3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMBERIKAN SYOK TERAPI


__ADS_3

"Pilihan mu bagus juga, nak." bisik sang Ayah yang duduk bersebelahan dengan putranya -Shin Da Ming- setelah sebelumnya bertukar tempat dengan kini ibu Shin dengan Rayan dan ayah dengan Shin Mo Lan. Jangan tanya dimana Shin Da Rin. Gadis itu sudah melangkah seribu kaki kebagian dalam rumah sambil membawa hadiah dari Rayan.


Entah mau diapakan hadiah itu olehnya.


"Aku tahu." pongahnya Shin Mo Lan, sampai sang ayah mendengus dibuatnya.


Ke sisi para wanita. Dimana Rayan mulai di interogasi.


"Nak, aku penasaran. Sudah berapa lama kalian saling mengenal? Karena setahuku, Da Ming tidak pernah dekat dengan siapapun. Kau tahu 'kan, dia itu terkenal sehingga kemanapun dia pergi tak ada yang tidak mengenalnya. Jadi, aku sangat ingin tahu bagaimana kalian bisa lolos dari penglihatan orang lain sampai tidak ada yang tahu. Tiba-tiba, malah gempar karena dipublikasikan..." sorot mata Ibu Shin benar-benar penuh rasa penasaran.


Rayan sendiri tahu ini akan terjadi. Lebih tepatnya, inilah yang paling orang-orang ingin tahu.


Tentang latar pertemuan dia dan Shin Da Ming.


Tapi, dengan tetap tersenyum Rayan menjawab sesuai kebenarannya walau dengan sedikit dibumbui karangan. Tanpa merubah warna wajahnya, Rayan mengarang dengan mulus. Sementara Shin Mo Lan hanya mengangguk-angguk saja.


Cukup tahu, karena Rayan pasti akan membuat segalanya tidak dapat dicurigai lagi.


"Kami sudah mengenal lama, Nyonya. Mungkin itu adalah takdir dimana kami memiliki kesempatan untuk saling mengenal tanpa diketahui oleh orang lain. Lagipula, saat itu kami hanya merasa cocok satu sama lain, tapi belum mau menunjukkannya. Jadi, kami memilih hanya saling memahami saja tentang perasaan satu sama lain dan tidak mau terlalu tergesa-gesa untuk meresmikannya. Seperti berteman saja dulu. Bagaimanapun, Da Ming pernah mengalami kegagalan dalam percintaan..." sambil melihat kearah Shin Mo Lan dengan wajah dipermukaan terlihat manis, namun pada dasarnya memiliki sorot mata yang seolah berkata 'Lihat! Aku mengungkit kisah cinta masa lalu mu!'.


Shin Mo Lan menangkap hal itu, tapi dia hanya membalas dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda. Sama sekali tidak menggubris kecemburuan sang istri yang dia tahu bukan cemburu pada masa lalu pemilik tubuh melainkan fakta kalau Jiang Wanwan adalah wanita yang rupanya serupa dengan yang di masa lalu.


Belum lagi dengan fakta kalau perempuan itu juga mengejarnya di kehidupan kali ini.


"... Karena itu, lebih baik menjalaninya dengan pertemanan sebelum siap kejenjang yang lebih serius." finalnya.


Orang tua Shin Da Ming mengangguk paham, sama sekali tidak ragu dengan karangan asal Rayan yang entah kapan disusunnya.


"Lalu, apa orang tuamu juga mengetahui kedekatan kalian, Nona rayan?" tiba-tiba seorang Bibi bertanya.


Meski terdengar biasa, tapi hal ini juga yang ingin diketahui oleh orang-orang. Mereka penasaran, akan sebahagia apa orang tua Rayan saat tahu anak gadisnya memiliki hubungan serius dengan seorang tersohor seperti Shin Da Ming.


Akan tetapi, jawabannya justru membuat mereka membisu.


"Maaf, Bibi. Saya yatim-piatu." jawab Rayan dengan masih tersenyum lembut.


Pintar sekali Rayan memainkan senyum dalam ekspresinya agar tetap terlihat elegan dan bersahaja.


"Oh, ya ampun. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak bertanya." sesal Bibi itu dengan sedikit rasa takut dihatinya. Takut-takut kalau dia salah bertanya dan membuat Shin Da Ming tidak senang. Tamatlah dia.


