
Pesta berjalan dengan lancar. Ditengah semaraknya acara tersebut, tiga pria tampan disana hanya duduk santai sambil berbincang dengan Tuan Muda Chen Ki Jun tentang bisnis, sama sekali tidak melibatkan perempuan yang dibawa Tuan Muda Chen.
Kesal? Sudah pasti. Perempuan itu merasa dia sudah tampil cantik sempurna hari ini, tapi masih diabaikan. Jelas dia tidak terima akan hal itu. Oleh karena itu, diam-diam tanpa sepengetahuan Tuan Muda Chen yang ada disebelahnya tengah sibuk berbincang, perempuan yang dibawanya mulai berusaha mencari perhatian tiga pria tampan didepannya saat ini dengan memamerkan keindahan tubuhnya yang dibungkus pakaian terbuka itu.
Bila kelakuannya di tonton oleh orang lain, mereka hanya punya satu pemikiran tentang perempuan itu. Yaitu, cacing kepanasan. Menggeliatkan tubuhnya dengan menggoda sambil samar-samar menunjukkan aset yang dimiliki tubuhnya.
Sayangnya, tak ada dari tiga pria tampan itu yang mau repot-repot melihatnya. Melirik pun enggan. Tapi, perempuan itu tampaknya pantang mundur. Dia terus mencari celah walau sia-sia.
Tekadnya terlalu kuat.
Jika ada yang bertanya, apakah perempuan itu kekasih Chen Ki Jun? Maka, jawabannya bukan.
Chen Ki Jun terkenal kejam dalam menangani masalah bisnis, tapi dia tidak suka bermain kotor atau ilegal, dia juga tidak dingin ataupun menyendiri. Masih dikategorikan orang yang mudah diajak bicara. Meski, memiliki temperamen yang buruk.
Dan kedekatannya dengan tiga pria tampan itu tak lebih dari rekan kerja yang baik.
Jadi, siapa perempuan yang dibawanya? Perempuan itu tidak lebih dari teman yang dia pilih untuk menemaninya ke pesta. Hingga tidak heran bila di setiap perjamuan Tuan Muda Chen akan selalu membawa perempuan yang berbeda. Tak ada yang berpikir dia pemain wanita, sebab bukan rahasia lagi bila dia membayar setiap perempuan yang diajaknya.
Oleh karena itu, tidak sedikit yang menawarkan diri untuk menjadi teman ke pesta Tuan Muda Chen. Bayarannya sangat murah hati.
Bila bicara nafsu, Chen Ki Jun sama seperti Bai Gikwang dan lainnya. Tidak suka disentuh dengan intim selain oleh orang yang dia cintai. Tapi, berhubung masih sendiri makan Chen Ki Jun bebas berjalan dengan siapa saja.
Karena kebiasaan inilah dia jadi tidak terpikirkan untuk melihat lebih teliti siapa yang dibawanya.
Di tengah-tengah pesta, ada seorang perempuan cantik bergaun merah menyala nan berkilauan model duyung dengan belahan diatas kaki kirinya mencapai paha putih mulus perempuan itu hingga mengeksposnya dengan berani. Belum lagi garis lehernya yang rendah sampai belahan dadanya terlihat jelas. Rambut perempuan itu juga di gulung indah dengan beberapa helai dibiarkan lepas. Jangan lupa perhiasan yang bukan main mahalnya menghiasi telinga, leher dan tangannya.
Dia tengah berjalan berlenggak lenggok menuju meja 'Three Royal Nobles' dan Tuan Muda Chen yang berada tak jauh didepannya. Tapi, bila melihat tatapan matanya, maka orang-orang akan tahu kalau dia tidak melihat semua orang yang ada di meja itu, melainkan hanya wajah Shin Mo Lan yang dikenalnya sebagai Shin Da Ming saja yang dia pandangi.
Ingat episode sebelumnya? Ya, dia adalah mantan Shin Da Ming yang berkhianat dengan bangganya. Kini dia bahkan berani muncul dengan bangga juga seolah-olah penolakan Shin Mo Lan sebelumnya tidak pernah ia terima.
Benar, sejak nama Shin Da Ming melonjak menjadi terkenal dan dihormati. Mantannya menjadi panas dingin. Merasa tidak terima kalau Shin Da Ming sukses tanpa membawa dirinya. Dia seolah lupa kalau dialah penyebab kemalangan Shin Da Ming sebelum jiwanya digantikan oleh Shin Mo Lan.
