3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
GUGURKAN DALAM DUKA


__ADS_3

Flashback on...


Tepat di hari upacara pernikahan salah seorang putri dari keluarga Yu dengan seorang pangeran kedua dari kerajaan Huoli.


Pesta meriah dilangsungkan dengan mewah. Semua tampak berbahagia dihari itu. Terutama kaisar Li Hanzue, karena pada akhirnya dapat melihat adik kesayangannya menikah. Sedang orang kedua yang juga paling berbahagia adalah Yu Chan Yi.


Siapa yang tidak senang bila menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Itu juga yang tengah dirasakan oleh Yu Chan Yi. Tanpa perlu bersusah payah ia akhirnya mendapatkan posisi yang cukup bagus di istana, yaitu istri sah pangeran kedua Li Fang Ye.


Kedua keluarga tampak bahagia sekali. Tamu undangan pun turut merasakannya. Banyak yang mengucapkan selamat, tapi tak sedikit pula yang sirik dan iri pada pernikahan tersebut.


Tapi, mari kesampingkan terlebih dahulu pasangan kerajaan itu...


Ada sepasang insan lagi yang paling membutuhkan sorotan. Mereka adalah Yu Ming Luo dan Han Fei Rong.


Di dalam perayaan pesta tersebut, keduanya sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bertegur sapa ataupun bertemu walau sesaat. Hanya bisa saling curi-curi pandang dan saling tatap dari jarak jauh. Jujur saja, dalam hal ini perasaan mereka patut di acungi jempol. Kesetiaan diantara keduanya benar-benar terjaga. Terlebih lagi untuk pria di zaman kuno, dimana mereka bisa dengan mudah memiliki lebih dari satu istri. Tapi, sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Han Fei Rong.


Pria muda itu teramat mencintai kekasihnya, Yu Ming Luo.


Rindu malam itu tak bisa dibendung lagi. Lirikan yang saling dilemparkan masih jauh dari kata cukup untuk melepas rasa rindu tersebut.


Hanya saja perlu di ketahui. Bahwasanya, keduanya sama sekali tak berencana akan melewatkan malam panjang mereka pada malam itu juga.


Saat itu, Yu Ming Luo sudah merasa lelah dan ingin segera pulang. Alhasil, ia meminta izin ke keluarganya untuk pulang lebih dulu. Dengan sedikit perdebatan kecil, akhirnya ia diizinkan pulang duluan dengan pelayan dan pengawal. Karena bagaimanapun, ia adalah seorang gadis dari keluarga terpandang. Akan sangat buruk bila sesuatu terjadi padanya.


Namun, malam itu semua berjalan lancar. Yu Ming Luo pulang dengan selamat.


Setibanya di kamarnya, ia segera meminta pelayannya untuk menyiapkan air mandinya juga pakaian tidurnya. Ia benar-benar merasakan yang namanya lelah. Karena bagaimanapun ia juga turut mengikuti segala sesuatunya sebagai Keluarga dari pihak mempelai wanita. Jadi kini, ia kelelahan.


Usai mandi dan berpakaian, ia hendak membaringkan tubuhnya di peraduan untuk dapat segera tidur. Namun, sebuah suara ketukan dari jendela kamarnya membuat ia mengurungkan niatnya itu.


Seketika rasa cemas dan takut merayap masuk ke dalam dirinya. Dikarenakan, kediaman Yu saat ini sepi dari Tuan rumah yang semuanya sedang berada di istana. Yang ada hanya beberapa pelayan dan penjaga.


Dengan perasaan takut ia mencoba memberanikan diri untuk mendekati jendela dimana suara ketukannya yang pelan namun jelas terus saja terdengar.


Ditangannya sudah ada tusuk rambut yang terbuat dari emas, dia sempat mengambilnya dari meja rias sebelum berjalan menuju jendela. Hal itu menandakan ia siap kalau sewaktu-waktu sesuatu yang buruk ada di depan matanya.


Perlahan tapi pasti, kini ia sudah berada di depan jendela kamarnya yang masih tertutup. Ketukan itu juga masih terdengar. Dengan sedikit keberanian, ditariknya nafas dalam-dalam sembari tangan yang siap membuka jendela didepannya saat ini.


Tangan satunya yang memegang tusuk rambut di angkatnya tinggi, supaya dapat menjangkau siapapun itu di luar jendela kamarnya.


Kemudian iapun membuka jendelanya dan melayangkan tusukan sambil menutup mata. Akan tetapi, tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh tangan kokoh seseorang di luar jendela sana.


