3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PERKUMPULAN BANGSAWAN


__ADS_3

Sore harinya, sepulang kerja. Meng Ruona tidak langsung pulang dan malah pergi mengunjungi salah satu salon langganannya. Tujuannya kesana adalah untuk mempersiapkan diri agar lebih terlihat sempurna sebelum menemui Ryura yang -dia tahu- sedang disekap oleh Bo Kang.


Dia merasa tak boleh kalah cantik dan luar biasa dari wanita rendahan seperti Ryura itu bila ingin bangga saat menjatuhkan Ryura dengan seluruh harga diri yang Ryura miliki.


Meng Ruona begitu percaya diri dengan apa yang sudah dia rencanakan. Dia percaya kalau apa yang dia lakukan sudah pasti berhasil membuat Ryura hancur.


Setibanya di salon kecantikan, Meng Ruona segera meminta pegawai disana melakukan perawatan pada dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki agar tidak ada bagian yang tertinggal secuil pun dari tubuhnya.


Butuh waktu berjam-jam bagi Meng Ruona untuk melakukan perawatan hingga dia mencoba mengusir kebosanan dengan memainkan gawai canggihnya, tepatnya memata-matai akun media sosial milik Ye Huan.


Disepanjang apa yang dilihatnya, ekspresi wajahnya kian berubah buruk. Terutama postingan Ye Huan belakangan ini yang isinya tak lepas dari memamerkan keromantisan Ye Huan sendiri bersama istrinya, Ryura. Saking terbawa rasa cemburu, Meng Ruona sampai tidak sadar jika beberapa detik sebelum dia membuka sosial media milik Ye Huan ada postingan terbaru dari akun pria idamannya itu yang isinya adalah beberapa foto mesra pria tampan itu bersama istrinya lagi untuk kesekian kalinya.


Bedanya, entah mengapa malam ini postingannya seperti lebih istimewa.


Seperti ada makna yang disembunyikan didalam foto-foto itu, tapi sayangnya tidak ada yang melihatnya. Bahkan ke orang yang di tuju sekalipun tidak tahu kalau ada hal seperti itu.


Orang itu terlalu mengutamakan kecemburuannya hingga lupa dirinya sedang menuju ke situasi yang akan dia sesali nanti.



Di kediaman bersama atau mansion yang dikhususkan untuk ketiga bangsawan masa lalu dan kini bersama ketiga istri mereka, ketiga pasangan itu sedang berkumpul di mansion khusus berkumpul mereka. Para istri sedang berada di salah satu kamar melakukan sesuatu dan para suami mengobrol di ruang keluarga.


Suasananya sangat harmonis, meski hanya ada 3 pasang yang berarti 6 orang penghuni. Jangan tanya soal pelayan, mereka bekerja diwaktu yang sudah ditentukan.


"Sudah ada kabar baik?" tanya Bai Gikwang pada dua sahabatnya tentang kabar kehamilan para istri mereka dan yang lain segera memahami maksud dari pertanyaannya.


Ye Zi Xian menyamankan sandaran punggungnya sebelum menjawab santai. "Kami menundanya sampai pesta pernikahan mu. Ryura tidak ingin ada masalah selama menuju hari-H, ditambah kami juga belum pergi berbulan madu. Jadi, semuanya akan kami wujudkan setelahnya."


Shin Mo Lan yang mendengarnya mengerti dan mengangguk membenarkan, dia ikut setuju. "Ya, Rayan juga menyarankan hal itu. Dia juga bilang bahwa mereka ingin menyelesaikan masalah yang mengganggu dulu sebelum menikmati momen penting itu."


"Hm... Itu ide yang bagus. Memang selama para hama itu masih berkeliaran, istri-istri kita tidak akan tenang dalam proses kehamilan mereka bila masih ada pengganggu." setuju Bai Gikwang.


"Maka dari itu, biarkan saja. Hitung-hitung sebagai hiburan terakhir mereka sebelum menjadi seorang ibu." timpal Shin Mo Lan.


"Kau benar. Apalagi kita dilarang ikut campur. Sungguh, istri yang pengertian sampai tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya yang seperti tak ada hentinya itu." cetus Ye Zi Xian entah menyindir atau tidak, kedatarannya menyulitkan siapapun untuk memahami maknanya.


Jika menyindir, itu terdengar seperti Ye Zi Xian tidak senang bila dihalangi oleh istrinya untuk membantu. Dan jika tidak menyindir itu jadi seperti mengeluh.


"Biarkan saja. Ku pikir itu bukan hal buruk. Kejadian seperti ini pasti membuat mereka senang, jadi biarkan mereka melakukannya." cetus Bai Gikwang.


"Hmhm... Benar sekali." setuju Shin Mo Lan.


Mereka terlibat perbincangan seru.


