3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENUJU MENU UTAMA


__ADS_3

Disebuah kamar mewah bergaya feminim yang memiliki pencahayaan terang menandakan penghuninya sudah terjaga di saat jam menunjukkan waktu masih pagi buta. Dikamar milik seorang perempuan tersebut, saat ini tengah memberitahukan kalau pemiliknya sudah sibuk di pagi-pagi buta.


Dari jendela yang gordennya sudah dibuka dapat dilihat bila matahari bahkan baru akan bersiap untuk terbit. Tapi, pemilik kamar yang tak lain adalah Meng Ruona malah sudah terjaga dan tengah disibukkan dengan memilah-milah pakaian mana yang akan ia kenakan dihari istimewa ini.


Dari model baju satu ke model baju yang lain terus bergulir dibawah pengamatan Meng Ruona yang ingin tampil sempurna.


Sekumpulan paper bag dari berbagai brand berserakan dimana-mana. Tidak hanya di atas kasur, sofa, meja, bahkan lantai pun penuh dengan paper bag kosong yang isinya sudah dikeluarkan semua.


Kini Meng Ruona sendiri sedang berdiri di depan cermin panjang setelah bolak-balik mencoba berbagai macam model bodycon dress yang ada dalam beragam warna itu. Dari gelap hingga terang, dari lembut hingga berani, semua warna yang cocok di kulitnya ia beli hanya untuk menemukan yang paling cocok untuk dikenakan hari ini.


Sampai perempuan itu menunjukkan banyak ekspresi di setiap kesempatan ia untuk mengomentari dirinya sendiri dalam balutan semua dress yang dibelinya itu.


Dari ekspresi tidak suka, merasa kurang cocok, kurang pas, kurang bergairah, kurang menonjol, kurang seksi, kurang anggun, kurang cantik, dan segala macam kekurangan lainnya terus ditunjukkan oleh Meng Ruona dalam ekspresinya hanya demi menemukan yang tepat.


Sampai akhirnya pilihannya jatuh pada model bodycon dress yang memiliki garis leher hati yang pas di dadanya dengan bahu bertali, panjangnya diatas lutut namun memiliki belahan di depan paha sebelah kirinya. Intinya secara keseluruhan model itu cukup terbilang seksi, menonjol, berani, menggairahkan, dan berkelas.


Untuk perempuan bereputasi baik seperti Meng Ruona sebenarnya agak bertentangan, namun keinginan perempuan itu untuk mengalahkan Ryura membuat ia berani menanggalkan citranya sebab berpikir bila inilah kesempatan satu-satunya yang ia punya untuk bisa menyingkirkan istri pujaan hatinya saat ini dengan menjatuhkan satu demi satu harga dirinya sebagai wanita.


Meng Ruona berpikir, dengan memperlihatkan bila ada yang lebih cantik dari Ryura bisa membuat wanita itu menciut dan berakhir hancur.


Di otaknya masih beranggapan bahwa semua laki-laki menyukai wanita dari fisiknya bukan hatinya. Meskipun itu bukanlah hal yang salah juga.


"Akhirnya, ketemu juga. Ini baru sempurna." serunya puas sambil memutar badannya ke kiri dan ke kanan untuk lebih memastikan bahwa penampilannya benar-benar sempurna saat ini untuk rencana istimewa hari ini.


"Lihatlah dirimu Meng Ruona. Kau sangat cantik hingga tak bisa dibandingkan dengan wanita itu. Benar-benar sudah sangat cocok untuk disandingkan dengan Ye Huan ku. Pria tampan ku yang seperti pangeran dari negeri dongeng itu memang seharusnya dipasangkan dengan ku. Hanya aku yang pantas menjadi pasangannya." senyum miring penuh kebanggaan dan kepercayaan diri pada dirinya sendiri tampaknya sudah sampai level tertinggi hingga dia bisa begitu yakin kalau dialah yang pantas untuk suami orang yang telah ia idam-idamkan selama ini.


Setelah dress yang diinginkan ketemu, baru kemudian Meng Ruona lanjut ke merias wajah dan menata sendiri rambutnya agar lebih sempurna. Lalu, sentuhan akhir adalah high heels dan tas tangan senada dengan warna dress-nya, yaitu merah menyala.


