3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEMBALI MENDATANGI ISTANA


__ADS_3

Pergi meninggalkan masalah besar di kediaman Han begitu saja, tidak jadi beban bagi Ryura. Gadis bernama Han Ryura yang tubuhnya dihuni oleh Ryura Jenna tidak takut akan apa yang menanti di depan matanya. Baginya, bila saatnya mati maka matilah. Ia tak pernah berpikir untuk menoleh kebelakang ataupun waspada pada apapun, Ryura masih tetap tenang sekalipun badai sebentar lagi akan menerjangnya.


Kini dia sedang berdiri diam di pinggir bibir sungai sambil matanya memandang fokus pada air yang mengalir disana. Sesekali ia sempat melihat keberadaan ikan-ikan kecil dengan warna yang sama. Mereka tampak berenang menikmati hidup mereka. Tanpa ada yang menyadari kalau hal itu mampu menarik sedikit ujung bibirnya.


Lumayan cukup lama ia berdiri disana tanpa melakukan apapun, bahkan sampai matahari menenggelamkan dirinya dengan hanya meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga di belakangnya.


Tiba-tiba sesuatu menyentaknya sedikit. Ia mendongak menatap lurus kedepan dengan tatapan yang tak dapat di mengerti oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Suatu hal seolah menyadarkan nya. Tidak lama ia melakukan itu karena kemudian ia menoleh dan langsung berjalan kearah Furby, yang mana kuda hitam itu malah memandang bingung ke arah Ryura yang mendekat padanya.


"Ada apa?" telepati Furby pada Ryura.


Seperti biasanya seorang Ryura, tanpa mau menjawab apa yang di tanya. Ryura berujar pasti. "Ke tempat guru sekarang!"


Langsung saja ia menaiki punggung Furby. Walau kuda itu bingung, namun ia tetap melakukan apa yang diminta. Segeralah mereka beranjak dari tempat itu menuju ke penginapan Duan Xi.



Brugh!


Suara kaki yang menghentak tanah akibat melompat turun terdengar. Tanpa jeda kaki itu kini melangkah meneruskan jalannya. Namun sebelum itu ia sempat berkata tanpa menoleh ataupun berhenti dari langkahnya.


"Tunggu disini. Kita akan pergi lagi setelah aku memastikan sesuatu."


Kuda hitam itu hanya diam memandang punggung sahabat manusianya yang semakin menjauh. Tanpa bertanya dua kali, Furby tahu sesuatu telah terjadi.


Ia mendongak melayangkan tatapannya ke salah satu jendela yang terbuka di lantai atas penginapan tersebut. Tidak perlu ditanya lagi kalau itu adalah jendela kamar yang di tinggali oleh pria tua pendek tersebut.


Bahkan dengan kemampuannya, Furby tahu seseorang yang berharga bagi sahabatnya itu berada di sana dan sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Sambil mengerutkan keningnya ia membatin. "Ryura sudah datang. Kau akan baik-baik saja!"



Disinilah ia sekarang. Tepat di samping peraduan dimana seorang gadis yang amat di kenalnya berbaring disana namun bukan dalam keadaan tidur melainkan tengah kesakitan.


Tadi, saat ia masuk tanpa permisi. Sebenarnya ia tahu mereka yang ada di sana terkejut dengan kehadirannya. Tapi, bukan Ryura namanya kalau ia harus ikut-ikut bersikap berlebihan. Alhasil ia mengabaikannya saja.


Tanpa mengalihkan pandangannya kemanapun, Ryura bertanya. "Kenapa dengannya?"


Rayan kelabakan, ia gugup juga takut. Dengan terbata-bata ia menjawab. "E..ee... I..itu..." ditariknya nafas dalam. "Dia keracunan." cicitnya kecil namun masih mampu di tangkap oleh pendengaran Ryura. Saat itu juga, barulah Ryura menoleh kearah Rayan tanpa mengubah raut wajahnya.


"Keracunan." bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Ryura kembali menatap Reychu yang semakin sekarat. Ia melangkah mendekat, lalu menaikkan sebelah kakinya dengan lututnya. Dalam sekali tarikan tubuh sekarat Reychu yang penuh keringat itu di tarik oleh Ryura tepat di kerah lehernya.

__ADS_1


Rayan sempat dibuat terkejut namun memilih diam, tak jauh berbeda dengan yang lain.


"Rayan. Apa yang di lakukannya pada Reychu?" cemas Ruobin bertanya.