"Tak ku sangka, kita cukup menikmati kehidupan kedua kita disini." seru Ye Zi Xian dengan senyum kecil yang menyiratkan bahwa dia tengah mengilas balik tentang kehidupannya di masa lalu.


"Kau benar. Aku kadang nyaris lupa kalau aku bukan sepenuhnya berasal dari masa ini." tukas Shin Mo Lan mengiyakan.


"Kalian merindukan mereka?" tanya Bai Gikwang yang juga menanyakan pada dirinya sendiri yang dijawab dari dalam hati bahwa dia juga memikirkan keluarga kerajaannya yang sudah dia tinggalkan untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Shin Mo Lan tersenyum. "Bohong kalau tidak. Apalagi, aku pemimpin di klan ku. Setelah aku tiada siapa yang menggantikan aku?!" agaknya Shin Mo Lan juga memikirkan keberlangsungan hidup klan-nya yang ia tinggalkan begitu saja.


Ye Zi Xian dan Bai Gikwang mengangguk membenarkan. Karena mereka juga memikirkan hal yang sama.


Padahal dulu, meskipun mereka tahu akan ikut istri-istrinya kembali ke dunia sang istri. Bukan berarti tanpa persiapan yang harus dilakukan. Baik Shin Mo Lan maupun dua sahabatnya yang lain. Mereka sudah bersiap untuk menyelesaikan tugas sebelum pergi. Akan tetapi, karena tidak tahu bagaimana takdir membawa mereka mengikuti pujaan hati mereka kembali ke masa depan, hal itu membuat masih ada sisa pekerjaan yang tertinggal. Salah satunya adalah menemukan pengganti mereka.


Karena itu, sampai saat ini mereka tidak tahu bagaimana keadaan disana. Hanya bisa berharap semua baik-baik saja.


"Karena sudah seperti ini. Mari kita nikmati kehidupan kedua kita bersama orang terkasih." seru Ye Zi Xian tak ingin larut dalam ketidakberdayaan karena tak bisa mengetahui keadaan masa lalu dan tak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Dia pun hanya bisa mengangkat gelas anggurnya untuk menyemangati diri mereka sendiri untuk terus melihat kedepan.


"Kau benar. Keadaan saat ini lebih jelas dan pasti daripada memikirkan keadaan yang tak akan pernah kita dapatkan jawabannya." sahut Bai Gikwang.


"Semangat untuk kita. Mari pikirkan saja bagaimana memperbanyak keturunan." jenaka Shin Mo Lan dengan wajah yang tak ada raut jenakanya namun anehnya tidak terlihat canggung.


Bahkan mungkin tidak ada yang memikirkannya, sebab ketiganya bukan termasuk orang yang humoris.


Tring!


Tiga gelas berisi anggur merah beradu hingga menimbulkan suara gemerincing tanda ketiganya tengah bersulang sebelum akhirnya isinya pun ditenggak oleh mereka.



Di ruangan lain, di sisi ketiga istri atau akrab dipanggil 3Ry.


Ketiganya tampak tengah melakukan sesuatu. Dengan Ryura yang duduk di kursi rias sambil membelakangi cermin di meja rias. Punggung tegap Ryura dapat dilihat meski terhalang rambut panjangnya yang lurus.


Sedang Rayan, dia berdiri didepan Ryura menghadap cermin hingga bayangannya ikut terlihat dengan sesuatu dikedua tangannya. Itu seperti kuas dan makeup. Kening istri Shin Mo Lan sampai berkerut tampak berpikir dengan serius seraya menatap Ryura seperti subjek eksperimennya.


"Apa yang kau lakukan dengan diam saja?! Ayo, teruskan!" suara Reychu menggema dengan mendesak tepat di sebelah Rayan.


Reychu selalu ada untuk mengacaukan.


Wajah berekspresi polos dan tak berdosa-nya itu begitu terlihat menyebalkan di mata Rayan yang langsung mendelik padanya kala merasa konsentrasinya diganggu.


"Bisa diam tidak! Apa yang akan ku lakukan jangan diganggu! Kau mengerti!" sungut Rayan lalu mendorong Reychu menggunakan sikunya dengan maksud menyuruh Reychu menyingkir dari menganggu pekerjaannya.


Reychu malah sama sekali tidak tersinggung, dia justru semakin menjadi. "Aku 'kan hanya menyadarkan mu dari melamun agar tidak melupakan kalau saat ini kau sedang mengacak-acak wajah Ryura. Hati-hati, jangan sampai si pria ubanan itu melihat istri tercintanya di rusak. Uuhhh... Dia akan berubah menjadi monster."


Ryura diam saja meski mendengar namanya dan suaminya diungkit. Namun, baginya ini bukan percakapan penting sehingga dia tak mau repot-repot bersuara. Berbeda dengan Rayan yang berulang kali menarik-keluar nafasnya guna menenangkan kejengkelannya terhadap sahabatnya yang satu ini.