Dan hasilnya memang tidak mengecewakan. Sungguh menggoda.


Setelahnya, Meng Ruona pergi dengan penampilan seperti itu, yang mana saat dia melangkah keluar kamar, para pekerja dirumahnya memberikan tatapan tercengang dan takjub serta tak percaya dengan perubahan penampilan Nona muda mereka. Melihat hal itu, Meng Ruona kian semakin meninggikan kepalanya saking bangganya dia atas semua pujian yang dilayangkan padanya meski tidak dengan ucapan.


Tepat pada pukul 8 pagi, barulah Meng Ruona beranjak pergi dari rumahnya dengan santai. Tak lupa menghubungi Bo Kang untuk mengabarkan kalau dia akan datang.


Tuut...


Tuut...


Klik!


Sambungan telepon diterima.


Sambil mengendarai mobil sport merahnya sendiri yang semakin menambah kesan seksi pada penampilan Meng Ruona kali ini dia berbicara dengan nada congkak pada orang diseberang telpon. Dilihat dari betapa percaya dirinya Meng Ruona, dipastikan kalau saat ini Meng Ruona sedang tidak ingin memakai topeng lembut lagi karena akan bertemu musuhnya.


"Halo, Bo Kang..." sapaannya yang menggoda membuat si penerima telepon terhenyak.


Bo Kang di seberang sana cukup terkejut dengan perubahan gaya bicara Meng Ruona yang sama sekali lepas dari kesannya yang sebelumnya. Sejenak Bo Kang di buat tak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu apakah harus kagum dengan kemampuan Meng Ruona dalam mendalami karakter yang mendukungnya berada di posisi atas atau miris karena dia turut tertipu.


Jadi, Bo Kang hanya berdehem tanpa minat sebagai tanggapannya pada sapaan Meng Ruona. Pasalnya, ada yang lebih penting dari itu.

__ADS_1


"Aku sedang dalam perjalanan kesana. Aku mau kau juga harus ada disana begitu aku tiba. Jangan lupakan pesanan ku, ya..." akhir nadanya dibuat centil oleh perempuan itu. Yang mana bukannya membuat Bo Kang luluh, tapi malah bergidik sebab sikap Meng Ruona saat ini sangat baru bagi pria itu hingga rasanya asing.


Si pria tak sempat mengatakan apapun dan sambungan sudah lebih dulu dimatikan sepihak dengan sesuka hati oleh Meng Ruona. Tapi, tampaknya Bo Kang sudah tidak kaget lagi. Saat ini dia justru malah menatap 3 wanita yang sedang sibuk mengatur diri di tengah ruangan kosong yang ada di bangunan tua pinggiran kota tempat dimana mereka berada saat ini.


Saking sibuknya sampai Bo Kang nyaris lupa kalau apa yang akan dilakukan kemudian bukanlah hal baik. Apalagi, tadi pagi-pagi buta ketiganya sudah mencecarnya untuk segera ke bangunan terbengkalai di pinggiran kota ini dengan membawa pasukan juga apa yang dipesan oleh Meng Ruona sebelumnya.


Dia awalnya bingung kenapa mesti datang pagi-pagi sekali. Ternyata bila melihat panggilan barusan, tampaknya tiga wanita itu sudah menebak kemungkinan tersebut. Hal ini membuat dia bergidik.


Bagaimana mereka -3Ry- bisa tahu?!


Dan, disinilah dia bersama 3Ry yang entah sedang apa. Yang pasti tengah melakukan suatu persiapan yang Bo Kang sendiri belum tahu apa dan bagaimana konsepnya. Katanya, nanti dia diberitahu.


Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya. Satu yang dia harapkan, ini adalah yang terakhir dia berurusan dengan 3Ry.


Agaknya, ada sedikit trauma pada diri Bo Kang tiap kali melihat 3 wanita yang dianggapnya mengerikan itu. Disaat bersamaan, dia merasa dirinya terlalu pengecut karena hanya begini saja sudah mengalami trauma.


