3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SIAPA YANG MENIKAH DULUAN?


__ADS_3

Drap...


Drap...


Drap...


Langkah kaki yang cukup kuat terdengar. Belum lagi deru nafas si pemilik langkah yang begitu memburu menandakan kalau ia sedang tak sabaran karena marah bukan karena lelah akibat berjalan.


Di belakangnya, beberapa gadis berpakaian pelayan tampak dengan susah payah mengikuti langkah tuannya yang cepat itu.


Mereka tahu kalau tuannya sedang tidak senang.


Disela-sela langkah mereka yang tergesa-gesa, salah satu pelayan yang terlihat paling dekat dengan tuannya tampak berusaha menenangkan sang junjungan.


"Nona! Tolong tenang Nona! Ingat anda sedang berada di luar kediaman anda. Bagaimana kalau ada yang melihat anda seperti ini!" seru sang pelayan mengingatkan tuannya.


Menghentikan langkahnya seketika begitu mendengar apa yang dikatakan oleh pelayannya. Meskipun perkataan itu benar, namun karena sedang dalam suasana hati yang buruk, peringatan itu juga dapat menjadi masalah.


"Apa maksud mu berkata begitu?! 'Seperti ini' apa yang kau katakan?! Apa yang kulakukan buruk hah?!" cerca Jiang Yu Na marah besar akibat di tusuk Reychu dengan kata-katanya.


Bila diingat lagi dia sepertinya ingin langsung membunuh dua orang itu.


"Mohon maaf, Nona! Saya tidak bermaksud begitu! Saya salah!" sang pelayan memilih mengalah. Pikirnya, junjungannya sedang dalam suasana hati yang buruk sehingga ia meledak-ledak seperti saat ini.


"Aarrgghh...! Ini semua ulah jal*ng-jal*ng itu! Terutama si mulut tajam itu! Beraninya dia melempar kotoran di muka ku! Apa dia pikir, dia sudah cukup hebat dengan bersikap seperti itu hanya karena dia adalah orang yang dibawa Yang Mulia Kaisar Agung Bai! Menjijikkan!" amuknya.


Masih belum reda marahnya, para pelayan hanya bisa menunduk pasrah sambil mendengar junjungan mereka memaki orang.


Sebenarnya ini adalah kali pertama mereka melihat junjungan mereka sampai benar-benar marah besar, biasanya paling besar marahnya hanya bila bawahannya melakukan kesalahan yang bisa di kategorikan sepele. Tapi, tampaknya cara Rayan dan Reychu membuat junjungan mereka marah besar hingga mengabaikan dimana mereka berada saat ini lebih tak terbayangkan.


Bukan hal aneh kalau mereka tahu yang sesungguhnya dari perangai junjungan mereka. Jiang Yu Na mungkin tampak baik dan lembut di depan khalayak ramai, tapi di belakang itu dia adalah seseorang yang pendendam dan sombong. Tak heran ia langsung mengibarkan bendera perang kala melihat Rayan yang sepertinya akan menjadi saingan cintanya, kemudian ditambah Reychu yang setiap kata dari mulutnya tak ada bagusnya. Menusuk hingga ke tulang.


"Lihat saja bagaimana aku akan membuat perhitungan dengan mereka!" dadanya naik-turun karena marah, lalu menoleh kearah para pelayannya. "Kita kembali dulu. Aku akan menyusun rencana untuk membalas mereka. Bila kalian ada ide, segera beritahu aku." usai mengatakan itu dia segera berbalik dan pergi untuk kembali kerumahnya.


Tanpa dia ketahui, di atas pohon rindang yang berada tak jauh darinya terdapat seseorang yang sedang bersantai dengan berbaring di salah satu batang besarnya sambil menggunakan kedua tangannya sebagai bantal kepala.


Dari awal hingga akhir seseorang itu mendengarkan semua yang dikatakan oleh Jiang Yu Na.


Dari ekspresinya, seseorang itu sepertinya tak memiliki niat sedikitpun untuk ikut campur. Bahkan tak ada yang bisa menebak apa yang bisa jadi ia lakukan kemudian.


Setelah rombongan itu pergi, dia kembali memejamkan matanya dan tidur.



Sementara di paviliun Kristal.


"APA?!"


Pekikan tiga pria disana menggema di seluruh ruangan membuat dua pria lainnya meringis mendengarnya.