"Diam lah, Reychu! Kau mengganggu ku! Bagaimana aku bisa meneruskannya kalau kau ganggu terus?! Pergi sana! Mengganggu saja!" kesal Rayan dan kembali mengamati wajah Ryura sambil melanjutkan berpikirnya yang sempat ditunda karena Reychu. Walaupun wajahnya masih cemberut.


Tapi, Reychu tak merasa bersalah sedikitpun dan malah bersedekap dada sambil berceloteh. "Ckckck... Sungguh tidak tahu terima kasih. Padahal yang ku lakukan baik lhoo... Kapan lagi aku menjadi sahabat yang baik seperti malam ini?! Membantu mu menyiapkan Ryura untuk besok. Menemani mu menyiapkan Ryura untuk besok. Menunggumu menyiapkan Ryura untuk besok. Melihat mu menyiapkan Ryura untuk besok. Mengomentari mu menyiapkan Ryura untuk besok. Me..."


"STOOPPP! ENOUGH!" wajah Rayan sudah merah padam saking kesalnya. "Kalau kau tidak bisa diam, aku akan lakukan sesuatu pada mulut mu itu! Akan ku sumpal, ku jahit, ku robek, ku hilangkan kalau perlu! Berisik sekali kau ini! Diam lah, ini tugasku! Huh!" kesal bukan main yang Rayan rasakan. Padahal tadi dia hampir menemukan ide untuk memake-over wajah Ryura yang datar itu.


Melihat Rayan marah, bukannya tak enak hati Reychu justru terkikik senang hingga tertawa terbahak-bahak sampai melemparkan tubuhnya ke ranjang yang ada di ruangan itu. Ruangan yang adalah kamar.


Brugh!

__ADS_1


BWAHAHAHAHA... HAHAHAHA... HUAHAHAHAA...


Mata Rayan menyipit frustrasi, lalu mendengus dan mengumpat. "Dasar gila!" tapi, umpatan itu tak mempengaruhi tawa girang Reychu yang tak terkontrol.


Sampai-sampai, tiga pria yang ada di ruang keluarga menoleh ke asal suara itu secara serempak sebelum akhirnya saling pandang dengan Shin Mo Lan berujar duluan.


"Itu calon istri mu, Bai Gikwang." Shin Mo Lan bisa menebaknya karena istrinya jelas tak memiliki suara tawa menggelegar seperti itu.


Bai Gikwang sendiri yang mengetahuinya malah tersenyum kasmaran, lalu mengiyakan. "Benar sekali. Bagus kan suara tawanya?!"


Shin Mo Lan maupun Ye Zi Xian bungkam untuk pertanyaan itu. Jawabannya jelas... Tidak!


Tidak ada manis dan anggun-anggunnya.


Tapi, Bai Gikwang mana peduli tentang itu yang penting dia suka.


Kembali ke 3Ry...


Beberapa saat kemudian setelah segala macam gangguan dari Reychu dan kejengkelan yang Rayan rasakan serta ketidakpedulian Ryura pada keributan yang dua sahabatnya lakukan, akhirnya Rayan selesai memake-over Ryura.


"Ini baru tepat!" seru Rayan senang dan puas dengan hasilnya.


"Bukankah kurang putih?" celetukan Reychu langsung merusak kembali perasaan puasnya hingga membuat Rayan tak bisa menahan kakinya untuk melayang ke bokong Reychu saking kesalnya.


Buk!


"Diam saja! Kau mana tahu hal semacam ini! Jadi, jangan merusak suasana yang sudah bagus ini!" omel Rayan sinis.


"Ckckck... Sungguh tidak patut ditiru. Bagaimana bisa ada orang yang tidak senang di beri saran?!" ucap Reychu dengan tampang menyebalkannya seraya mengangkat kedua bahu dan tangannya sejajar bahu.


Karena perkataannya juga, akhirnya...


"Kau bukannya memberi saran, kau malah merusak mood ku!" pekik Rayan dengan sejuta kekesalannya.


Brak! Klik!


Mata Reychu berkedip polos mendapati dirinya sudah di buang keluar kamar oleh Rayan yang sudah kehilangan kesabarannya.


"Oh, Rayan marah, ya. Haih, seperti remaja labil saja. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah." santainya dia berkata begitu, tapi siapa sangka bila Rayan yang berada didalam kamar masih bisa mendengarnya hingga wanita itu berteriak penuh kekesalan yang tersisa.


"REYCHUUUUUU!!!"


Reychu terkaget mendengarnya dan segera memilih melarikan diri dari amukan Rayan yang mungkin berdampak lebih kacau balau dari ini.


Oops!


Drap... Drap... Drap...


__ADS_1


__ADS_2