Bo Kang menggelengkan kepalanya mengenyahkan kekalutan di pikirannya. Bukan saatnya dia memikirkan hal lain. Saat ini ada hal yang lebih penting daripada memusingkan keterlibatannya pada sekelompok orang yang tidak seharusnya dia lawan.


Ini salahnya juga yang main terima saja permintaan Meng Ruona tanpa mencari tahu dulu dampak apa yang mungkin terjadi bila dia salah sasaran.



Matahari sudah terbit dengan terangnya, tepatnya sekitar pukul 9 lebih.


Ckiit...


Sebuah mobil sport merah berhenti di depan bangunan tua terbengkalai. Setelahnya pintu di bagian kemudi dibuka oleh pemiliknya sampai sang pemilik keluar dari dalam mobil dengan bangga.


Meng Ruona benar-benar puas sampai seringai disudut bibirnya terbentuk dengan sempurna tanpa disamarkan sedikitpun.


Setelah puas berkhayal yang dia yakini benar-benar terjadi Meng Ruona pun akhirnya mulai melangkahkan kakinya untuk masuk lebih ke dalam bangunan terbengkalai didepannya ini.


Tak... Tak... Tak...


Suara ketukan tumit high heels merahnya menggema di lantai kotor bangunan yang terbengkalai itu. Aroma lembab dan tanpa kehidupan pun menyambut penciumannya hingga sesaat membuat dia mengernyitkan hidungnya tak nyaman.


Dan apa yang dilihat matanya adalah gelap, bahkan saat hari sudah cerah. Sejenak membuat dia menggerutu sebab melupakan fakta untuk menyuruh Bo Kang memberikan penerangan sebelumnya. Sejenak ini agak menyulitkan langkahnya untuk masuk, karena tidak bisa melihat jalan dengan jelas, kondisinya terlalu remang-remang. Belum lagi lantainya yang kotor berpadu lembab terasa licin di alas kakinya. Ini membuat dia harus lebih berhati-hati dalam melangkah agar tidak berakhir konyol didepan lawannya.


Mana mungkin diawal ingin tampil sempurna malah berakhir buruk karena terpeleset? Meng Ruona tak ingin kehilangan muka didepan musuhnya yang tak lain adalah istri pujaan hatinya.


Beruntung Bo Kang sudah menunggu di pintu masuk bagian dalam bangunan tersebut.


"Oh. Baguslah. Akhirnya, kau datang." gumam Meng Ruona merasa lega dan terlepas dari tekanan karena berada di tempat yang mencekam. Segera dia lanjut menyapa. "Hai, Bo Kang. Aku senang melihat mu disini."


Kalimatnya agak membingungkan dan terasa ada yang aneh. Tapi, diabaikan. Bo Kang hanya berjalan menuntun Meng Ruona untuk masuk.


Karena dia melangkah perlahan, waktu yang ditempuh untuk ke bagian dalam bangunan itu menjadi lama. Tapi, begitu sampai akhirnya Meng Ruona melihat sebuah cahaya. Perempuan itu lantas tersenyum jumawa seraya memuji Bo Kang yang tahu apa yang harus pria itu lakukan.


"Aku senang akhirnya dia tertangkap..." gumamnya dengan ekspresi wajah perempuan itu yang terlalu tak berhati nurani.

__ADS_1


Bo Kang masih bisa mendengarnya, tapi dia bungkam saja. Sambil dalam hati mencibir kebodohan dan kesombongan Meng Ruona yang pagi ini tampak siap bertempur dengan Ryura. Tak tahu saja dia...


Lambat-laun semakin Meng Ruona melangkah masuk semakin jelas setitik objek dibawah satu-satunya cahaya kuning yang menerangi ruangan kosong didepannya saat ini.


"Aku tidak akan ikut masuk. Kau hanya bisa masuk sendiri." jelas Bo Kang sebelum berbalik dan pergi setelah mendapatkan deheman dari Meng Ruona.


Melebar lah senyum penuh kepuasan yang mengerikan dari bibir seorang Meng Ruona. Bila senyumnya yang ingin di sebarluaskan atau ditonton orang lain, sudah pasti akan ada kekagetan massal. Sebab, tak ada yang percaya wajah lembut seorang Meng Ruona bisa memiliki ekspresi seperti itu.


