
Kedua tangannya mengepal kuat kala mata peraknya disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya marah bukan main.
Bagaimana tidak marah? Didepan matanya ia harus melihat Rayan di siksa dengan hukuman pukul. Itu benar-benar tidak dapat ia terima.
"Rayan...?! Apa-apaan ini?! Baru saja aku ingin membayangkan kau merobohkan keangkuhan Keluarga mu. Tapi, kenapa malah sekarang aku justru melihat mu yang di robohkan! Dasar bocah ini! Tidak bisa bila tidak membuatku khawatir." ia melesat pergi begitu saja usai mengucapkan bentuk kekesalannya pada keluarga Yu juga sahabat manusianya, Rayan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Astaga... Hancur sudah bokong indahku! Padahal belum juga di sentuh tangan suami, sekarang malah di sentuh papan besar itu. Miris sekali! Kenapa juga harus sekarang lelahnya... Huhuhuhu... Aku kembali mau istirahat... Bukan mau menerima hukuman yang tidak seharusnya aku dapatkan... Si*lan!!!" hatinya terus menggerutu seraya meringis menahan sakit kala bokongnya terus mendapatkan pukulan hingga yang ke 17 kali.
Melalui ekor matanya dia bisa melihat bagaimana Keluarga Yu cukup puas melihat penderitaannya saat ini. Namun, itu cukup merusak harga dirinya. Sebagai seorang yang pekerjaannya bergelut di bidang menghilangkan nyawa orang tentu kejadian ini benar-benar menyakiti harga dirinya.
Di sela-sela meringisnya ia sempatkan untuk memberengut kesal terkhusus bagi dirinya sendiri.
"Harusnya aku tahu latihan waktu itu akan menguras banyak tenaga dan butuh waktu lama untuk pemulihan terlebih untuk pemula seperti ku yang sangat ingin bisa menguasai jurus itu dalam waktu singkat sehingga aku benar-benar harus menguras seluruh energi ku. Malang sekali!" tapi sedetik kemudian ia kembali menyorotkan tatapan berbinar penuh semangat dan percaya diri. "Tidak bisa! Aku adalah Rayan Monica! Bukan aku namanya kalau begini saja aku sudah mengeluh! Tidak apa kali ini aku yang mengalah dan menerima siksaan ini, tapi sayangnya tidak untuk kali berikutnya!" batinnya berseru sumpah tak terbantahkan. Ia begitu bersemangat setelah menyemangati dirinya sendiri. Karena bagaimanapun inilah yang harus ia tanggung dari akibat memaksakan diri.
Flashback on...
Sewaktu pergi berlatih bersama guru Duan Xi yang amat tergila-gila untuk menjadikan Ryura muridnya dikarenakan Reychu yang tidak ingin berpisah lebih jauh lagi dari sahabat datarnya itu membuatnya turut ikut bergabung.
Dia dan kedua sahabatnya melakukan pelatihan yang amat berat dan berbeda dengan apa yang pernah mereka pelajari di dunia modern, sehingga jiwa penasaran mereka terusik yang mana membuat mereka begitu bernafsu untuk mempelajarinya. Sampai pada pelatihan dihari ke 13, Rayan tanpa sadar bertanya mengenai kemampuan Duan Xi dalam bidang pengobatan. Ternyata jawabannya semakin mengusik semangat Rayan.
"Guru, kau cukup hebat dalam ilmu beladiri. Apakah kau juga hebat dalam hal medis?"
Dengan tertawa Duan Xi menjawab. "Hahaha... Aku mengetahui tentang ilmu medis yang kau bicarakan. Hanya saja, aku tidak berbakat dalam pengobatan seperti halnya seorang alchemist sehingga hanya bisa mempelajari dasar dan beberapa pengetahuan tertentu yang bisa ku jadikan bekal ku. Contohnya, seperti bila mana aku terluka aku tahu apa yang harus aku lakukan sebagai langkah pertamanya..." jedanya untuk mengambil nafas. "Dan yang menjadi bagian terpentingnya bagi seorang alchemist adalah kau harus memiliki kemampuan membuat tungku dari api jiwa untuk mengolah dan mencampurkan semua bahan sebelum menjadi pil obat!" terangnya. Rayan terkejut mendengar ada yang semacam itu.
"Tapi, bukankah bahan-bahan seperti itu cukup dengan di tumbuk lalu di bubuhi di bagian yang terdapat lukanya atau di tambahkan air kemudian di perah untuk diminum sarinya?!" tanya Rayan bingung.
Lagi-lagi Duan Xi tertawa. "Itu memang bisa juga dilakukan. Tapi, cara seperti itu hanya untuk luka biasa. Jika kau butuh obat untuk luka dalam yang parah dan racun. Kau butuh sebuah proses dalam pembuatannya."
