
Pagi ini terasa amat cerah. Bunga-bunga dan tumbuhan lain mulai berguguran dan itu menjadi pertanda bahwa musim gugur akan tiba. Udara dingin mulai terasa walau belum seberapa.
Di sebuah halaman di istana Harem tampak ramai. Tentu saja, apalagi kalau bukan di isi oleh wanita-wanitanya kaisar. Merekalah para selir.
Meskipun kemungkinannya kecil untuk diakui oleh kaisar dari dalam hati. Kecuali yang satu itu...
Kebiasaan rutin di Harem sekarang ini dikarenakan Selir Agung Gong Dahye yang mengaturnya. Cinta kaisar di salah gunakan sehingga ia bisa bertindak semaunya. Sejujurnya, bagi para penghuni istana yang waras mental dan hatinya pasti tidak akan menyukai wanita seperti dia tapi berhubung derajat mereka terlampau rendah alhasil hanya bisa menggerutu dan mengumpat dalam hati saat dimana mereka diharuskan menghadapi si dia yang mulai bertingkah semena-mena hanya karena pria yang berkuasa di negeri mereka teramat mencintainya.
Jadi, inilah hasil dari keangkuhan seorang Gong Dahye. Dengan membuat peraturan untuk berkumpul dan mengobrol sembari minum teh dengan alasan guna mengakrabkan diri namun pada kenyataannya itu ia lakukan agar dapat mengawasi secara langsung siapa-siapa yang menjadi hama di hidupnya. Artinya, melihat siapa wanita di Harem kerajaan yang berani bermain kotor dengannya, maka kelak harus ia singkirkan.
Terdapat tiga meja dengan dua meja diantaranya di beri 3 kursi, sedang satunya lagi terkhusus bagi seorang wanita yang kini merasa diatas angin.
Di salah satu kursi yang terbuat dari emas berukir rumit namun indah tengah diduduki oleh seorang wanita hamil. Ia terlihat sedang mengemil anggur dengan dua dayang di kiri-kanan yang bertugas mengipasi dan memayunginya. Gestur tubuhnya saat duduk itu, benar-benar menunjukkan betapa angkuh dan sok berkuasa nya dia.
Siapa lagi kalau bukan Selir Agung Gong Dahye.
Di sisi kirinya terdapat meja dan 3 kursi. Diatasnya telah tersedia berbagai camilan dan teh yang di peruntukan bagi 3 selir di bawah selir agung. Mereka adalah...
Selir Kehormatan Wang Jinji.
Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo.
Selir Tingkat Pertama Kim Mulan.
Sementara di meja satunya dengan tersedia tiga kursi juga walau salah satunya kosong. Sama seperti meja lainnya, di atas meja itupun turut diisi dengan beberapa camilan juga teh dan meja tersebut di isi oleh dua orang selir saja. Yaitu...
Selir Tingkat Kedua Lan Jinfei.
Selir Tingkat Ketiga Lim Duoduo.
Mereka tampak asik menikmati suasana pagi hari yang indah itu. Memang apalagi yang bisa mereka lakukan selain bersantai, mengingat tugas mengurus Harem sudah di ambil alih oleh Selir Agung sebagai satu-satunya wanita tercintanya sang kaisar membuat posisinya mengalahkan posisi permaisuri, setelah permaisuri sesungguhnya di jatuhi hukuman ke istana dingin.
Tapi, sayang beribu sayang.
Ketika mereka masih terus menggunjing orang yang di maksud, justru orang itu tengah asik menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya dan mungkin saja sejenak ia benar-benar melupakan tubuh siapa yang tengah ia tempati.
__ADS_1
"Yang mulia selir agung selalu tampak cantik setiap harinya. Tidak heran yang mulia kaisar jatuh hati pada anda." puji seorang selir bernama Lan Jinfei dengan senyum manis nan polosnya. Padahal faktanya, senyum itu sangat penuh arti. Kelihatannya ia tengah ingin menarik perhatian selir agung Gong Dahye dengan cara menjilat.