Didepan Meng Ruona yang semakin masuk dan mendekati objek disana, dapat dia lihat bahwa ada seorang wanita yang terduduk di kursi tua sambil membungkuk kedepan tampak lunglai tak berdaya. Rambut panjangnya yang acak-acakan dan kusam serta pakaiannya yang tidak rapi lagi seperti telah melewati momen pemberontakan dan ketidakberdayaan. Meng Ruona kian puas melihat hasilnya.


Seketika dia bisa membayangkan saat wanita yang menjadi musuhnya itu meronta-ronta ingin melepaskan diri saat ditangkap oleh anak buahnya Bo Kang.


Sungguh imajinasi seorang Meng Ruona tak bisa dilawan.


Meng Ruona semakin tak sabar untuk menyerang wanita didepannya ini.


Tak... Tak... Tak...


Langkah kaki berbalut high heels itu kini memberikan ketukan dengan rasa berbeda. Seperti ada kesombongan didalamnya.


Dan nyatanya benar adanya. Saat ini perempuan itu dengan berani dan bangga mengangkat dagunya tinggi dan memandang rendah musuhnya yang tengah tak berdaya didepannya.


Saat jarak mereka sudah sangat dekat, barulah Meng Ruona berhenti. Membiarkan musuhnya tersentak dengan kehadirannya karena terlihat dari guncangan ringan tubuh musuhnya saat kaki berbungkus high heels merah menyalanya muncul didepan wanita itu.


Begitulah deskripsi dari sudut pandangnya.


"Hai, Ryura. Itu namamu 'kan? Hhh... Senang bertemu denganmu. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa juga bertemu denganmu meski caranya agak... Bagaimana mengatakannya, ya... Hahaha" kata Meng Ruona dengan gaya angkuhnya yang merendahkan sampai berlagak menutup mulutnya saat dia melontarkan kalimat menggantung tadi.


Meng Ruona membungkuk dan mengambil dagu wanita didepannya menggunakan jari telunjuknya yang berhias kutek merah senada pakaiannya dengan tampang penuh kemenangan.


Setelah wajah lawannya mendongak dan memperlihatkan rupanya, rasa bahagia kian tak tertolong dari lubuk hatinya hingga tampak diwajahnya meski dia masih menjaga senyumnya tetap elegan.


Wajah Ryura yang pucat dan sedikit tirus hingga tampak agak tua serta terdapat beberapa lebam kecil yang bisa dibayangkan disebabkan oleh apa terlihat diwajah itu, mungkin karena beban yang mendadak ditanggungnya masuk ke indera penglihatan Meng Ruona. Membuat Meng Ruona tidak sabar untuk menghancurkan wanita itu agar menghilang dari hidup pujaan hatinya.


"Apa yang Ye Huan lihat dari wajah seperti ini, hm... Tidak ada bagus-bagusnya..." cetus Meng Ruona dengan nada datar yang sombong jelas sekali merendahkan Ryura sedemikian rupa.


Ryura sendiri hanya diam menatap Meng Ruona dengan tatapan kosongnya yang seperti biasa, tapi sepertinya ada sedikit sorot tak berdayanya.


Seringai muncul di bibirnya untuk diperlihatkan kepada Ryura agar lebih terintimidasi. "Kau tahu siapa aku?" Ryura tetap diam.


"Oh, tidak tahu, ya..." katanya sebelum akhirnya mencengkeram rahang Ryura dengan sekuatnya hanya untuk membuat Ryura memperhatikan dirinya agar keunggulan seorang Meng Ruona dapat di pamerkan didepan Ryura.


"Aku Meng Ruona, cinta sejati Ye Huan!"


Pfft...


Meng Ruona segera mendongak kala mendengar sesuatu seperti seseorang yang nyaris menyemburkan tawa. Dia sampai mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mengetahui siapa itu. Tapi, kecurigaan sesaat itu langsung lenyap saat berpikir kalau itu pasti Bo Kang dan orang-orangnya.


Meski tidak senang karena merasa ditertawakan, Meng Ruona tidak menanggapi lebih jauh sebab dia merasa wanita didepannya lebih utama untuk dia urus.

__ADS_1


Diapun kembali ke Ryura.



__ADS_2