"Hei, hei, hei... Ini aku, sayang! Han Fei Rong!" sebutnya dengan suara pelan namun jelas, bertindak agar tidak menarik perhatian para pelayan ataupun penjaga yang mungkin sednag mengawasi sekitar kediaman. Seketika itu juga, Yu Ming Luo tersadar dari perbuatannya. Buru-buru ia menarik kembali tangannya.


Dengan sedikit cemberut, ia menggerutu. "Kau mengagetkan ku! Ku pikir siapa! Aku benar-benar takut kau tahu!"


Han Fei Rong terkekeh kecil mendengarnya. "Maaf, sayang! Aku akui, aku salah! Aku tidak bermaksud mengejutkan mu. Aku hanya tidak ingin ada yang melihat aku disini." katanya merasa bersalah. "Jadi... Bolehkah aku masuk?! Diluar sini sangat dingin." lanjutnya penuh harap sembari menggosok kedua tangannya yang mulai terasa dingin.


"Eh.. oh, ya... Tentu... Ma.. masuklah!" dia memberi izin meski agak ragu. Karena bagaimanapun ini adalah kediaman keluarganya. Ia juga merasa takut kalau-kalau sampai ada yang melihat kedatangan Han Fei Rong kekamarnya.


Setelah dipastikan pria itu masuk, segera Yu Ming Luo menutup jendelanya sambil sedikit melirik ke segala arah guna memastikan kalau semuanya masih dalam keadaan aman.


Kini tinggallah keduanya. Han Fei Rong duduk dengan santai di kursi dekat meja bundar ditengah ruang seraya menuangkan air mineral dalam sebuah teko yang terbuat dari tanah liat ke sebuah cangkir yang biasa digunakan oleh Yu Ming Luo, kekasihnya. Ia sama sekali tidak canggung melakukannya.


Sedang Yu Ming Luo, gadis itu saat ini tengah berkacak pinggang kala melihat bagaimana sikap kekasihnya yang teramat santai padahal ia sedang berada di kediaman Yu. Bagaimana jika mereka ketahuan?! Itu yang ia takutkan.


"Apa yang kau lakukan dengan datang kesini, Fei Rong?"


"Aku merindukanmu! Apa lagi!" jawabnya singkat namun jujur, kemudian ditatapnya wajah cantik kekasihnya lembut. "Kau tahu. Aku sangat-sangat iri melihat saudarimu menikah. Aku juga ingin melangsungkan pernikahan, tapi tentunya dengan mu! Hanya saja sampai saat ini aku belum juga menemukan cara untuk meminta izin pada keluarga ku. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu apa penyebab kedua keluarga kita tak ingin berbesanan. Kau lihat di acara pesta pernikahan tadi. Keluarga mu dan keluarga ku terlibat percakapan yang akrab. Lalu, apa alasan mereka tidak ingin membangun hubungan lebih?!" jelas Han Fei Rong terus terang. Yu Ming Luo hanya bisa menghela nafas lelah mendengar itu, ia pun tahu mengenai hubungan baik kedua keluarga mereka. Namun, masih tidak mengerti dimana letak keengganan mereka untuk berbesanan.


Gadis itu sama tidak mengerti nya dengan kekasihnya.


"Kemarilah!" pinta Han Fei Rong pada kekasihnya seraya menepuk-nepuk pahanya. Sepertinya ia ingin Yu Ming Luo duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Tanpa ragu gadis itu menuruti keinginan kekasihnya. Kini tak hanya duduk dengan manis di pangkuan Han Fei Rong, tapi ia juga melingkarkan tangannya ke leher sang pria dengan manja.


Senyum merekah terukir manis dibibir Han Fei Rong, saat mendapatkan apa yang ia inginkan. Dibawanya telapak tangannya ke sisi wajah Yu Ming Luo lalu mengelus pipi gadisnya dengan lembut penuh cinta.


Pandangan mereka terkunci dengan saling memandang dengan damba.


Membelai lembut wajah Yu Ming Luo seraya berkata. "Ini... Adalah wajah seseorang yang namanya terukir jelas di hatiku!" tuturnya tulus dan dalam seolah tengah mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya.


Masih membelai wajah Yu Ming Luo sampai gadis itu memejamkan matanya meresapi usapan lembut dari tangan kekasihnya. "Ini... Adalah wajah seseorang yang selalu menghiasi mimpi indah ku!" terus membelai nya. "Ini... Adalah wajah seseorang yang membuat ku tak bisa berpaling!" terus membelai hingga ibu jarinya berada di permukaan bibir ranum kekasihnya yang seperti menariknya untuk di cium.


Han Fei Rong mulai tergoda dan terbuai tanpa Yu Ming Luo menggodanya.