"Jangan khawatir! Dia memang berparas manis, tapi sikap dan sifatnya tidak semanis parasnya. Lain kali jangan terkejut. Dia memang seperti itu. Lagi pula, ini belumlah apa-apa!" terang Rayan tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya.


Ruobin tak bisa berkata apa-apa lagi dan memilih diam. Walau sebenarnya ia amat sangat penasaran. Gadis datar itu memang lain dari yang lain.


Ryura tak melakukan apapun selain memandangi kesengsaraan yang tersirat jelas di wajah Reychu. Gadis gila itu tengah merana saat ini.


Usai melihat dengan seksama entah apa yang bisa di dapat dari yang ia lihat, kini Ryura mendekatkan hidungnya ke mulut Reychu yang sejak awal terus terbuka guna membantu ia bernafas. Ia mencoba mengendus sesuatu dari dalam sana. Meskipun itu bukan keahliannya, tapi sebagai orang yang berada di sekitar gadis peracik seperti Rayan membuatnya secara otodidak belajar beberapa hal dan sepertinya itu cukup berguna.


Pegangan Ryura pada kerah leher Reychu merenggang dan akhirnya lepas. Semua yang ada di sana terpekik keras karena kaget kala melihat tubuh Reychu terhempas begitu saja tanpa ada yang menahannya setelah Ryura melepaskan tangannya. Jujur saja, itu terlihat lumayan mengerikan jika yang melakukannya adalah sahabat sendiri.


"AAAH...!"


"Apa yang kau lakukan pada Chu-chu?!" bentak Chi-chi spontan akibat terkejut Reychu di perlakukan seperti itu. Ia sampai lupa akan siapa yang diteriakinya.


Ryura menatap datar namun kosong makhluk yang di yakini Ryura adalah siluman, satu kerabat dengan Ruobin maupun Furby namun berbeda tingkat. Makhluk kecil bertelinga panjang itu tergolong siluman tingkat rendah yang tidak sengaja di temukan Reychu dan dibawanya hingga sekarang.


Dapat dilihatnya bahwa siluman kelinci itu amat mengkhawatirkan keadaan Reychu. Lantas ia bertanya. "Dimana kau menemukannya?"


Pertanyaan itu menyadarkannya dari tindakan sebelumnya. Hingga dengan sedikit takut ia mendongak guna melihat gadis datar yang tak pernah dapat diketahui apa yang tersirat di dalamnya.


"Ryura, mau kemana kau? Dasar murid kurang aj*r! Aku di abaikan!" gerutu Duan Xi namun tak bisa apa-apa. Hal itu terkadang membuatnya bertanya-tanya, siapa yang posisinya lebih tinggi diantara keduanya disini?!


"HEI, RYURA!" panggil Ruobin dengan suara keras. "Rayan, dia pergi..." katanya sambil menoleh kearah gadis yang masih di pangkuannya.


"Biarkan! Dia tahu apa yang dia lakukan! Aku hanya berharap dia baik-baik saja!" tukasnya lirih.


Menoleh menatap dalam dengan sedih ke arah Reychu. "Kami ada untuk mu, Rey. Bertahanlah!" batinnya.


Ia mendengus keras menyemangati diri sendiri. "Sudah! Abaikan saja dia! Kita punya yang lebih penting disini!" ujarnya tegas dan serius. "Chi-chi, aku akan tuliskan beberapa bahan herbal yang aku butuhkan. Karena itu, aku minta tolong padamu untuk membelinya. Bisa 'kan?" tanya Rayan pada makhluk kecil bertelinga panjang itu.


Dengan semangat Chi-chi mengangguk. "Untuk Chu-chu. Akan aku lakukan!" lugasnya penuh keyakinan. Rayan tersenyum melihatnya.



Malam gelap Furby memacu kecepatan larinya ke arah istana. Hal ini mau tidak mau membuatnya mengingat saat pertama kali mendatangi istana di waktu yang sama, yaitu malam. Bedanya bila malam itu di terangi bulan purnama maka malam ini gelap gulita dengan hawa dingin yang menusuk di karenakan pergantian musim, seandainya saja tidak ada lampu lentera yang di pasang maka sepanjang jalan akan terlihat seperti tak berpenghuni.


Tibalah mereka berdua tak jauh dari depan gerbang istana yang tertutup. Sama seperti dulu, sekarang pun terdapat penjaga yang berjaga di tempatnya dengan awas.

__ADS_1


"Ryura, kita tidak bisa masuk. Kali ini kita tidak punya alasan yang mumpuni." ujar Furby dalam telepati nya. Ryura diam tak menanggapi walau bukan berarti ia tak mendengarnya.