Karena itu, begitu melihat siapa yang tidak tahu malu berani muncul dengan senyum diwajahnya. Wajah Shin Mo Lan yang sudah datar kian datar dan dingin dengan rasa jijik berkepanjangan. Siapapun yang berada didekatnya dapat merasakan hawa yang sudah dingin karena pendingin ruangan menjadi lebih dingin karena suasana hati Shin Mo Lan yang turun drastis.
Chen Ki Jun sendiri dapat melihat betapa buruk wajah dinginnya sampai membuatnya tak sanggup menelan salivanya sendiri. Dia pernah mendengar sepak terjang tiga pria tampan didepannya ini dalam menjalankan perusahaan mereka. Dingin, kejam, menyendiri, penuh tekanan, disiplin, tak kenal ampun, berani, dan berprinsip.
Dia juga tahu tentang pengendalian diri mereka yang baik. Hanya saja, tampaknya kali ini sudah mencapai batas toleransi pria itu, Shin Mo Lan.
"Mantan bermuka tembok-mu datang juga ternyata." celetuk Bai Gikwang santai namun tersirat kejengahan saat matanya melihat mantan kekasih pemilik tubuh sahabatnya yang masih bisa berjalan dengan bangga kearah meja mereka.
"CK! Merusak pemandangan!" dengus Ye Zi Xian dingin. Benar-benar tidak suka dikelilingi perempuan, dia lebih dari suka bila dikelilingi oleh pelukan hangat Ryura, istrinya.
Celetukan dua sahabatnya kian memperburuk suasana hati Shin Mo Lan yang baru kali ini menemukan seorang perempuan yang tidak tahu diri, tidak tahu malu, murahan, dan segala yang bisa di sebutkan untuk tipe perempuan seperti itu.
Shin Mo Lan sampai kehabisan kata-kata untuk menjabarkannya.
"Yi Feng! Jangan biarkan dia mendekat kurang dari 10 meter!" kedinginan dalam nada bicara Shin Mo Lan benar-benar mengandung kebencian hingga aura membunuhnya hampir menyebar.
Meski tidak sampai dirasakan oleh seluruh tamu undangan. Namun, kedinginan itu masih dapat dirasakan oleh Tuan Muda Chen dan perempuan yang dibawanya karena mereka duduk dalam jarak dekat. Tidak menyangka sebegitu tak sukanya Tuan Muda Shin pada perempuan yang mendekatinya. Hal ini membuat perempuan yang dibawa Chen Ki Jun bersyukur dia tidak sampai membuat marah Tuan Muda Shin. Alhasil, dia segera duduk diam dan tidak lagi melakukan gerakan menggodanya seperti sebelumnya.
Dia memang suka menggoda pria tampan dan kaya, tapi dia bukan orang yang berani ambil resiko. Maka dari itu, mundur saat ada bahaya adalah yang selalu dia lakukan demi keselamatannya sendiri juga.
Baginya apalah arti mengejar pria kalau pria itu sendiri tidak mau dikejar. Lebih baik, memanfaatkan yang bisa dimanfaatkan daripada mencoba sesuatu yang diluar batas kemampuan.
Tepat pada jarak 10 meter, Yi Feng sudah berdiri tegak menghalangi jalan perempuan bergaun merah menyala itu agar tidak melewati batas. Dia sebagai sekretaris sekaligus pengawal bos-nya saja sudah jengah karena tugas mengusir parasit cantik ini tidak menemui ujungnya.
Yi Feng sampai berpikir, 'untuk apa cantik kalau hanya tahu cara menjadi pengganggu!'.
Bersyukurlah negeri ini memiliki hukum, karena kalau tidak parasit cantik ini sudah pasti dikubur hidup-hidup oleh bosnya.
"Kau! Menyingkir dari jalanku!" pongahnya sambil marah karena jalannya di halang. Beberapa kali mencoba menerobos, tapi tidak bisa, sebab Yi Feng terus menghalanginya.
Yi Feng selalu bagai tembok hidup bagi mantan kekasih Shin Da Ming itu.
Perempuan itu jadi kesal dan marah atas kelakuan Yi Feng yang terus menerus menghalanginya.