Di tekan perlahan-lahan bibir itu. Membuat si empunya membuka matanya dan tampaklah sepasang mata yang selalu memandang penuh cinta padanya sedang menatap fokus pada bibirnya yang asik ia sentuh.


"Aku ingin... Bolehkah?" pintanya lalu menaikkan pandangan matanya ke mata sang gadis. Yu Ming Luo tersenyum lembut kemudian setelahnya ia mengangguk memberi izin prianya melakukan apapun yang ia inginkan pada dirinya.


Tanpa menunggu lagi, langsung saja bibir yang sejak tadi menggodanya disambar dengan ciuman tanda cinta darinya.


Keduanya saling meresapi kenikmatan bibir satu sama lain. Hingga lama-kelamaan kenikmatan itu menuntut lebih. Bahkan tanpa sadar Han Fei Rong sudah mengangkat tubuh Yu Ming Luo yang juga tak menyadarinya.


Sampai kedua tubuh itu mendarat di atas peraduan, saat itu Yu Ming Luo tersadar. Ingin ia menahan pergerakan kekasihnya yang sepertinya tak akan dengan mudah mundur kali ini.


"F..Fei Rong..." gugupnya.


"Ya, sayang!" balas Han Fei Rong yang justru tersenyum tipis karena tahu apa yang membuat kekasihnya tiba-tiba bersikap seperti itu.


"I..ini... Tidak... Benar...!" belum selesai ia berucap, Han Fei Rong sudah lebih dulu menahan bibirnya dengan telunjuknya.


"Sstt... Kita saling mencintai bukan?" tanya pria itu dengan sorot matanya yang dalam. Seolah terhipnotis, Yu Ming Luo mengangguk membenarkan dari bawah pria itu. "Maka, jangan ragu. Karena, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Kau milikku dan aku milikmu. Hanya milikmu!" lugasnya dengan nada yang dalam dan tak terbantahkan. Yu Ming Luo tak ada alasan lagi untuk ragu.


"Ya, kau milikku dan begitu pun sebaliknya..." balas Yu Ming Luo mengulang kalimat yang sama kembali, membuat Han Fei Rong tak bisa bila tidak tersenyum bahagia.


Dan usai kalimat itu terucap, maka usai pula perbincangan penuh cinta dari keduanya. Kini yang tersisa hanya malam penuh gairah cinta yang tak bisa mereka bendung lagi lebih lama.


Mereka bahkan melupakan kehormatan keluarga mereka, karena cinta. Mereka juga melupakan kepercayaan Keluarga mereka, karena cinta. Yang mereka tahu kini adalah keinginan keduanya untuk saling memiliki sepenuhnya hingga mengabaikan segala hal yang sudah di atur untuk keduanya.


Sejak saat itu pula, Han Fei Rong sering diam-diam menyelinap ke dalam kamar Yu Ming Luo dan melakukan lagi apa yang sudah mereka lakukan di awal. Itu tidak terjadi hanya sekali ataupun dua kali, melainkan berkali-kali hampir setiap malam. Beruntungnya takdir masih berpihak kepada mereka, karena itu tak ada yang mengetahui tentang hubungan keduanya yang sudah melampaui batas.


Tanpa mereka sadari, takdir tak selamanya memihak pada makhluk yang sama.


Flashback off...



"Katakan itu tidak benar!"


Nafas Yang Pingyu mulai tak beraturan karena di landa emosi yang bercampur aduk. Ia bingung, sedih, tak percaya, terkejut, terpuruk dan segala perasaan negatif lainnya. Wajar saja, ia baru saja di tinggalkan sang suami, kini anak pertamanya menyusul, lalu secara tiba-tiba kabar yang sulit ia terima datang menghampiri. Jelas saja bila itu semakin membuatnya kacau. Tak hanya Yang Pingyu, tapi juga seluruh Keluarga besar Han yang ada di sana juga tak bisa menahan keterkejutan mereka kala kabar itu datang.


"KATAKAN!" meledak lah suara Yang Pingyu kala ia tidak mendengar bantahan dari Yu Rayan yang tanpa melihat situasi langsung asal berucap, tapi ia semakin gelap mata saat perempuan yang dimaksud hanya menunduk dalam di sisi jasad putranya.


"KAU!" menunjuk Yu Ming Luo dengan marah. "Jawab pertanyaan ku!" nadanya kini rendah namun penuh penekanan yang tajam. "Kau benar hamil? Kau benar mengandung anak Han Fei Rong-ku? Jawab aku Nona!" paksanya karena ia ingin tahu, tapi Yu Ming Luo tak bisa berkata apa-apa saat ini.


