3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SETELAH HARI INI...


__ADS_3

Apapun yang terjadi malam itu menjadi rahasia yang akan di ungkapkan nanti.


Ketiga sahabat itu melakukan apa yang menjadi tugas mereka masing-masing. Segalanya berjalan lancar, itu patut di syukuri.


Setelah hari itu bergulir ke hari berikutnya, semuanya kembali berjalan dengan normal. Normal disini, bukan dalam artian sesungguhnya. Normalnya seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya.


Reychu dengan kelakuan gila serta mulutnya yang lemes itu, Rayan dengan kesibukan rahasianya memantau keadaan Ibu Suri tiap malam dan berpergian bersama Ruobin untuk mencari herbal, dan terakhir Ryura yang menjelma menjadi jelangkung. Datang dan pergi sesuka hati, tanpa memberitahukan kepada kedua sahabatnya yang lain apa yang ia kerjakan dengan melakukan itu. Tetapi karena sudah biasa, jadi mereka yakin meskipun Ryura tak bicara ia tak akan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri apalagi orang lain.


Sedang untuk penghuni Harem Kaisar, mereka sibuk menunjukkan keunggulan diri atau lebih tepatnya hanya Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo. Sebab, yang lainnya lebih memilih bersikap biasa saja dan melakukan semuanya dengan apa adanya. Maklum mereka sama sekali tak memiliki minat untuk duduk di kursi yang tinggi itu.


Di ibukota, Keluarga Yu masih bertahan meski sudah tidak bernyali menunjukkan wajah mereka terlebih kala hampir semua pelayan yang bekerja dengan mereka memilih untuk mengundurkan diri dan sisanya memilih bertahan. Sayangnya, itu bukan karena mereka setia. Melainkan, karena mereka ada yang tak memiliki tempat tinggal, ada yang menganggur sehingga masih membutuhkan uang, ada juga yang terdesak ekonomi keluarga yang ada dirumah. Setidaknya, usaha Keluarga Yu tidak langsung bangkrut dan hanya mengalami sedikit guncangan akibat skandal mengerikan itu.


Gadis-gadis di keluarga itu pun tak sanggup menunjukkan wajah lagi. Mereka sudah tidak suci lagi, apa yang masih diharapkan. Tidak ada lagi yang tersisa dari diri mereka. Tapi paling tidak, satu dari mereka masih cukup beruntung.


Yaitu, Yu Chun Yang. Di tengah-tengah rasa frustasinya pria yang merenggut kehormatannya mengajukan penawaran untuk menikahinya. Tentu dengan beberapa syarat yang harus diterima oleh Yu Chun Yang. Beberapa syarat itu adalah Yu Chun Yang mau ikut dengannya kembali ke desa tempat tinggal pria itu yang sesungguhnya dan mau menerima takdir hidup yang bila ia menerimanya ia tidak akan menjadi Nona Muda lagi, juga tidak akan bisa hidup mewah lagi.


Sebagai Nona Muda yang terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah pastinya butuh banyak pertimbangan. Tapi, setidaknya Yu Chun Yang mampu berpikir dewasa.


Setelah apa yang terjadi padanya, kecil kemungkinan akan ada yang mau menikahinya terutama pria dari keluarga terpandang. Kalaupun ada, pihak keluarganya jelas-jelas tidak akan setuju. Bila dia tetap tinggal pun, ia sudah tak memiliki muka untuk di tunjukkan. Dan yang paling penting adalah ia menyadari kesalahannya dimasa lalu, yang mana dulu ia dengan bangga menghina Yu Rayan sebagai seorang anak haram seolah-olah dia tidak akan pernah merasakannya. Sekarang ia takut kalau hasil dari hubungan semalam itu akan membuahkan keturunan. Dia tidak sejahat itu hingga mau membunuh anaknya sendiri meski agak mengecewakan, lantaran ayahnya bukanlah pria yang dia cintai. Oleh karena itu, dengan bijaksana ia pun memilih menerima pinangan pria itu. Tentunya dengan segala resiko yang akan ia terima di kemudian hari.


