3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMBUJUK


__ADS_3

Halaman depan paviliun bunga malam sudah tersedia kursi dan meja untuk bersantai sembari minum teh, disana terdapat Tuan Ye Zi Xian dan ibu sambungnya Meng Pei Yun.


Beberapa saat lalu usai sarapan pagi, Meng Pei Yun mengundang Ye Zi Xian ke tempatnya guna ada yang ingin diperbincangkan berdua dengan pria itu. Penekanan kata 'berdua' dari ibu sambungnya membuat Ye Zi Xian dengan berat hati meninggalkan kekasihnya bersama teman-temannya.


Kini di sinilah mereka menikmati teh berdua sebagaimana yang pernah keduanya rasakan sewaktu dulu sebelum Ye Zi Xian mengemban semua tanggung jawab sebagai pria yang terpilih menjadi pemimpin.


Tak!


Suara cangkir yang diletakkan oleh Ye Zi Xian lalu disusul dengan kalimat tanya darinya. "Ada apa Ibunda Selir memanggilku?" begitulah cara Ye Zi Xian memanggilnya. Bagaimanapun, Meng Pei Yun cukup dekat sebelumnya sebagai ibu sambung menggantikan ibunya yang sibuk membantu ayahnya dalam melakukan pekerjaannya.


Kedua mata tajam Ye Zi Xian memandang ibu sambungnya lekat-lekat yang mana tindakan tersebut sukses menggetarkan hati Meng Pei Yun. Jantungnya berdegup kencang, dia berusaha sekuat tenaga agar degup jantungnya tidak menyebabkan wajahnya memerah.


Jelas, dirinya belum siap untuk mengekpos perasaannya. Apalagi, saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Meng Pei Yun berdeham sejenak sebelum mulai menjawab pertanyaan putra sambungnya yang sudah merangkap sebagai pemilik hatinya.


"Ini bukan sesuatu yang penting, mengingat kau adalah putra kesayanganku..." katanya sambil menukar kata 'putra' menjadi 'pria' di dalam hatinya.


Wanita itu membuat sikapnya seolah layak untuk disebut sebagai seorang ibu yang begitu mencintai putranya.


"Ibumu ini hanya merasa tidak senang. Kau kembali sudah dari kemarin, tapi tidak datang untuk menemui ku. Ibumu ini merasa diabaikan oleh putranya." keluhnya mengungkapkan isi hati sekaligus beralibi agar Ye Zi Xian yang terkenal hebat itu tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Padahal aku sangat mengkhawatirkan mu." sambungnya.


Kelopak mata Ye Zi Xian berkedip sekali, lalu menjawab. "Ibunda Selir tidak perlu sampai seperti itu. Aku baik-baik saja. Tapi, aku tetap akan berterimakasih telah mengkhawatirkan ku." kata-katanya menghangatkan hati Meng Pei Yun.


"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, rencana pernikahan itu... Kau sungguh-sungguh akan melakukannya?" tanya Meng Pei Yun, pada akhirnya dia memasuki titik tujuan dari adanya perbincangan ini.


Gerakan tangan Ye Zi Xian yang hendak mengangkat cangkir teh nya mendadak berhenti begitu mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh itu keluar dari bibir ibu sambungnya.


Kilatan misterius melintas di matanya tanpa Meng Pei Yun sadari.


Ini sudah berapa hari sejak dia mengumumkan keputusannya untuk menikahi Ryura?


Tapi, dia memilih tidak menanggapinya lebih jauh dan hanya memberi jawaban dari apa yang ditanyakan.


Hampir saja raut wajah Meng Pei Yun mengalami perubahan mendengar jawaban Ye Zi Xian yang jelas tanpa ada keinginan untuk dibantah. Meski, dalam hati ia menggeram cemburu, tidak ada ada pilihan lain selain menahan nya.


Berusaha mengabaikan rasa asam di hatinya, Meng Pei Yun hanya bisa melanjutkan. "Kau sudah yakin? Maksud ibu... Kau jangan sampai terburu-buru. Itu akan menjadi di tidak baik pada akhirnya. Terlebih, kau belum lama mengenalnya. Ibu hanya tidak ingin kau menyesal." ujarnya panjang lebar penuh perhatian dengan fakta bahwa dia menyembunyikan niat buruknya di dalam kalimat tersebut.