Ia juga terguncang atas kematian Han Fei Rong didepan matanya, padahal baru beberapa hari lalu ia memberikan kabar bahagia kepada sang kekasih tentang kehamilannya dimana pria itu juga tak bisa membendung rasa bahagianya sampai ia menangis bahagia membayangkan akan menjadi ayah dalam waktu beberapa bulan kedepan. Tapi, kini...


"JAWAB AKU!!!" teriak Yang Pingyu semakin kalap.


Yu Rayan hanya menyaksikan itu semua sembari bersandar pada sisi tubuh Ruobin yang hanya diam tak berminat sama sekali dengan drama menyedihkan yang tersaji di depan matanya saat ini. Untungnya ia menggunakan topeng, jadi ia bisa meminimalisir apa yang tak ingin ia lihat.


Sementara kedua saudarinya yang lain baru saja tiba. Tapi, sudah di kejutkan dengan teriakan Yang Pingyu yang menggelegar marah.


"Ada apa ini?!" batin kedua Nona Muda Yu itu tak mengerti.


Kemudian salah satunya -Yu Mei Lin- melirik ke arah Yu Rayan yang tampak menikmati apa yang ia lihat saat ini. Dan tentu, ia membuatnya marah.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat, Yu Rayan. Jangan melihat kakak ku seperti itu. Ingat siapa dirimu di Keluarga Yu, huh!!" suara bentakan dari Yu Mei Lin benar-benar tak tahu tempat. Kini, yang mendengarnya jadi tahu siapa yang sedang dihadapi.


"Ja..jadi... Kau... Keturunan Keluarga Yu?" tanya Han Liang Xin terbata seraya menatap Yu Ming Luo yang tak kunjung mengangkat kepalanya. Ia seperti tahu sesuatu tentang hubungan kedua keluarga itu yang tidak bisa menjadi lebih dari sekadar teman baik.


"Tentu, siapa lagi kalau bukan kami keturunan Keluarga Yu yang terlahir menawan dan tak ada tandingannya ini." bangga Yu Mei Lin yang mana membuat Rayan merotasikan bola matanya jengah, sedang Yu Ran Ran hanya diam sambil melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi di tempat ini.


"DASAR JAL*NG! MURAHAN! PENGGODA! KAU APAKAN PUTRAKU SAMPAI IA BISA MENGHAMILI MU, HAH?!!!"


Yang Pingyu kembali histeris karena masih belum bisa menerima kenyataan yang ada sembari mencengkeram kuat kedua lengan atas Yu Ming Luo yang sedih tak berdaya. Yu Mei Lin dan Yu Ran Ran terkejut bukan main saat kalimat 'menghamili' terdengar sampai ke telinga mereka.


Rayan hanya menunjukkan smirknya. "Ini baru benar! Hehe!" gumamnya senang diatas penderitaan orang lain.


"A...apa?! Ka..kakak... Ka..kau... I..itu... Tidak... Be...benar, 'kan?!" tanya Yu Mei Lin tergagap lantaran tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


Yu Ran Ran diam membeku di tempatnya. Ia tak tahu harus merespon bagaimana atas kejadian yang begitu membingungkan ini.


"Ya... Itu tidak benar, bukan?! TIDAK BENAR, IYAKAN?! JAWAB AKU NONA YU! KAU TIDAK HAMIL, KAN?! ITU BUKAN BAYI PUTRAKU, KAN? Jawablah... Huhuhu..." Yang Pingyu benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya hingga Xia Lin Lin harus turun tangan untuk menenangkannya meski ia sendiri juga masih dalam rasa berduka atas meninggalnya sang suami. Tapi, ia tahu Yang Pingyu lebih dari sekadar berduka. Jadi, ia berinisiatif untuk menenangkannya.


Yang Pingyu sudah lemah tak berdaya hingga akhirnya jatuh pingsan.


"Astaga!" kagetnya saat tubuh Yang Pingyu menjadi berat akibat pingsan. "Liang Xin! Bingzhue! Tolong ibu kalian!" seru Xia Lin Lin panik.


Kedua pemuda itu ikut terjengkit kaget melihat ibu mereka jatuh pingsan. Segera dengan cepat keduanya membawa sang ibu ke dalam kereta sambil mengajak Han Shu Zhu dan Han Shang Nian untuk ikut bersama mereka.


Kini, yang tersisa di sana selain para penduduk disana juga ada orang yang bersangkutan. Seperti, Yu Rayan bersama Ruobin, Yu Mei Lin bersama Yu Ran Ran, jangan lupakan Yu Ming Luo yang tak berdaya dengan masih terduduk disisi jasad Han Fei Rong dan ada Han Wu Shin, Han Tian Yu, Han Dao Yan, Han Mei Mei dan bibi mereka Xia Lin Lin.