"Ooohh. Jadi begitu... Lalu bagaimana caranya? Aku punya kemampuan dalam bidang itu. Tapi, aku belum pernah mencoba lagi hingga saat ini, terutama dalam membuat tungku api jiwa yang guru maksud. Itu terdengar sulit. Karena itu, guru bisakah kau mengajariku?" mohon Rayan penuh harap.
Duan Xi berpikir sejenak sambil mengelus janggutnya seraya memandang raut wajah Rayan yang terlihat jelas kesungguhan didalamnya. "Dari penglihatan ku kau memang berbakat dalam ilmu pengobatan. Kalau begitu aku akan ajarkan padamu jurus membuat tungku api. Tapi, perlu kau ingat. Aku bukanlah orang yang berbakat di bidang ini. Tapi, aku tahu teorinya. Oleh sebab itu, kau harus menggunakan otakmu untuk mencerna dan menangkap maksud dari teori itu sendiri dengan benar maka kau akan mampu menguasainya." mendengar jawaban itu Rayan tidak bisa bila tidak berbahagia, ia bahkan berulang kali mengucapkan terima kasih dan bersuka ria dengan kedua sahabatnya.
Sejak saat itulah pelatihan khusus untuk nya dimulai. Bila, Ryura dan Reychu berlatih beladiri maka ia berlatih untuk menguasai jurus membentuk tungku api dengan jiwanya tanpa ada tungku dan api itu sendiri. Artinya, ia harus menggunakan tenaga dalamnya untuk mewujudkan kedua benda itu dalam satu wujud.
Jadi, begitulah alasan mengapa ia menjadi tidak sekuat biasanya. 3 bulan kurang sedikit ia gunakan untuk berlatih membuat tungku api dengan jiwanya. Beberapa kali gagal, beberapa kali nyaris menumbangkannya, dan beberapa kali hampir merusak pusat aliran tenaga dalamnya.
__ADS_1
Rayan benar-benar sangat berusaha keras untuk berhasil. Ia amat terobsesi dengan bidang tersebut terutama dalam hal merusak racikan hingga menjadi racun. Baginya itu adalah bagian yang menyenangkan.
Flashback off...
Bugh!
"Pukulan ke 25."
Bugh!
"Pukulan ke 26."
...
"Pukulan ke 27." gumam Rayan disela-sela ringisannya sebelum akhirnya ia tersadar. "Eh?!" diangkatnya kepalanya sedikit yang sejak tadi ditundukkan dan begitu ia mendongak saat itu juga ia mendapati sesuatu yang aneh terjadi.
Semua orang yang ada di sana tiba-tiba berhenti bergerak layaknya patung. Mereka tidak bergeming dari tempatnya dalam posisi terakhir mereka bergerak.
Ada yang mengangkat tangannya, ada yang tampak tengah bergosip, ada juga yang terlihat sedang membawa keranjang entah apa isinya tapi yang pasti itu pekerjaannya melihat dari pakaian yang dipakai menunjukkan bahwa dia seorang pelayan. Rayan juga bisa melihat anggota keluarganya ikut mematung dengan ekspresi yang benar-benar menyulut emosi jiwa dan raga Rayan dan yang terakhir ketika matanya menatap dua orang pelaku suruhan yang tengah melaksanakan tugasnya, dimana pelaku tersebut yang berdiri di sisi kanannya tengah mengangkat papan panjang khusus -sepertinya- dan seorang lagi di sisi kirinya dengan papan panjang di tangannya yang nyaris saja menyentuh bokongnya untuk ke 27 kalinya.
Rayan terhenyak dengan mata terbelalak saat matanya dapat melihat papan panjang itu berada tepat di atas bokongnya, nyaris menempel. Ia bernafas lega kala itu tidak membuahkan rasa sakit untuk kesekian kalinya.
"Haah... Syukurlah... Bokongku...!" miris Rayan berlebihan.
Merasakan ada yang datang Rayan segera menoleh guna melihat siapa gerangan yang datang. Tapi, begitu tahu siapa yang muncul Rayan langsung memasang cengiran bahagia.
"Aku tahu kau pasti akan menyelamatkan ku!" Seseorang yang muncul tak lain adalah Ruobin hanya mendengus mendengarnya.
Sambil bergerak membuka ikatan yang mengikat kedua tangan sahabat manusianya. Pria bertopeng itu tampak malas namun bisa apa kala sudah sayang.
"Jantungku nyaris turun ke usus saat melihat kau di perlakukan seperti ini! Kau tahu!" omel Ruobin kesal.
"Hehehe... Ayolah... Siapa yang tahu akan jadi begini?! Salahkan guru Duan Xi yang berhasil menguras habis tenagaku." cengengesan Rayan dengan manjanya.
Pletak!
"Auw! Kenapa menjitak kepala ku?!" ringis Rayan saat tanpa diduga Ruobin memberikan satu Kitakan kecil namun lumayan berasa di puncak kepalanya, entah kenapa ia melakukan itu. Sedang si pelaku jitak hanya menatap jengah dari balik topengnya.
