
Serangkaian acara pembukaan digelar sebelum tiba di acara utama hari ini. Yaitu, kompetisi hidup dan mati.
Pembawa acara sudah mulai berbicara. Kemampuan pembawa acara harus selalu bisa membangkitkan semangat para penonton.
Di atas, tempat khusus para petinggi. Seorang pemuda tampan datang dari belakang seorang pemuda berambut merah yang tampak bosan. Dia membungkuk untuk membisikkan sesuatu padanya.
"Yang Mulia, Tuan Muda Ye telah datang."
Mendengar itu, Kaisar Agung Bai mengangguk kecil kemudian berkata. "Tak perlu menjemputnya. Dia datang kemari juga bukan untuk Festival ini. Biarkan dia datang jika dia mau."
Mengangguk sekali dengan patuh. "Mengerti, Yang Mulia." setelahnya dia tetap berdiri dibelakang Kaisar Agung Bai. Dia adalah pengawal pribadi juga orang kepercayaan Kaisar Agung Bai.
Tepat saat itu, pembawa acara baru saja mengatakan bahwa kompetisi hidup dan mati sudah dimulai.
"BAIK! MOHON TENANG SEMUANYA. SAYA TAHU KALAU INI ADALAH SAAT-SAAT YANG KALIAN SUDAH NANTI-NANTIKAN SEJAK LAMA! MAKA DARI ITU, BIARKAN SAYA MENGATAKAN PERATURAN YANG DI BERLAKUKAN DALAM KOMPETISI PERTAMA KITA KALI INI." serunya dengan suara keras, agar dapat didengar oleh seluruh pasang telinga para hadirin yang menonton.
Tribun ini penuh sesak. Orang-orang yang hadir sangat antusias dengan festival ini.
"KITA MEMILIKI 26 PESERTA PADA KOMPETISI TAHUN INI! SEPERTI YANG KAMI BERLAKUKAN DI TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA! TAHUN INI PUN MASIH SAMA! SEBELUM KAMI MEMPERSILAKAN PARA PESERTA UNTUK BERTANDING, KAMI AKAN MELAKUKAN UNDI NAMA TERLEBIH DAHULU... DI SANA, WASIT YANG SUDAH DIPILIH UNTUK KOMPETISI HIDUP DAN MATI TAHUN INI SUDAH MEMILIKI KE 26 NAMA PESERTA YANG DITULIS DI SETIAP BILAH BAMBU! WASIT AKAN MENGAMBIL DUA BILAH BAMBU SECARA ACAK! KEMUDIAN, DUA NAMA YANG TERTERA DIDALAMNYA AKAN BERDUEL LEBIH DULU...!!"
"YANG AKAN MENJADI JURINYA MASIH SAMA SEPERTI TAHUN LALU. YAITU, YANG MULIA KITA YANG AGUNG... SAMBUTLAH YANG MULIA KAISAR AGUNG QIN SHU WAN DAN TAMU KEHORMATAN KITA... YANG MULIA KAISAR AGUNG BAI GIKWANG DARI KERAJAAN ES, KEKAISARAN UTARA...!!!"
Pembawa acara berseru dengan sangat keras sambil menjulurkan tangannya ke atas tepat dimana para petinggi berada.
Semuanya berdiri dan seluruh pasang mata langsung melihat kearah yang di tunjuk, termasuk 3Ry dan yang lain kecuali Ryura yang tak bergeming sedikitpun.
Sorak-sorai tak bisa dibendung. mereka meneriakkan nama keduanya dengan penuh semangat, seolah-olah kedua Kaisar itulah yang akan bertanding.
Tak kecuali gadis yang satu ini.
Mata Rayan berbinar saat melihat apa yang begitu menyegarkan pandangannya. Dia melihat ada beberapa pria tampan disana. Terutama yang paling menonjol adalah pria berambut merah disana.
Dari penampilannya, Rayan bisa menebak kalau pria itu berasal dari Kekaisaran Utara. Karena ia sudah mendengar beberapa informasi saat jalan-jalan di ibukota Lan-gang. Kalau Kaisar Agung Qin, adalah seorang pria paruh baya.