Di lepasnya helaan nafas yang begitu berat untuk menghadapi peristiwa yang baru saja terjadi. Semuanya benar-benar diluar dugaan, hingga tak tahu harus apa.


"Nona Muda Yu, aku tidak tahu apakah itu benar adanya atau tidak. Tapi, bila itu benar. Maka, keputusan terbaiknya adalah... Gugurkan kandungan itu! Karena, Keluarga Han kami tidak akan pernah mengizinkan anak yang tidak sah untuk menjadi bagian dari keluarga! Kau dengar 'kan, Nona Muda Yu!" tutur Xia Lin Lin dengan nada tegas tak terbantah. Kemudian berbalik pergi karena ia cukup pusing bila harus melanjutkan semua ini lebih lagi.


Sebelum benar-benar pergi. "Kita kembali sekarang, anak-anak! Tidak perlu pedulikan apa yang kita dengar tadi! Anggaplah itu tidak pernah dibahas! Karena kita masih memiliki urusan yang lebih penting dari ini!" tukasnya sambil membelakangi para Nona Muda Yu yang ada disana termasuk Yu Rayan.


Melirik sekilas pada Yu Ming Luo yang tampak lemah karena sedih yang mendalam. "Itu salah dirinya yang begitu murahan dan tidak tahu malu! Bagaimana bisa dia menyerahkan begitu saja kehormatannya pada pria yang bukan suaminya hanya karena rasa cinta?! Menjijikkan! Sungguh hina!" setelah kalimat hinaannya ia baru benar-benar pergi.


Han Wu Shin dan kedua adiknya memilih diam sembari bergerak untuk membawa serta jasad Han Fei Rong. Tapi, seketika itu juga Yu Ming Luo baru mau angkat bicara.


"Jangan...!" terlalu lirih, nyaris tak terdengar.


"..." Han Wu Shin diam saat mendengar lirihan itu. Tangannya terus bergerak mengangkat tubuh bagian atas Han Fei Rong dan membiarkan kedua adiknya mengangkat bagian bawah tubuh lainnya.


Kemudian, mereka pun berlalu pergi dari sana...


Melihat tubuh pujaan hatinya yang dibawa pergi, Yu Ming Luo tak bisa menahan lagi air matanya untuk keluar. Saat itu juga, ia menjerit histeris menangisi kepergian kekasihnya untuk selamanya dan hanya meninggalkan benih yang telah tumbuh dirahimnya.


Sang adik dan sepupunya tak bisa berkata apa-apa. Mereka diam membisu. Masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ini sungguh membingungkan bagi mereka.


Sampai kekehan Rayan mengalihkan perhatian mereka padanya.


"Hehehe... Benar-benar tontonan yang menguras emosi!" sembari memandang kedua gadis Yu yang berdiri di depannya dengan mengejek. Lalu, beralih ke kakak sepupu nya yang masih menangis di atas tanah yang menjadi saksi bisu kematian kekasihnya.


"Sebagai anak haram yang sudah berpengalaman. Aku ingin memberi saran... Yang tegar, ya..." dengan senyum manis yang merekah. "seperti inilah hidup. Kau tidak bisa selalu berpikir kau mampu mengendalikan takdir hidupmu!" lanjutnya tanpa mengurangi senyum manisnya yang tampak licik Dimata saudari-saudarinya. "Aku tahu rasanya menjadi yang terendah. Karena itu, aku berdoa semoga anakmu bisa bertahan hidup mulai sekarang. Sebab, ibunya lebih dulu yang akan menanggung kesalahannya! Tapi, kalau kau tidak sanggup bertahan, bisa memberitahukan nya padaku. Aku akan memberi ramuan buatanku dengan dua pilihan... Pertama, ramuan untuk membawa pergi janinmu menemui ayahnya. Atau yang kedua, dimana kau pun ikut serta..." jelasnya santai.


"YU RAYAN!" teriak Yu Mei Lin dan Yu Ran Ran kesal. Mereka sudah mencoba bersabar sejak Rayan mulai berceloteh tak jelas.


Bagi, mereka... Rayan benar-benar sudah keterlaluan! Sedang Rayan hanya mengedikkan bahunya acuh lalu berbalik pergi bersama Ruobin dan meninggalkan ketiganya dalam kekalutan masing-masing.



hah... leganya... pegal jari ini...🤣🤣🤣


klo gak keberatan, mampir ke IG ku ya...


@aziggnar.art.uc37

__ADS_1


sampai jumpa di eps berikutnya...


bai-bai!!!😘


__ADS_2