3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DUEL SAHABAT


__ADS_3

Bayangan hitam dalam balutan jubah besar gelap bertudung hingga menutupi seluruh kepalanya terlihat berlarian di atap bangunan yang ada di ibukota Lan-gang. Bayangan itu tampak seperti sedang mengejar sesuatu dengan langkah yang terburu-buru.


Dia menyatu dengan malam, sampai tak bisa dikenali.


Tapi, sayang...


Dia harus berhenti di tengah kejarannya saat matanya mulai linglung melihat ke sekeliling, namun yang dicari tak terlihat lagi. Ia jadi tak bisa menahan diri untuk tidak mendengus mengumpati dirinya sendiri yang gagal mengejar sosok itu.


"Menemukannya jauh lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami!" katanya dengan suara rendah seraya berkacak pinggang.


Tanpa dia tahu, yang di carinya kini sedang berdiri tenang sejauh 10 meter darinya tepat dibelakang. Sosok itu tak hanya tenang, tapi keberadaannya pun tak dapat di rasakan. Dia bagai bayang-bayang yang ada, namun tak pernah menjadi soal bagi siapapun.


Setelah dirasa tidak mendapatkan hasil apapun, orang itu berkata lagi pada dirinya sendiri. "Cukup untuk malam ini. Lagipula, dia tidak dapat melarikan diri lebih jauh dariku! Karena kita sudah ditakdirkan, kemana lagi dia bisa pergi?!" di akhir kalimatnya, ia memberikan senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.


Senyum itu terlalu manis dan sarat akan mendamba. Secara keseluruhan, itu seperti mengartikan sebuah klaim kepemilikan.


Kemudian, diapun melompati atap gedung lalu berlari lagi dan kembali pulang dengan masih tanpa menyadari kalau orang yang dibicarakan ada di belakangnya sejak awal.


Sosok itu tak lain adalah Ryura.


Dia hanya memandang orang tak dikenal yang mulai menjauh itu masih dengan wajah tanpa ekspresi. Tak ada yang tahu apakah dia senang atau tidak mengetahui dibuntuti, yang jelas dia tahu kalau sedang di cari.


Namun, dia tidak merasakan hal negatif dari pencarian ini. Karena itu, dia berani mengamati orang tersebut dari jarak dekat.


Sejenak diliriknya pedang yang terbungkus rapi di sisi kanannya.


Sepertinya, baru saja ia merasa pedang itu bergetar. Tapi, tak tahu apa sebabnya.


Tak lama setelahnya, giliran Ryura yang beranjak pergi dari sana bersamaan dengan orang asing itu menghentikan langkahnya untuk menyempatkan diri menoleh sejenak guna melihat kembali dimana tempatnya berdiri sebelumnya.


Tapi, ia tak menemukan apapun.


Tidak tahu kenapa. Dia seperti diberitahukan kalau ada sesuatu disana, namun ia tidak mengetahuinya.


Baru setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya dan keduanya kembali melalui jalur yang berlawanan, membiarkan langit berbintang malam ini menjadi saksi keduanya saling bersisihan.



Pagi tiba di keesokan harinya.


Mulai dari matahari mengintip di ufuk timur, suasana ibukota Lan-gang sudah terlihat ramai saja. Bahkan Area Shaozu pun mulai di datangi para penonton yang antusias pada kompetisi hari ini.


Namun, sayangnya Ryura pun kembali menghilang dari kamar. Hal itu sukses membuat panik Duan Xi pada awalnya. Tapi, tak lama kemudians dia kembali tenang begitu mengingat bahwa Ryura adalah gadis yang bertanggung jawab.


Diapun berkata seraya melambaikan tangannya menepis udara tepat di depan wajahnya. "Sudahlah! Nanti juga kembali!"


Rayan dan Reychu hanya terkikik melihatnya. Mereka ingat saat dulu pria tua pendek itu sangat cerewet kalau tahu Ryura hilang. Tapi, sekarang nyatanya.