Kuda bulan itu tahu alasan sahabat manusianya datang ke istana. Apalagi kalau bukan untuk menyelidiki masalah yang menimpa Reychu. Ia tak perlu bertanya pada Ryura soal apa yang telah terjadi. Dikarenakan ia punya kemampuan istimewa, ia bisa mencari tahunya sendiri dengan mudah.


Sejenak hening melanda sampai akhirnya Ryura bergerak turun dari punggung kuda nya.


"Tunggu disini. Bila aku tidak kembali dalam waktu 2-3 jam. Kau kubebaskan bertindak!" lugasnya tak terbantah. Furby mengangguk paham. Ia tak perlu khawatir pada Ryura, karena selama ia mengikuti gadis itu berlatih tempo hari Furby tahu Ryura gadis yang luar biasa.


"Berhati-hatilah..." hanya itu yang bisa di kirimkan Furby melalui telepati nya, Ryura balas dengan melirik dan sedikit mengangguk mengiyakan. Kemudian dia pun pergi berjalan kearah pintu gerbang istana yang samar-samar terlihat akibat cuaca dingin yang menimbulkan kabut tipis mengelilingi sekitarnya.


Furby tak mengalihkan matanya dari punggung gadis bak mayat hidup itu yang entah mengapa semakin gadis itu melangkah menjauh maka semakin menakutkan untuk dilihat. Tiba-tiba disekitarnya menjadi mencekam. Langkah Ryura yang hening membuatnya terlihat seperti tidak benar-benar menapakkan kakinya ke tanah, belum lagi rambut panjangnya yang tak pernah di beri hiasan apalagi di ikat. Rambut itu selalu digerai bebas dan kini dibiarkan ditiup angin dingin. Ditambah pakaiannya yang saat ini dikenakan berwarna putih tulang semakin mendukung kengerian yang menguar tanpa diminta.


Menyaksikan dan merasakan itu semua membuat bulu hitam legam Furby meremang merinding ngeri. Untuk pertama kalinya Furby merasa horor dengan situasi seperti sekarang ini, padahal sebelumnya ia sudah pernah melanglang buana hanya demi melarikan diri dari kejaran manusia-manusia jahat yang sombong. Jadi, yang namanya hantu sudah sering didapatinya.


"Kau cukup menakutkan Ryura... Hiii..." batinnya ngeri.



Melangkah dalam keheningan malam dengan langkah tenang dan pasti. Tak ada ketakutan dalam tindakannya kali ini. Ia bahkan tak merasa akan mengantarkan nyawanya dengan memasuki istana tanpa izin hanya untuk menuntaskan masalah yang di terima sahabatnya.


Lentera-lentera yang di gantung menjadi penerang di setiap jalan yang ia lewati tanpa ada ragu-ragu nya itu. Ia terus berjalan di tengah kesunyian sampai secara mendadak ia menghentikan langkahnya namun tidak bergerak lagi setelahnya. Ryura hanya diam ditempatnya berdiri saat ini. Mata kosongnya menyorot ke arah sepasang perempuan berpakaian pelayan istana dengan lentera di tangan salah seorang dari mereka dan satunya lagi membawa barang yang entah apa itu tapi Ryura tak peduli.


Bukan takut keberadaan nya di ketahui, melainkan tujuannya adalah mendapatkan penawarnya jadi siapapun yang ia temui tidaklah penting.


Sepasang pelayan itu bahkan tak tahu ada orang lain selain mereka disana.


Setelah dirasa aman, Ryura kembali berjalan sampai akhirnya kakinya berhenti melangkah tepat di depan sebuah kediaman yang terukir jelas pada papan nama di atas pintu tersebut bertuliskan kediaman anggrek.


Lagi-lagi tatapan datar yang tak terbaca itu di layangkan.


Sejenak ia memandang dalam diam pintu kayu yang terlihat bagus itu.


Perlahan tangannya di ulurkan ke pintu tersebut guna menyentuh dan mendorong pelan pintu kediaman itu. Entah apa yang akan ia lakukan didalam sana? Mengingat Reychu tinggal di kediaman tulip dan bukannya anggrek.


Greek...!



assalamu'alaikum READERS...


maaf kalo lama ya.... pihak noveltoon belum lolosin. jadi, author cuma bisa terus nambahin chapter nya. semoga kalian suka dan terus menanti kelanjutannya yaaa...

__ADS_1


aku sayang kalian....


__ADS_2