"Kau tidak tahu siapa aku? Biarkan aku menemui Da Ming! Kau cuma bawahannya berani sekali melawanku! Minggir!" kata-kata perempuan itu seketika terdengar aneh ditelinga Yi Feng.
__ADS_1
Pria itu sampai mendengus malas. "Kau tahu aku adalah seorang bawahan Tuan Muda Shin. Lalu, siapa kau berani berpikir aku tidak berani melawan mu?! Memangnya kau ini apa di mata Bos-ku? Sampai kehilangan urat malu mu untuk terus mengganggu ketenangan hidup Bos-ku!" Yi Feng tidak pernah lagi takut mengeluarkan pendapatnya, sebab Shin Mo Lan pun tak pernah membatasi bawahannya untuk berkomentar selama masih tahu batasan.
Lihat, punya bos seperti itu, mana mau ganti yang lain.
"Kau!" pekik perempuan itu tertahan, bagaimanapun ini adalah tempat perjamuan. Dia tak bisa mencoreng wajahnya dihadapan orang-orang tersohor ini atau dia akan kehilangan wajah untuk bangga saat menduduki posisi sebagai Nyonya Shin.
"Lihat saja nanti. Aku akan memecat mu begitu aku berhasil menduduki posisi Nyonya Shin." batinnya penuh dendam.
Kini dia berbicara disela-sela giginya yang terkatup rapat saking bencinya kepada bawahan setia Shin Da Ming ini.
"Kupikir kau sudah lupa siapa aku! Aku adalah kekasih Shin Da Ming! Aku calon istrinya! Berani kau menghalang-halangi ku untuk menemui Calon suamiku!" seketika Yi Feng terbahak mendengar kalimat yang perempuan didepannya utarakan.
"Nona Jiang. Apa otakmu kemasukan air kotor? Tidakkah kau harusnya malu saat berani berkata begitu? Siapa di negeri ini yang tidak tahu siapa kau di mata Bos-ku! Kau mungkin terlalu tebal muka dan tidak sadar diri, jadi biarkan aku beritahukan padamu sebagai pengingat kalau-kalau kau sudah melupakannya." jedanya usai berbicara tanpa rasa takut sambil menatap hina perempuan yang ternyata bermarga Jiang.
Eh?! Jiang? Lagi?
"Kau itu hanya masa lalu bagi Bos-ku dan sudah di buang jauh keluar dari pikiran dan hatinya sampai-sampai setitik pun tentangmu lenyap tak tersisa... Dan kini, Bos-ku sudah memiliki tambatan hatinya sendiri dan itu jelas bukan perempuan seperti dirimu. Perempuan milik Bos-ku yang sekarang kualitasnya jauh diatas mu. Saking jauhnya, kau mungkin akan mematahkan leher mu karena tidak mampu melihatnya yang terlalu tinggi. Jadi, sadarkan dirimu dan lihat apa yang kau miliki hingga punya nyali untuk membual tentang kau yang akan menjadi Nyonya-ku dimasa depan... Nyonya-ku itu harus menjadi perempuan yang masuk ke mata Bos-ku. Sayangnya, Nona Jiang tidak memiliki itu. Maka dari itu, silakan berbalik dan pintu keluarnya disana."
Panjang kali lebar Yi Feng menghina habis-habisan perempuan dari keluarga Jiang itu hingga kini dia merasa puas telah membalaskan dendam atas kelelahannya menghadapi perempuan itu selama beberapa tahun ini.
Sedang Nona Jiang yang nama lengkapnya Jiang Wanwan sudah tak bisa di jelaskan lagi betapa merah wajahnya hingga mungkin bisa dikatakan menghitam saking malunya. Dia benar-benar kehilangan mukanya dimuka umum dan kehilangan harga dirinya didepan bawahan Shin Da Ming yang tanpa ampun menginjak-injaknya seperti rival cinta.
Karena sudah kehabisan akal dan terlalu malu karena jadi bahan tontonan orang banyak. Tak ingin menambah rasa malu lagi diapun memilih pergi setelah melayangkan ancaman kepada Yi Feng yang menanggapinya hanya dengan tatapan datar tak peduli.
"Tunggu saja! Aku pasti akan membalas mu dan menyingkirkan perempuan itu! Karena, Shin Da Ming hanya milik ku!"