"Ehem. Maaf tuan..." kikuk salah satunya yang tak lain adalah Min Hwan. Dia berdiri di belakang Shin Mo Lan turut kaget kala mendengar pernyataan dari sahabat tuannya.


Untungnya, suasana sedang berlangsung dengan tak bisa dijelaskan sehingga para bangsawan itu memilih untuk tidak menggubris perkataan Min Hwan, karena saat ini yang lebih mengejutkan ada didepan mereka.


Kaisar Agung Bai menyerbu lebih dulu seraya menatap penuh tuntutan pada sahabatnya.

__ADS_1


"Kau bilang apa tadi! ... Menikah?! Kau tidak salah bukan?"


Dengan santainya Ye Zi Xian menggelengkan kepalanya seolah-olah kabar yang ia sampaikan saat ini bukanlah apa-apa.


"Benar! Aku akan menikah!" nadanya masih datar, tapi siapapun bisa melihat binar-binar bahagia berterbangan di sekitarnya.


"Zi Xian, jangan terburu-buru. Itu tidak akan menjadi baik. Lebih baik tenangkan dirimu dan coba pikirkan lagi, benarkah ini yang kau inginkan! Ingat pernikahan bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan sembarangan!" kata Shin Mo Lan mengingatkan.


Ye Zi Xian hanya mengangguk menanggapinya. "Aku tahu apa yang ingin aku lakukan. Lagipula, ini bukan keputusan yang ku buat dengan tergesa-gesa. Aku sudah mempertimbangkannya." menatap wajah sahabat-sahabatnya seraya menyesap teh di cangkir porselen nya.


Meletakkan cangkir itu, ia kembali berujar. "Gadis ku juga apa yang sudah ditakdirkan oleh pedang pusaka Keluarga Ye. Jadi, tidak ada yang salah. Hanya saja, poin plusnya adalah bahwa aku tak hanya menerima dia sebagai pasangan yang ditakdirkan untukku, tapi juga menerimanya sebagai bagian dari pemilik hatiku yang sebenarnya. Ini jauh lebih memuaskan. Kami benar-benar ditakdirkan untuk bersama! Tak hanya sekadar terikat takdir pedang pusaka, tapi juga terikat oleh cinta! Aku tak pernah merasa sebahagia ini! Haha!"


Wajah tampan menjadi Lebih tampan kala berseri-seri, apalagi ketika ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu dimana Ryura dengan kerennya mencium bibirnya. Sambil memejamkan matanya menikmati momen itu lagi, tangannya juga ikut bergerak mengelus bibirnya yang dirasa masih manis dan seperti meninggalkan bekas.


Dia bergumam sambil tersenyum. "Jadi, seperti itu rasanya berciuman. Aku menginginkannya lagi! Ryura sayang, kau manis sekali!"


Yang lainnya hanya melihat dirinya yang seperti ini untuk pertama kalinya.


"Dia benar-benar jatuh cinta!" celetuk Kaisar Agung Bai.


"Ya. Sangat jatuh cinta!" timpal Shin Mo Lan.


"Tuan Ye begitu bahagia, ya..." seru Min Hwan kepada Dong Jia Zi dengan suara kecil.


"Hm. Sangat!" singkatnya menjawab.


Brak!


Lagi-lagi yang lainnya dibuat terkejut. Tapi, kali ini ulahnya Kaisar Agung Bai.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" lugas Kaisar Agung Bai seperti tak terima.


"Apa maksud mu?" tanya Ye Zi Xian.


"Ya, ini tidak bisa dibiarkan." menunjuk Ye Zi Xian tepat di depan hidungnya. "Kau! Bagaimana bisa kau melangkahi ku! Seharusnya aku yang menikah lebih dulu!" semburnya.


"Hah?!" Shin Mo Lan merasa dirinya yang paling tidak paham dengan situasi saat ini. "Kau bicara apa, Yang Mulia? Kau tidak mungkin juga ingin ikut menikah, bukan?"


"Kenapa tidak?! Aku sudah memiliki kandidat yang sempurna, jadi kenapa aku harus menunggu." sungut Kaisar Agung Bai kala dia diingatkan oleh dirinya sendiri kalau kisah cintanya mungkin akan sedikit mengalami guncangan akibat latar belakang sang pujaan hati.


Tapi, dia menjadi tidak terima saat melihat betapa mudahnya sang sahabat mengikat pujaan hatinya tanpa melewati masalah yang berarti. Sejenak ia merasa, ini sangat tidak adil.