Pihak keluarga Yu tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah cukup malu dengan keadaan sendiri sehingga tak bisa bermulut besar hanya karena keturunan mereka harus jatuh harga dirinya dengan menikahi pelayan pria tersebut.


Alhasil, sehari setelah hari terburuk itu. Yu Chun Yang pun menikah dengan pria pelayan yang merenggut mahkotanya dan hari itu juga keduanya bertolak kembali ke desa pelayan itu sambil membawa mahar yang sejak ia dilahirkan sudah disiapkan keluarganya.


Pelayan pria itu sebenarnya masih terbilang tampan meski kulit tubuhnya tidak putih melainkan kecoklatan. Akan tetapi, kegagahannya tak terbantahkan. Ia tinggi tegap dengan badan berotot karena selalu berkerja keras. Bila Yu Chun Yang berdiri didekatnya, dia hanya bisa mencapai dada pria itu bahkan tubuhnya bisa langsung tenggelam jika ia dipeluk olehnya.


Juga baru diketahui kalau usia sang suami sudah diatas 20 tahun.


Cukup matang untuk menjadi kepala keluarga.

__ADS_1


Kini setelah beberapa hari berlalu, tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Yu Chun Yang bisa tersenyum lembut penuh syukur. Ia tak bisa berkata-kata, kala pria mantan pelayan di kediaman keluarganya bisa begitu cinta Keluarga. Di rumah pria yang sekarang sudah berstatus suaminya itu, ia mendapati ada anggota keluarga lain yang tinggal.


Disana ada ibu mertuanya yang sakit-sakitan hingga harus berbaring di ranjang sepanjang waktu. Ada juga dua adik iparnya yang kembar laki-laki, kedua anak yang masih kecil itu cukup gesit dalam membantu dan mengurus rumah mereka. Tanpa mengeluh. Saat ditanya mengenai siapa yang mengajarkan mereka menjadi begitu rajin, dengan bangga kedua adik iparnya menyebutkan nama sang kakak tertua.


Lagi-lagi itu membuat ia tersenyum, merasa beruntung dapat dipertemukan dengan sosok hebat seperti suaminya. Meski pertemuan mereka sungguh tak mengenakkan.


Hal itu juga membuat ia menyadari serta mempelajari banyak hal. Bahwa bahagia tidak terletak pada harta dan kehebatan tak selalu dimiliki oleh orang yang berstatus tinggi.


Dari rasa syukur itu juga, Yu Chun Yang mulai belajar menerima keadaannya yang turun drastis. Dia mulai membantu mengurus rumah dan merawat ibu mertuanya dengan telaten, kalau ditanya 'kenapa melakukannya?' Yu Chun Yang hanya menjawab sambil tersenyum kalau 'ini rumah dan keluarga ku. Sudah seharusnya aku ikut membantu!'.


Dari sanalah, suaminya pun tak kalah bersyukur juga tanpa sadar mengagumi istrinya -Yu Chun Yang- tanpa syarat. Ia sempat berpikir pada awalnya, bahwa menikahi perempuan kaya akan menyulitkannya. Tapi, disisi lain dia tidak seburuk itu hingga melupakan fakta bahwa dialah yang telah mengambil harta berharga istrinya sebelum menikah. Meski semua diawali oleh wanita itu sendiri.


Kini keduanya hidup bahagia dalam kesederhanaan.


Jangan tanyakan soal Yu Mei Lin. Gadis yang sudah tidak gadis lagi itu kini malah mengalami gangguan jiwa. Dia selalu mengutuk setiap lelaki yang ditemuinya. Berbeda dengan Yu Ran Ran yang memilih berdiam diri di kamarnya tanpa ingin keluar selangkah pun. Lain mereka lain pula dengan Yu Chang Ni, wanita itu mengalami depresi berat hingga hidupnya kosong. Ia tak lagi berbicara dan tatapannya kosong tanpa kilau kehidupan sejak kejadian hari itu. Pihak keluarga hanya bisa menerima dengan berat hati, sebab tak mungkin mereka meninggalkan keturunan mereka begitu saja setelah faktanya mereka pun mengalami hal buruk itu.