Perbedaan jelas antara tua dan muda.
Semakin diperhatikan, Rayan bisa melihat walau dari jarak sejauh itu. Gestur pria itu malas dan acuh tak acuh, menurutnya itu terlihat keren. Mengingatkannya pada Ryura. Sayangnya, Rayan tidak begitu menyukai pria tak tersentuh seperti itu.
"Rey, kau lihat yang berambut merah itu... Tampan bukan?" Rayan menunjuk kearah atas sambil berbicara pada Reychu dan tidak dengan Ryura. Sebab ia tahu, kalau sahabatnya yang satunya sedang bersemedi di alam mimpi.
"Eum. Tampan... Sangat tampan." nadanya terdengar biasa, tapi entah mengapa Rayan merasa ada sesuatu yang salah dari apa yang dia dengar. Hanya saja ia tak tahu dimana letak salahnya.
Jadi, tak terlalu dipikirkan. Dia kembali fokus menikmati momen cuci mata-nya.
Sementara, Reychu masih terus melihat keatas tanpa berniat beralih pandang untuk beberapa saat. Tak tahu mengapa, dia seperti sulit untuk berpaling. Padahal, dia jelas tahu sebesar apa minatnya pada pria tampan.
Bila Rayan menyukai pria tampan sebesar gunung, maka dia menyukai pria tampan sebesar kuku jari kelingking. Itu benar-benar perbandingan yang jauh.
Wajahnya memberengut aneh kemudian saat ia jelas tahu kalau wajah lawan jenis tak jadi soal dalam hidupnya, tapi sesuatu seperti menariknya untuk memperhatikan mereka yang ada diatas bangunan sana. Terutama pada seseorang yang di tunjuk Rayan tadi.
Matanya menyipit kesal saat merasa seperti tengah di kendalikan. Akhirnya diapun bergumam dengan tak senang. "Kepar*t mana yang berani mengacau?! Dia pikir ini cukup untuk mengendalikan ku?! Mimpi! Huh! Memang susah jadi orang cantik! Lebahnya terlalu banyak!" setelah ia berkata demikian, sekuat tenaga ia melepaskan diri dari hal aneh yang baru saja ia alami.
Lalu, Reychu mendengus jengkel. Jika di ingat-ingat, Reychu itu jarang merasakan emosi negatif. Tapi, saat ini ia bahkan sedang merasa tak senang.
Bruk!
Menjatuhkan bokongnya kasar ketempat ia duduk semula, disusul melipat kedua tangannya di atas perut kemudian. Ekspresinya berubah berpikir.
Ternyata...
Di atas sana, seseorang tengah terkekeh kecil yang tak dapat di sadari oleh orang lain. Ia sampai menutup setengah wajah bagian bawahnya dengan tangan bermaksud menahan tawanya yang ingin pecah. Dia masih terlihat keren meski berpose malas dengan bertopang siku di lengan kursi.
__ADS_1
"Kenapa dia lucu sekali!" batinnya berseru dengan suasana hati yang membaik. Ia tak lagi merasa bosan dan jenuh pada festival yang sudah bisa ia bayangkan setiap tahunnya akan seperti apa.
Dia adalah Kaisar Agung Bai Gikwang.
Kebosanannya teralihkan saat tadi ia melihat di tribun bawah sana, sosok familiar namun masih asing menarik perhatiannya.
Kala pembawa acara menyebutkan nama Kaisar Agung Qin dan dirinya, Semua orang spontan berdiri menyambut mereka dengan hormat. Akan tetapi, hanya ada dua orang yang tidak melakukannya.
Dan dia adalah gadis yang ia lihat di jalanan ibukota. Sedang, gadis satunya ia tak begitu peduli. Perhatiannya hanya berpusat pada gadis yang baru saja ia coba kendalikan dengan kemampuan pengendali spiritualnya agar bertingkah sama dengan yang lainnya.