"Tentu saja, yang mulia kaisar selalu memanjakan ku. Apa yang aku inginkan selalu dia berikan. Bagaimana aku tidak selalu tampil cantik?!" seketika sifat sombongnya menguar, walau hanya dapat dilihat dan disadari oleh orang yang pintar. "Tapi, aku tidak cantik sendiri. Kalian juga selir kaisar dan tidak kalah cantik denganku. Hahaha..." ia tertawa usai melanjutkan kalimatnya yang seolah merendah itu. Nyatanya hanya omong kosong belaka.
Mendengar itu tentu saja selir Lan Jinfei tersenyum untuk menanggapi, namun di balik senyum selir tingkat kedua tersebut ada semacam perasaan muak yang ditujukan untuk selir kesayangannya kaisar mereka. Lagipula ini bukan kali pertamanya ia atau selir lainnya menerima sikap demikian dari selir yang berkuasa itu. Tapi, tetap saja selalu berhasil memercikkan api kebencian dalam hati beberapa dari mereka.
"Oh ya, saya dengar tidak lama lagi permaisuri akan terbebas dari masa hukumannya. Benar begitu?" celetuk Wang Jinji dengan wibawa yang kental selaku selir kehormatan. Ia berkata demikian, hanya agar percakapan tidak penting tadi berhenti.
Sebenarnya, dia adalah wanita kaisar pertama yang acuh tak acuh dalam urusan Harem. Ia juga tidak berpihak pada siapapun. Sikapnya juga tak kalah dewasa dari permaisuri. Menurut pemikirannya, perselisihan dalam Harem adalah hal yang lumrah. Jadi, berhubung ia tipikal orang yang tidak ingin di repotkan dengan masalah yang akan menguras banyak tenaga. Alhasil, dia memilih tak peduli atau istilah lainnya ia hanya sebagai penonton. Karena itu pula, ia juga tak peduli bila kaisar bahkan tidak lagi meliriknya. Cukup sekali itu saja, sewaktu pertama kali ia datang sebagai selir ke istana.
"Ya benar. Menurut perhitungan dari kabar yang saya dengar. Kurang lebih sudah tiga bulan masa hukuman permaisuri berlangsung, itu artinya sisa kurang lebih tiga bulan juga dan setelahnya permaisuri akan terbebas dari hukuman dan kembali menjabat sebagai permaisuri kerajaan Huoli ini. Lalu bagaimana dengan anda yang mulia Selir Agung Gong Dahye? Apakah setelah ini tugas yang telah di limpahkan kepada anda akan dikembalikan kepada permaisuri selaku wanita yang berkedudukan paling tinggi di kerajaan ini?" timpal Kim Mulan yang menjabat sebagai selir tingkat pertama.
Sebagai satu-satunya wanita yang pengertian pada perasaan sesama kaumnya. Ia lebih peka dari yang lain. Tak peduli sebaik atau seburuk apapun hati perempuan lain ia cukup berpikiran luas namun tidak berarti ia mengiyakan segala yang buruk. Itulah sebabnya mengapa ia tergolong peduli pada Harem hanya sebatas mempertanyakan keamanan untuk siapapun selir yang tinggal di sana. Menilik dari kelicikan sang selir kesayangan kaisar itu serta beberapa di antara selir lainnya membuat ia berinisiatif memantau dari tempat tak terlihat, karena sekilas ia juga mirip dengan selir kehormatan dalam hal tak ingin direpotkan dengan masalah seperti yang masih berlangsung sekarang ini.
Apalagi kalau bukan keserakahan selir agung demi posisi permaisuri.
"Iya iya... Itu membuat saya penasaran. Apa selama 6 bulan masa hukumannya ia akan memiliki kejutan untuk kita. Terlebih untuk anda yang mulia selir agung. Tapi, kuharap semua akan baik-baik saja. Mengingat posisi permaisuri hanya boleh di isi olehnya, sungguh sulit..." sambung Mu Bizhuo dengan nada sendu namun nyatanya tidak. Dia adalah selir tingkat tinggi di Harem kerajaan.