"Benarkah?!"


"Ya!"


"Lalu, siapa gadis itu?" Shin Mo Lan bertanya tapi ia sudah memegang jawabannya sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan Ahn Reychu!" dia luar biasa bangga kala menyebutkan namanya.


"Jadi benar dia!" gumam Shin Mo Lan saat mengetahui tebakannya benar adanya. Tiba-tiba, wajah gadis imut yang sempat ia mimpikan semalam muncul.


Tapi, kali ini wajah itu dijadikan objek khayalannya. "Kalau dia menjadi pasangan ku... Bagus juga 'kan?" batinnya, kemudian dia sadar dengan apa yang dipikirkannya segera menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah.


"Apa yang baru saja ku pikirkan!" batinnya kaget.

__ADS_1


"Kalau begitu menikahlah! Kenapa sampai melarang ku menikah duluan!" tak terima, kekesalan Ye Zi Xian terpancing.


Sambil menggelengkan kepalanya, Kaisar Agung Bai berkata. "Aku penguasanya di Kekaisaran Utara ini. Sebagai bawahan ku, kau harus membiarkan Tuan mu menikah lebih dulu." gamblangnya ia menggunakan kedudukannya.


"Apa-apaan itu! Jangan konyol!" kesal sekali Ye Zi Xian rasanya.


"Tidak ada bantahan!" tukas Kaisar Agung Bai tak peduli.


"BAI GIKWANG!" Ye Zi Xian bangkit tampak seperti siap untuk beradu tarung dengan Kaisar Agung Bai.


Kaisar Agung Bai pun tak mau kalah.


"YE ZI XIAN!"


Mata keduanya seperti memberikan aliran arus listrik tegangan tinggi.


"BERHENTI KALIAN BERDUA!" teriak Shin Mo Lan sudah tak tahan.


Menunjuk ke arah dua sahabatnya secara bergantian. "Kalian berdua mundurlah! Aku yang akan menikah duluan!"


Perkataan itu yang pada akhirnya ia ucapkan.


Mendengar kalimat tersebut, Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian saling pandang sejenak. Begitu juga Dong Jia Zi dan Min Hwan.


"Mo Lan. Kau sehat 'kan?! Memangnya dengan siapa kau akan menikah! Kau bahkan enggan berdekatan dengan gadis manapun untuk jangka waktu yang lama. Kali ini kau bilang, kau akan menikah juga. Apa kau sedang memainkan lelucon." serang Ye Zi Xian telak.


Menutup mulutnya dengan kepalan tangan lalu berdeham dua kali sambil memandang kearah lain. Ternyata wajahnya kian memerah.


Kaisar Agung Bai yang melihatnya segera membelalakkan mata seraya berseru.


"Jangan bilang kau ingin menikahi gadis mungil yang memiliki kemampuan di bidang yang sama denganmu?! Temannya gadis ku!"


"Yang kau maksud gadis centil itu?" tanya Ye Zi Xian memastikan.


"Siapa lagi!"


"Sial! Kau suka yang mungil-mungil rupanya!" pekik Ye Zi Xian tak menyangka.


"Bukan itu intinya." menatap wajah Shin Mo Lan yang semakin memerah sampai si empunya wajah terlihat kegerahan. "Intinya adalah dia akhirnya jatuh cinta juga!"


"Ya... Kau benar!" Ye Zi Xian ikut bahagia.


Detik berikutnya wajah itu kembali datar. "Tapi, siapa kau yang ingin melangkahi kami." Kaisar Agung Bai mengangguk setuju.


"Sudahlah. Aku yang akan menikah duluan!" seru Ye Zi Xian keukeuh.


"Ye Zi Xian, kau jangan coba-coba!" lagi-lagi mereka berdebat.


"Apanya?! Perlu kau tahu aku sudah melamar gadisku... Dan dia setuju. Bagaimana dengan mu?" Kaisar Agung Bai terdiam.


Dia pun ingat kalau belum mencapai tahap itu untuk memastikan kalau mereka akan menikah. Apalagi masalah status 'janda' ini masih yang paling merepotkan tentunya.


Melihat sahabatnya terdiam, Ye Zi Xian tertawa penuh kemenangan.


__ADS_1


Maaf gaesss. segini dulu ya. hachooh... hachooh...🤧


hehehe...


__ADS_2