Dia sedikit terusik saat melihat gadis itu tak peduli dengan nama yang disebutkan oleh pembawa acara atau lebih jelasnya, ia terusik karena melihat gadis itu tak peduli dengan namanya yang baru saja disebutkan.
Ketidak-antusiasnya benar-benar mengganggunya.
Kemampuan kendalinya sebenarnya tak hanya sebatas mengendalikan tubuh tapi juga mampu berinteraksi dengannya. Maka dari itu, ia sukses di buat terhenyak saat mendengar sepenggal kalimat yang tak terduga keluar dari bibir gadis itu.
Tawa pun pecah kemudian, tapi sebisa mungkin ia tahan. Meskipun ia acuh pada sekitar, namun untuk yang satu ini. Dia tak ingin orang lain tahu.
Hanya saja, ia tak menyangka kalau aksinya memperhatikan seseorang di perhatikan oleh orang lain yang baru saja muncul.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" tepukan serta seruan menyadarkan Kaisar Agung Bai Gikwang. Membuat pria penguasa daratan utara menoleh ke sisinya.
"Ye Zi Xian!" katanya saat melihat orang yang sejak tadi ia tanyai pada orang kepercayaannya sudah tiba.
"Hm. Sepertinya kau dalam suasana hati yang baik." kata pria yang baru saja datang, bernama Ye Zi Xian. Nada suaranya sedikit menggoda. Ia baru saja duduk di kursinya dan sepertinya menyadari perubahan suasana hati pemuda di sebelahnya ini.
Kaisar Agung Bai Gikwang mengelus dagunya sambil tersenyum tipis dan menanggapi. "Tepat sekali!"
"Kalau begitu aku tidak akan penasaran." ujarnya akrab.
"Kenapa? Tidak biasanya kau acuh pada masalah ku." tanya Kaisar Agung Bai agak tak menyangka. Pasalnya, temannya ini sebenarnya adalah orang yang lumayan protektif pada orang-orang terdekatnya.
Terutama Bai Gikwang selaku sahabatnya.
"'Ah. Benar! Kau belum memberitahu ku soal itu. Jangan bermain sembunyi-sembunyi! Atau kau akan aku coret dari daftar persahabatan ku!" Kaisar Agung Bai Gikwang berbicara dengan ekspresi serius. Tapi, nyatanya tidak.
"Cih. Memangnya sebanyak apa isi daftar mu? Kau berkata seolah-olah ada banyak." ejek Ye Zi Xian tanpa takut.
"Kau benar-benar punya nyali mengejek Kaisar Agung mu ini." nadanya jelas menggeram tapi hanya orang-orang tertentu yang tahu kalau itu hanya tipuan.
Kaisar Agung Bai ini, agak suka bermain-main. Terutama saat hatinya sedang baik.
"Hentikan, Gikwang! Kau benar-benar dalam suasana hati yang baik. Lihat betapa konyolnya dirimu." usai mengatakan itu, Ye Zi Xian menyamankan dirinya di kursi yang sudah disisakan sahabatnya untuknya dan mulai menyapu Area Shaozu.
Yang dikatai malah terkekeh geli. Sesaat kemudian kembali tenang dalam duduknya dan mulai serius memperhatikan acara yang berlangsung. Faktanya, ia begitu karena seseorang sudah membuatnya bersemangat.
Bila bertanya, mengapa mereka tak menggunakan rasa hormat satu sama lain sesuai dengan posisinya? Maka jawabannya adalah, karena mereka sudah bermain bersama sejak kecil. Seperti halnya, 3Ry.
Pemuda yang berdiri setia dibelakangnya tak bergeming sedikitpun. Dia sudah cukup terbiasa dengan sepak terjang keduanya bila sedang bersama.
Ryuya yang sejak tadi matanya terpejam mulai sedikit terbuka. Tapi, posisi tubuhnya tidak berubah. Mata kosongnya menyorot kebawah. Mata yang tak pernah bisa diselami siapapun itu seperti memiliki sedikit riak kala cahaya melintas sekilas.