"Tidak apa-apa. Lagipula, itu bukan rahasia. Karena, saya tumbuh besar di panti asuhan. Siapapun yang mengenal saya pasti tahu kalau saya yatim-piatu." terang Rayan penuh pengertian.


"Kalau begitu, apa pekerjaan mu sekarang, Nona?" Bibi lainnya bertanya sekalian memecahkan ketidaknyamanan sesaat tadi.


Dia seolah tidak tahu kalau pertanyaan ini juga tak kalah sensitif, terutama bagi keluarga kelas atas. Dimana kebanyakan dari mereka menginginkan menantu yang memiliki level yang sama.

__ADS_1


"Pekerja lepas, Bibi." jawab Rayan lugas tanpa malu. Ibu Shin disebelahnya cukup terkesan dengan kebanggaan Rayan akan profesi dirinya sendiri.


Ini menunjukkan kalau Rayan ada tipikal gadis yang tidak malu pada kenyataan hidupnya dan justru bangga akannya. Ini justru langka.


Dia langsung mengangguk suka dalam hati. Ayah Shin pun demikian.


"Apa! Cuma pekerja lepas?!" pekikan tak mengenakan terdengar diantara pada gadis muda yang datang.


Pekikan pun terlalu tiba-tiba hingga mengagetkan yang mendengarnya.


Kira-kira usianya kisaran 17 tahun. Dia keponakan Shin Da Ming, artinya anak dari salah seorang sepupunya yang tidak hadir diantara mereka saat ini. Sebab, dia datang bersama Ibu dan Neneknya -Bibi Shin Da Ming-. Mungkin karena hidup dibawah nama keluarga tersohor Shin, membuat dia diantara beberapa generasi muda merasa tinggi hati.


"Pamanku yang luar biasa ini, bagaimana bisa hanya memilih wanita pekerja lepas?!" sikapnya mengguncang jantung Ibu dan Neneknya.


"Ya'er! Jangan bicara seperti itu!" tegur sang Ibu dengan perasaan takut.


"Tapi, itu benar kan?! Paman kedua sangat hebat. Dia pemilik MOZHILLI ACADEMY HOSPITAL. Siapa yang tidak mengenal hal itu?! Dia harusnya mendapatkan pasangan hidup yang setara. Apa kata dunia kalau hal ini tersebar?!" gadis yang di panggil Ya'er ini masih ngotot dengan pemikirannya.


Dia berbicara seperti dia paling tahu apa yang dia bicarakan.


Sama sekali tidak memperhatikan betapa pucat pasi wajah Ibu dan Neneknya.


"Ya'er, diamlah!" geram sang Ibu disela-sela ketakutannya. Sampai mencubiti sang putri agar diam.


"Ibu..." rengeknya kesakitan dan tidak nyaman ketika merasa lengannya di cubiti oleh Ibunya.


Satu kata... Menakutkan!


Rayan yang mendengarnya hanya menatap tanpa perubahan ekspresi, malah masih bisa tersenyum kecil seolah-olah memaklumi.


Biasa, orang dewasa tidak cocok berdebat dengan anak kecil.


Sedang Shin Mo Lan mengernyit tak suka. Dia selalu tidak akan suka bila ada yang memandang rendah istrinya. Karena bagi Shin Mo Lan sendiri, Rayan -istrinya- itu luar biasa dan sempurna dimatanya. Bisa-bisanya ada yang merendahkannya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Nona kecil tidak salah dengar. Saya memang pekerja lepas..." jedanya dengan masih menampilkan senyum tipisnya yang tak jua pudar. Lalu, melanjutkan. "... Tapi, bukan pekerja lepas biasa. Saya juga memiliki lisensi resmi dibidang medis. Hanya saja, saya tidak suka bekerja dibawah orang lain dan memiliki waktu kerja yang diatur. Jadi, saya hanya bekerja sesuai panggilan dari klien."


Suasana sunyi seketika. Semuanya selain rayan dan Shin Mo Lan terdiam. Tak menyangka ada pekerjaan seperti itu.


Nyatanya, penjelasan ini menarik perhatian Ayah Shin.


"Nak, kau juga bekerja dibidang medis?"


"Benar, Tuan." jawabnya sambil tersenyum sedikit lebih lebar.