"Pak tua sudah besar rupanya... Kikiki..." katanya sambil terkekeh, tak ada yang bisa di tandai apakah itu mengejek atau tidak.


Duan Xi hanya mendengus menanggapinya. Sudah mulai terbiasa dengan mulut Reychu yang tak punya saringan.


Mulut Reychu terlalu lemes sejak awal, hingga sulit untuk di kenali apakah dia tengah berbicara baik atau buruk.


Akhirnya, rombongan 3Ry pun mulai beranjak pergi menuju Area Shaozu.


Sedikit banyaknya, ada orang-orang yang memberi Reychu salam dan sesekali ada yang bertanya mengenai kompetisi kali ini. Akan tetapi, jawaban Reychu malah membuat orang yang mendengarnya canggung dan kikuk.


Salah satu contohnya...

__ADS_1


"Wah.. ini Nona Ahn Reychu 'kan? Anda hebat sekali kemarin! Apakah kali ini akan ada kejutan seru saat anda bertanding?" tanya salah satu warga yang mengenalinya sebagai seorang peserta di kompetisi hidup dan mati di Area Shaozu kemarin.


"Benar! Haha... Anda baru saja memujiku?! Aku tahu, aku memang hebat! Tak ada duanya! Tapi, bicara soal kejutan dalam kompetisi nanti... Jelasss... Itu adalah rahasia. Anda akan tahu nanti. Mana mungkin aku memberitahumu rahasia dagang ku. Nanti tidak lagi seru! Masa aku harus bilang kalau aku akan membabat habis para penantang nanti. Itu tidak lucu... Hehehe..." katanya dengan gaya khasnya.


Dia bahkan antara sadar dan tidak, saat mengatakan sesuatu yang bisa jadi adalah 'rahasia dagang'-nya yang dimaksud.


Orang asing yang bertanya tadi, tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia tak berpikir kalau ternyata seperti inilah sosok Reychu yang dikenal gila di atas panggung arena saat bertarung. Siapa sangka kalau di kehidupan sehari-hari akan sekonyol ini.


Orang asing itu hanya bisa terkekeh canggung, tak tahu harus bagaimana.


Yang lainnya dari rombongan 3Ry, hanya abai pada kelakuan Reychu. Mereka sudah terbiasa.



Akhirnya, tribun Area Shaozu pun penuh oleh penonton begitu matahari sedikit menyingsing menunjukkan pukul 6.30 pagi.


Ketidaksabaran mereka terlihat jelas. Betapa inginnya mereka menonton keseruan kompetisi hidup dan mati tahun ini.


Di tribun bawah seperti sebelumnya, 3Ry dan yang lain -kecuali Ryura- sudah duduk manis, walau tidak di tempat yang sama seperti kemarin. Tapi, pastinya sama strategis dan dekatnya dengan panggung arena.


Saat sedang tenang-tenangnya duduk, sekumpulan orang yang menyebalkan datang dengan wajah angkuh mereka.


Siapa lagi kalau bukan pria yang mendapat julukan 'Belalang Kayu' dari Duan Xi.


Dia bernama Fu Xie. Orangnya tinggi dan kurus, sama tuanya dengan Duan Xi. Tapi, setidaknya keduanya sama-sama terlihat segar bugar di usia yang tak lagi muda.


Wajah kempot itu angkuh dan sombong. Terlalu memandang rendah musuhnya, Duan Xi.


"Kau siap untuk kalah hari ini, wahai teman lamaku?!" sinisnya dan murid-muridnya terkekeh menertawakan pria tua pendek yang duduk di tribun.


Mereka bahkan bisa melihat kalau kakinya saja tidak sampai menyentuh tanah, itu menandakan betapa pendeknya pria seumuran gurunya itu.


"Oh, benarkah?! Aku bahkan ragu kalau soal itu! Bagaimana kalau kau saja yang bersiap untuk kalah?! Hm..." balas Duan Xi tak kalah sinis dan mengejek.