Sambil menatap punggung Jiang Wanwan yang bergetar marah, kepalanya menggeleng tak habis pikir. "Terbuat dari apa perempuan itu. Bisa-bisanya dia masih memiliki pikiran seperti itu. Ckckck! Baik. Aku akan tunggu dan lihat! Siapa kira-kira yang jatuh duluan! Huh! Seolah aku takut dengan ancaman mu!" kemudian dia berbalik dan kembali ke sisi Bos-nya sekaligus memberitahukan apa yang terjadi tadi dengan Jiang Wanwan.
Mengetahui parasit itu sudah pergi, barulah suhu dingin disekitar Shin Da Ming berkurang banyak.
"Bersabarlah. Nanti setelah kita menemukan mereka. Hama-hama itu akan berurusan dengan mereka dan aku ragu hama-hama itu bisa lolos." ujar Bai Gikwang dengan maksud yang jelas setelah sahabatnya kembali santai.
Satu pengganggu baru saja diselesaikan, ada saja yang meneruskan.
Kali ini datang kepada pihak Tuan Muda Chen atau tepatnya perempuan yang dibawanya.
Mendengar seruan itu, perempuan yang dibawa Tuan Muda Chen menegang sejenak sebelum bergerak menoleh untuk melihat pemilik suara pria yang dikenalnya itu. Tapi, begitu 2 pasang mata itu bertemu, sang perempuan tidak menunjukkan ekspresi baik sama sekali. Justru, itu lebih terkesan membenci.
"Apa yang kau lakukan disini?" seharusnya perempuan itu tidak bertanya begitu meskipun dia membencinya.
Apakah dia lupa dimana dia berada saat ini?
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tidakkah kau sudah melihat sendiri tempat apa ini dan kenapa akhirnya aku ada disini? Kenapa masih bertanya!" nadanya luar biasa menyebalkan sampai wajah perempuan itu menjadi jelek.
Walaupun marah dia tak bisa mencoreng nama baiknya sendiri. Jadi, perempuan itu menekan kebenciannya pada Martin Gong agar tidak terpancing untuk membuat keributan.
Mata Martin Gong segera menyapu orang-orang yang ada di meja depannya saat ini.
Ada 'Three Royal Nobles' beserta orang kepercayaannya dan ada pula Tuan Muda Chen serta perempuan didepannya ini.
Seketika sesuatu melintas dibenaknya. Perempuan itu yang menangkap sinyal itu mulai jadi tak tenang.
"Kep*rat ini! Mau apa dia?!" batinnya panas dan gelisah.
Mata Martin Gong sekali lagi menyapu orang-orang yang ada di meja depannya ini. Tiga pria yang membawa bawahannya sudah pasti bukan orang yang dipikirkan oleh Martin Gong dan lagi diapun tak memiliki keberanian untuk membuat marah tiga pria itu. Cukup tahu seberapa hebat tiga marga tersebut baik dari zaman dulu hingga sekarang.
Jadi, dia tentu tidak sesombong itu untuk menargetkan orang yang bahkan berdiri di puncak kejayaan yang mampu langsung menghabisinya bila dia nekad mengganggu.
Maka dari itu, orang selanjutnya yang tersisa harus jadi yang benar.
Tuan Muda Chen.
Martin Gong melirik Chen Ki Jun dengan pandangan mengganggu dan menghina. Dia sama sekali tidak takut. Karena pada dasarnya dua keluarga itu memiliki kedudukan yang sama di dunia bisnis dan kekayaan. Tapi, Martin Gong terlalu memandang tinggi dirinya.
Dia lupa kalau kemewahan yang dia dapat tak lebih dari hasil kesuksesan yang diraih oleh sepupunya yang dipilih oleh tetua keluarga untuk menjadi pemimpin berikutnya.
Bisa-bisanya dia memandang rendah Tuan Muda Chen yang sekarang bersiap untuk memimpin keluarga besarnya sebagai penerus.
__ADS_1
Jelas sekali jaraknya.
Dipandang aneh oleh Martin Gong membuat Chen Ki Jun dingin dan tidak senang tapi dia hanya bisa menahannya sebab ini masih dalam perjamuan pesta ulang tahun Tuan Besar Chen, kakeknya. Tapi, tampaknya pihak lain tak mau diam.