Wanita itu hanya ingin menggoyahkan hati Ye Zi Xian terlebih dahulu. Karena bagaimanapun sebagai orang yang merawatnya, Meng Pei Yun tahu lebih dari siapapun sosok seperti apa Ye Zi Xian itu. Namun, dia tampaknya lupa, bahwa seberapa besar pengetahuannya terhadap Ye Zi Xian, hal itu tidak akan bisa menutup fakta bahwa keduanya tidak terikat darah yang artinya masih ada kemungkinan Ye Zi Xian memiliki sesuatu di dalam dirinya yang tidak diketahui oleh Meng Pei Yun selaku Ibu sambungnya.


Menatap sejenak sebelum menjawab. "Ibunda Selir tidak perlu khawatir. Itu tidak akan terjadi. Ryura adalah gadis yang telah dipilih oleh pedang pusaka. Sudah pasti tidak mungkin salah... Dan, aku sendiri juga yakin kalau pilihanku sudah tepat!" Ye Zi Xian kembali menyesap teh yang hampir dingin usai mengungkapkan ketegasannya pada hal penting ini.

__ADS_1


Masih melanjutkan aksinya, Meng Pei Yun dengan segala sandiwaranya Ia menggelengkan kepalanya dengan prihatin untuk Ye Zi Xian seolah menyayangkan tindakan putranya.


"Kau ini. Kau harus ingat... Selain Ye Xiao Nan, Kau hanya dekat denganku sebagai perempuan yang ada di kediaman Ye ini. Meskipun kau masih memiliki bibi. Apakah kami berdua sudah cukup untuk membuatmu mengenal seperti apa itu perempuan?" tanya Meng Pei Yun seperti ingin memberitahukan pada Ye Zi Xian kalau sosok perempuan tidak sesepele itu.


Ye Zi Xian hanya diam menyimak.


Meng Pei Yun melanjutkan dengan kebijakan dan perhatian seorang ibu. "Asal usulnya tidak diketahui. Dia bahkan tidak memiliki nama belakang keluarga. Bagaimana kalau ternyata dia bukanlah gadis baik-baik? Ye Zi Xian... Kau harus ingat posisi mu saat ini! Kau seorang pemimpin! Tuan Ye generasi saat ini! Posisi yang kau emban tidak hanya untuk bertanggung jawab atas keluarga, kau masih punya Sekte! Kau bertanggungjawab atas keduanya! Kalau sampai kau salah memilih pendamping, kau tidak hanya akan mengecewakan semua orang tapi itu juga akan menghancurkanmu dan semuanya."


Pria tampan itu tidak bergeming, dia masih tetap tenang dalam diamnya. Bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka Ye Zi Xian ini akan mulai terlihat mirip dengan Ryura. Apalagi, ketika dia bersikap seperti saat ini.


Meskipun, sebelumnya dia juga sudah seperti itu.


"Ibunda Selir, aku mengerti dan memahami apa yang kau khawatirkan. Tapi, kau benar-benar tidak perlu sampai seperti itu. Keputusan ini juga bukan tanpa pertimbangan. Para tetua di keluarga Ye juga sudah memberikan pendapat mereka." jedanya sambil menundukkan pandangannya hingga lolos dari pengamatan Meng Pei Yun. Alhasil, wanita itu tidak mendapatkan kesempatan untuk melihat ada yang salah atau tidak dari Ye Zi Xian.


"Karena, Ryura adalah gadis yang terpilih. Sulit bagi keluarga Ye untuk meragukan keputusan pedang pusaka dalam memilih." sambungnya.


Dari awal sampai akhir Ye Zi Xian tidak merubah nada bicaranya yang tenang, datar dan tak bisa ditebak. Nada itu juga terasa menuntut sampai membuat orang yang mendengarnya tak bisa mengambil celah untuk meragu.


Akhir dari percakapan ini, Ye Zi Xian tidak dapat melihat kepalan tangan wanita didepannya yang nyaris melukai telapak tangannya sendiri karena marah dan cemburu.


Lagi-lagi, Meng Pei Yun hanya bisa menahan diri.

__ADS_1



maaf ni pendek bgt ya...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ₯Ί


__ADS_2