Sesosok yang sangat suka memprovokasi atau memanas-manasi keadaan yang sudah hangat terjadi. Meski ia juga menginginkan kaisar sebagai mana selir agung mengingatkan nya. Namun, ia tahu tak akan semudah itu melangkahi wanita yang sudah di tandai sebagai wanita terlicik di kerajaan oleh beberapa orang yang menyadarinya. Karena itu, demi keberlangsungan hidupnya maka ia hanya bisa membuat sang selir di sibukkan dengan rasa takut kehilangan apa yang selama ini ia inginkan. Bila suatu hari kegagalan datang pada selir agung, maka ia yang akan mengambil langkah lebih dulu untuk menggantikan posisinya. Kira-kira seperti itulah yang ia pikirkan untuk dirinya sendiri.
"Itu bagus tentu saja. Selir ini kasihan bila mengingat apa yang permaisuri alami. Pastinya sulit untuknya. Bagaimana pun selir ini cukup mengerti bagaimana perasaan beliau. Ia pasti sedih melihat kaisar hanya peduli pada selir ini. Karena itu, beliau sampai berani bertindak dengan sekejam itu sehingga kaisar marah." ucapnya panjang dengan membuat raut wajahnya sedih dan iba seraya mengelus perut buncitnya yang kira-kira sudah memasuki bulan ke 4 itu.
Sesungguhnya ia merasa hukuman yang di berikan kepada permaisuri itu belum cukup untuk memuaskan nya. Ia ingin lebih buruk dari itu, untung-untung kalau posisi permaisuri dicabut darinya.
Para selir hanya bisa mengiyakan saja. Walau sebenarnya diantara mereka ada yang geram dan kesal mendengarnya.
"Oh ya, yang mulia selir agung. Kudengar tiga bulan lagi yang mulia kaisar akan mengadakan pesta untuk merayakan tujuh bulannya kandungan anda. Benar demikian?" kata Lim Duoduo. Ia adalah selir terakhir dan tersisihkan. Ia paling lemah namun bukan berarti penakut. Ia lemah karena derajatnya yang lebih rendah dari selir yang lain, namun keberaniannya patut di waspadai. Karena dia memiliki ambisi besar terhadap posisi kuat seperti posisi permaisuri ataupun posisi selir agung. Tidak jauh berbeda dengan Gong Dahye.
"Bukankah itu artinya. Acara itu berlangsung saat yang mulia permaisuri bebas dari hukuman? Apa ada kemungkinan permaisuri akan ikut memeriahkan pesta anda yang mulia selir agung?" lanjutnya bertanya.
Lantaran memang benar adanya tentang dia yang mendengar kabar mengenai pesta tujuh bulannya kandungan selir agung Gong Dahye. Ia sungguh sangat menantikan kemeriahan pesta yang di isi dengan kekacauan. Sungguh sama liciknya.
Sepertinya otak mereka sudah tidak bisa di bersihkan lagi dari yang namanya sampah.
"Wah... Itu akan menyempurnakan acara pesta. Yang mulia selir agung, anda pasti tidak keberatan bukan bila yang mulia permaisuri turut hadir ke acara yang di buat khusus untuk anda?" sambung Mu Bizhuo yang ikut bertanya seraya menyuapkan kembali sebotong kue bulan yang tersedia di atas meja.
"Hahaha... Tentu saja. Bagaimana pun beliau adalah ratu kerajaan ini. Tidak baik bila dia tidak ikut hadir." jawabnya agak risih. Sejujurnya ia sama sekali tidak menginginkan si permaisuri turut hadir apapun alasannya.
__ADS_1
"Jika dia berani untuk hadir. Lihat apa yang akan aku lakukan padanya." desis Gong Dahye benci dari dalam hatinya.