"Tuan Muda Chen, ini pasti teman pestamu, kan?"
Chen Ki Jun memilih bungkam namun matanya tak berhenti mengawasi Martin Gong yang merusak pemandangan bagi nya. Ingin tahu apa yang mau dilakukan pria buruk luar dalam ini.
Martin Gong mengangguk entah apa yang dia anggukan. Yang pasti, segala sesuatu yang datang dari seorang Martin Gong selalu tidak pernah baik.
"Aku tidak menyangka selera mu akan menjadi perempuan seperti ini. Tahukah kau, Tuan Muda Chen..." Martin Gong maju selangkah agar sedikit lebih dekat.
Kemudian melanjutkan sesudah melirik gadis di sebelah Tuan Muda Chen sejenak. "Kemarin baru saja kami tidur bersama. Melakukan malam panas dengan penuh gairah. Bagaimana bisa hari ini anda membawanya untuk menjadi teman ke pesta? Tidakkah kau malu membawa perempuan bekas ku?" arti perkataannya sudah jelas kalau Martin Gong ingin Tuan Muda Chen malu dan terhina.
Akan tetapi, tidak jelas maksudnya melakukan hal itu. Dia memang aneh.
Belum lagi nada suaranya cukup lantang untuk ukuran normal sehingga orang-orang terdekat bisa mendengarnya.
Pria dari keluarga Gong ini satu-satunya yang tidak jelas bila tidak menyukai seseorang. Dia bisa membenci tanpa alasan dan berani membuat keributan hanya untuk bersenang-senang.
Kali dia berhasil memanen lebih banyak kebencian. Tak terkecuali perempuan itu.
Dia bisa mengaku bila memang melakukan hal itu dengan pria tidak waras itu. Tapi, kemudian hal itu pula yang membawanya menuju penyesalan. Sebab, ternyata saat mereka melakukan hubungan intim tersebut Martin Gong merekamnya untuk di jadikan film biru.
Meskipun dia berani tidur dengan banyak pria berbeda, bukan berarti dia menerima bila di perlakukan seperti artis film panas yang tidak malu menampilkan sosok vulgarnya pada khalayak ramai. Dia bukan orang seperti itu.
Jelas dia jadi marah dan berakhir bertengkar yang berujung sia-sia.
Karena itulah, dia membenci Martin Gong dalam waktu singkat sampai-sampai dia tak henti-hentinya merasa jijik bila mengingat bagaimana dia melakukan hal itu dengan pria semacam Martin Gong.
Tangan Tuan Muda Chen mengepal marah namun wajahnya masih bisa tenang. tiga pria yang masih dalam posisi duduk santai hanya dia menyaksikan tontonan gratis dalam drama yang dibuat oleh salah satu anggota keluarga Gong.
Hanya begitu saja, dirasa sudah selesai menghina pria aneh nan tidak waras itu segera beranjak pergi dengan wajah puas seolah sudah memenangkan sesuatu.
Dia tidak sadar betapa anehnya dia.
Segera setelah Martin Gong pergi, Tuan Muda Chen mengambil ponselnya dan menggerakkan jarinya beberapa kali sebelum dibawa ke telinganya.
Lalu, suara dinginnya keluar.
"Aku punya tugas lagi untuk kalian." jedanya sambil menatap punggung Martin Gong yang kian menjauh. "Bunuh Martin Gong!" suaranya agak berdesis saking marahnya dia, namun masih dapat didengar oleh 6 pria dan 1 perempuan diantara mereka.
Bila perempuan itu terkejut hingga ketakutan mengetahui hal mengerikan itu. Maka, berbeda dengan Bai-Shin-Ye, ketiganya menyipitkan matanya serempak seolah mendapatkan sinyal.
"Bin!"
"Zouji!"
"Feng!"
Panggilan itupun dilakukan serempak yang hanya didengar oleh mereka saja.
"Ya, Bos!" bersamaan.
"Kalian dengar itu?" merujuk pada siapa yang ditelpon oleh Chen Ki Jun.
Mencerna beberapa detik, sebelum mengerti apa yang diinginkan Tuan Muda mereka. Jadi, jawaban adalah ini...
"Di mengerti, Bos!" bersama-sama lagi.
πππ
Sebentar lagi Puasa Ramadhan sayang...
harus siap-siap ini...
__ADS_1