Sementara para orang tua mereka sudah kembali ke pasangan masing-masing. Para Suami mengurung istri mereka di kediaman mereka dan mungkin akan di kurung untuk waktu yang lama serta tak terhitung. Mereka juga tak bisa marah satu sama lain, karena sama-sama melakukannya.


Sedang sang kepala keluarga Yu Zhao Yan hanya bisa bersikap seolah-olah itu tak terjadi dan menantunya -Lin An Lie- yang bermain dengannya tanpa sadar itu tewas bunuh diri di kamarnya sehari setelah kejadian itu.


Wanita itu kehilangan akal sehatnya saat itu juga.


Semuanya hanya bisa berduka dalam hati. Termasuk Yu Chan Yi. Meski dia sudah menikah dengan Pangeran kedua Li Fang Ye, sebagai Keluarga tidak mungkin dia tidak ikut merasakan malu dan sedihnya. Tetapi, setidaknya di istana ini suaminya -Li Fang Ye- cukup baik dan lembut untuk terus menenangkan dirinya.


Ya, keduanya lambat-laun semakin dekat. Tidak tahu kalau nanti...


Disisi lain ibukota, tepatnya di kediaman Han. Rumah besar itu kini hanya ditinggali oleh seorang Tuan Rumah, Han Wu Shin dan pelayannya. Pemuda tampan itu kini hanya bisa pasrah dan mencoba menerima semua yang terjadi, sebab terakhir kali pertemuannya dengan Han Ryura beberapa hari lalu -bukan di penginapan-, keduanya terlibat percakapan yang serius atau lebih tepatnya hanya Han Wu Shin yang berbicara serius. Sampai pada titik Ryura angkat suara, saat itu juga Han Wu Shin sadar sejak awal sudah seharusnya dia dan keluarganya tidak melakukan hal yang buruk itu.


Paling tidak untuk mencegah panen buruk dikemudian hari.

__ADS_1


Itu juga mengingatkannya pada mimpinya. Ia tak percaya kalau mimpi itu akan jadi nyata. Kini hanya tinggal dia seorang sebagai penerus Keluarga Han, karena Han Ryura sudah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga sejak keluarga yang lain sepakat mengeluarkannya dari silsilah keluarga.


Han Wu Shin hanya bisa tersenyum miris tiap kali mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya. Tidak menyangka akan ada hari seperti hari ini.


Kembali ke lingkup istana...


Kaisar Li ditengah-tengah kesibukannya sering berusaha mengambil hati Permaisurinya, meski selalu berujung sia-sia. Pria itu masih belum mengerti ingin menyerah walau ia tahu semuanya tak berguna. Sementara Selir Agung Gong Dahye yang mengetahui hal itu tidak bisa tidak semakin membenci tanpa ampun, karena waktunya bersama Kaisar Li menjadi sangat sedikit belum lagi ia akan melahirkan dalam waktu dekat. Tapi, ia juga tak lupa dengan rencananya untuk menghancurkan Ahn Reychu.


Seperti itulah kegiatan mereka selama beberapa hari kemudian.


Damai dan tentram...


Meskipun harus diselingi dengan perasaan pasrah dan putus asa. Hanya bisa menelan semuanya walau dengan berat hati. Setidaknya setelah ini mereka masih bisa berharap kedepannya akan menjadi lebih baik lagi.


Namun, sayangnya...


Tidak untuk penghuni Istana Huoli. Hari baik mereka cukup sampai disini karena akan ada yang mengacaukannya, meski itu dilakukan bukan atas kemauan sendiri.


Tapi, bohong bila mereka tidak mengaku bahwa sangat menantikan hari itu tiba. Bagaimanapun kebebasan yang diinginkan hadir setelah hari ini.


Dan hari suram itu telah menunggu di depan mata...




(pinterest)


**Author pas lagi sibuk ngarang cerita**

__ADS_1


wkwkwk


Monggo... cuma 1500+ kata untuk hari ini okeee...πŸ˜˜πŸ‘Œ


__ADS_2