguk menerima dengan senang hati. Dia tak mungkin menolak kala suaminya ingin memanjakan dia. Justru itu bagus, dengan begini bisa membuktikan bahwa suaminya teramat sangat mencintainya hingga tak ada celah untuk cinta itu hilang.
Sampai keduanya tiba di ruang kerja Shin Mo Lan dan masuk kedalamnya.

Hari ini sangat sibuk, selain pasien yang terjadwal di buku agenda Shin Da Ming ada juga pasien dadakan karena kondisinya yang darurat.
Shin Da Ming, meskipun pemimpin rumah sakit dan cenderung mengurus pasien tertentu bukan berarti dia menolak pasien biasa. Justru, rumah sakitnya di bangun dengan tujuan memudahkan semua orang untuk berobat. Jadi, bagaimana bisa dia masih pilih-pilih.
Seperti saat ini, ada pasien gawat darurat yang membutuhkan penanganan khusus atau tepatnya membutuhkan tenaga medis lebih sebab pasien kali ini berjumlah banyak karena berasal dari korban tabrakan beruntun. Kondisinya beragam, tapi mengenaskan. Jadi, baik Shin Da Ming maupun istri, keduanya harus turun tangan.
5 jam berlalu barulah pasangan itu bisa bernafas lega.
"Kerja bagus semuanya." seru Shin Da Ming dengan ekspresi wajah tetap datar, namun kepuasan akan kinerja para dokter dan perawat di rumah sakitnya terlihat dimatanya.
"Terimakasih, Master Shin!" Serempak semuanya turut senang mendapatkan pujian dari pemilik rumah sakit. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali mendapatkan pujian dari Shin Da Ming sehingga rasa lelah segera terbayar lunas.
Sebagai orang yang memiliki kemampuan di bidang medis, Rayan tahu rasanya berhasil menyelamatkan. Meskipun, dia lebih banyak membunuh sebelumnya daripada menyelamatkan.
"Setelah ini, tempatkan beberapa dokter dan perawat untuk memantau perkembangan mereka lebih lanjut. Terutama untuk pasien yang kondisinya lebih serius. Seperti prosedur yang sudah saya tetapkan di rumah sakit ini... Utamakan kesehatan dan nyawa pasien siapapun yang datang. Jadi, kalian pasti tahu apa yang saya maksudkan..." pengingat itu Shin Da Ming serukan dengan tajam.
Bukan apa-apa, meskipun dia yang menjadi pemimpin serta pemilik rumah sakit. Bukan berarti tidak ada beberapa orang yang tetap berani menyeleweng dari ketetapan yang sudah ditentukan. Jadi, Shin Da Ming tak pernah bosan mengingatkan di setiap ada kesempatan agar mereka yang bekerja bersamanya tahu dan ingat kalau mereka bekerja bersama seseorang seperti dirinya.
Semuanya meneguk ludahnya dengan penuh kesulitan. Bukan rahasia lagi bila MOZHILLI ACADEMY HOSPITAL berpegang pada peraturan yang lain daripada yang lain. Tentu semua peraturan dan prosedur berasal dari Shin Da Ming alias Shin Mo Lan selaku pemilik serta pemimpin tempat luar biasa itu.
"Dimengerti, Master Shin!" lagi semuanya menjawab dengan serempak.
Setelah mendapat jawaban pasti para dokter dan perawat, barulah Shin Da Ming dan Rayan pergi meninggalkan mereka. Melihat punggung dua atasan menjauh baru mereka bisa bernafas lega.
"Astaga, tadi itu menakutkan sekali." Ujar salah satu dokter laki-laki seraya mengelus dada.
"Kapan Master Shin tidak menakutkan? Beliau selalu menakutkan dimana pun dan kapanpun itu." tukas dokter perempuan disebelahnya menanggapi dengan tangan mengibas-ibaskan di depan wajahnya karena kepanasan setelah mondar-mandir sedari pasien gawat darurat masuk.