"Sungguh baik sekali hati yang mulia selir agung! Setelah apa yang di lakukan permaisuri tapi anda tetap membiarkan beliau ikut. Aku hanya bisa berdoa semoga kali ini permaisuri tahu apa yang harus ia lakukan seperti sebelum beliau berani bertindak buruk pada anda. Bukankah ia adalah seorang permaisuri yang hebat..." kata Mu Bizhuo sambil memancing amarah selir agung Gong Dahye dengan sedikit memprovokasinya.
"Haha... Anda benar selir Mu. Dia memang permaisuri yang hebat." ucapnya seraya mengepalkan tangannya tak suka. Sesungguhnya ia amat tak ingin memuji siapapun terutama permaisuri Ahn Reychu, tapi melihat situasi saat ini membuatnya tak punya pilihan.
Bukan karena dia ingin tetap memakai topeng, melainkan karena ia tak ingin kaisar sampai tahu bila sewaktu-waktu ada saat dimana tanpa sengaja kaisar Li Hanzue muncul dengan cara tak terduga lalu mendapati dirinya melakukan tipu daya untuk menjatuhkan permaisuri kerajaan.
Mungkin seorang Gong Dahye memang benar mencintai pria bernama Li Hanzue. Akan tetapi, cintanya tak sebesar obsesinya dalam menaklukkan apapun termasuk kekuasaan.
Hachuh!
Hachuh!
Hachuh!
"Apa-apaan ini?! Tidak sakit, tidak dingin aku malah bersin-bersin." gerutunya seraya mengusap hidungnya hingga sedikit memerah.
"Ada apa dengan mu, Rey?" tanya gadis imut yang berada di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Rayan.
Gadis yang di panggil Rey atau Reychu hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menggosok hidungnya.
Di depan keduanya ada Ryura yang duduk tenang sembari memakan sarapan pagi mereka.
"Entahlah. Tiba-tiba saja aku bersin-bersin. Padahal aku yakin aku tidak sakit." kalimatnya berakhir bersamaan dengan menggosok hidungnya yang juga telah usai. Kemudian ia lanjut menyantap sarapan pagi nya.
"Ouh... Mungkin ada yang menggosipkan mu. Aku pernah dengar kalau seseorang bersin tanpa ada tanda-tanda sakit, itu artinya dia sedang di bicarakan." tutur Rayan menjelaskan sambil terus menyuapkan makanannya ke mulut.
"Benarkah?! Waah... Siapa gerangan yang sedang membicarakan ku pagi-pagi begini?! Ckckck... Tidak kusangka permaisuri Ahn Reychu cukup terkenal hingga sering di bicarakan. Senang mendengarnya. Hehe..." kata Reychu yang justru senang mendapati dirinya sedang di bicarakan dibelakangnya tanpa berpikir apakah pembicaraan itu baik untuknya atau malah sebaliknya.
Rayan memutar bola matanya malas. "Dasar aneh! Kau bahkan tidak tahu apa yang tengah mereka bicarakan tentang mu, tapi kau malah senang?! Gila!" nyinyir Rayan kesal sendiri dengan sikap sahabatnya itu.
"Hahaha... Biarkan saja! Siapapun itu yang sedang membicarakan ku, baik itu sesuatu yang bagus ataupun tidak tentangku. Yang jelas aku cukup mampu mengusik pikiran mereka. Sedangkan aku disini. Lihatlah..." seraya merentangkan tangannya bangga. "Aku bahkan tidak memikirkan siapapun selain diriku sendiri dan kalian. Kedengarannya bagus bukan. Aku terkenal untuk mereka tapi mereka bukan apa-apa untuk ku. HAHAHA..." Reychu terbahak atas ucapannya sendiri sampai Ryura yang sejak tadi diam memakan makanannya dengan tenang mendongak untuk melihat sahabatnya yang rada-rada itu sedang tertawa sementara satunya malah menutup wajahnya seperti malu membayangkan gadis di sebelahnya adalah sahabatnya.
__ADS_1