Benar-benar tak ada yang bisa menebak apapun yang ada didalamnya. Mata itu tak bisa ditembus.
Setelah beberapa saat...
Ryura menoleh kearah Reychu yang duduk santai sambil menyangga betis kanannya di atas lutut kirinya. Tak lupa, digoyangkan dengan santai kakinya yang menggantung itu. Sedang matanya mengamati sang pembawa acara yang terus berbicara.
Fokus utamanya bukan dari apa yang dikatakan pembawa acara, melainkan menunggu kapan namanya disebut.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Reychu pun menoleh balik dan langsung disuguhi tatapan mata kosong milik sahabatnya yang sangat ia kenali.
Mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"
"Kau duluan." suara seperti berbisik, ada serak-serak khas bangun tidur meski nyatanya tak ada yang tau Ryura tidak sebelumnya atau tidak.
Tik...
Tok...
Tik...
Tok...
Lambat ia merespon, sampai akhirnya Reychu spontan berdiri sambil tetap melihat kearah Ryura. Paham betul apa yang hendak Ryura beritahukan padanya.
Dia mengukir senyum lebar yang tak bisa diartikan bahwa ia bahagia atau apa. Karena senyumnya berlebihan.
"Hahaha... Aku tahu kau akan tahu tanpa perlu ku beritahu. Bersiaplah, sayang! Aku menantikan kesempatan kita bermain nanti!" ia berbalik untuk melihat panggung arena yang ada pembawa acara diatasnya masih sibuk berkata ini dan itu.
"Jadi, kapan giliran ku?" tanyanya luar biasa antusias.
Gerakannya cukup menarik perhatian untuk sekitarnya yang dekat dengannya. Tapi, seperti biasa. Bukan Reychu namanya kalau dia peduli.
"Apanya yang giliran mu?" suara Rayan masuk ke telinganya dengan tanda tanya.
Reychu menoleh kearah Rayan untuk menjawabnya sebelum akhirnya namanya sudah lebih dulu disebutkan oleh sang pembawa acara.
"INI DIA PESERTA PERTAMA! MARI KITA SAMBUT... NONA AHN REYCHU!"
Mengangkat telunjuknya dengan semangat. "Kau dengar itu! Hahaha... Lihat bagaimana Nona ini melakukannya!" semburnya dengan percaya diri yang tinggi. Segera memutar tubuhnya dengan gaya dan langsung beranjak pergi meninggalkan yang lain.
Rayan, Ruobin, dan Duan Xi tertegun dibuatnya. Rayan lebih dulu tersadar, dia langsung menggelengkan kepalanya.
"Dia ini..." sangat terbiasa dengan perangai sahabatnya. Dia sudah menebaknya sebelumnya. Tapi, tak menyangka kalau dia benar-benar ingin bertarung dengan Ryura.
"Dia serius?" Ruobin malah bertanya dengan tak yakin. Kini giliran Chi-chi yang menjawab.
"Benar! Beberapa hari ini dia sangat antusias mengikuti kompetisi ini."
"Apa yang dipikirkan gadis itu?" Duan Xi kembali dari keterkejutannya dan langsung bertanya.
"Jangan khawatir, Guru. Dia hanya ingin bermain." jawab Rayan santai.
"Bermain?!" pekik Duan Xi tak menyangka. Bisa-bisanya ada orang yang menganggap kompetisi bertaruh nyawa ini ajang main-main.
Saat di sisi 3Ry menyuarakan keterkejutannya akan langkah Reychu yang tak terduga. Maka, lain halnya dengan yang ada di sisi atas.
Seorang pemuda tak tahu harus apa selain membeku.
Pria didepannya juga terhenyak mendengar itu. Tanpa menoleh ia berkata.
"Bukankah marganya sama denganmu, Ahn Reychan?"
yihaaa...
ini dia.. kalian udh sangat menantikan nya yeee...
Monggo di baca maneh.
__ADS_1
πππ