"Master Shin memang menakutkan. Tapi, kupikir dia begitu karena ingin segalanya di rumah sakit ini berjalan dengan baik. Bukankah semuanya juga tahu betapa manisnya Master Shin saat bersamaan Nyonya Shin? Itu menandakan Master Shin adalah tipe pria yang hangat didalam tapi dingin diluar." Dokter perempuan yang lain menimpali dengan wajah sumringah bagaikan penggemar garis keras.
__ADS_1
"Yang itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan dari sebelum ada Nyonya Shin pun Master Shin sudah di cap sebagai pria dengan tipe itu. Bukankah desas-desus waktu itu yang mengatakan kalau Master Shin sudah memiliki tambatan hati namun di rahasiakan sudah tersebar. Sayangnya, tak ada yang meyakininya karena Master Shin tidak terlihat memiliki seseorang yang spesial hanya karena beliau selalu sibuk di rumah sakit, sampai rumah sakit seperti rumahnya sendiri. Kita bisa melihat beliau hampir 24 jam." terang dokter laki-laki lainnya yang di benarkan oleh dokter-dokter dan perawat-perawat disekitarnya.
"Apakah itu semacam, cinta lama bersemi kembali?" Cetus salah satu perawat menebak.
"Bisa jadi." celetuk seorang dokter dengan tidak yakin. Dia sendiri juga tidak tahu pasti.
"Eh! Tidak mungkin!" sela perawat yang lain. "Apa tidak pernah mendengar berita yang pernah booming juga mengenai kisah asmara Master Shin? Ada yang membocorkan kalau Master Shin pernah berpacaran dengan salah seorang putri dari keluarga Jiang. Tapi, berakhir putus karena Master Shin dikhianati..."
"Ooh, iya... Aku pernah mendengar berita itu. Kalau begitu, jelas tidak mungkin kalau Master Shin terlibat kisah cinta lama bersemi kembali. Yang menjadi Nyonya Shin sekarang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Jiang."
"Tepat sekali!"
"Oke, kalau begitu selesai sampai disini. Aku hampir lalai mengusir kalian untuk kembali ke pos masing-masing. Bisa tamat kita kalau sampai Master Shin tiba-tiba muncul dan melihat kita malah masih disini. Ayo, pergi, pergi!" angkat bicara seorang dokter senior yang sedari tadi asik mendengar yang lain bercerita sampai nyaris melupakan hal yang lebih penting.
"Oh, ya ampun. Hampir lupa."
"Baik-baik, Dokter!"
"Kau selesaikan segera data pasien yang baru, lalu bawa padaku!"
"Siap, Dok!"
"Atur jadwal periksa mereka dengan dokter yang ditugaskan dan pastikan perawat mengeceknya secara berkala."
"Baik, Dokter!"
Segera, begitu mendengar pengingat tersebut, segera membubarkan diri dan kembali bh. Tak pernah terbayangkan oleh mereka untuk hengkang dari rumah sakit favorit semiliar umat ini. Jadi, lebih baik cari aman saja.
Karena hal itu juga, mereka jadi tidak menyadari kalau ada seseorang yang mencuri dengar tak jauh dari mereka. Dia bukan dokter, perawat, atau bahkan karyawan rumah sakit itu. Tapi, dia adalah Jiang Wanxi yang mencoba menyembunyikan keberadaannya saat tadi hendak melewati para petugas medis disana, namun terganggu dengan topik yang sedang dibicarakan.
Dia yang baru akan menjenguk temannya yang sakit harus menunda sejenak karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Yaitu, mendengar hal-hal yang berkaitan dengan Shin Da Ming. Pria incarannya.
Hampir semua yang dibicarakan bukan hal yang bagus menurutnya, tapi setidaknya dari sepenggal informasi ini dia tahu harus bagaimana memulai.
Senyum miring nan tipis penuh arti terukir di bibirnya. "Aku sungguh sudah tidak sabar..."
__ADS_1