Malahan para guru sampai menyatakan kalau mereka adalah juara di tahun mereka.


Siapa yang akan menerima itu saat keduanya bahkan bermusuhan?!


Begitulah...


"Yoyoyo... Ada apa ini? Jika ingin bertengkar, carilah tempat lain. Kalian menghalangi pandangan ku untuk menonton." Reychu berkata sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat mengusir, baru kemudian menatap kelompok Fu Xie dengan ekspresi yang dibuat-buat.


"Oouh. Siapa ini... Biar ku ingat... Aha! Aku ingat sekarang, dia Pak Tua kurus kemarin kan! Ku pikir dia sudah terbawa angin, ternyata masih disini..." ledek Reychu tanpa pandang bulu.


Tubuh Fu Xie sampai bergetar karena menahan marah. Tapi, tak bisa gegabah mengingat ia sudah lihat metode bertarungnya Reychu. Bisa di simpulkan kalau Reychu bukan tipikal lawan yang punya belas kasih saat dihadapkan dengan lawan sungguhan.


Dan yang kemarin itu, pasti hanya sebagian kecil kemampuannya. Dia jadi bertanya-tanya, dimana musuhnya menemukan mereka.


Termasuk gadis bernama Ryura.


Dia melihat dengan jelas bagaimana gadis yang tidak bisa ia rasakan hawa keberadaannya menonaktifkan lawan dalam waktu singkat tanpa menggunakan energi spiritual.


Ini mengkhawatirkan, menurutnya.


Karena itu, dia tak akan ceroboh dengan meladeni debat tak penting saat ini. Dia harus menyusun strategi dengan murid terpilihnya yang akan bertarung dengan Ryura nanti.


"Sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat dengan sekumpulan orang-orang rendahan." hinanya. "Ayo, anak-anak. Kita punya urusan yang lebih penting dari pada meladeni orang-orang seperti mereka..." dia masih bisa bersikap angkuh setelah kecemasan merayap di hatinya.


"Hush.. Hush..! Merusak pemandangan saja." sembur Reychu malas. Kalimatnya membuat salah satu gadis di kelompok Fu Xie melirik ganas padanya yang dibalas memeletkan lidah oleh Reychu.

__ADS_1


Kemudian, mereka pun pergi untuk duduk di tribun sebelumnya.


Tak lama kemudian acara pun dimulai...


Satu persatu peserta mulai naik dan berkompetisi di atas panggung arena.



Beberapa saat kemudian...


Kebosanan menerpa Reychu hingga membuat gadis itu menyandarkan tubuhnya pada Rayan sambil mengeluh.


"Apa-apaan ini? Kenapa begitu membosankan! Kapan giliran ku? Lihat..." tunjuknya pada pemain di atas panggung arena. "Mereka itu sedang apa?! Apa cuma segitu yang mereka bisa?! Cih! Sungguh tidak ada hebatnya sama sekali!" gerutunya akibat rasa bosan yang tak terbendung.


Melirik Reychu malas, tapi Rayan tetap angkat bicara. "Kau bisa diam tidak?! Ini belum berlangsung terlalu lama. Dari 13 peserta yang di undi hari ini, baru 6 nama yang keluar, itu artinya baru berlangsung selama 3 jam-an. Bagian mana yang kau anggap lama?!" Rayan menggelengkan kepalanya tak mau repot-repot meladeni Reychu yang tidak jelas menurutnya.


Menaruh dagunya di pundak Rayan, Reychu kembali menggerutu. "Baru 3 jam apa?! Aku sudah merasa seperti lebih dari itu. Kau jangan menipu ku!" keukeuhnya.


"Haish, terserah kau saja! Kenapa tidak berharap saja, semoga kau langsung di pasangkan dengan Ryura sebagai lawan tanding mu nanti. Jadi, kau tidak perlu bertingkah seperti ini. Tahukah kau, itu menyebalkan!" jengkel Rayan pada akhirnya. Tapi, tidak menyingkirkan Reychu yang bergelayut di bahunya.