"Jangan salahkan orang lain. Kau saja yang tidak hati-hati dalam bertindak. Kau pikir aku tidak dengar saat ada ribut-ribut di dalam tadi. Sampai aku melihat kau dipukul seperti itu!" kembali Ruobin dengan omelannya.
"Hei, kau melihatku di hukum pukul! Kenapa tidak langsung bertindak?! Kau tahu bokongku sakit ini!" sembur Rayan saat tahu sahabat silumannya itu ternyata menyaksikan apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
Masih dalam posisi tengkurap Rayan mengusap kedua pergelangan tangannya yang nyeri akibat di ikat dengan mulut komat-kamit tidak jelas.
Ruobin salah tingkah karena ketahuan tidak segera menyelamatkan Rayan, lalu ia berdehem mengatasi kegugupannya. "Sudahlah jangan protes lagi! Lagipula aku sudah datang menyelamatkan mu. Tapi, kalau soal bokong mu itu, anggap saja itu sebagai pembelajaran untuk mu agar kelak kau harus lebih pintar dalam menghadapi masalah mu sendiri. Mengerti Nona cantik?!" nasihat bijak Ruobin pun keluar membuat Rayan mendengus dan mencibirnya kesal.
Sampai pada akhirnya sesuatu menyadarkannya. Sambil berusaha mengangkat tubuh atasnya dengan bantuan kedua tangannya tanpa merubah posisi tubuh bagian bawahnya lantaran masih terasa sakit ia mengedarkan pandangannya keseluruh arah. Kemudian kembali memandang pria bertopeng rubah di depannya yang tampak tengah bersiap menggendongnya.
"Ruobin... Apa yang terjadi? Mengapa dengan yang lainnya? Mereka tidak matikan?" tanya Rayan penasaran.
"Tidak perlu khawatir. Mereka baik-baik saja. Aku hanya memberi mereka sedikit jurus turun-temurun dari klan ku." singkat Ruobin sambil ikut mengedarkan pandangannya.
"Jurus turun-temurun?" Ruobin mengangguk mengiyakan.
"Hmm... Jurus ilusi!" jawabnya.
"Jurus ilusi? Ada yang seperti itu?" lagi, Rayan bertanya terkejut sekaligus penasaran. Ia tidak pernah mendengar tentang itu sebelumnya. Di dunia modern nya dulu, Rayan biasa mendengar cara menghipnotis dan menyugesti orang. Tentu, ia jadi penasaran dengan cara kerjanya.
Ruobin mengangguk membenarkan. "Tentu! Tapi, itu hanya ada pada keturunan keluarga rubah perak, yaitu klanku!" jawab Ruobin bangga tanpa menyadari kalau kalimatnya telah membuat Rayan tertegus kaget.
"Klan rubah perak?!" ulang Rayan memperjelas.
Mata Ruobin terbuka lebar mendengarnya. "Eh?!"
"Ruobin bisa kau jelaskan?" tekan Rayan menuntut dengan tatapan tajamnya.
"Te...tentu! Tapi, nanti saja, ya?! Sekarang kita urus bokongmu dulu. Ayo!" kata Ruobin sambil bergerak mengangkat tubuh Rayan ala bridal style. Rayan dengan senang hati menerimanya.
Tapi, kemudian Rayan menepuk-nepuk dada Ruobin. "Tunggu-tunggu... Bagaimana dengan mereka?!" tanya Rayan seraya menatap orang-orang yang masih dalam mode mematungnya.
"Jangan dipikirkan. Mereka akan baik-baik saja. Saat ini mereka sedang dalam ilusi yang aku ciptakan. Dimana mereka sedang dalam keadaan yang sama seperti yang ingin mereka lakukan terhadap mu. Aku membuat mereka tanpa sadar telah melakukan semua itu termasuk membawamu kembali ke gubuk jerami itu. Walau pada kenyataannya semua itu hanya ilusi semata. Jadi, saat mereka bangun nanti, tepatnya saat aku mematikan jurusku pada mereka. Mereka tidak akan menyadari kalau sebenarnya mereka tidak pernah melakukan apapun setelah ini." jelas Ruobin acuh.
Rayan mengangguk mengerti. "Ooouhh... Jadi, begitu... Paham-paham..." gadis dalam gendongan itupun tak ingin repot-repot untuk mempedulikan Keluarga si pemilik tubuh.
"Kalau begitu sekarang kita pergi dari sini." tutur Ruobin langsung.
"Eh! Kemana?" tanya Rayan bingung. Untuk apa pergi, bukankah ini sudah di rumah, pikirnya.
"Ketempat Tuan Duan Xi. Tadi, aku juga mendapatkan panggilan untuk mu." kata Ruobin lagi masih belum dapat dimengerti oleh Rayan.
"Ada apa?" tanya rayan yang mulai dilanda kegelisahan. Ia merasa tak tenang.
"Ini tentang Reychu!" singkat Ruobin dan detik berikutnya pria bertopeng rubah itu segera berteleportasi dari tempat mereka berada.
__ADS_1