Tingkat kesukaan pada Rayan meningkat. "Lalu, bidang pengobatan yang mana yang kau kuasai? Tradisional atau modern?"

__ADS_1


"Mungkin, aku bisa bilang keduanya. Hanya saja, untuk yang tradisional masih perlu lebih banyak belajar." nada yang tidak sombong selalu digunakan, hal itu membuat orang lain semakin senang.


Rayan tentu sudah memperhitungkannya dan bicara soal pengobatan tradisional, itu benar. Hidupnya di masa lalu untuk mempelajari ilmu pengobatan tradisional tidak banyak. Alhasil, dia hanya bisa mempelajari sebagian kecil darinya. Akan tetapi, sebagian kecil itu jika digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit biasa masih cukup berguna.


"Bagus!" wajah puasnya tak bisa dihindarkan, dengan mata menatap Rayan puas namun tangannya menepuk-nepuk paha Shin Mo Lan dengan penuh pujian. Mengartikan kalau dia senang dengan pilihan putranya.


Plak... Plak... Plak...!


Sebagai pemilik paha yang di pukul, Shin Mo Lan memasang wajah protes yang sayangnya tidak dapat dilihat oleh pelakunya.


"Mulai sekarang kau bisa memanggilku 'Ayah' juga. Kau kekasih putraku, kan?! Hahaha... Aku suka, aku suka!" namun tawa bahagia Ayah Shin digantikan dengan serangan syok kala Shin Da Ming -putranya- meralat perkataannya.


"Bukan kekasih, Ayah. Dia calon istri ku. Aku berniat menikahinya besok di kantor catatan sipil."


BOOM!


"APA KATAMU?!" wajah Ayah Shin membiru seketika saking syoknya.


Kaget tak hanya Ayah Shin, tapi semua yang hadir disana.


"Kau tahu apa yang kau katakan, hah! Ini pernikahan bukan main-main!" kepala Ayah Shin seakan mau meledak menghadapi tindakan sang putra yang diluar logikanya.


Meski ini bukan pertama kalinya, tapi inilah yang paling tidak masuk akal.


"Aku tahu. Maka dari itu, lebih cepat lebih baik. Kenapa juga aku harus menunggu lebih lama kalau aku sudah yakin dan siap. Ini jauh lebih baik 'kan, Yah. Soalnya, kalau aku mengikuti rencana sebelumnya. Aku malah berniat untuk tidak mempertemukan kalian sampai kami resmi menjadi suami istri. Hitung-hitung kalau kalian tidak senang dengan pilihan ku, kalian tetap tak bisa memaksaku menceraikannya." penjelasan ini kian meningkatkan kejutan yang diberikan.


Semua membeku saking tak percayanya.


"DASAR KURANG AJAR!" maki sang Ayah pada putranya lantaran tak tahu harus menggunakan kalimat umpatan apa.


Tapi, Shin Mo Lan alias Shin Da Ming masih dalam ketenangannya seolah-olah, makian itu bukan untuknya.


"Tenanglah, Ayah. Yang ku lakukan masih baik. Kalian pasti sudah melihat berita tentang Ye Huan juga, kan?! Dia bahkan tidak memandang orang tuanya dan langsung menikahi kekasihnya dihari ini juga."


"Tapi, kau berniat menirunya sejak awal 'kan?" masih belum puas mencabik-cabik putranya yang mengesalkan saat ini.


"Benar. Aku iri dengannya." jujur Shin Mo Lan dengan ekspresi masih tidak puas karena nikah kilatnya harus diundur hingga besok.


Orang tua langsung merasa akan pingsan menghadapi jawaban seperti itu.


"Rayan. Bawa anak durhaka ini menjauh dariku sampai jam makan malam. Pastikan dia mengakui kesalahannya. Astaga, kepala ku mau pecah." perintah Ayah Shin seraya memegang kepalanya seperti benar-benar sakit.


Dalam hal ini, Ayah Shin sama sekali tidak menyalahkan Rayan sebab dia sudah melihat sendiri dari media, siapa yang menggebu-gebu dalam hal ini.


Kenyataan ini, masih mengejutkannya.

__ADS_1


"Baik, Ayah." Rayan pun menyeret Shin Mo Lan pergi dari sana.



__ADS_2