"Huh! Kau benar!" Rayan mengangguk menyahuti. "Bicara soal Ryura... Mana dia? Dia benar-benar seperti hantu. Tapi sayang sekali, aku tidak takut. Sebagai hantu dia jauh lebih enak dipandang daripada hantu sungguhan. Tapi, bisakah dia tidak kelayapan disaat-saat seperti ini. Dari semalam dia menghilang. Dia seperti wanita malam." cerocos Reychu yang membuat Rayan memutar bola matanya jengah.


Mulutnya yang tajam itu sudah benar-benar jadi kebiasaan.


Untung dia temannya.


Begitu kalimat yang Reychu ucapkan selesai, suara pembawa acara langsung menyusul menggema.


"BAIKLAH... KITA AKAN LANGSUNG KE PESERTA BERIKUTNYA... PARA HADIRIN SEKALIAN PASTI SUDAH TIDAK SABAR UNTUK MENYAKSIKAN LAGI DAN MENANTIKAN SIAPAKAH PESERTA BERIKUTNYA. TAK APA... JANGAN RISAU... KINI BIARKAN PENGUNDI MULAI MENGUNDI NAMA-NAMA PESERTA YANG AKAN BERTARUNG SEKARANG INI. MARI, WASIT TUNJUKKAN NAMANYA!"


Wasit yang disebut langsung mengambil dua bilah bambu kecil dari tempatnya secara acak. Kemudian, menunjukkannya pada pembawa acara.


"INI DIA... KAMI SUDAH MEMEGANG DUA NAMA PESERTA YANG AKAN BERKOMPETISI SAAT INI... INGIN TAHUUU..." sahutan langsung terdengar begitu pembawa acara menanyakan hal itu. Semarak dan antusiasme masyarakat Kekaisaran Tenggara benar-benar tak terbantahkan.


"BAIKLAH, LANGSUNG SAJA. KITA TAK PERLU BERLAMA-LAMA. KARENA HARI INI, KITA AKAN LANGSUNG MEMAINKAN 3 PUTARAN PERTARUNGAN SAMPAI KE FINAL! HARAP PERSIAPKAN DIRI UNTUK TIDAK SAMPAI MELEWATKAN KESEMPATAN UNTUK MENYAKSIKAN KOMPETISI HIDUP DAN MATI TAHUN INI..." pembawa acara mengumumkan sesuatu.


"MAKA, INI DIA DUA PESERTA YANG AKAN KITA SAKSIKAN DUELNYA. MARI, SAMBUT PESERTA KITA... NONA REYCHU DAN NONA RYURA...!!!" lanjutnya.


Reychu yang mendengarnya dari tribun bawah langsung bangkit berdiri dari duduknya.


Menoleh kearah Rayan. "Sayang, kata-kata mu terkabul!" senang Reychu tak terkira. Tanpa menunggu balasan dari sahabatnya ia langsung melompat terbang menuju panggung arena dengan percaya diri menggunakan kemampuan peringan tubuh.


"Dasar gila!" umpat Rayan rada kesal.


Pendaratan sempurna di lakukan Reychu sebagai bentuk keseriusannya melawan sahabatnya sendiri.


Tetapi...


Reychu sudah berkacak pinggang saat keadaan di Area Shaozu menjadi hening. Semuanya mulai mengedarkan pandangan mereka untuk mencari peserta satunya yang sudah berlangsung semenit, tapi belum muncul juga.


Karena tidak sabar, Reychu pun berteriak.


"RYURAAAAAAAAAAAAA...!!!"



uhuk..uhuk..uhuk...


maaf-maaf... lama upnya. Thor hmpir gk tau gimana lanjutnya. Alhamdulillah, idenya keluar pas lagi berimajinasi. hehe...

__ADS_1


ok maaf lagi, kalo ngegantung. πŸ˜‹πŸ˜˜πŸ˜˜


tunggu next nya yaaa.πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2